Rabu, 24 Agustus 2011

Native Deen, Grup Muslim Amerika yang Memilih Hip Hop untuk Berdakwah

Hip Hop untuk Berdakwah

TAMPIL UNIK: Personil Native Deen, dari kiri Joshua, Naeem dan Abdul Malik saat tur di Jakarta.

Disela Menyanyi, Naeem Pamerkan Jurus Pencak Silat
Amerika punya grup hip hop yang semua personelnya muslim dan lagu-lagunya sarat dengan nilai-nilai keislaman. Native Deen, nama grup itu, Kamis (11/8) memulai tur di Indonesia. Kelompok tersebut tergolong istimewa. Salah satu di antaranya, mereka selalu tampil dengan unik.

PULUHAN siswa dari MAN 2 Jakarta, Lab School Rawamangun, dan Muhammadiyah 2 Jakarta berdiri saat musik mulai berdentum keras dari salah satu sudut ruangan di @america Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/8). Alunan musik hip hop membuat siswa siswi itu bergoyang. Permainan lampu menambah semarak di ruangan itu.  Meski sepintas suasananya tidak jauh berbeda dengan tempat dugem, apa yang terjadi di ruangan itu jauh dari bau minuman beralkohol atau pakaian seksi. Suasana Ramadan masih kental terasa.

Selain para perempuan di tempat itu berjilbab, lagu yang dinyanyikan juga tentang Islam dengan lirik menyentuh dan sindiran halus.

Itulah suasana yang terjadi ketika Native Deen manggung di @america Pacific Place, Jakarta. Itu adalah grup hip hop yang lirik-liriknya sarat dengan nilai Islam. Grup tersebut beranggota tiga pria Afrika-Amerika. 
Mereka adalah Joshua Salaam (38),  Abdul Malik (36)  dan Naeem Muhamad (36) .

Mereka berada di Indonesia untuk melakukan tur Ramadan 2011 pada 10–20 Agustus. Menurut rencana, selain Jakarta, mereka akan tampil di Pontianak, Surabaya, dan Malang. Khusus di Surabaya, grup tersebut bakal hadir di acara puncak malam Grand Final Festival Ramadan Jawa Pos pada 18 Agustus nanti di Taman Surya Pemkot Surabaya.

Joshua Salaam, vokalis Native Deen, mengatakan bahwa saat ini musik rap atau hip hop memang lebih banyak dikesankan dengan tingkah laku yang menyimpang. Padahal, lanjut dia, kali pertama musik Afrika-Amerika itu muncul digunakan untuk hal-hal  yang positif. ’’Di Amerika, citra musik rap juga identik dengan penembakan dan perempuan,’’ ujarnya.

Namun, pria 38 tahun itu menyatakan cukup percaya diri terhadap musiknya. Dia mengatakan, bukan Native Deen yang memilih hip hop sebagai jalur musik. Tetapi, hip hop-lah yang telah memilih mereka karena mereka tumbuh di lingkungan yang mencintai hip hop. ’’Kami mencoba untuk memberikan warna musik yang berbeda,’’ imbuhnya.

Oleh sebab itu, kemasan setiap mereka manggung pun dibuat berbeda. Mereka tidak canggung kalau syiar yang tertuang dalam lirik lagunya dipadu dengan dekorasi yang meriah. Termasuk dengan lampu yang agak gelap dan permainan lampu sorot. Bagi Native Deen, yang paling penting adalah tidak ada keraguan dalam berdakwah.

Saat semi konser yang diadakan Kedutaan Amerika di Jakarta itu, misalnya. Dalam musik yang terdengar rancak tersebut, filosofi keislaman tetap terkandung sangat kental. Misalnya, lirik lagu Stand Alone yang mengisahkan bagaimana sulitnya seorang ibu membesarkan anak seorang diri. Namun, dia tetap kuat selama Allah ada di sisinya.

Joshua menambahkan, kaum muda muslim Indonesia, terutama mahasiswa, tidak perlu ragu dalam berdakwah mengenai keislaman. Dakwah itu tidak harus melulu dengan ceramah, tetapi bisa disampaikan lewat musik yang digandrungi orang. Musik Islam juga tidak harus nasyid, bisa aliran apa saja. ”Berdakwah juga bisa melalui lagu,” tuturnya.

Seperti yang terjadi kepada mereka pasca serangan 9/11. Saat itu, sebagai muslim yang tinggal di Amerika, anggota Native Deen juga takut untuk mempraktikkan ajaran agama Islam, termasuk berdakwah. Setelah semuanya berjalan dengan baik, mereka menyesal karena pernah mencoba menyembunyikan identitas mereka sebagai muslim. ”Itu menjadi dasar munculnya album Not Afraid to Stand Alone,” terang dia.

Ketika tampil di Jakarta, salah satu lagu yang membuat penonton terkesan berjudul Ramadan is Here. Lirik lagu itu mengisahkan beratnya seorang muslim menjalankan puasa, seperti Naeem yang pernah diejek teman-temannya lewat kata-kata sinis. Namun, mereka tetap teguh karena yakin bahwa rasa lapar saat siang akan terganti dengan dihapusnya dosa-dosa.

Saat menceritakan lagu tersebut, Joshua menuturkan, dalam perjalanan menuju Indonesia, dirinya tidak berpuasa karena termasuk musafir. Setiba di Indonesia, dia senang karena bisa kembali berpuasa dan waktu berpuasa di negeri ini lebih pendek. Dia menuturkan, di negaranya puasa dimulai pukul 04.20 dan dirinya baru berbuka pukul 20.20.

Lantaran lirik lagu bermuatan ”berat”, yakni tentang agama, Native Deen mengemas setiap performa mereka dengan unik. Diakui Abdul Malik, grup tersebut membutuhkan sesuatu agar yang disampaikan bisa melekat di sanubari penikmat lagu. ”Tidak jarang, kami selipi atraksi menarik,” ungkap dia.

Ketika tampil, atraksi itu juga diperagakan oleh Malik. Ketika menyanyi, di sela-sela lagu tersebut dia memperagakan gerakan pencak silat. Gerakannya yang cakap, membuat penonton bertepuk tangan. ”Ada yang bisa pencak silat” Ayo, lawan saya,” ujarnya sembari memperagakan beberapa jurus.

Pria asal Connecticut itu menyatakan mahir bermain pencak silat karena sudah belajar 20 tahun. Proses belajar bela diri tersebut berawal dari pertemuannya dengan muslim Indonesia yang berada di Amerika. Dia langsung kesengsem dengan pencak silat setelah melihat seni bela diri itu diperagakan. ”Saya bilang, wow, itu keren dan langsung saya belajar,” urainya.

Di Amerika, Joshua dan teman-temannya punya tujuan dalam berdakwah dengan grup hip hop tersebut. Mereka ingin, suasana setiap Ramadan lebih semarak. ”Di Amerika, suasana begitu terasa menjelang Natal. Kami ingin, menjelang Ramadan juga semarak,” ucap Joshua.

Sejak Native Deen berdiri pada 2000, Joshua senang karena grup itu semakin bisa diterima di Amerika maupun negara lain. Yang tidak pernah mereka sangka, lagu-lagu mereka ternyata bisa membuat pendengarnya menjadi muslim yang lebih baik. ”Setidaknya, itu yang kami tahu,” terang Joshua.

Joshua lantas menceritakan sebuah e-mail yang datang dari Pakistan. Dia mengatakan, ada seorang pria yang kini mengaku bisa lebih baik menjadi Islam setelah mendengarkan lagu Native Deen. Terutama dalam bersikap dan berbicara. ”Ada juga yang kirim e-mail bahwa salatnya lebih baik saat ini,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa e-mail yang masuk menyebutkan bahwa lagu mereka mengilhami seseorang untuk menjadi mualaf. Itu dialami salah seorang remaja Amerika yang dia temui beberapa waktu lalu. ”Native Deen, saya sekarang muslim dan itu setelah mendengar musik Anda,” terang Joshua, menirukan ucapan mualaf tersebut melalui e-mail.

Bagaimana pendengar nonmuslim” Malik menambahkan, pendengar nonmuslim juga banyak. Sebab, lagu yang mereka ciptakan tidak sempit pada satu golongan saja. Apalagi, rap yang dibawakan positif. ”Benar, itu memberikan keuntungan bagi mereka yang ingin menjadi mualaf,” ucap dia. (c4/c11/kum)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=12970

Penyanyi Rap muslim Amerika Setelah 11 September

TEMPO Interaktif, New York - Ketika Cyrus McGoldrick naik panggung, ia tidak tampil sebagai dirinya sendiri. McGoldrick menyanyi rap sebagai The Raskol Khan, sering kali bersama Freddy Fuego Sextet, sebuah kelompok musisi yang tengah berkembang di Harlem.
Nama Raskol diambil dari nama Rodion Romanovich Raskolnikov, tokoh utama dalam novel Crime and Punishment karya penulis Rusia, Fyodor Dostoyevsky. McGoldrick menyebut bagian pertama nama samarannya sebagai “kekuatan memberontak dalam masyarakat yang tengah mencoba melakukan hal yang benar namun menghadapi masalah dengan lingkungan dan dirinya sendiri.” Khan, nama Arab yang berarti raja atau pimpinan, “mengalirkan sisa-sisa pola pikir kekaisaran, sebuah sejarah panjang penaklukan,” katanya. Sebuah sejarah dari mana McGoldrick berusaha membersihkan dirinya.

McGoldrick tidak terkenal. Dia tidak revolusioner. Dia seorang mahasiswa, musisi dan penulis. Dia juga seorang muslim di Amerika. McGoldrick termasuk generasi pertama anak muda muslim Amerika yang melewati masa remaja dan masa menginjak dewasa setelah peristiwa 11 September.

“11 September adalah hari pertama saya masuk sekolah menengah,” kenang McGoldrick. Di tahun-tahun sejak tragedi itu, ia merasa ada pelemahan identitas muslim.

Ketika dipaksa untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu, “Identitas kehilangan kebanggaannya pada diri,” kata McGoldrick. “Yang menjadi kekhawatiran adalah, demi menjadi muslim yang baik di Amerika, Anda terpaksa mau tidak menjadi apa saja, yang bertentangan dengan apa yang Anda bisa.” McGoldrick ingin mengabdikan diri dan membangun masyarakat muslim yang bersatu di Amerika.

McGoldrick, putra dari seorang ibu Iran dan seorang ayah Amerika keturunan Irlandia, dilahirkan pada 22 Januari 1988 di Newport, Rhode Island, dan tumbuh besar di Perkasie, Pennsylvania. Ibunya dilahirkan dan tumbuh besar di Teheran, tapi meninggalkan negaranya saat berusia 17 tahun, menjelang Revolusi Iran pada 1979.

McGoldrick tidak percaya bahwa suatu saat semua manusia dari berbagai budaya akan hidup rukun dan tentram, tapi ia sangat yakin bahwa kaum muslim seharusnya bisa lebih diterima.

Pergeseran dari koeksistensi dan penerimaan ke ketakutan dan kebencian cukup jelas. Seharusnya memang tidak lagi dipermasalahkan dalam masyarakat kita, tapi McGoldrick berharap ada jalan untuk memulihkan keseimbangan. “Hanya dengan menjadi diri kita sendiri,” kata McGoldrick, “(kita bisa) membuat Islam bagian yang normal dari kehidupan masyarakat.”

Kesalahpahaman tentang Islam membuat orang-orang muslim merasa terasing sehingga tak bisa mendefinisikan diri mereka menurut pandangan positif mereka sendiri. McGoldrick juga punya perasaan seperti itu; bahkan tampaknya menjadi sumber harapan sekaligus ketakpastiannya dalam hidup. “Terkadang saya merasa tersesat,” katanya. Terdiam sejenak dan memandang kedua tangannya “Saya yakin bahwa kebaikan akan muncul di masa ini -- (hanya) kadang kita tidak punya waktu untuk hening sejenak dan memahami siapa diri kita.”

Ia akhirnya menemukan musiknya, dan The Raskol Khan menjadi jalannya untuk membahas isu-isu yang dihadapi oleh dirinya dan muslim Amerika sekarang. “Musik adalah bagian dari kerja saya,” kata McGoldrick.

Ketika dia bernyanyi rap dengan Fuego Sextet, seperti sering dia lakukan, dia bicara tentang perjuangannya sendiri dan isu-isu politik dan sosial yang menurutnya paling penting. Setelah Angkatan Laut Israel menyerang kapal terbesar dalam armada bantuan ke Gaza pada 31 Mei lalu, yang menewaskan setidaknya sembilan orang dan melukai belasan lainnya, grup musik ini mengadakan sebuah pertunjukan untuk memperingati peristiwa itu.

“Sebagian orang tidak setuju (dengan pesannya),” katanya tentang acara itu, “tapi setiap orang meresapi (musik ini) dan mengambil hikmah darinya.”

McGoldrick percaya kekuatan musik hip-hop terletak pada peluang untuk menjangkau pendengar yang lebih progresif yang ia percaya “otomatis lebih bisa menerima”, mengingat sejarah genre musik ini yang menentang ketidakadilan politik, sosial dan rasial.

Dan di situlah letak tujuan The Raskol Khan: dengan menampilkan McGoldrick dan sejarahnya, ia percaya penonton bisa melihat siapa mereka secara lebih lengkap.

“Para penyanyi rap menunjukkan diri sebagai puncak pencapaian,” tukasnya. “Tapi tokoh yang satu ini barulah permulaan.”


Madeline Dubus, penulis di Campus Progress dan lulusan jurnalistik dari The New School University. Artikel ini disebarluaskan oleh CGNews.

Selasa, 23 Agustus 2011

Geliat Islam di Negeri Polska

SEBUAH bangunan gereja katedral berdiri tegak di salah satu sudut Kota Krakow, Polandia. Bukan hanya katedral, masih ada belasan gereja lain di Kompleks Kota Tua Krakow yang sudah berusia ratusan tahun, mulai dari gereja untuk tentara hingga kaum papa.
Di Negeri Polska yang mayoritas penduduknya beragama Kristen Katolik, begitu banyak gereja dibangun, sama seperti di Indonesia yang penduduk mayoritasnya beragama Islam dan begitu banyak berdiri masjid hampir di pelosok negeri. Di Kota Warsawa, ibukota Polandia, pemandangan serupa juga terlihat.
Di negeri itu, jumlah penduduk beragama Katolik mencapai 88,4 persen. Agama Yahudi sempat mendominasi sebelum Perang Dunia II di Kota Warsawa. Bahkan sebelum Hitler memutuskan mengekspansi wilayah Jerman, Warsawa merupakan kota dengan populasi umat Yahudi terbesar di dunia dengan mencapai 400 ribu orang. Dengan jumlah sebesar itu, hanya Kota New York, Amerika Serikat yang bisa menyaingi.
Meski demikian, Islam juga memiliki tempat di negara yang terletak di Eropa Tengah itu walau jumlahnya tak sampai sepersen dari total penduduk Polandia. Diperkirakan terdapat sekitar 30.000 warga Muslim di Polandia atau kurang dari 0,1 persen dari populasi mayoritas Katolik Roma.
Hubungan Polandia dengan Islam sudah dimulai sejak abad kesepuluh. Hal ini dibuktikan dengan catatan tentang bangsa Polandia dalam sejarah Islam yang ditulis oleh utusan dari kekhalifahan Islam abad Cordova, Ibrahim bin Jakub dan diterbitkan dalam kronik Arab al-Bakri. Interaksi Polandia dengan ummat muslim berlangsung dalam hubungan bisnis di mana pedagang muslim sering bertransaksi di sana. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya koin Arab yang ditemukan di sejumlah situs arkeologi Polandia.
Islam masuk di Polandia sejak abad 14, diperkenalkan oleh bangsa Tartar yang menetap di Lituania. Pada masa itu, para penguasa mendukung kehadiran mereka karena mereka memiliki kemampuan keprajuritan yang tinggi. Bangsa Tartar yang tinggal di Lithuania, Ruthenia dan wilayah timur Polandia saat ini diberikan izin untuk bisa memeluk agama Sunni dengan syarat mereka melakukan tugas kemiliteran.
Ratu Lithuania bahkan membangun perumahaan Tartar pertama. Kebanyakan mereka adalah tahanan politik dari sebelah barat Kerajaan Mongolia yang didirikan salah satu keturunan Genghis Khan. Lama-kelamaan jumlah penduduk terus meningkat dan terkonsentrasi di daerah pusat politik dan perdaganagn. Mereka bekerja sebagai pedagang dan penyamak kulit.
Sejak itulah, Islam berkembang di Polandia. Pada abad ke-12, muslin Tartar juga ikut berpartisipasi dalam perjuangan Polandia merebut kemerdekaan. Pada masa penjajahan, mereka tidak diizinkan mendirikan organisasi sosial dan budaya. Barulah pada 1918 atau akhir Perang Dunia Pertama ketika Polandia memperoleh kemerdekaan, ummat muslim Tartar memiliki ruang lebih terbuka untuk mengekspresikan diri. Mereka membentuk organisasi kebudayaan dan sosial, bahkan mereka juga menerbitkan majalah dan buku-buku tentang sejarah dan tradisi mereka.
Selama perang dunia kedua, kaum muslimin, seperti semua orang Polandia lain, berpartisipasi dalam perang melawan Jerman dan Uni Soviet. Mereka juga mendapat tekanan. Kaum intelektual khususnya yang aktif dalam kegiatan keagamaan diburu oleh polisi rahasia dari kedua aggressor.
Usai perang, kaum muslim Tartar banyak menempati wilayah Bialystok serta Gdansk dan mulai merapikan barisan kembali dengan mendirikan Asosiasi Muslim dan Asosiasi Tartar Polandia yang juga aktif dalam kegiatan sosial dan budaya. Mereka menerbitkan majalah dan menggelar konferensi serta pameran ilmiah.
Baru pada tahun 1970an, masyarakat Islam di Polandia mulai beragam. Biasanya mereka adalah imigran dari bekas negara Yugoslavia, Pakistan, Afghanistan, dan sejumlah kecil para mualaf. Selain itu pada 1970-1980an, Polandia juga menarik sejumlah pelajar dari negara blok sosialis di Timur Tengah dan Afrika. Kebanyakan di antara mereka memutuskan untuk menetap di sana. Pada akhir 1980, komunitas Islam di sana semakin aktif dan terorganisasi dengan baik.
Muslim Polandia pada umumnya adalah penganut Islam sunni dan banyak elemen dari keyakinan mereka mirip dengan orang Turki nomadik namun mereka juga mengadopsi budaya dan kebiasaan orang Polandia dan Rusia.
Meski menjadi minoritas, toleransi beragama dirasakan ummat muslim di sana dan mereka tidak pernah mendapatkan tekanan dari agama lain. Mereka juga bisa mendirikan masjid, dan masjid yang tertua bisa ditemukan di Perkampungan Bohoniki dan Kruszyniany. Sebuah masjid baru juga dibangun di Gdansk dan Warsawa

Geliat Islam di Selandia Baru

Agama Islam merupakan salah satu kelompok minoritas
yang terus berkembang di New Zealand.
Dibandingkan negara-negara lainnya yang ada di benua Australia, New Zealand (Selandia Baru) baru mendapatkan ajaran Islam setelah kedatangan para penambang emas dari Cina yang bekerja di pertambangan emas Otago, sekitar tahun 1870-an (abad ke-19).
Kemudian, disusul oleh kedatangan tiga keluarga Muslim asal Gujarat, India. Para Muslim pendatang ini kemudian membentuk organisasi Islam pertama di Selandia Baru bernama Asosiasi Muslim Selandia Baru (New Zealand Muslim Association/NZMA) di Auckland pada 1950.
Gelombang kedua imigran Muslim ke negara anggota Persemakmuran Britania (Commonwealth Realm) ini terjadi tahun 1951 saat kedatangan para perompak laut yang membawa lebih dari 60 Muslim dari Eropa Timur. Di dalam rombongan ini, ada Mazhar Krasniqi. Gencarnya perjuangan yang dilakukan Mazhar, membuat dirinya dipilih menjadi presiden NZMA selama dua periode.
Keberadaan pendatang Muslim (dari Gujarat, Cina, dan imigran Eropa) ini melakukan kerja sama dengan membeli sebuah rumah yang selanjutnya dijadikan Islamic Centre pada tahun 1959. Pada tahun berikutnya, datanglah seorang ulama Islam dari Gujarat yang bernama Maulana Said Musa Patel. Patel menjadi imam pertama di Selandia Baru.
Peran mahasiswa
Tak hanya oleh para imigran ini, keberadaan para mahasiswa dari Asia Selatan dan Asia Tenggara yang sedang menempuh pendidikan di Selandia Baru turut berperan dalam penyebaran agama Islam. Mereka membantu mendirikan tempat-tempat peribadatan dan pusat-pusat kegiatan Islam lainnya di berbagai tempat sampai era 1960-an. Hal itu terus berjalan meskipun populasi Muslim di Selandia Baru merupakan kaum minoritas di negeri itu.
Migrasi Muslim dalam skala besar terjadi pada era 1970-an yang ditandai dengan migrasi para pekerja Fiji-India. Arus migrasi semakin deras seiring dengan kekacauan yang terjadi di Fiji pada tahun 1987. Ada juga sejumlah kecil komunitas Muslim yang berasal dari Turki, sebagian wilayah Pakistan, India, dan Bangladesh serta Asia Tenggara.
Para imigran ini terkonsentrasi di kota-kota besar, seperti Auckland, Hamilton, Wellington, dan Christchurch. Beberapa tahun belakangan ini, arus masuk para pelajar asing dari Malaysia dan Singapura turut meningkatkan jumlah kaum Muslim di negeri itu.
Walaupun dalam jumlah yang kecil, populasi Muslim di Selandia Baru juga turut dipengaruhi oleh perpindahan agama kaum Kiwi (sebutan internasional untuk penduduk asli Selandia Baru–Red). Ada juga pergerakan Muslim Maori yang dinamakan Aotearoa Maori Muslim Association (AMMA) yang berpusat di Provinsi Hawkes Bay.
Sensus penduduk pada tahun 2001 menunjukkan, terdapat 700 orang Maori dan tiga ribu orang Eropa yang terdaftar sebagai Muslim. Saat ini, terdapat sejumlah masjid di pusat-pusat kota Selandia Baru dan dua sekolah Islam, yaitu Al Madinah and Zayed College (khusus sekolah Muslimah).
Selandia Baru memiliki populasi sekitar 4 juta. Sekitar 80 persen dari populasinya adalah turunan Eropa. Suku Maori adalah grup etnik kedua terbesar (14,7 persen). Sementara itu, jumlah orang Asia yang bermukim di Selandia Baru mencapai 6,6 persen, melewati jumlah orang dari Kepulauan Pasifik (6,5 persen).
Kristen adalah agama dominan di Selandia Baru meskipun hampir 40 persen populasinya tidak memiliki agama. Menurut hasil sensus, agama minoritas lain adalah Hindu, Buddha, dan Islam. Diperkirakan, saat ini terdapat lebih dari 36 ribu Muslim di Selandia Baru walaupun harus diakui sangat sulit untuk mendapatkan angka yang akurat tentang jumlah Muslim di sana karena pemerintah setempat lebih mengutamakan kategori penduduk berdasarkan etnisitas daripada agama. Muslim Selandia Baru berasal dari 42 negara berbeda yang hidup membaur secara harmonis bersama komunitas lainnya di negeri itu.
Untuk mewadahi kepentingan para Muslim yang tersebar di berbagai kota di Selandia Baru, Mazhar Krasniqi kemudian menggabungkan tiga organisasi Islam di Canterbury, Wellington, dan Auckland ke dalam satu wadah organisasi Islam berskala nasional yang kemudian diberi nama Federation of Islamic Associations of New Zealand (FIANZ) pada April 1979. Atas upayanya ini, Krasniqi memperoleh penghargaan Queens Service Medal dari Pemerintah Selandia Baru pada tahun 2002.
Pekan Pemahaman Islam
Kaum Muslim di Selandia Baru kini mulai menyadari pentingnya mempromosikan ide tentang keanekaragaman di negara barat daya Pasifik tersebut. Melalui kegiataan bertajuk Pekan Pemahaman Islam, mereka mencoba memberi pemahaman bahwa Islam adalah agama yang menghargai keberagaman. Juga, meluruskan kesalahpahaman terhadap keimanan yang dimiliki umat Islam.
Pasalnya, usai peristiwa September 2001 di Menara WTC Amerika Serikat (AS), stigma terhadap orang Islam semakin memburuk. Media-media Barat mengindentikkan Islam dengan terorisme. Padahal, Islam tidak seperti itu.
”Dengan adanya Pekan Pemahaman Islam, diharapkan stigma negatif terhadap Islam bisa dihapuskan,” kata Presiden Federation of Islamic Associations New Zealand (FIANZ), Anwarul Ghani, seperti dikutip NZPA, awal Agustus lalu.
Kegiatan yang sudah berjalan enam tahun terakhir ini memang dimaksudkan agar publik Selandia Baru makin memahami keyakinan Islam yang luhur dan bebas dari stigma terorisme. Melalui kegiatan ini, diharapkan penduduk Selandia Baru bisa belajar dan menghargai kepercayaan, nilai, dan praktik ibadah Muslim di sekitar mereka.
Pada tahun lalu, kegiatan ini mengusung tema  Persatuan dalam Keberagaman . Sementara itu, tema pada tahun ini adalah Al-Mizan yang berarti keseimbangan hidup. ”Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan, baik dari segi ekonomi, lingkungan, politik, etnis, keluarga, maupun gender,” tutur Ghani.
Pekan Pemahaman Islam menyuguhkan sejumlah kegiatan, mulai dari pemutaran film,  talkshow, pameran hasil kesenian dan kerajinan Muslim, pameran makanan Islami, hingga pembagian bahan-bahan bacaan secara cuma-cuma. Hampir seluruh masjid dan Islamic Centre yang tersebar di Selandia Baru akan menggelar acara itu. Selama ajang ini berlangsung, masjid-masjid di seluruh kota di Selandia Baru akan membuka pintunya sepanjang hari untuk dikunjungi non-Muslim yang mau belajar tentang agama Islam.
Kehidupan antarumat beragama di Selandia Baru amat damai dan hampir tidak ada konflik. Tidak seperti kaum minoritas Muslim di Eropa yang kerap menghadapi diskriminasi, isu tersebut relatif tak ditemukan di Selandia Baru. Umat Muslim di Selandia Baru mendapatkan hak yang sama. Di bidang ekonomi, sosial, dan politik, tidak ada yang membedakan umat Muslim dengan agama lainnya. (berbagai sumber/Republika)

Geliat Muslim Belanda

Kemeriahan Hari Raya Idul Fithri tak hanya terasa di negara-negara muslim. Menariknya, di negara-negara Eropa kemeriahan hari raya umat Islam itu begitu semarak. Belanda misalnya, tempat ini tak bedannya dengan di Indonesia, bila lebaran tiba.
Sejak Jum’at pagi waktu setempat, 10 September 2010, gema takbir berkumandang di Sporthall Zuid, Amsterdam. Tempat jama’ah muslim asal Indonesia, Belanda, Marokko, Turki dan warga mancanegara lainnya berkumpul untuk melakukan shalat Idul Fithri, merayakan hari kemenangan. Sekitar 1.000 jama’ah mengagungkan asma Allah Azza wa Zalla. Shalat Idul Fithri diorganisir oleh muslim Indonesia di Amsterdam yang tergabung dalam organisasi Euromuslim.
Sabda Rasulullah SAW bebarapa abad silam, mulai terbukti. “pada suatu saat nanti tiada tempat di muka bumi ini yang tidak mengagungkan asma Allah SWT....” Kini hampir semua kawasan dibelahan bumi termasuk Eropa, memuji kebesaran Sang Maha Agung.
Ya, perkembangan Islam di negara Kincir Angin semakin bergeliat. Walau kampanye anti Islam cukup gencar dilakukan di negeri Belanda, terlebih aksi yang dilakukan Geert Wilders, namun hal ini tidak menghalangi turunnya hidayah Allah SWT kepada seseorang. Alhamdulillah, Islam makin diterima semua kalangan. Nyaris tiap bulan ada saja orang Belanda atau non-muslim lainnya yang mengucapkan syahadat.

Berbagai kegiatan keagamaan pun begitu semarak. Terlebih saat Ramadhan. Mulai dari shalat wajib berjama’ah, shalat Tarawih, Qiyamul Lail, i’tikaf, tadarus Al-Quran, pengajian, sampai acara buka bersama. Selain bulan Ramadhan, kegiatan keagamaan lainnya juga rutin dilakukan setiap hari Ahad seperti, pengajian bagi bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, remaja, dan mualaf.
Bahkan di Amsterdam terdapat banyak masjid besar dan kecil yang dikelola oleh organisasi-organisasi muslim seperti Euromuslim yang dipegang oleh Faisal Rizky, mualaf Belanda yang memiliki nama asli Jan Peter Zeeman. Saat ini tidak sulit mencari masjid atau tempat shalat di kota itu.
Sebagian besar pengurus di berbagai masjid adalah warga Indonesia. Namun, itu bukan halangan lantaran segala informasi disampaikan dalam bahasa Belanda dan selanjutnya disambung oleh ikhwan asal Marokko dengan bahasa Maroko, karena memang mayoritas hadirin berasal dari negeri tersebut. Di sinilah terasa betapa persaudaraan dalam Islam sangat terasa, perbedaan warna kulit dan bahasa bukan halangan untuk mengagungkan asma Allah SWT.
Suasana khidmat dan penuh persaudaraan antara warga muslim yang berasal dari berbagai bangsa dan negara semakin terasa saat panitia masjid melaksanakan aksi sumbangan untuk bencana banjir di Pakistan, para jama’ah dengan penuh ikhlas memberikan sedekahnya sehingga dalam satu malam berhasil terkumpul sekitar 4000 euro. Selain itu panitia juga mengorganisir zakat fitrah dan mal serta sedekah untuk disalurkan kepada yang berhak. Demikian dikutip dari situs Euromuslim Amsterdam

Senin, 22 Agustus 2011

Ukraina: Geliat Kebangkitan Islam di Eropa Timur


Ukraina menjadi wilayah pertarungan antara AS, Eropa dan Rusia, di mana posisi umat Islam?
Aroma revolusi di kawasan Eropa Timur seakan tidak ada henti. Pergeseran penguasa seakan-akan menjadi isu sentral di kawasan tersebut. Salah satunya adalah di Ukraina. Ukraina baru menuntaskan Pemilihan Umum Februari silam. Victor Yanukovych yang pernah menjabat perdana menteri dan presiden pada tahun 2004 menjadi terpilih menjadi kepala negara yang baru. Muncul spekulasi mengenai arah politik Ukraina di kawasan Eropa Timur.

Negara Strategis
Ukraina adalah negara pecahan Uni Sovyet. Negara yang memproklamasikan diri dari Uni Sovyet tanggal 1 Desember 1991 ini berada di kawasan Eropa Timur. Sesuai namanya Ukraina = perbatasan, negara ini berbatasan dengan Rusia di Timur Laut, Belarusia di Utara, Polandia, Slowakia dan Hongaria di Barat. Rumania dan Moldova di Barat daya dan Laut Hitam di Selatan.
Ukraina luasnya mencapai 603.700 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 48 juta jiwa menempati posisi strategis karena menghadap Laut Hitam. Laut Hitam adalah bagian dari lautan Mediterania (Laut Tengah) yang menjadi pusat interaksi peradaban sejak zaman Yunani-Romawi kuno, hingga pada Abad Pertengahan sampai masa Perang Dingin. Karena lautan ini menghubungkan tiga benua, Eropa, Asia dan Afrika.
Dengan posisi seperti itu, Ukraina menjadi penghubung Eropa dan Asia, sehingga dapat memengaruhi peta politik global dan keseimbangan regional. Terlebih dengan memiliki jalur jaringan energi khususnya jaringan pipa gas alam maka tidak heran kalau Rusia, Amerika dan Uni Eropa sangat memperhatikan Ukraina yang menurut Cantori Spiegel disebut sebagai intrusive system.

Perspektif Rusia
Rusia memandang Ukraina dengan perhatian yang sangat besar. Secara sosiologis mayoritas penduduk wilayah timur Ukraina menganut aliran Ortodoks dan berbahasa Rusia. Hal ini yang menimbulkan kedekatan Ukraina dengan Rusia. Di sisi yang lain, Rusia memiliki pangkalan armada laut Hitam di Ukraina. Pangkalan Sevastopol merupakan pangkalan yang sangat bersejarah bagi Rusia. Terutama dengan Strategi Air Hangatnya, Rusia pada masa Perang Dingin berusaha menguasai pelabuhan-pelabuhan utama yang tidak beku pada musim dingin, itulah Pangkalan Sevastopol. Sesuai perjanjian akan berakhir pada tahun 2017.
Pasca revolusi Orange di Ukraina pada tahun 2004, hubungan Ukraina dengan Rusia mengalami keguncangan. Keguncangan ini disebabkan langkah pemerintah Ukraina yang berusaha mendapatkan keanggotaan di Uni Eropa. Kalau betul Ukraina menjadi anggota Uni Eropa maka hal ini merupakan pukulan bagi Rusia yang telah kehilangan negera-negara mitra strategisnya di Eropa Timur. Keguncangan ini juga disebabkan adanya perubahan sikap Ukraina terhadap armada laut Hitam Rusia yang ditempatkan di Sevastopol dan karena perselisihan seputar gas alam.
Maka dari itu Rusia berusaha mengerahkan agen-agennya untuk melakukan penentangan terhadap pemerintahan Yushchenko, terutama di wilayah timur Ukraina dan beberapa daerah lainnya yang loyal ke Rusia. Dan upaya ini berhasil sehingga dalam pemilu terakhir 2010 ini dapat menempatkan pemerintah yang loyal kepada Rusia. Hal ini ditunjukkan dengan penandatangani sejumlah perjanjian dengan Moskow dalam bidang energi. Pengokohan kerja sama ekonomi dan pengembangan hubungan dalam bidang media, penyebaran informasi, pendidikan, bahasa dan kebudayaan.

Perspektif Amerika Serikat
Dalam pandangan Amerika Serikat, Ukraina memiliki urgensi vital dalam upaya mengepung kawasan pengaruh Rusia. Karena itu, bila Amerika kehilangan pengaruhnya di Ukraina maka pengaruh Rusia akan semakin menguat di Laut Hitam dan Eropa Timur.
Di sinilah bisa dilihat bagaimana Amerika Serikat berupaya menciptakan revolusi Orange yang menghadirkan Yushchenko ke tampuk pemerintahan. Dan terbukti ketika revolusi ini berhasil, maka pada era itu Ukraina menjadi partner strategis dan utama bagi Amerika Serikat.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat memberikan bantuan ekonomi ke Ukraina yang besarnya menduduki peringkat ketiga setelah Israel dan Mesir. Hal ini dilakukan untuk memutus kebergantungan secara ekonomi kepada Rusia.
Hanya saja karena krisis ekonomi yang dihadapinya, terlebih Amerika Serikat lebih mengonsentrasikan kekuatannya di Irak dan Afganistan, maka tidak bisa memberikan perhatian dan sumber daya yang cukup bagi Ukraina. Hal inilah yang dimanfaatkan Rusia untuk membalikkan keadaan pasca revolusi Orange.

Perspektif Uni Eropa
Dalam perspektif Uni Eropa, Ukraina adalah dinding pemisah antara Rusia dan Eropa Timur. Setelah Polandia menjadi anggota Uni Eropa dan Rumania serta Bulgaria memenuhi syarat untuk menjadi anggota Uni Eropa, maka Ukraina menjadi tetangga negara-negara Uni Eropa dan memiliki urgensi yang besar bagi Uni Eropa. Ukraina diharapkan dapat menjadi jembatan antara Rusia dan Eropa pada saat damai (peace). Namun, bila terjadi konflik, maka Ukraina juga bisa dinilai sebagai penyangga bagi keduanya. Selain itu juga, melalui wilayah Ukraina sebanyak 80 persen gas alam Rusia mengalir ke Eropa yang menyuplai seperempat konsumsi gas Eropa. Sehingga dalam konteks energi, Ukraina sangat penting bagi Eropa.

Ukraina dan Kebangkitan Umat Islam
Dari 48 juta penduduk Ukraina, yang Muslim hanyalah 2 juta orang saja. Di sana terdapat sekitar 200-an masjid dan 20-an Islamic centre. Padahal kaum Muslim telah lama menetap di sana selama berabad-abad, pada masa kewalian Tatar Krimea pada abad ke-15 yang merupakan keturunan Turki yang telah menetap sejak abad ke-7. Hanya saja pada abad ke-18 Rusia berhasil menaklukkan kekhilafahan Turki Utsmani dan memburu semua penduduk Muslim sehingga jutaan orang harus meninggalkan Krimea (Ukraina sekarang).
Walaupun jumlah Muslim di sana kini minoritas, upaya untuk membangkitkan umat tidaklah kalah dengan negeri lain. Salah satunya adalah apa yang pernah dilakukan oleh Hizbut Tahrir Ukraina pada tahun 2007 yang menyelenggarakan Konferensi Khilafah dengan tajuk Islam; Kemarin, Hari ini dan Esok. Dengan berbekal fakta kesejarahan, kaum Muslim di sana yang diminoritaskan, berusaha untuk bangkit dan membangkitkan umat, terlebih Ukraina memiliki posisi yang strategis dalam upaya penetrasi Islam ke Eropa. Wallahu’alam (Budi Mulyana)

Geliat Islam Di Amerika

Ketika Seorang Imam Masjid Membangun “Jembatan” Islam - Barat

Meski sudah enam tahun berlalu, trauma Tragedi 11 September masih menghantui sebagian besar masyarakat Amerika. Umat Islam di negeri itu pun menjadi korban pelampiasannya. Tak mau berlarut-larut, seorang Imam masjid berusaha memulihkan hubungan Islam-Amerika dengan caranya sendiri.

Jika beberapa waktu belakangan ini Anda berjalan-jalan ke toko buku, Anda akan melihat sebuah buku baru yang selalu menarik perhatian pengunjung. Buku itu berjudul Seruan Azan Dari Puing WTC terjemahan dari What’s Right With Islam : A New Vision For Muslims and the West, sebuah buku best seller yang ditulis oleh seorang Imam Masjid di New York, yang tempat tinggalnya hanya beberapa blok dari lokasi pemboman gedung WTC. Sejak tragedi 9/11, wajah Feisal Abdul Rauf, demikian nama sang imam, sering muncul di berbagai media lokal, menjelaskan tentang ajaran Islam yang sebenarnya, yang jauh dari budaya kekerasan, kebencian dan dendam.
Sangat menarik, demikian komentar para agamawan di negeri Paman Sam, yang dikutip di bagian dalam cover. Karena berbeda dengan kebanyakan tokoh muslim yang hanya membela diri dan agamanya, Imam Feisal justru mengulurkan tangan, mengajak seluruh komponen masyarakat Amerika mencari akar masalah yang membuat hubungan antara Islam dan “Amerika” menjadi tegang. Ia juga mengajak semua penganut agama untuk mencari titik temu dari berbagai silang sengkarut pemahaman masing agama yang sangat eksklusif.
Upaya Imam Feisal itu sangat beralasan. Sebab selain berita gembira bahwa Islam mendadak menjadi item paling populer di penghujung tahun 2001 hingga beberapa tahun berikutnya, terbukti enam tahun belakangan majelis-majelis kajian keislaman marak dibanjiri masyarakat non muslim, buku-buku, artikel di internet, majalah, dan koran, serta acara TV yang mengulas tentang Islam selalu mendapat perhatian masyarakat Amerika, bahkan Al Quran, seperti diungkap Bill Schnoeblen, seorang penulis buku spiritual yang cukup dikenal di AS, sejak peristiwa 11 September lalu menjadi buku paling laris dan banyak diburu rakyat Amerika; fakta bahwa ada peningkatan kuantitas (dari 30% menjadi 58 %) rakyat Amerika yang memberikan gambaran bagus tentang Islam; dan gelombang besar warga AS yang memeluk Islam, sebagaimana dilansir harian The New York Times (22/10/2001) bahwa ada sekitar 25 ribu orang Amerika yang telah beralih memeluk Islam sejak kasus 11 September dan Columbia News Service (22/3/2001) yang menulis, sekitar 15 ribu orang keturunan Amerika Latin yang tersebar di berbagai kota seperti Newark, Miami, Los Angeles dan New York beralih dari Katolik dan memeluk Islam di AS; atau cerita lain yang datang dari Presiden Assosiasi Muslim Hawaii, Hakim Ouansafi, bahwa sejak 11 September 2001, rata-rata ada sekitar 3 orang AS di Hawaii masuk Islam dalam sebulan, bahkan, sempat mencapai angka 23 kasus; atau berita Hidayatullah.com tentang seorang komandan pasukan International Security Assistance Force (ISAF) asal Amerika, Capt. Michael P. Cormier, 45, yang masuk Islam di Propinsi Ghazni, Afghanistan, yang dikenal dengan basis pejuang Taliban; tertoreh juga cerita pilu, yang hingga kini masih terus berlangsung: umat Islam di negeri yang mengklaim dirinya sebagai kampiun demokrasi itu itu mengalami banyak teror, sebagai dampak pemberitaan miring di media.
Melucuti PakaianTengok saja laporan Council on American-Islamic Relation (CAIR) yang mengungkapkan, sampai bulan Februari 2002 umat Islam Amerika mengalami 1717 kasus kekerasan dan diskriminasi dalam berbagai bentuk, seperti penyerangan fisik (289 kasus), pembunuhan (11 kasus), diskriminasi di tempat kerja (166 kasus), diskriminasi di bandara (191 kasus), dan pelecehan seksual terhadap para Muslimah (372 kasus). Petugas keamanan bandara di AS, misalnya. Dengan alasan khawatir membawa barang-barang yang berkaitan dengan terorisme mereka tak segan melucuti pakaian seorang muslimah yang mengenakan abaya dan jilbab.
Datar kasus-kasus diskriminatif dan sikap Islamophobia terhadap kaum Muslim di Amerika tersebut masih akan terus bertambah panjang hingga saat ini. Abdus Sattar Ghazali, misalnya, dalam laporannya yang ditulis di The Milli Gazette Online, 9 September 2006 berjudul, “Muslim Islamic News Five years after 9/11: American Muslims remain under siege”, melukiskan perkembangan terakhir kaum Muslim di Negeri Paman Sam pasca runtuhnya Menara Kembar WTC.
“Tak ada masa begitu menyulitkan, selain beberapa tahun pasca 11 September. Orang Amerika, lebih akrab menyebut 9/11. Lima tahun pasca runtuhnya menara kembar, teror terhadap warga Muslim menjadi hal biasa. Bagi kaum Muslim, kampanye Presiden AS, George W Bush, yang dikenal dengan aksi global war on terror-nya menjadi bagian hidup baru yang menakutkan. Penggeledahan, penculikan, pelecehan, intrograsi dan penangkapan, serta pengadilan tanpa bukti –seolah—begitu halal bagi kaum Muslim di sebuah Negeri yang mengaku kampiun demokrasi ini,” tulisnya.
Setahun pasca peledakan WTC, kondisi kaum Muslim begitu buruk. Serangan dan pelecehan terjadi di mana-mana. “Jika kamu sedang berada di jalanan, secara fisik kamu akan diserang,” kata Nidal Ibrahim, Direktur eksekutif CAIR Washington, sebagaimana dikutip Voice of America.
Sebagian kalangan menilai, streoptip buruk terhadap Muslim Amerika seratus persen dipicu oleh peristiwa 9/11. Namun, tak sedikit juga yang memahami sebaliknya. Profesor Howard Winant salah satunya. Pengarang buku Racial Formation in the United States, Formasi Rasial di Amerika Serikat, itu beranggapan, sikap buruk terhadap Islam –khususnya oleh pemerintahan Amerika—justru merupakan kebijakan (policy) resmi negara.
“Amerika Serikat memang selalu mempunyai kecenderungan untuk membedakan ras dan memandang konflik internasional sebagai ancaman domestik,” ujarnya sebagaimana dikutip The Milli Gazette Online.
Sepanjang Perang Dunia II, lanjutnya, Jerman, Italia dan --khususnya--Jepang, juga pernah mengalami hal sama seperti umat Islam saat ini: dipandang dengan penuh curiga atas alasan-alasan “keamanan nasional”. Dengan cara yang sama, peristiwa serupa pernah terjadi di saat naiknya komunisme Uni Soviet di tahun 1920 dan 1950. Maka tidak mengherankan jika Islam kemudian dijadikan ancaman “keamanan nasional” berikutnya.
Perang KoboiParahnya, sikap “jahat” pemerintah negara adi kuasa itu tak membuat umat Islam di belahan dunia lain ketakutan. Bahkan simpati kaum msulimin atas peristiwa Tragedi WTC ikut terkikis oleh kebijakan “perang koboi” yang digaungkan pemerintah Amerika.
Tengok saja penelitian yang dilakukan Freedom Institute dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta yang bertujuan mengungkap sentimen anti-Amerika di kalangan umat Islam Indonesia. Menurut hasil survei, sekitar 2 persen dari total penduduk dewasa Indonesia pernah melakukan aksi yang dapat dikategorikan sebagai tindakan anti-Amerika.
Mereka terlibat, misalnya, dalam demonstrasi-demonstrasi menentang berbagai kebijakan luar negeri Amerika, melakukan penyisiran (sweeping) terhadap warga negara Amerika, menyerukan boikot atas produk-produk Amerika, atau sekadar berupaya mengompori orang lain untuk membenci Amerika. Meski mengakui angka ini relatif kecil, para penulis menggarisbawahi signifikansinya. Karena, aksi-aksi tersebut begitu menonjol di ruang publik dan menarik perhatian yang cukup luas.
Selain itu, survei ini juga menemukan, ada sekitar 20 persen Muslim Indonesia yang menyimpan kebencian terhadap Amerika karena berbagai alasan, meskipun mereka tidak pernah terlibat secara langsung dalam aksi-aksi anti-Amerika tersebut. Mereka umumnya bersikap mendukung aksi-aksi tersebut karena percaya, Amerika memusuhi negara-negara Islam dan kerap memaksakan kehendak-kehendak politiknya terhadap negara lain.
Yang lebih membuat ngeri para tokoh Islam di negeri Paman Sam, ada upaya sistematis untuk menghadap-hadapkan kebenaran Islam dengan kebenaran Amerika. Beberapa hari setelah tragedi WTC, misalnya, muncul tulisan seorang pengamat politik di harian Wall Street Journal yang memotivasi pemerintah federal untuk menggunakan semua kemampuannya guna memerangi Islam, termasuk organisasi-organisasi dan lembaga Islam di Amerika. Alasannya, lembaga dan organisasi tersebut bisa jadi simpatisan dari gerakan fundamentalis seperti Osama Bin Laden yang bisa mengancam American way of life.
Menanggapi isu berbahaya tersebut berbagai reaksi dilakukan para tokoh Islam. Namun rata-rata hanya sebatas menjelaskan bahwa Islam tidak seperti yang dituduhkan sebagian non-muslim.
Berbeda dengan kebanyakan tokoh muslim, Feisal Abdul Rauf, imam Masjid Al-Farah New York, USA, mencoba mencari terobosan baru dengan mencari akar-akar persoalan --dari inti ajaran Islam, nilai-nilai dasar konstitusi Amerika, aspek-aspek sosial-politik-ekonomi dari terorisme, hingga kepentingan Amerika mempertahankan hegemoninya di dunia internasional.
Sebagai pendiri dan pemimpin American Society for Muslim Advancement (ASMA) yang berdiri sejak 1997, Imam Feisal memang telah membaktikan hidupnya untuk membangun jembatan sosial yang menghubungkan masyarakat muslim dengan dunia Barat, khususnya publik non-muslim Amerika. Belakangan, setelah peristiwa 11 September, ia juga mendirikan Cordoba Initiative, sebuah usaha multi-agama untuk memulihkan hubungan muslim dan Amerika yang selama lima puluh tahun terakhir telah terlanjur rusak, atau dalam konteks yang lebih luas antara dunia Islam dengan dunia Barat. Melalui gerakan Cordoba Initiative, Imam Feisal mengajak umat Islam Amerika untuk memainkan peran utama dalam menjembatani hubungan dunia muslim dan Amerika, tak lagi bergantung kepada pihak-pihak lain di luar Amerika.
Satu AkarMelalui buku Seruan Azan Dari Puing WTC, dengan bijak dan runtut, ia memaparkan bahwa Islam sangat menghargai penganut agama lain, meski tidak membenarkan keyakinannya. Sebab semua agama pada dasarnya bermuara pada satu ajaran, kepasrahan dan penghambaan diri secara murni, mutlak dan total kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
Feisal memaparkan kembali fakta historis bahwa Islam, Kristen dan Yahudi –yang merupakan agama terbesar di Amerika-- sesungguhnya mempunyai akar yang sama yakni agama Ibrahim yang disebutnya sebagai agama berserah diri sepenuhnya kepada Allah atau dalam bahasa Arabnya diistilahkan Islam yang hanif (lurus). Karena itu kebenaran Islam pasti sesuai dengan kebenaran Amerika.
Adapun keterbelahannya menjadi tiga agama berbeda semata-mata berasal dari perasaan tidak ingin diusik dalam diri pengikut para nabi pembawa risalah, ketika datang seorang nabi baru untuk melempangkan kembali ajaran agama Ibrahim yang telah tercemari anasir-anasir kemusyrikan.
Ketika Isa datang untuk meluruskan ajaran Ibrahim yang sebelumnya telah diluruskan oleh Musa, misalnya, kaum Yahudi marah dan menentang sang nabi beserta pengikutnya. Tak hanya menentang, mereka juga berusaha membunuh sang nabi dan membasmi pengikutnya. Kelompok pengikut nabi baru itu belakangan dipisahkan secara permanen dari komunitas Yahudi dan disebut sebagai pengikut Kristus atau umat Kristen.
Hal yang sama terulang ketika Nabi Muhammad datang untuk membersihkan ajaran nabi Ibrahim yang ratusan tahun sepeninggal Nabi Isa telah kembali tercemari oleh tangan-tangan Romawi. Dengan serta merta kaum Yahudi dan Kristen menolak ajaran Rasulullah. Mereka juga membuat demarkasi baru terhadap pengikut Nabi terakhir tersebut, muslim. Sejak itu, terbelahlah penganut agama Ibrahim itu menjadi tiga kelompok: Yahudi, Kristiani dan Muslim.
Seandainya semua pihak berbesar hati –seperti sebagian kecil orang Yahudi dan Kristen yang kemudian mengakui kebenaran risalah Nabi Muhammad dan masuk Islam-- untuk menerima gerakan pemurnian ajaran Ibrahim yang dilakukan para nabi dan rasul, pasti agama tidak akan terpecah menjadi tiga besar dunia. Dan bisa dipastikan juga tidak akan pernah ada sentimen antar umat beragama atau pertumpahan darah atas nama Tuhan, seperti yang terjadi sepanjang dua milenium belakangan.
Tak hanya tiga agama besar tersebut, Imam Feisal juga menyinggung penghargaan Islam terhadap umat agama lain, seperti Hindu, Budha, dan Konfusianisme, melalui kutipan ayat 58 dari surah Maryam yang artinya, “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
Merujuk kepada ayat tersebut, menurut Imam Feisal, jelas ada nabi dan rasul diluar keturunan Ibrahim atau di luar Bani Israil dan Bani Ismail, yakni dari keturunan orang-orang yang diselamatkan Allah bersama Nabi Nuh AS yang kemudian menyebar ke bagian lain dari bumi ini. Lebih luas lagi, juga ada nabi dan rasul di luar kelompok yang berlindung di bahtera Nabi Nuh, yakni dari keturunan Nabi Adam AS. Sebab kajian ilmiah modern membuktikan, banjir bandang pada zaman Nabi Nuh sifatnya sangat lokal, di kawasan Timur Tengah.
Rasul LainDi luar itu, Allah pasti juga telah mengutus nabi dan rasul untuk menyampaikan kebenaran kepada anak cucu Adam di India, Cina, Indonesia, benua Amerika dan negeri-negeri lain di seluruh penjuru dunia. Maka bukan tidak mungkin pembawa ajaran awal Hindu, Budha dan Konfusianisme adalah para nabi dan rasul Allah juga. Dengan demikian, lebih luas dari ajaran Ibrahim, pasti ada muara akhir di antara semua kepercayaan tersebut, yakni agama Nuh atau yang lebih tinggi lagi agama Adam AS.
Bukti dari semua itu, menurut Feisal, adalah ditemukannya unsur tauhid dalam setiap agama tersebut, meski sebagian besar sudah bercampur dengan hal-hal yang dalam Islam dianggap syirik. Prinsip dasar tauhid, tambahnya, adalah hanya menuhankan Pencipta Alam Semesta. Karena hanya Sang Pencipta saja yang patut disembah, diagungkan dan dimuliakan, maka secara otomatis selain Tuhan semuanya berdudukan setara.
Prinsip kesetaraan inilah yang menurut Imam Feisal saat ini perlu diperjuangkan untuk tegak kembali, setelah sebelumnya dihancurluluhkan oleh kolonialisme Eropa atas negeri-negeri muslim, Hindu, Budha dan lain-lain. Sebab perasaan superioritas yang masih bercokol di hati masing-masing umat beragama –terutama Yahudi dan Kristen yang dianut oleh mayoritas masyarakat Amerika dan Eropa-- lah yang saat ini sering menyebabkan benturan-benturan horisontal.
Masih banyak lagi argumentasi yang disampaikan Imam Feisal dalam Rauf dalam bukunya tersebut. Seperti adanya common platform antara nilai-nilai dasar Islam dan Konstitusi Amerika dalam mempromosikan kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan persaudaraan. Juga fakta-fakta bahwa keislaman dan keamerikaan bukan bersifat substitutif (saling menggantikan), tetapi komplementer (saling melengkapi).
Feisal Abdul Rauf juga mengemukakan argumentasi yang meyakinkan tentang eksistensi identitas Muslim-Amerika, di mana seorang Muslim yang taat bisa menjadi warga negara Amerika yang loyal dan warga Amerika siapa pun bisa menjadi muslim yang taat, tanpa harus kehilangan identitasnya. Namun fakta terpenting yang ia ungkapkan adalah terorisme Islam lebih berakar pada persoalan ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi, daripada persoalan agama.