Hip Hop untuk Berdakwah
Disela Menyanyi, Naeem Pamerkan Jurus Pencak Silat
Amerika punya grup hip hop yang semua personelnya muslim dan lagu-lagunya sarat dengan nilai-nilai keislaman. Native Deen, nama grup itu, Kamis (11/8) memulai tur di Indonesia. Kelompok tersebut tergolong istimewa. Salah satu di antaranya, mereka selalu tampil dengan unik.
PULUHAN siswa dari MAN 2 Jakarta, Lab School Rawamangun, dan Muhammadiyah 2 Jakarta berdiri saat musik mulai berdentum keras dari salah satu sudut ruangan di @america Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/8). Alunan musik hip hop membuat siswa siswi itu bergoyang. Permainan lampu menambah semarak di ruangan itu. Meski sepintas suasananya tidak jauh berbeda dengan tempat dugem, apa yang terjadi di ruangan itu jauh dari bau minuman beralkohol atau pakaian seksi. Suasana Ramadan masih kental terasa.
Selain para perempuan di tempat itu berjilbab, lagu yang dinyanyikan juga tentang Islam dengan lirik menyentuh dan sindiran halus.
Itulah suasana yang terjadi ketika Native Deen manggung di @america Pacific Place, Jakarta. Itu adalah grup hip hop yang lirik-liriknya sarat dengan nilai Islam. Grup tersebut beranggota tiga pria Afrika-Amerika.
Mereka adalah Joshua Salaam (38), Abdul Malik (36) dan Naeem Muhamad (36) .
Mereka berada di Indonesia untuk melakukan tur Ramadan 2011 pada 10–20 Agustus. Menurut rencana, selain Jakarta, mereka akan tampil di Pontianak, Surabaya, dan Malang. Khusus di Surabaya, grup tersebut bakal hadir di acara puncak malam Grand Final Festival Ramadan Jawa Pos pada 18 Agustus nanti di Taman Surya Pemkot Surabaya.
Joshua Salaam, vokalis Native Deen, mengatakan bahwa saat ini musik rap atau hip hop memang lebih banyak dikesankan dengan tingkah laku yang menyimpang. Padahal, lanjut dia, kali pertama musik Afrika-Amerika itu muncul digunakan untuk hal-hal yang positif. ’’Di Amerika, citra musik rap juga identik dengan penembakan dan perempuan,’’ ujarnya.
Namun, pria 38 tahun itu menyatakan cukup percaya diri terhadap musiknya. Dia mengatakan, bukan Native Deen yang memilih hip hop sebagai jalur musik. Tetapi, hip hop-lah yang telah memilih mereka karena mereka tumbuh di lingkungan yang mencintai hip hop. ’’Kami mencoba untuk memberikan warna musik yang berbeda,’’ imbuhnya.
Oleh sebab itu, kemasan setiap mereka manggung pun dibuat berbeda. Mereka tidak canggung kalau syiar yang tertuang dalam lirik lagunya dipadu dengan dekorasi yang meriah. Termasuk dengan lampu yang agak gelap dan permainan lampu sorot. Bagi Native Deen, yang paling penting adalah tidak ada keraguan dalam berdakwah.
Saat semi konser yang diadakan Kedutaan Amerika di Jakarta itu, misalnya. Dalam musik yang terdengar rancak tersebut, filosofi keislaman tetap terkandung sangat kental. Misalnya, lirik lagu Stand Alone yang mengisahkan bagaimana sulitnya seorang ibu membesarkan anak seorang diri. Namun, dia tetap kuat selama Allah ada di sisinya.
Joshua menambahkan, kaum muda muslim Indonesia, terutama mahasiswa, tidak perlu ragu dalam berdakwah mengenai keislaman. Dakwah itu tidak harus melulu dengan ceramah, tetapi bisa disampaikan lewat musik yang digandrungi orang. Musik Islam juga tidak harus nasyid, bisa aliran apa saja. ”Berdakwah juga bisa melalui lagu,” tuturnya.
Seperti yang terjadi kepada mereka pasca serangan 9/11. Saat itu, sebagai muslim yang tinggal di Amerika, anggota Native Deen juga takut untuk mempraktikkan ajaran agama Islam, termasuk berdakwah. Setelah semuanya berjalan dengan baik, mereka menyesal karena pernah mencoba menyembunyikan identitas mereka sebagai muslim. ”Itu menjadi dasar munculnya album Not Afraid to Stand Alone,” terang dia.
Ketika tampil di Jakarta, salah satu lagu yang membuat penonton terkesan berjudul Ramadan is Here. Lirik lagu itu mengisahkan beratnya seorang muslim menjalankan puasa, seperti Naeem yang pernah diejek teman-temannya lewat kata-kata sinis. Namun, mereka tetap teguh karena yakin bahwa rasa lapar saat siang akan terganti dengan dihapusnya dosa-dosa.
Saat menceritakan lagu tersebut, Joshua menuturkan, dalam perjalanan menuju Indonesia, dirinya tidak berpuasa karena termasuk musafir. Setiba di Indonesia, dia senang karena bisa kembali berpuasa dan waktu berpuasa di negeri ini lebih pendek. Dia menuturkan, di negaranya puasa dimulai pukul 04.20 dan dirinya baru berbuka pukul 20.20.
Lantaran lirik lagu bermuatan ”berat”, yakni tentang agama, Native Deen mengemas setiap performa mereka dengan unik. Diakui Abdul Malik, grup tersebut membutuhkan sesuatu agar yang disampaikan bisa melekat di sanubari penikmat lagu. ”Tidak jarang, kami selipi atraksi menarik,” ungkap dia.
Ketika tampil, atraksi itu juga diperagakan oleh Malik. Ketika menyanyi, di sela-sela lagu tersebut dia memperagakan gerakan pencak silat. Gerakannya yang cakap, membuat penonton bertepuk tangan. ”Ada yang bisa pencak silat” Ayo, lawan saya,” ujarnya sembari memperagakan beberapa jurus.
Pria asal Connecticut itu menyatakan mahir bermain pencak silat karena sudah belajar 20 tahun. Proses belajar bela diri tersebut berawal dari pertemuannya dengan muslim Indonesia yang berada di Amerika. Dia langsung kesengsem dengan pencak silat setelah melihat seni bela diri itu diperagakan. ”Saya bilang, wow, itu keren dan langsung saya belajar,” urainya.
Di Amerika, Joshua dan teman-temannya punya tujuan dalam berdakwah dengan grup hip hop tersebut. Mereka ingin, suasana setiap Ramadan lebih semarak. ”Di Amerika, suasana begitu terasa menjelang Natal. Kami ingin, menjelang Ramadan juga semarak,” ucap Joshua.
Sejak Native Deen berdiri pada 2000, Joshua senang karena grup itu semakin bisa diterima di Amerika maupun negara lain. Yang tidak pernah mereka sangka, lagu-lagu mereka ternyata bisa membuat pendengarnya menjadi muslim yang lebih baik. ”Setidaknya, itu yang kami tahu,” terang Joshua.
Joshua lantas menceritakan sebuah e-mail yang datang dari Pakistan. Dia mengatakan, ada seorang pria yang kini mengaku bisa lebih baik menjadi Islam setelah mendengarkan lagu Native Deen. Terutama dalam bersikap dan berbicara. ”Ada juga yang kirim e-mail bahwa salatnya lebih baik saat ini,” ungkapnya.
Selain itu, beberapa e-mail yang masuk menyebutkan bahwa lagu mereka mengilhami seseorang untuk menjadi mualaf. Itu dialami salah seorang remaja Amerika yang dia temui beberapa waktu lalu. ”Native Deen, saya sekarang muslim dan itu setelah mendengar musik Anda,” terang Joshua, menirukan ucapan mualaf tersebut melalui e-mail.
Bagaimana pendengar nonmuslim” Malik menambahkan, pendengar nonmuslim juga banyak. Sebab, lagu yang mereka ciptakan tidak sempit pada satu golongan saja. Apalagi, rap yang dibawakan positif. ”Benar, itu memberikan keuntungan bagi mereka yang ingin menjadi mualaf,” ucap dia. (c4/c11/kum)
Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=12970
Tidak ada komentar:
Posting Komentar