Baghdad, CyberNews. Menjelang keberangkatnnya ke Iraq di akhir Juli tahun lalu, 37 serdadu Korea Selatan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk langsung memeluk agama Islam.
"Saya menjadi seorang Muslim karena saya merasa Islam lebih humanistik dan damai ketimbang beberapa agama lainnya. Dan jika anda ingin berkomunikasi dengan penduduk setempat lewat pendekatan agama, saya kira ini akan sangat membantu dalam upaya mewujudkan misi perdamaian kita," kata Son, seorang serdadu Korsel mengatakan.
So, Jumat lalu menyebutkan sejumlah tentara Korsel itu masuk Islam menjelang akhir Juli 2006 sebelum mereka diberangkatkan ke Kota Irbil, kota Kaum Kurdi di wilayah utara Iraq. Pada Jumat siang -- ke 37 personel tentara yang berada dalam group pasukan Zaitun itu, termasuk Letnan So-Hyeon-ju yang berasal dari Brigade 11 pasukan khusus, berangkat menuju sebuah masjid di Hannamdong, Seoul dan mengikuti upacara pengucapan dua kalimat syahadat (syarat masuk Islam).
Kapten Son Jin-gu dari unit Zaitun pada kesempatan itu mengucapkan sumpah (bai'at) sebagai tanda bahwa dia telah masuk Islam di sebuah masjid di Hannam-dong, Seoul, Jumat. Serdadu, yang membasahi seluruh tubuhnya secara Islam atau mandi besar tersebut, mengucapkan dua kalimah syahadat menjelang sholat Jumat di masjid itu yang dituntun oleh imam salat.
Kecuali Imam shalat, seluruh warga Muslim dan para serdadu Korea berdiri dalam suatu shaf (barisan) salat yang melambangkan bahwa semuanya sama di hadapan Allah dan kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat, dengan membaca Asyhadu an La ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah.
Para serdadu dari pasukan Zaitun itu usai upacara peng-Islaman, mereka menunaikan sholat Jumat di masjid tersebut. Selanjutnya ketika menghadap Kakbah (kiblat) di Makkah, semua orang Islam menegaskan mereka adalah bersaudara, demikian laporan yang dikutip dari englishnews@.chosun.com.
Bagi serdadu Korsel, yang telah menganut kepercayaan Islam, kesempatan yang disediakan oleh pasukan Zaitun untuk mengadakan kontak dengan kalangan Muslim menjadi kenyataan. Dengan pertimbangan mayoritas penduduk Irbil adalah Muslim, pasukan tersebut mengirim anggotanya yang tidak memiliki paham keagamaan ke Masjid Hannam-dong supaya mereka mengerti Islam. Namun, sebagian di antara mereka tertarik untuk masuk Islam dan memutuskan untuk menganut agama tersebut.
Seorang perwira mengatakan, para serdadu tersebut terilhami oleh betapa pentingnya kebersamaan (kehidupan berjamaah) dalam dunia Islam. "Jika Anda seagama (sesama Muslim) anda diperlakukan bukan sebagai orang asing, tapi sebagai penduduk setempat (lokal). Muslim laki-laki tidak boleh menyerang Muslimah (perempuan) sekalipun dalam pertempuran."
Anggota pasukan Zaitun, Kopral Paek Seong-uk (22) dari Divisi-11 Angkatan Darat Korsel mengatakan "Saya banyak mempelajari Bahasa Arab di kursus dan setelah membaca Al-Quran, saya sangat tertarik untuk masuk Islam dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim berdasarkan pengalaman agama tersebut."
Ketika mengungkapkan aspirasinya, dia mengatakan, "Kalau kami dikirim ke Iraq, saya akan berpartisipasi dalam berbagai acara keagamaan bersama penduduk setempat agar mereka bisa merasakan kasih sayang dari saudara mereka dan yakin bahwa serdadu Korea Selatan bukanlah tentara yang datang untuk menjajah, tapi satu pasukan yang dikirim untuk menyediakan bantuan kemanusiaan.
Tampilkan postingan dengan label Kronika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kronika. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 September 2011
37 Tentara Korsel Masuk Islam sebelum ke Irak
Muslim Kamboja Mencari Keadilan Atas Genosida Rezim Khmer Merah
Banyak anggota masyarakat muslim bisa tidak bertahan selama pemerintahan rezim Khmer merah di era 1970-an, di mana rezim dengan sadis mengeksekusi para ulama Islam, menghancurkan masjid, memaksa umat Islam untuk makan daging babi dan melarang pemakaian jilbab.
"Orang-orang mencoba segala macam cara untuk bisa shalat. Kadang-kadang ketika mereka sedang mengendarai sebuah gerobak sapi. Kadang-kadang di hutan ketika kami meminta izin untuk menggunakan toilet, dan kadang-kadang saat kami sedang mencuci," kenang Zakaria bin Ahmad yang saat ini berusia 61 tahun.
Tapi kebanyakan, orang-orang yang diingatnya telah menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.
"Banyak yang terbunuh," katanya di rumahnya yang sederhana di bawah bayangan sebuah masjid modern berkubah biru, sumber kebanggaan bagi kota Chraing Chamres, yang sebelumnya tempat ibadahnya telah dihancurkan oleh Khmer Merah.
Muslim Kamboja, yang dikenal sebagai Cham, berharap mereka bisa melihat keadilan pada saat tokoh paling senior pemimpin Khmer Merah yang masih hidup diadili atas genosida, yang didukung PBB atas perlakuan kejam terhadap etnis minoritas dan agama.
"Sekarang kami dapat menceritakan kisah kami," kata seorang pedagnga Pin Apoutorliep, yang juga pemimpin agama, atau hakim, dari masjid Chraing Chamres.
"Kami sepenuhnya mendukung pengadilan agar bisa mengatakan yang sebenarnya dan untuk mengatakan apa yang terjadi di bawah rezim Pol Pot," ujarnya, mengacu pada pendiri utama rezim Khmer merah, yang meninggal pada tahun 1998 dan lolos dari pengadilan.
Sebelum tuduhan genosida yang diajukan terhadap mantan pemimpin Khmer Merah, perlakuan terhadap minoritas Muslim jarang dibahas.
"Di masa lalu, ada sedikit yang menyebutkan tentang penderitaan etnis Cham di bawah rezim Khmer Merah," kata Farina, seorang ahli di Pusat Dokumentasi Kamboja (DC-Cam), yang melakukan penelitian kekejaman Khmer merah.
"Penderitaan etnis Cham belum banyak diselidiki," tambahnya. "Mereka membutuhkan pengakuan dari orang-orang."
Tidak ada yang tahu persis berapa banyak Muslim yang tewas di bawah gerakan totaliter, yang menyapu bersih hampir seperempat dari populasi mereka.
Tapi DC-Cam memperkirakan bahwa antara 100.000 hingga 500.000 dari 700.000 masyarakat Cham di negara itu tewas di tangan rezim Khmer merah.
"Ini masih segar di mata kami,"kata Pin Apoutorliep, yang kehilangan orang tuanya dan empat saudara kandungnya di bawah rezim Khmer Merah, mengatakan kepada AFP setelah menyelesaikan shalat zhuhur. "Setiap keluarga memiliki rasa sakit."
Pembunuhan massal umat Muslim, membentuk dasar dari tuduhan genosida terhadap empat terdakwa Khmer Merah, termasuk "Saudara Nomor Dua" Nuon Chea dan mantan kepala negara Khieu Samphan.
File dakwaan terhadap empat terdakwa menyatakan bahwa "Etnis Cham secara sistematis dan metodis ditargetkan dan dibunuh" dan Khmer Merah berusaha untuk menghilangkan budaya Cham, tradisi dan bahasanya.
Hari ini, ada sekitar setengah juta etnis Cham di Kamboja, mayoritas dari mereka pengikut Islam Sunni, dan mereka menikmati kebebasan penuh menjalankan agama.
Tapi seperti banyak muslim tertindas di negara Asia tenggara, mereka tetap dihantui oleh masa lalu.
"Mereka merekonstruksi masjid, mereka menghidupkan kembali identitas agama dan etnis mereka, mereka membuka sekolah-sekolah Islam dan mengajarkan Islam," kata Farina. "Mereka mencoba untuk pulih dari trauma ini, tapi langkah itu adalah proses yang lambat."(fq/afp)
Muslim Cina Berkumpul di Salah Satu Masjid Tertua di Dunia untuk Iftha
Muslim Cina berkumpul di Masjid Agung Guangzhou untuk berbuka puasa setiap malam.
Masjid Huaisheng memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan Muslim di Guangzhou dan Muslim menyambutnya dari seluruh dunia.
Pemain Sepak Bola Muslim Tetap Berpuasa Ramadhan
Bagi striker Sevila, Frederick Kanoute, bulan Ramadhan bukanlah halangan baginya untuk tetap menjalakan puasa sekaligus membela klubnya di pentas La Liga. Baginya, masih memungkinkan untuk setiap pemain bola tetap berada di puncak kondisi fisiknya selama Ramadahan ini.

“Saya berusaha menghormati keyakinan saya dan mengikuti sebaik yang saya bisa. Kadang-kadang lebih sulit untuk mempertahankan puasa karena di sini, di Spanyol selatan sangat panas, tapi saya bisa melakukannya, Segala Puji Bagi Allah,” kata Kanoute.
"Di negara-negara Eropa yang memiliki kompetisi sepak bola terbaik di dunia, seperti Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis dan beberapa negera lainnya, banyak pemain-pemain Muslim yang bermain di liga tersebut tetap menjalankan keyakinan mereka dan tetap puasa selama Ramadhan, namun hal itu bukanlah suatu hal yang ingin mereka katakan kepada dunia," lanjut kanoute.

Pemain-pemain seperti Mahamadou Diara, Lassana Diara, Karim Benjema dari Real Madrid, Frang Ribery dari Bayern Munchen, Nikolas Anelka dari Chelsea Hosein kharja dari Genoa, Mohammad sissoko dari Juventus juga tetap menjalankan puasa Ramadhan meskipun mereka harus menjalankan pertandingan dengan klub masing-masing. (aa/dbs)
“Saya berusaha menghormati keyakinan saya dan mengikuti sebaik yang saya bisa. Kadang-kadang lebih sulit untuk mempertahankan puasa karena di sini, di Spanyol selatan sangat panas, tapi saya bisa melakukannya, Segala Puji Bagi Allah,” kata Kanoute.
"Di negara-negara Eropa yang memiliki kompetisi sepak bola terbaik di dunia, seperti Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis dan beberapa negera lainnya, banyak pemain-pemain Muslim yang bermain di liga tersebut tetap menjalankan keyakinan mereka dan tetap puasa selama Ramadhan, namun hal itu bukanlah suatu hal yang ingin mereka katakan kepada dunia," lanjut kanoute.
Pemain-pemain seperti Mahamadou Diara, Lassana Diara, Karim Benjema dari Real Madrid, Frang Ribery dari Bayern Munchen, Nikolas Anelka dari Chelsea Hosein kharja dari Genoa, Mohammad sissoko dari Juventus juga tetap menjalankan puasa Ramadhan meskipun mereka harus menjalankan pertandingan dengan klub masing-masing. (aa/dbs)
Terima Seruan Kaddafi, Gadis Italia Masuk Islam
Dubai - Salah satu dari 200 perempuan muda diundang bagi kegiatan ceramah Islam pemimpin Libya Muammar Gaddafi di Roma hari Minggu dan Senin kemarin (15-16/11) telah menerima seruan sang presiden untuk masuk Islam, seperti di laporkan surat kabar harian Italia Corriere della Sera pada hari Rabu.
Alda Ribeiro mengatakan kepada surat kabar yang berbasis di Milan bahwa pertemuan dengan pemimpin eksentrik tersebut telah "merubahnya."
Ribeiro, seperti gadis-gadis lain yang diundang ke acara tersebut, direkrut dari Hostessweb, sebuah Agensi di Roma yang menyediakan perempuan untuk acara-acara perusahaan. Gadis-gadis itu tidak melakukan kegiatan seksual namun murni sebagai penghias pesta.
"Bagi saya, Islam selalu dikaitkan dengan konsep kepatuahn perempuan. Di malam lain, ada rasa takut di kalangan para gadis bahwa kita semua akan berakhir di kediaman selir raja,"
Ribeiro, berasal dari Portugal, merupakan lulusan Universitas dan bisa berbicara dalam lima bahasa.
"Aku bertanya kepada Gaddafi apa pendapatnya tentang peran perempuan dan ia menjawab bahwa ia selalu menjadi pendukung hak-hak perempuan. Aku tidak menduga itu.
"Itu sebabnya saya memutuskan untuk menerima undangannya. Aku akan pergi ke Libya. Aku ingin mengerti, untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri. Lalu aku akan memutuskan."
Gaddafi di Roma untuk menghadiri KTT Pangan Dunia PBB, tetapi lebih memusatkan sebagian besar perhatiannya pada dua malam di mana, sesuai dengan pernyataannya, ia mencari wanita untuk di ajak masuk agama Islam. (aa/aby)
Alda Ribeiro mengatakan kepada surat kabar yang berbasis di Milan bahwa pertemuan dengan pemimpin eksentrik tersebut telah "merubahnya."
Islam yang digunakan untuk menakut-nakuti saya, sekarang justru mempesona saya," kata wanita berusia 27 tahun itu"Islam yang digunakan untuk menakut-nakuti saya, sekarang justru mempesona saya," kata wanita berusia 27 tahun itu.
Ribeiro, seperti gadis-gadis lain yang diundang ke acara tersebut, direkrut dari Hostessweb, sebuah Agensi di Roma yang menyediakan perempuan untuk acara-acara perusahaan. Gadis-gadis itu tidak melakukan kegiatan seksual namun murni sebagai penghias pesta.
"Bagi saya, Islam selalu dikaitkan dengan konsep kepatuahn perempuan. Di malam lain, ada rasa takut di kalangan para gadis bahwa kita semua akan berakhir di kediaman selir raja,"
Ribeiro, berasal dari Portugal, merupakan lulusan Universitas dan bisa berbicara dalam lima bahasa.
Ribeiro menambahkan bahwa sejak peristiwa yang diadakan duta besar Libya, dia telah mempelajari ajaran Islam dengan membaca Quran yang diberikan kepadanya oleh Gaddafi.Ribeiro menambahkan bahwa sejak peristiwa yang diadakan duta besar Libya, dia telah mempelajari ajaran Islam dengan membaca Quran yang diberikan kepadanya oleh Gaddafi.
"Aku bertanya kepada Gaddafi apa pendapatnya tentang peran perempuan dan ia menjawab bahwa ia selalu menjadi pendukung hak-hak perempuan. Aku tidak menduga itu.
"Itu sebabnya saya memutuskan untuk menerima undangannya. Aku akan pergi ke Libya. Aku ingin mengerti, untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri. Lalu aku akan memutuskan."
Gaddafi di Roma untuk menghadiri KTT Pangan Dunia PBB, tetapi lebih memusatkan sebagian besar perhatiannya pada dua malam di mana, sesuai dengan pernyataannya, ia mencari wanita untuk di ajak masuk agama Islam. (aa/aby)
Penyanyi Rap Wanita Asal Perancis Masuk Islam
Penyanyi Rap muda Perancis "Diam" telah memeluk Islam. Ia mengatakan ke media-media Perancis bahwa "Obat-obatan tidak mampu menyembuhkan jiwaku, jadi aku berpindah agama".
Diam's telah mendapat sorotan media pada saat ia mengenakan pakaian hitam dan menggunakan hijab sejak ia masuk Islam dan menikah dengan seorang pria Muslim.
Diam's, yang mempunyai nama asli Melanie Georgiades, lahir pada 25 Juli 1980 di Cyprus, wanita ini merupakan artis penyanyi rap Perancis, ia juga keturunan Yunani Cypriot. Pada tahun 1984, keluarganya pindah ke Essonne (dekat Paris) .
Diam's pernah memenangkan beberapa penghargaan di dunia musik. Penggemarnya yang cukup banyak juga sangat terkejut dengan kabar jika penyanyi ini masuk Islam, padahal direncanakan Diam's akan merilis album barunya pada bulan November.
Diam mengatakan semua keuntungan dari album barunya ini akan didonasikan kepada organisasi kemanusiaan dan ia mengatakan mulai saat ini dirinya tidak akan meninggalkan rumah tanpa menutupi rambutnya.
[voa-islam/SG]
Diam's telah mendapat sorotan media pada saat ia mengenakan pakaian hitam dan menggunakan hijab sejak ia masuk Islam dan menikah dengan seorang pria Muslim.
Diam's, yang mempunyai nama asli Melanie Georgiades, lahir pada 25 Juli 1980 di Cyprus, wanita ini merupakan artis penyanyi rap Perancis, ia juga keturunan Yunani Cypriot. Pada tahun 1984, keluarganya pindah ke Essonne (dekat Paris) .
Diam's pernah memenangkan beberapa penghargaan di dunia musik. Penggemarnya yang cukup banyak juga sangat terkejut dengan kabar jika penyanyi ini masuk Islam, padahal direncanakan Diam's akan merilis album barunya pada bulan November.
Diam mengatakan semua keuntungan dari album barunya ini akan didonasikan kepada organisasi kemanusiaan dan ia mengatakan mulai saat ini dirinya tidak akan meninggalkan rumah tanpa menutupi rambutnya.
[voa-islam/SG]
Potret Mualaf Belanda
Warga Belanda asli yang memutuskan memeluk Islam tidaklah asing lagi. Kenapa mereka memutuskan diri masuk Islam? Bagaimana tanggapan orang di sekeliling mereka?
Mata Jacob van de Blom berkaca-kaca ketika dia mengucapkan kalimat syahadat. Jacob, matanya biru dan berjenggot merah, lahir dan besar di Rotterdam. Ia dibesarkan dengan Agama Kristen. Namun demikian, ia selalu punya pendapat sendiri tentang Tuhan dan agama. Sebelas tahun lalu dia masuk Islam. Bagi Jacob ajaran Islam tentang Tuhan sesuai dengan keyakinannya.
Istri
Stefanie Danopoulos, istri Jacob, juga besar di Rotterdam. Karena ibunya orang Belanda dan ayahnya orang Yunani, ia dibesarkan dengan Agama Yunani Orthodox. Sebelumnya Stefanie sama sekali tidak senang dengan keputusan suaminya untuk masuk Islam. Tapi, ia kemudian juga ikut masuk Islam.
"Ketika suami saya menyampaikan niatnya untuk masuk Islam, saya pikir dia sudah gila. Yang kita dengar di media hanyalah hal-hal negatif saja tentang Islam. Jadi, awalnya saya percaya saja tapi semua itu berubah setelah saya mendalami Islam".
Keluarga Stefanie awalnya juga menentang. Namun, setelah beberapa tahun mereka bisa menerima Stefani yang semakin kelihatan tenang dalam menjalani hidup. Orang Yunani Ortodox sangat agamis, mereka senang setidaknya Stefanie masih percaya Tuhan.
Diludahi
Namun, dunia luar jauh lebih kejam. Setelah Serangan 11 September di Amerika, Stefanie yang memakai jilbab beberapa kali pernah diludahi orang. Walau demikian, mereka yakin harus berani menunjukkan Islam dalam cara berpakaian mereka. Stefanie tidak perduli orang menatap aneh ke arahnya, yang penting ia percaya agamanya.
Jacob bisa mengerti kenapa ada orang yang melihat miring pilihannya untuk masuk Islam. "Kita, orang Belanda, sudah berabad-abad tinggal di sini. Kita punya identitas sendiri. Jadi wajar saja ketika tiba-tiba ada budaya dari luar yang berkembang di sini, orang sama sekali tidak suka."
Puber
Mengenai kelompok Islam ekstrimis Belanda, Hofstad, yang merencanakan serangan di Belanda, Jacob berpendapat itu adalah kelakuan anak puber.
"Mereka itu hanya anak-anak remaja yang terisolasi. Dengan keadaan semacam itu, mereka bisa saja jadi holigan atau ekstrimis muslim. Itu semua bisa terjadi karena mereka masih dalam masa puber".
Menurut Jacob ketakutan orang terhadap Islam karena tidak banyak informasi tentang Islam. Pengetahuan dasar tentang Islam tidak ada di Belanda. Pemerintah dan dinas intelejen juga tidak punya pengetahuan yang cukup tentang Islam. Menurut Jacob keadaan ini sangat disesalkan karena menimbulkan rasa takut terhadap Islam di masyarakat.[zak/rnw]
Mata Jacob van de Blom berkaca-kaca ketika dia mengucapkan kalimat syahadat. Jacob, matanya biru dan berjenggot merah, lahir dan besar di Rotterdam. Ia dibesarkan dengan Agama Kristen. Namun demikian, ia selalu punya pendapat sendiri tentang Tuhan dan agama. Sebelas tahun lalu dia masuk Islam. Bagi Jacob ajaran Islam tentang Tuhan sesuai dengan keyakinannya.
Istri
Stefanie Danopoulos, istri Jacob, juga besar di Rotterdam. Karena ibunya orang Belanda dan ayahnya orang Yunani, ia dibesarkan dengan Agama Yunani Orthodox. Sebelumnya Stefanie sama sekali tidak senang dengan keputusan suaminya untuk masuk Islam. Tapi, ia kemudian juga ikut masuk Islam.
"Ketika suami saya menyampaikan niatnya untuk masuk Islam, saya pikir dia sudah gila. Yang kita dengar di media hanyalah hal-hal negatif saja tentang Islam. Jadi, awalnya saya percaya saja tapi semua itu berubah setelah saya mendalami Islam".
Keluarga Stefanie awalnya juga menentang. Namun, setelah beberapa tahun mereka bisa menerima Stefani yang semakin kelihatan tenang dalam menjalani hidup. Orang Yunani Ortodox sangat agamis, mereka senang setidaknya Stefanie masih percaya Tuhan.
Diludahi
Namun, dunia luar jauh lebih kejam. Setelah Serangan 11 September di Amerika, Stefanie yang memakai jilbab beberapa kali pernah diludahi orang. Walau demikian, mereka yakin harus berani menunjukkan Islam dalam cara berpakaian mereka. Stefanie tidak perduli orang menatap aneh ke arahnya, yang penting ia percaya agamanya.
Jacob bisa mengerti kenapa ada orang yang melihat miring pilihannya untuk masuk Islam. "Kita, orang Belanda, sudah berabad-abad tinggal di sini. Kita punya identitas sendiri. Jadi wajar saja ketika tiba-tiba ada budaya dari luar yang berkembang di sini, orang sama sekali tidak suka."
Puber
Mengenai kelompok Islam ekstrimis Belanda, Hofstad, yang merencanakan serangan di Belanda, Jacob berpendapat itu adalah kelakuan anak puber.
"Mereka itu hanya anak-anak remaja yang terisolasi. Dengan keadaan semacam itu, mereka bisa saja jadi holigan atau ekstrimis muslim. Itu semua bisa terjadi karena mereka masih dalam masa puber".
Menurut Jacob ketakutan orang terhadap Islam karena tidak banyak informasi tentang Islam. Pengetahuan dasar tentang Islam tidak ada di Belanda. Pemerintah dan dinas intelejen juga tidak punya pengetahuan yang cukup tentang Islam. Menurut Jacob keadaan ini sangat disesalkan karena menimbulkan rasa takut terhadap Islam di masyarakat.[zak/rnw]
Astafyev: Mualaf Siberia yang Enggan Pulang dari Haji
SIBERIA (voa-islam.com) - Seorang penduduk kota Ishim, didaerah Tyumen, bernama Vladimir Astafyev, yang menggunakan nama hijrah Abdullah beberapa waktu lalu melaksanakan ibadah haji. Namun ia tidak pulang ke negaranya, ia memutuskan untuk tetap di Arab Saudi.
Saudara-saudara Astafyev mengatakan sebenarnya ia tidak ingin kabar ini diketahui orang banyak apalagi di media. Namun demikian, berhasil diketahui jika Vladimir Astafyev adalah seorang mantan dokter militer, ia pensiunan letnan kolonel, setelah keluar dari tentara ia bekerja di rumah sakit daerah Ishim.
Astafyev adalah seorang mualaf, sebelumnya ia seorang jemaat Gereja Ortodoks, ia belajar agama Kristen dan agama-agama lain. Lalu pada musim semi lalu, Astafyev yang berubah nama menjadi Abdullah mulai mengucapkan kalimat syahadat, sejak itu ia tak pernah melewatkan sholat Jum'at, ia mengatakan bahwa dalam Islam ia merasa lahir kembali. Sebelumnya hidupnya selalu dirasa penuh penderitaan. Kemudian Abdullah ingin tinggal di negeri dimana nabi Muhammad SAW dilahirkan, ini merupakan salah satu keinginannya, ternyata keluarganya tidak tahu sebelumnya jika Abdullah tidak akan pulang ke negaranya.
Dari daerah selatan Tyumen, tempat Abdullah tinggal, tahun ini berangkat 18 orang ke Mekkah untuk berhaji, termasuk Vladimir Astafyev atau Abdullah. Menurut teman-temannya yang tinggal di sekitar masjid Ishym, Vladimir sekarang tinggal disekitar Mekkah. Subhanallah!
Saudara-saudara Astafyev mengatakan sebenarnya ia tidak ingin kabar ini diketahui orang banyak apalagi di media. Namun demikian, berhasil diketahui jika Vladimir Astafyev adalah seorang mantan dokter militer, ia pensiunan letnan kolonel, setelah keluar dari tentara ia bekerja di rumah sakit daerah Ishim.
Astafyev adalah seorang mualaf, sebelumnya ia seorang jemaat Gereja Ortodoks, ia belajar agama Kristen dan agama-agama lain. Lalu pada musim semi lalu, Astafyev yang berubah nama menjadi Abdullah mulai mengucapkan kalimat syahadat, sejak itu ia tak pernah melewatkan sholat Jum'at, ia mengatakan bahwa dalam Islam ia merasa lahir kembali. Sebelumnya hidupnya selalu dirasa penuh penderitaan. Kemudian Abdullah ingin tinggal di negeri dimana nabi Muhammad SAW dilahirkan, ini merupakan salah satu keinginannya, ternyata keluarganya tidak tahu sebelumnya jika Abdullah tidak akan pulang ke negaranya.
Dari daerah selatan Tyumen, tempat Abdullah tinggal, tahun ini berangkat 18 orang ke Mekkah untuk berhaji, termasuk Vladimir Astafyev atau Abdullah. Menurut teman-temannya yang tinggal di sekitar masjid Ishym, Vladimir sekarang tinggal disekitar Mekkah. Subhanallah!
Tren Baru di Kalangan Wanita Terpelajar Inggris: Menjadi Mualaf
Seputar Aceh, London – Berita ipar Tony Blair yang mengumumkan konversi keyakinannya menjadi Muslim akhir pekan lalu membuka banyak cerita tentang para mualaf di Inggris. Harian Daily Mail menurunkan topik tak biasa di halam depan mereka: tentang tren baru keyakinan di Inggris. Hasil temuan mereka menyebut, ada tren di kalangan perempuan terpelajar di Inggris — sebagian besar adalah wanita karier — yang memilih Islam sebagai keyakinan baru mereka.
Daily Mail menuliskan laporannya berdasar sudut pandang Eve Ahmed, seorang perempuan karier Inggris yang dibesarkan dalam keluarga Muslim imigran asal Pakistan, namun belakangan menolak agama dan mengaku ateis.
Ia mengaku terkesima saat Lauren Booth, 43 tahun, mengatakan dia sekarang memakai jilbab yang menutupi kepala setiap kali dia meninggalkan rumah. “Ia juga mengaku melakukan shalat lima kali sehari dan mengunjungi masjid setempat kapanpun dia bisa,” ujarnya.
Lauren adalah ipar Tony Blair yang berprofesi sebagai wartawan dan penyiar televisi. Dia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim enam minggu lalu setelah mengunjungi kuil Fatima al-Masumeh di kota Qom, dan berkata, “Ini adalah Selasa malam, dan saya duduk dan merasa ini suntikan morfin spiritual, hanya kebahagiaan mutlak dan sukacita. ”
Sebelum pergi ke Iran, ia mengaku telah tertarik pada Islam dan telah menghabiskan banyak waktu bekerja di Palestina. “Saya selalu terkesan dengan kekuatan dan kenyamanan berada di tengah-tengah Muslimin,” katanya.
Menurut Kevin Brice dari Swansea University, yang memiliki spesialisasi dalam mempelajari konversi pada Islam, para wanita merupakan bagian dari tren menarik.
“Mereka mencari spiritualitas, arti yang lebih tinggi, dan cenderung untuk menjadi pemikir yang mendalam. Jenis lain dari perempuan yang berbalik kepada Islam adalah apa yang saya sebut “mengkonversi kenyamanan”. Mereka akan menganggap perangkap agama untuk menyenangkan suami Muslim mereka dan keluarganya, tapi tidak akan selalu menghadiri masjid, berdoa, dan berpuasa,” ujarnya.
Benarkah demikian? Kristiane Backer, wanita 43 tahun dan mantan VJ MTV yang memimpin jenis gaya kehidupan Barat liberal yang dirindukan saat remaja, menggeleng. “Masyarakat permisif yang saya dambakan ketika muda dulu ternyata sangat dangkal, tak memberi ketenteraman batin apapun,” ujarnya.
Titik balik untuk Kristiane muncul ketika dia bertemu mantan pemain kriket Pakistan dan seorang Muslim, Imran Khan pada tahun 1992 selama puncak karirnya. Dia membawanya ke Pakistan di mana dia bilang dia segera tersentuh oleh spirtualitas dan kehangatan dari orang-orang Islam di negara itu.
“Meskipun kemudian hubungan asmara saya dengan Imran Khan kandas, semangat saya mempelajari Islam tak turut kandas. Saya mulai mempelajari iman Islam dan akhirnya menjadi mualaf,” ujarnya.
Menurutnya, Islam adalah agama bervisi. “Di Barat, kami menekankan untuk alasan yang dangkal, seperti apa pakaian untuk dipakai. Dalam Islam, semua orang bergerak ke tujuan yang lebih tinggi. Semuanya dilakukan untuk menyenangkan Tuhan. Itu adalah sistem nilai yang berbeda,” tambahnya.
Untuk sejumlah besar wanita, kontak pertama mereka dengan Islam berasal dari kencan pacar Muslimnya. Lynne Ali, 31, dari Dagenham di Essex, mengakuinya. Di masa lalu, hidupnya hanyalah pesta. “Aku akan pergi keluar dan mabuk dengan teman-teman, memakai pakaian ketat dan mengerling siapapun lelaki yang ingin aku kencani,” ujarnya.
Di sela-sela pekerjaannya sebagai disc jockey sebuah kelab malam papan atas London, ia menyempatkan ke gereja. “Aku menggunakan Tuhan sebagai semacam dokter, untuk memperbaiki hal-hal dalam hidupku,” ujarnya.
Tetapi ketika ia bertemu pacarnya, Zahid, di universitas, sesuatu yang dramatis terjadi.”Dia mulai berbicara kepadaku tentang Islam, dan itu seolah-olah segala sesuatu dalam hidupku dipasang ke tempatnya. Aku pikir, di bawah itu semua, aku pasti mencari sesuatu, dan aku tidak merasa hal itu tidak dipenuhi oleh gaya hidup hura-huraku dengan keras-minum. ”
Pada usia 19 tahun, Lynne memutuskan menjadi mualaf. ‘Sejak hari itu pula, aku memutuskan mengenakan jilbab,” ujarnya. “Ini adalah tahun ke-12 rambut saya selalu tertutup di depan umum. Di rumah, aku akan berpakaian pakaian Barat normal di depan suami saya, tapi tidak untuk keluar rumah.”
Survei YouGov baru-baru ini menyimpulkan bahwa lebih dari setengah masyarakat Inggris percaya Islam adalah pengaruh negatif yang mendorong ekstremisme, penindasan perempuan dan ketidaksetaraan. Namun statistik membuktikan konversi Islam menunjukkan perkembangan yang signifikan. Islam adalah, setelah semua, agama yang berkembang tercepat di dunia. “Bukti menunjukkan bahwa rasio perempuan Barat mengkonversi untuk laki-laki bisa setinggi 2:1,” kata sosiolog Inggris, Kevin Brice.
Selain itu, katanya, umumnya perempuan mualaf ingin menampilkan tanda-tanda dari iman mereka – khususnya di jilbab – walaupun gadis Muslim dibesarkan dalam tradisi Islam justru malah memilih tak berjilbab. “Mungkin sebagai akibat dari tindakan ini, yang cenderung menarik perhatian, Muslim mualaf sering melaporkan jumlah yang lebih besar diskriminasi terhadap mereka daripada lahir Muslim,” tambahnya.
Hal itu diakui Backer. “Di Jerman, ada Islamophobia. Saya kehilangan pekerjaan saya ketika saya bertobat. Ada kampanye untuk melawan saya dengan sindiran tentang semua Muslim mendukung teroris – intinya saya difitnah. Sekarang, saya presenter di NBC Eropa dan bangga dengan jilbab saya,” ujarnya.
Hal itu diamini Lyne. “Aku menyebut diriku seorang Muslim Eropa, yang berbeda dengan ‘lahir’ Muslim. Sebagai seorang Muslim Eropa, saya mempertanyakan segala sesuatu – saya tidak menerima secara membabi-buta. Dan pada akhirnya harus diakui, Islam adalah agama yang paling logis secara logika,” ujarnya.
“Banyak perempuan mualaf di Inggris juga menngkonversi agamanya karena tertarik dengan kehangatan hubungan di antara sesama Muslim. “Beberapa tertarik untuk merasakan memiliki dan masyarakat – nilai-nilai yang telah mengikis di Barat,” kata Haifaa Jawad, dosen senior di Universitas Birmingham, yang telah mempelajari fenomena konversi agama. “Banyak orang, dari semua lapisan masyarakat, meratapi hilangnya dalam masyarakat saat ini menghargai tradisional untuk orang tua dan bagi perempuan, misalnya. Ini adalah nilai-nilai yang termuat dalam Quran, yang umat Islam harus hidup dengannya,” tambahnya Brice.
Ini adalah nilai-nilai seperti ini yang menarik Camilla Leyland, 32, seorang guru yoga yang tinggal di Cornwall, pada Islam. Ia seorang ibu tunggal untuk anak, Inaya, dua tahun. Ia mengaku menjadi Muslim dalam pertengahan usia 20-an untuk ‘alasan intelektual dan feminis’.
“Aku tahu orang akan terkejut mendengar kata-kata ‘feminisme’ dan ‘Islam’ dalam napas yang sama, namun pada kenyataannya, ajaran Alquran memberikan kesetaraan kepada perempuan, dan pada saat agama itu lahir, ajaran pergi terhadap butir masyarakat misoginis,” tambahnya.
Kesalahan besar orang adalah oleh budaya membingungkan dengan agama, katanya. “Islam dituduh menindas wanita, namun yang aku rasakan ketika dewasa, justru aku merasa lebih tertindas oleh masyarakat Barat.”
Dia berbicara tentang tekanan terhadap perempuan untuk bertindak seperti orang-orang dengan minum dan berhubungan seks bebas. ‘Tidak ada arti sebenarnya untuk itu semua. Dalam Islam, jika Anda memulai suatu hubungan, yang dikedepankan adalah komitmen dari niat. ”
Tumbuh di Southampton – ayahnya adalah direktur Institut Pendidikan Southampton dan ibunya seorang
ekonom – Camilla pertama kali bersinggungan dengan Islam di sekolah. Dia pergi ke universitas dan kemudian mengambil gelar Master di bidang Studi Timur Tengah. Ketika tinggal dan bekerja di Suriah, ia menemukan pencerahan spiritual.
Merefleksikan apa yang dia baca di Alquran, ia menyadari bahwa ia ingin mengkonversi. “Orang-orang menemukan begitu sulit untuk percaya bahwa seorang wanita yang berpendidikan tinggi dari kelas menengah akan memilih untuk menjadi Muslim,” katanya.
Ia yang mengaku tak pernah meninggalkan shalat lima waktu tapi belum berjilbab ini menyatakan ia telah “merdeka”. “Saya sangat bersyukur menemukan jalan keluar saya. Saya tidak lagi menjadi budak masyarakat yang rusak.”(republika)
Daily Mail menuliskan laporannya berdasar sudut pandang Eve Ahmed, seorang perempuan karier Inggris yang dibesarkan dalam keluarga Muslim imigran asal Pakistan, namun belakangan menolak agama dan mengaku ateis.
Ia mengaku terkesima saat Lauren Booth, 43 tahun, mengatakan dia sekarang memakai jilbab yang menutupi kepala setiap kali dia meninggalkan rumah. “Ia juga mengaku melakukan shalat lima kali sehari dan mengunjungi masjid setempat kapanpun dia bisa,” ujarnya.
Lauren adalah ipar Tony Blair yang berprofesi sebagai wartawan dan penyiar televisi. Dia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim enam minggu lalu setelah mengunjungi kuil Fatima al-Masumeh di kota Qom, dan berkata, “Ini adalah Selasa malam, dan saya duduk dan merasa ini suntikan morfin spiritual, hanya kebahagiaan mutlak dan sukacita. ”
Sebelum pergi ke Iran, ia mengaku telah tertarik pada Islam dan telah menghabiskan banyak waktu bekerja di Palestina. “Saya selalu terkesan dengan kekuatan dan kenyamanan berada di tengah-tengah Muslimin,” katanya.
Menurut Kevin Brice dari Swansea University, yang memiliki spesialisasi dalam mempelajari konversi pada Islam, para wanita merupakan bagian dari tren menarik.
“Mereka mencari spiritualitas, arti yang lebih tinggi, dan cenderung untuk menjadi pemikir yang mendalam. Jenis lain dari perempuan yang berbalik kepada Islam adalah apa yang saya sebut “mengkonversi kenyamanan”. Mereka akan menganggap perangkap agama untuk menyenangkan suami Muslim mereka dan keluarganya, tapi tidak akan selalu menghadiri masjid, berdoa, dan berpuasa,” ujarnya.
Benarkah demikian? Kristiane Backer, wanita 43 tahun dan mantan VJ MTV yang memimpin jenis gaya kehidupan Barat liberal yang dirindukan saat remaja, menggeleng. “Masyarakat permisif yang saya dambakan ketika muda dulu ternyata sangat dangkal, tak memberi ketenteraman batin apapun,” ujarnya.
Titik balik untuk Kristiane muncul ketika dia bertemu mantan pemain kriket Pakistan dan seorang Muslim, Imran Khan pada tahun 1992 selama puncak karirnya. Dia membawanya ke Pakistan di mana dia bilang dia segera tersentuh oleh spirtualitas dan kehangatan dari orang-orang Islam di negara itu.
“Meskipun kemudian hubungan asmara saya dengan Imran Khan kandas, semangat saya mempelajari Islam tak turut kandas. Saya mulai mempelajari iman Islam dan akhirnya menjadi mualaf,” ujarnya.
Menurutnya, Islam adalah agama bervisi. “Di Barat, kami menekankan untuk alasan yang dangkal, seperti apa pakaian untuk dipakai. Dalam Islam, semua orang bergerak ke tujuan yang lebih tinggi. Semuanya dilakukan untuk menyenangkan Tuhan. Itu adalah sistem nilai yang berbeda,” tambahnya.
Untuk sejumlah besar wanita, kontak pertama mereka dengan Islam berasal dari kencan pacar Muslimnya. Lynne Ali, 31, dari Dagenham di Essex, mengakuinya. Di masa lalu, hidupnya hanyalah pesta. “Aku akan pergi keluar dan mabuk dengan teman-teman, memakai pakaian ketat dan mengerling siapapun lelaki yang ingin aku kencani,” ujarnya.
Di sela-sela pekerjaannya sebagai disc jockey sebuah kelab malam papan atas London, ia menyempatkan ke gereja. “Aku menggunakan Tuhan sebagai semacam dokter, untuk memperbaiki hal-hal dalam hidupku,” ujarnya.
Tetapi ketika ia bertemu pacarnya, Zahid, di universitas, sesuatu yang dramatis terjadi.”Dia mulai berbicara kepadaku tentang Islam, dan itu seolah-olah segala sesuatu dalam hidupku dipasang ke tempatnya. Aku pikir, di bawah itu semua, aku pasti mencari sesuatu, dan aku tidak merasa hal itu tidak dipenuhi oleh gaya hidup hura-huraku dengan keras-minum. ”
Pada usia 19 tahun, Lynne memutuskan menjadi mualaf. ‘Sejak hari itu pula, aku memutuskan mengenakan jilbab,” ujarnya. “Ini adalah tahun ke-12 rambut saya selalu tertutup di depan umum. Di rumah, aku akan berpakaian pakaian Barat normal di depan suami saya, tapi tidak untuk keluar rumah.”
Survei YouGov baru-baru ini menyimpulkan bahwa lebih dari setengah masyarakat Inggris percaya Islam adalah pengaruh negatif yang mendorong ekstremisme, penindasan perempuan dan ketidaksetaraan. Namun statistik membuktikan konversi Islam menunjukkan perkembangan yang signifikan. Islam adalah, setelah semua, agama yang berkembang tercepat di dunia. “Bukti menunjukkan bahwa rasio perempuan Barat mengkonversi untuk laki-laki bisa setinggi 2:1,” kata sosiolog Inggris, Kevin Brice.
Selain itu, katanya, umumnya perempuan mualaf ingin menampilkan tanda-tanda dari iman mereka – khususnya di jilbab – walaupun gadis Muslim dibesarkan dalam tradisi Islam justru malah memilih tak berjilbab. “Mungkin sebagai akibat dari tindakan ini, yang cenderung menarik perhatian, Muslim mualaf sering melaporkan jumlah yang lebih besar diskriminasi terhadap mereka daripada lahir Muslim,” tambahnya.
Hal itu diakui Backer. “Di Jerman, ada Islamophobia. Saya kehilangan pekerjaan saya ketika saya bertobat. Ada kampanye untuk melawan saya dengan sindiran tentang semua Muslim mendukung teroris – intinya saya difitnah. Sekarang, saya presenter di NBC Eropa dan bangga dengan jilbab saya,” ujarnya.
Hal itu diamini Lyne. “Aku menyebut diriku seorang Muslim Eropa, yang berbeda dengan ‘lahir’ Muslim. Sebagai seorang Muslim Eropa, saya mempertanyakan segala sesuatu – saya tidak menerima secara membabi-buta. Dan pada akhirnya harus diakui, Islam adalah agama yang paling logis secara logika,” ujarnya.
“Banyak perempuan mualaf di Inggris juga menngkonversi agamanya karena tertarik dengan kehangatan hubungan di antara sesama Muslim. “Beberapa tertarik untuk merasakan memiliki dan masyarakat – nilai-nilai yang telah mengikis di Barat,” kata Haifaa Jawad, dosen senior di Universitas Birmingham, yang telah mempelajari fenomena konversi agama. “Banyak orang, dari semua lapisan masyarakat, meratapi hilangnya dalam masyarakat saat ini menghargai tradisional untuk orang tua dan bagi perempuan, misalnya. Ini adalah nilai-nilai yang termuat dalam Quran, yang umat Islam harus hidup dengannya,” tambahnya Brice.
Ini adalah nilai-nilai seperti ini yang menarik Camilla Leyland, 32, seorang guru yoga yang tinggal di Cornwall, pada Islam. Ia seorang ibu tunggal untuk anak, Inaya, dua tahun. Ia mengaku menjadi Muslim dalam pertengahan usia 20-an untuk ‘alasan intelektual dan feminis’.
“Aku tahu orang akan terkejut mendengar kata-kata ‘feminisme’ dan ‘Islam’ dalam napas yang sama, namun pada kenyataannya, ajaran Alquran memberikan kesetaraan kepada perempuan, dan pada saat agama itu lahir, ajaran pergi terhadap butir masyarakat misoginis,” tambahnya.
Kesalahan besar orang adalah oleh budaya membingungkan dengan agama, katanya. “Islam dituduh menindas wanita, namun yang aku rasakan ketika dewasa, justru aku merasa lebih tertindas oleh masyarakat Barat.”
Dia berbicara tentang tekanan terhadap perempuan untuk bertindak seperti orang-orang dengan minum dan berhubungan seks bebas. ‘Tidak ada arti sebenarnya untuk itu semua. Dalam Islam, jika Anda memulai suatu hubungan, yang dikedepankan adalah komitmen dari niat. ”
Tumbuh di Southampton – ayahnya adalah direktur Institut Pendidikan Southampton dan ibunya seorang
ekonom – Camilla pertama kali bersinggungan dengan Islam di sekolah. Dia pergi ke universitas dan kemudian mengambil gelar Master di bidang Studi Timur Tengah. Ketika tinggal dan bekerja di Suriah, ia menemukan pencerahan spiritual.
Merefleksikan apa yang dia baca di Alquran, ia menyadari bahwa ia ingin mengkonversi. “Orang-orang menemukan begitu sulit untuk percaya bahwa seorang wanita yang berpendidikan tinggi dari kelas menengah akan memilih untuk menjadi Muslim,” katanya.
Ia yang mengaku tak pernah meninggalkan shalat lima waktu tapi belum berjilbab ini menyatakan ia telah “merdeka”. “Saya sangat bersyukur menemukan jalan keluar saya. Saya tidak lagi menjadi budak masyarakat yang rusak.”(republika)
Film KCB Kian Mantapkan Hati Alice Norin
JAKARTA - Alice Norin baru memeluk Islam (mualaf) dua tahun lalu. Keterlibatannya di film KCB, ternyata membuatnya semakin mantap meyakini agama barunya.
"Aku mualaf setahun sebelum film KCB pertama, tahun 2008. KCB memang banyak banget mengajari," aku Alice yang ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (26/7/2010).
Sejak memeluk Islam, pemeran antagonis di film KCB ini merasakan ketenangan batin yang dulu tidak dirasakannya.
"Itu lebih ke keyakinan. Kalau aku sedang ada masalah, pasti ada aja jalannya. Alhamdulillah, banyak membantu aku dalam hidup. Aku masih dalam usia yang muda, ada cobaan kayak mama meninggal, adik meninggal," tuturnya.
Beruntung, mantan istri DJ Riri ini tidak mendapat tentangan dari keluarga besar soal beragama. Malah ayahnya pun mengikuti jejaknya menjadi mualaf. "Keluarga aku open banget," imbuhnya.
Semasa mamanya masih hidup, Alice kerap ikut datang ke pengajian rutin dan kadang menemani mama berpuasa Ramadan.
"Sebenarnya aku belajar Islam lebih kepada tidak yang teori. Dulu mama pernah datang ke pengajian, aku suka ikut. Aku juga suka menemani mama puasa. Dulu kalau salat Id bareng mama ke Bandung, lalu pulang ke rumah mama di Cicalengka," ceritanya.
Setelah menjadi mualaf, Alice merasa ada pegangan dalam hidup. "Sekarang aku benar-benar ada pegangan. Aku percaya setelah hidup ini ada kehidupan setelahnya yaitu akhirat. Aku bersyukur dan mensyukuri hidup. Yang aku jalani, ya ada maknanya," katanya.
Tahun depan, Alice berencana menunaikan ibadah umrah. Tapi dia belum siap berjilbab. "Aku enggak mau pakai jilbab cuma karena cantik. Harus banyak banget yang aku pelajari. Jiwanya harus dimantapin dulu," alasannya.(ang)
"Aku mualaf setahun sebelum film KCB pertama, tahun 2008. KCB memang banyak banget mengajari," aku Alice yang ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (26/7/2010).
Sejak memeluk Islam, pemeran antagonis di film KCB ini merasakan ketenangan batin yang dulu tidak dirasakannya.
"Itu lebih ke keyakinan. Kalau aku sedang ada masalah, pasti ada aja jalannya. Alhamdulillah, banyak membantu aku dalam hidup. Aku masih dalam usia yang muda, ada cobaan kayak mama meninggal, adik meninggal," tuturnya.
Beruntung, mantan istri DJ Riri ini tidak mendapat tentangan dari keluarga besar soal beragama. Malah ayahnya pun mengikuti jejaknya menjadi mualaf. "Keluarga aku open banget," imbuhnya.
Semasa mamanya masih hidup, Alice kerap ikut datang ke pengajian rutin dan kadang menemani mama berpuasa Ramadan.
"Sebenarnya aku belajar Islam lebih kepada tidak yang teori. Dulu mama pernah datang ke pengajian, aku suka ikut. Aku juga suka menemani mama puasa. Dulu kalau salat Id bareng mama ke Bandung, lalu pulang ke rumah mama di Cicalengka," ceritanya.
Setelah menjadi mualaf, Alice merasa ada pegangan dalam hidup. "Sekarang aku benar-benar ada pegangan. Aku percaya setelah hidup ini ada kehidupan setelahnya yaitu akhirat. Aku bersyukur dan mensyukuri hidup. Yang aku jalani, ya ada maknanya," katanya.
Tahun depan, Alice berencana menunaikan ibadah umrah. Tapi dia belum siap berjilbab. "Aku enggak mau pakai jilbab cuma karena cantik. Harus banyak banget yang aku pelajari. Jiwanya harus dimantapin dulu," alasannya.(ang)
MASJID KHUSUS WANITA DI CINA
Kabar baik juga datang dari Asia Timur. Tepatnya di Cina. Propinsi Nanjing, di Barat Laut Cina, yang berpenduduk mayoritas muslim kini semakin terbuka dengan kehadiran para dai dari luar negeri. Pemerintah Cina sendiri memberi keringanan dan kemudahan bagi para dai asing utnuk berdakwah di sini. Tentu saja bagi propinsi, yang 20 juta warganya muslim ini, hal itu merupakan jalan bagi mereka untuk lebih mengenal dan mendalami agamanya.
Berkahnya, di wilayah Tonjesin, yang dikenal sebagai daerah miskin telah berdiri masjid yang cukup megah. Menurut pimpinan Sekolah Islam Khusus Putri yang bermarga Hui, biaya pembangunan masjid tersebut datang dari umat Islam yang datang ke daerahnya. “Kami berterima kasih dengan apa yang diberikan saudara-saudara kami yang datang ke sini. Alhamdulillah, mereka banyak memberikan harta serta bantuan lainnya.”
Dia pun berkata, kini pendidikan muslimahnya semakin maju. Wanita ini mengaku sekolahnya kini memiliki 68 siswa. ”Sekarang kondisi jauh lebih baik sehingga kita tidak perlu takut,” ujarnya. Kini murid-muridnya tak perlu takut untuk bersekolah di sekolah Islam.
Ketika saya lulus sekolah menengah pada tahun 1986, situasinya sangat sulit. Sekarang, kebijakan keagamaan agak longgar. Kami bisa terus maju tanpa merasa ketakutan,” tambah dia.
Kini, para remaja putri di sana sebagian besar sudah berjilbab dengan rapi. Hal ini disebabkan semakin akomodatifnya politik di daerah sehingga memudahkan umat Islam untuk menjalankan agamanya tanpa rasa takut.
Walaupun banyak yang menduga hal ini disebabkan keinginan pemerintah Cina untuk memperluas perdagangannya dengan negara-negara Arab, tak urung hal itu tetap menjadi berkah bagi muslim Cina yang senantiasa mengalami tekanan pemerintah setelah kegiatan agama sangat dilarang oleh rezim Komunis Mao Zedong dengan revolusi kulturalnya. Islam dan agama-agama lain kembali tumbuh subur setelah tahun 1990 dan muslim juga mulai membenahi masjid-masjid yang sudah rusak.
Diwilayah lainnya, yaitu di Ning Xia, telah berdiri beberapa masjid khusus untuk wanita. Di sana wanita berkumpul, berdoa dan mendengarkan ceramah dari imam wanita atau disebut juga ahong (semacam ustadzah-red)
”Kami harus mengedukasi muslimah di sini bagaimana menjadi muslim yang baik,” ujar Wang Shouying, salah satu umam di sana. ”Ahong di sini dibutuhkan karena pemahaman mereka terhadap wanita lebih baik.”
Suara azan dari masjid pun sayup-sayup memanggil umat muslim untuk shalat. Suara itu pun sampai ke masjid khusus wanita. Mereka shalat dipimpin oleh sang Ahong. Masjid yang tampilan luarnya bernuansa pink ini menampung jamaah wanita yang ingin menambah pengetahuan agamanya dan ingin mempelajari Al-Quran.
Dekat Ning Xia, yaitu di tepian Sungai Kuning, muslimah bisa beraktivitas lebih leluasa. Mereka bekerja di pemerintahan, kantor, bank, toko dan sekolah. Di sini masjid khusus wanita pun banyak didirikan.
”Partai Komunis Cina membebaskan kita dari dapur dan punya hak dan kewajiban sama dengan pria,”kata Wu Lian ( 45) ibu dua anak yang juga seorang Kepala Sekolah TK Rakyat Yisha Hui di Wu Zhong.
Di Ning Xia, anak-anak perempuan juga sudah sangat akrab dengan Bahasa Arab dan Al-Quran. Kemampuan menguasai Bahasa Arab dan Quran juga memperbesar kemungkinan mereka untuk bekerja. “Mereka bisa menjadi penerjemah, guru atau bisa meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi,” kata Ma Mingxian, Kepala Institut Studi Islam dan Al-Quran di Yinchuan.
Di Masjid Pusat Wu Zhong, Yang Mingnan berbagi tugas dengan suaminya. Dia bertugas menjadi guru bagi kaum wanita, sedangkan suaminya selain sebagai imam salta juga bertindak sebagai ustadz. Langkah strategis untuk meluaskan ajaran Islam di Negeri Tirai Bambu.
Sumber : Majalah UMMI
Jihadis-Jihadis Wanita Amerika Menghadapi Sidang Terorisme
COLORADO - Seorang wanita asal Colorado telah mengaku dia membantu sebuah jaringan "teroris" yang berlatih dengan kelompok Al Qoidah dan memicu perang suci (Jihad).
Jaksa Amerika mengatakan, Jamie Paulin-Ramirez 32 tahun dari Leadville, Colorado didakwa bersekongkol dengan orang lain untuk mendapatkan pelatihan militer di Asia Selatan dan pindah ke Irlandia pada tahun 2009 untuk bergabung dengan grup tersebut.
Pengadilan merilis pernyataan pada hari Selasa yang menyebutkan seorang pria Aljazair yang menikahi wanita dari Colorado tersebut berusaha untuk merekrut "ikhwan dan akhwat" untuk dilatih dengan kelompok yang dikenal sebagai Al Qoidah di Maghreb Islam.
Paulin-Ramirez akan menghadapi penjara hingga 15 tahun setelah mengaku bersalah pada hari Selasa untuk bersekongkol membantu teroris asing.
Jaksa Federal mengatakan ia bergabung dengan pasukan Collen LaRose dari Pennsylvania, yang menjuluki dirinya dengan "Jihad Jane" online.
Paulin-Ramirez secara sukarela kembali ke Amerika setelah suaminya dan beberapa orang lain ditahan di Irlandia pada Maret 2010 setelah dituduh terlibat dalam plot teror global.
Sedangkan LaRose 47 tahun, atau Jihad Jane dari Pennsburg pada bulan lalu dalam pengadilan telah mengakui dirinya setuju untuk membunuh kartunis Swedia Lars Vilks yang karya-karyanya telah melecehkan umat Islam.
LaRose kemungkinan dapat menghadapi hukuman penjara seumur hidup jika terbukti bersekongkol untuk membunuh target asing serta tiga tuduhan yang dijatuhkan kepadanya.
Paulin-Ramirez, sebaliknya, didakwa dengan satu dakwaan konspirasi. Dia bisa dinyatakan bersalah atas dakwaan itu bahkan jika hanya menyediakan makanan atau penginapan untuk tersangka teror, kata pengacara Ramirez, Jeremy Ibrahim hari Selasa.
Paulin-Ramirez sedang hamil ketika ia pertama kali muncul di pengadilan Amerika, namun ia mengalami keguguran, kata Ibrahim.
"Anda sedang berhadapan dengan ibu tunggal 32 tahun dari sebuah kota kecil di Colorado," kata Ibrahim. "Ini situasi yang sangat stress dan besar.... yang berdampak pada fisik dan kesehatannya."
Ia juga mempunyai seorang putra yang kini turut ditahan ketika ia tiba di Philadelphia, disaat agen FBI membuka penyelidikan untuk LaRose.
Namun, tidak ada bukti dari dokumen pengadilan mengenai LaRose yang akan membunuh Vilks di Swedia. LaRose kembali ke Philadelphia pada Oktober 2009, ia lalu ditangkap dan menjadi salah satu dari sedikit wanita yang pernah didakwa di Amerika atas kegiatan terorisme.
Penangkapan LaRose ini sangat dirahasiakan dan dakwaan kepadanya akhirnya mulai diketahui setelah Paulin-Ramirez beserta enam orang lainnya ditahan sebulan setelahnya. [muslimdaily.net/AP]
Jaksa Amerika mengatakan, Jamie Paulin-Ramirez 32 tahun dari Leadville, Colorado didakwa bersekongkol dengan orang lain untuk mendapatkan pelatihan militer di Asia Selatan dan pindah ke Irlandia pada tahun 2009 untuk bergabung dengan grup tersebut.
Pengadilan merilis pernyataan pada hari Selasa yang menyebutkan seorang pria Aljazair yang menikahi wanita dari Colorado tersebut berusaha untuk merekrut "ikhwan dan akhwat" untuk dilatih dengan kelompok yang dikenal sebagai Al Qoidah di Maghreb Islam.
Paulin-Ramirez akan menghadapi penjara hingga 15 tahun setelah mengaku bersalah pada hari Selasa untuk bersekongkol membantu teroris asing.
Jaksa Federal mengatakan ia bergabung dengan pasukan Collen LaRose dari Pennsylvania, yang menjuluki dirinya dengan "Jihad Jane" online.
Paulin-Ramirez secara sukarela kembali ke Amerika setelah suaminya dan beberapa orang lain ditahan di Irlandia pada Maret 2010 setelah dituduh terlibat dalam plot teror global.
Sedangkan LaRose 47 tahun, atau Jihad Jane dari Pennsburg pada bulan lalu dalam pengadilan telah mengakui dirinya setuju untuk membunuh kartunis Swedia Lars Vilks yang karya-karyanya telah melecehkan umat Islam.
LaRose kemungkinan dapat menghadapi hukuman penjara seumur hidup jika terbukti bersekongkol untuk membunuh target asing serta tiga tuduhan yang dijatuhkan kepadanya.
Paulin-Ramirez, sebaliknya, didakwa dengan satu dakwaan konspirasi. Dia bisa dinyatakan bersalah atas dakwaan itu bahkan jika hanya menyediakan makanan atau penginapan untuk tersangka teror, kata pengacara Ramirez, Jeremy Ibrahim hari Selasa.
Paulin-Ramirez sedang hamil ketika ia pertama kali muncul di pengadilan Amerika, namun ia mengalami keguguran, kata Ibrahim.
"Anda sedang berhadapan dengan ibu tunggal 32 tahun dari sebuah kota kecil di Colorado," kata Ibrahim. "Ini situasi yang sangat stress dan besar.... yang berdampak pada fisik dan kesehatannya."
Ia juga mempunyai seorang putra yang kini turut ditahan ketika ia tiba di Philadelphia, disaat agen FBI membuka penyelidikan untuk LaRose.
Namun, tidak ada bukti dari dokumen pengadilan mengenai LaRose yang akan membunuh Vilks di Swedia. LaRose kembali ke Philadelphia pada Oktober 2009, ia lalu ditangkap dan menjadi salah satu dari sedikit wanita yang pernah didakwa di Amerika atas kegiatan terorisme.
Penangkapan LaRose ini sangat dirahasiakan dan dakwaan kepadanya akhirnya mulai diketahui setelah Paulin-Ramirez beserta enam orang lainnya ditahan sebulan setelahnya. [muslimdaily.net/AP]
Yvone Ridley: Pelarangan Cadar di Perancis Merupakan Serangan Nyata Kepada Islam
LONDON - Undang-undang pelarangan cadar di Paris yang baru saja resmikan mirip dengan "politik Nazi," kata wartawan Inggris dan penyiar Yvonne Ridley.
"Ini adalah serangan terang-terangan terhadap Islam dari negara-negara Islamophobic yang dijalankan oleh politisi oportunis, mereka ingin memenangkan suara murah dari kelompok minoritas perempuan," kata Ridley yang juga Presiden Eropa dari Persatuan Wanita Muslim Internasional.
"Cadar adalah simbol kesalehan dan siapa yang berani menghukum seorang wanita karena kesalehannya? Tentu saja wanita itu bukan dari Katolik Roma," kata Ridley kepada situs IRNA.
Ridley juga mengkritik upaya untuk membenarkan larangan niqab dengan ancaman teroris yang dia sebut sebagai "omong kosong". Dia juga merujuk kembali ke kampanye melawan pria berjenggot beberapa waktu lalu, yang Ridley katakan "bukan salah jenggotnya jika di salah satu di antara 19 pembajak pesawat yang mendatangkan kehancuran di Amerika pada 11 September 2001 memilikinya."
"Penjahat yang berniat melakukan kejahatan tidak akan berpakaian sedemikian rupa (bercadar_red), kapan terakhir kali anda mendengar ada wanita yang memakai cadar merampok bank atau terlibat dalam perampokan bersenjata atau penjambretan wanita tua," katanya.
Wartawan Inggris mualaf ini menyatakan keprihatinannya tentang intervensi negara dari apa yang bisa dan tidak bisa dipakai. Ridley memeluk agama Islam setelah dirinya pernah di sandera oleh Taliban dan kemudian dibebaskan. Ridley menjadi simpati kepada gerakan Islam Taliban di Afghanistan, kemudian dirinya mulai mempelajari Islam.
"Ketika negara mulai mendikte apa yang wanita bisa dan tidak bisa dipakai, maka kita memasuki perairan yang belum dipetakan. Dimana akan berakhir? Hal ini juga memberikan para Islamophobies dan orang-orang rasis, tongkat lain yang dapat digunakan untuk mengalahkan umat Islam," tambah Ridley.
Dalam wawancara dengan IRNA, Ridley juga berbicara tentang upaya saat ini di Inggris untuk meloloskan undang-undang yang melarang penggunaan jilbab.
"Para wanita dan anak-anak sekarang sedang sekarat di Gaza, Libya, Bahrain, Yaman dan tempat-tempat lain dan mereka dapat melakukan sesuatu yang positif untuk menghentikan ini, yang jauh lebih penting daripada menganiaya kelompok minoritas perempuan hanya karena keimanan mereka," katanya. [muslimdaily.net]
"Ini adalah serangan terang-terangan terhadap Islam dari negara-negara Islamophobic yang dijalankan oleh politisi oportunis, mereka ingin memenangkan suara murah dari kelompok minoritas perempuan," kata Ridley yang juga Presiden Eropa dari Persatuan Wanita Muslim Internasional.
"Cadar adalah simbol kesalehan dan siapa yang berani menghukum seorang wanita karena kesalehannya? Tentu saja wanita itu bukan dari Katolik Roma," kata Ridley kepada situs IRNA.
Ridley juga mengkritik upaya untuk membenarkan larangan niqab dengan ancaman teroris yang dia sebut sebagai "omong kosong". Dia juga merujuk kembali ke kampanye melawan pria berjenggot beberapa waktu lalu, yang Ridley katakan "bukan salah jenggotnya jika di salah satu di antara 19 pembajak pesawat yang mendatangkan kehancuran di Amerika pada 11 September 2001 memilikinya."
"Penjahat yang berniat melakukan kejahatan tidak akan berpakaian sedemikian rupa (bercadar_red), kapan terakhir kali anda mendengar ada wanita yang memakai cadar merampok bank atau terlibat dalam perampokan bersenjata atau penjambretan wanita tua," katanya.
Wartawan Inggris mualaf ini menyatakan keprihatinannya tentang intervensi negara dari apa yang bisa dan tidak bisa dipakai. Ridley memeluk agama Islam setelah dirinya pernah di sandera oleh Taliban dan kemudian dibebaskan. Ridley menjadi simpati kepada gerakan Islam Taliban di Afghanistan, kemudian dirinya mulai mempelajari Islam.
"Ketika negara mulai mendikte apa yang wanita bisa dan tidak bisa dipakai, maka kita memasuki perairan yang belum dipetakan. Dimana akan berakhir? Hal ini juga memberikan para Islamophobies dan orang-orang rasis, tongkat lain yang dapat digunakan untuk mengalahkan umat Islam," tambah Ridley.
Dalam wawancara dengan IRNA, Ridley juga berbicara tentang upaya saat ini di Inggris untuk meloloskan undang-undang yang melarang penggunaan jilbab.
"Para wanita dan anak-anak sekarang sedang sekarat di Gaza, Libya, Bahrain, Yaman dan tempat-tempat lain dan mereka dapat melakukan sesuatu yang positif untuk menghentikan ini, yang jauh lebih penting daripada menganiaya kelompok minoritas perempuan hanya karena keimanan mereka," katanya. [muslimdaily.net]
Mufti Rusia Tolak Simbol Islam Disisipkan Dalam Lambang Rusia
Muhammedgali Khuzin, ketua komite eksekutif dari Asosiasi Konsensus Islam Rusia, menolak saran untuk menambahkan bulan sabit untuk lambang nasional Rusia.
Dia menyatakan bahwa mufti Rusia percaya bahwa hal seperti itu akan kontra produktif dan berbahaya untuk harmoni masyarakat.
Keputusan mufti Rusia datang dalam menanggapi proposal dari Talgat Tajuddin untuk menambahkan bulan sabit ke salah satu mahkota yang elang 'pada lambang Rusia. Tajuddin adalah Mufti Agung Dewan Pusat Muslim di Rusia.
Tajuddin mengatakan dalam sebuah wawancara: "Kami hanya meminta memasang salah satu kepala elang berkepala dua pada lambang negara dengan Bulan Sabit dan yang lainnya dengan Palang Ortodoks. Dan biarkan Salib dan Bulan Sabit dibatasi oleh mahkota di tengah," kata Tajuddin.
Mufti Rusia lainnya tidak setuju dengan proposal itu, dengan alasan bahwa pencampuran simbol-simbol agama akan menyebabkan tuduhan ekumenisme (penghubungan) dari komunitas Kristen Ortodoks tradisional serta komunitas Islam tradisional Rusia. Demikian pemberitaan situs islamtoday pada tanggal 15 yang mengutip dari kantor berita interfax dan Vestnik Kavkaza.
Dia menyatakan bahwa mufti Rusia percaya bahwa hal seperti itu akan kontra produktif dan berbahaya untuk harmoni masyarakat.
Keputusan mufti Rusia datang dalam menanggapi proposal dari Talgat Tajuddin untuk menambahkan bulan sabit ke salah satu mahkota yang elang 'pada lambang Rusia. Tajuddin adalah Mufti Agung Dewan Pusat Muslim di Rusia.
Tajuddin mengatakan dalam sebuah wawancara: "Kami hanya meminta memasang salah satu kepala elang berkepala dua pada lambang negara dengan Bulan Sabit dan yang lainnya dengan Palang Ortodoks. Dan biarkan Salib dan Bulan Sabit dibatasi oleh mahkota di tengah," kata Tajuddin.
Mufti Rusia lainnya tidak setuju dengan proposal itu, dengan alasan bahwa pencampuran simbol-simbol agama akan menyebabkan tuduhan ekumenisme (penghubungan) dari komunitas Kristen Ortodoks tradisional serta komunitas Islam tradisional Rusia. Demikian pemberitaan situs islamtoday pada tanggal 15 yang mengutip dari kantor berita interfax dan Vestnik Kavkaza.
Muslimin Bulgaria Diprovokasi Saat Sholat Jumat
Kepala Mufti Bulgaria telah memprotes apa yang mereka gambarkan sebagai provokasi orang yang berpikiran sakit dari anggota partai nasionalis Ataka selama shalat Jumat di masjid terkemuka dari ibukota, Sofia.
Sebuah mobil dari pihak Ataka dilaporkan telah muncul dengan pengeras suara di dekat masjid Banya Bashi (foto) di pusat kota Sofia selama shalat Jumat dan memainkan lagu Kristen Ortodoks dan membunyikan lonceng gereja.
Masjid Banya Bashi yang memiliki pengeras suara untuk panggilan adzan bagi umat Muslim di wilayah sekitarnya - yang telah menjadi fokus dari keluhan yang dijadikan alasan oleh kaum nasionalis dan penduduk lainnya di Sofia.
Masjid Banya Bashi terletak dekat katedral Ortodoks, sinagoga, dan sebuah gereja Katolik.
"Apakah ini toleransi politisi Bulgaria?" ujar pimpinan Mufti Bulgaria bertanya dalam sebuah deklarasi publik memprotes provokasi Ataka dalam sholat Jumat. Dia juga menambahkan pelaksanaan sholat jumat yang dihadiri sekitar 1.500 Muslim menjadi terganggu.
Staf masjid menelepon polisi, yang tiba tak lama kemudian dan mengawal mobil dari partai nasionalis Ataka untuk pergi.
Menurut Kepala Kantor Mufti, partai nasionalis Ataka telah kehilangan momentum dan kepercayaan publik, dan sedang berusaha untuk menarik perhatian dan dukungan dengan meningkatkan slogan-slogan anti-Islam dan pementasan provokasi terhadap Muslim Bulgaria.
"Tindakan tersebut mungkin akan menjadi motif utama dan terkemuka dalam kampanye partai untuk pemilu mendatang, dan mereka berharap perlawanan dari kami. Kemi menggarisbawahi bahwa rencana mereka telah terurai. "
Dalam seruannya yang lain, ketua Mufti Bulgaria juga mengatakan agar umat Islam tidak terprovokasi atas kejadian ini. Dan tetap bertindak sesuai martabat dan kehormatan umat Islam.
Mufti Kepala Kantor juga berjanji untuk memperingatkan Kantor Kejaksaan, Kementerian Dalam Negeri, dan Badan Keamanan Nasional Negara (Dans) karena ancaman tersebut dikatakan berbahaya untuk keamanan nasional Bulgaria dan ketertiban publik dan dapat meningkat dengan cara yang tak terduga.
[muslimdaily.net/islamtoday-novinite]
Sebuah mobil dari pihak Ataka dilaporkan telah muncul dengan pengeras suara di dekat masjid Banya Bashi (foto) di pusat kota Sofia selama shalat Jumat dan memainkan lagu Kristen Ortodoks dan membunyikan lonceng gereja.
Masjid Banya Bashi yang memiliki pengeras suara untuk panggilan adzan bagi umat Muslim di wilayah sekitarnya - yang telah menjadi fokus dari keluhan yang dijadikan alasan oleh kaum nasionalis dan penduduk lainnya di Sofia.
Masjid Banya Bashi terletak dekat katedral Ortodoks, sinagoga, dan sebuah gereja Katolik.
"Apakah ini toleransi politisi Bulgaria?" ujar pimpinan Mufti Bulgaria bertanya dalam sebuah deklarasi publik memprotes provokasi Ataka dalam sholat Jumat. Dia juga menambahkan pelaksanaan sholat jumat yang dihadiri sekitar 1.500 Muslim menjadi terganggu.
Staf masjid menelepon polisi, yang tiba tak lama kemudian dan mengawal mobil dari partai nasionalis Ataka untuk pergi.
Menurut Kepala Kantor Mufti, partai nasionalis Ataka telah kehilangan momentum dan kepercayaan publik, dan sedang berusaha untuk menarik perhatian dan dukungan dengan meningkatkan slogan-slogan anti-Islam dan pementasan provokasi terhadap Muslim Bulgaria.
"Tindakan tersebut mungkin akan menjadi motif utama dan terkemuka dalam kampanye partai untuk pemilu mendatang, dan mereka berharap perlawanan dari kami. Kemi menggarisbawahi bahwa rencana mereka telah terurai. "
Dalam seruannya yang lain, ketua Mufti Bulgaria juga mengatakan agar umat Islam tidak terprovokasi atas kejadian ini. Dan tetap bertindak sesuai martabat dan kehormatan umat Islam.
Mufti Kepala Kantor juga berjanji untuk memperingatkan Kantor Kejaksaan, Kementerian Dalam Negeri, dan Badan Keamanan Nasional Negara (Dans) karena ancaman tersebut dikatakan berbahaya untuk keamanan nasional Bulgaria dan ketertiban publik dan dapat meningkat dengan cara yang tak terduga.
[muslimdaily.net/islamtoday-novinite]
Demi Ibadah, Muslim Inggris Sulap Bar Jadi Masjid
Sebuah bar bernama Whitley Tavern harus rela menjadi sebuah ruang sholat bagi umat Muslim dan aula pusat masyarakat Muslim Inggris.
The Whitley Muslim Education Trust sedang menggalang dana sebesar £ 620.000 untuk membeli bar Northumberland Avenue, yang dijual oleh Enterprise Inns menggunakan agen real estate berbasis Buckinghamshire, Duncan, Bailey, Kennedy.
Sejak kedai bir tersebut tutup pada Februari 2010 lalu, beberapa unjuk rasa telah dilakukan penduduk sekitar agar bar itu tetap sebagai bar.
Pada bulan Juni tahun lalu, perumahan Catalyst berencana menghancurkan yang bar kosong itu, dan menggantinya dengan 22 kamar 22 kamar dan dua rumah, namun tidak diberikan respon yang hangat dari penduduk setempat dan para konselor.
Trust yang sekarang sedang mencoba untuk menghidupkan dukungan dana untuk menciptakan sebuah ruang doa, pusat pendidikan, perpustakaan dan pusat pameran Islam. Anggota Trust Manzoor Hussain, dari Whitley Wood, berkata, "Kami ingin menjadikan bar tersebut sebagai pusat masyarakat Muslim."
"Saya kira ada kebutuhan besar akan pusat Islam bagi South Read yang memiliki 330 Muslim. Kita tahu ada dukungan untuk bangunan tersebut untuk tetap sebagai bar. Kami tahu bahwa bar merupakan salah satu tempat haram bagi umat Muslim, namun kami yakin ciytra tersebut dapat berubah jika Masjid ini berhasil didirikan."
"Kami telah mengajukan penawaran kepada agen real estat dan sekarang mencoba untuk mengumpulkan uang."
Trust telah mendistribusikan selebaran ke keluarga Muslim Whitley dengan harapan dapat mengumpulkan dana awal sebesar £ 100,000 untuk hipotek.
Rencana itu termasuk membuat aula untuk sholat harian, sholat Jumat, dan Sholat Ied.
Selain itu, tempat tersebut rencananya juga digunakan sebagai tempat untuk mengajarkan Al-Quran dan memberikan pelajaran bahasa Arab kepada penduduk setempat. Ia juga ingin menawarkan kelas TI pada tingkat yang berbeda dan mengadakan acara-acara masyarakat dan kebudayaan.
Brosur yang meminta orang untuk menyumbangkan £ 250 per rumah menuliskan, "Karena sekarang Whitley Tavern telah menjadi fokus dari masyarakat.
"Sementara beberapa anggota ingin melihat bar semacam itu sebagai tempat dengan anti-masalah sosial."
"Masyarakat Muslim menganggap bangunan ini tetap dapat dipakai masyarakat dan dimanfaatkan sebagai tempat untuk berjamaah."
Seorang warga Whitley, yang tidak ingin namanya disebutkan, berkata, "Setelah berbicara kepada beberapa orang termasuk orang-orang yang tinggal di kedua sisi properti tersebut, secara umum menyatakan perasaan bahwa para penduduk tidak menginginkan didirikannya sebuah Masjid. Orang-orang yang cukup takut tentang gagasan itu."
Sementara itu pembangunan Masjid Abu Bakar di Oxford Road mulai berjalan setelah sebelumnya dikritik karena kemajuannya yang lambat.
Menulis di website Masjid pada hari Minggu, 14 Juni lalu, Khairun Jazaku menuturkan, "Pemasangan bata sekarang sedang berjalan dan pekerjaan pembuatan ruang bawah tanah juga telah dimulai."
"Jendela, atap, dan kubah semua harus dilakukan bersama-sama dengan pemasangan bata dan ini bukan tugas kecil. Kita harus meningkatkan dana untuk memastikan bahwa tidak ada jeda dalam pekerjaan penting ini."
Menjadikan tempat umum sebagai Masjid merupakan hal yang lumrah terjadi di Eropa dan AS.
Seperti yang terjadi di wilayah Rock Hill, AS, dimana umat Muslim menjadikan sebuah pusat perbelanjaan sebagai tempat ibadah bersama.[muslimdaily.net/rimanews]
The Whitley Muslim Education Trust sedang menggalang dana sebesar £ 620.000 untuk membeli bar Northumberland Avenue, yang dijual oleh Enterprise Inns menggunakan agen real estate berbasis Buckinghamshire, Duncan, Bailey, Kennedy.
Sejak kedai bir tersebut tutup pada Februari 2010 lalu, beberapa unjuk rasa telah dilakukan penduduk sekitar agar bar itu tetap sebagai bar.
Pada bulan Juni tahun lalu, perumahan Catalyst berencana menghancurkan yang bar kosong itu, dan menggantinya dengan 22 kamar 22 kamar dan dua rumah, namun tidak diberikan respon yang hangat dari penduduk setempat dan para konselor.
Trust yang sekarang sedang mencoba untuk menghidupkan dukungan dana untuk menciptakan sebuah ruang doa, pusat pendidikan, perpustakaan dan pusat pameran Islam. Anggota Trust Manzoor Hussain, dari Whitley Wood, berkata, "Kami ingin menjadikan bar tersebut sebagai pusat masyarakat Muslim."
"Saya kira ada kebutuhan besar akan pusat Islam bagi South Read yang memiliki 330 Muslim. Kita tahu ada dukungan untuk bangunan tersebut untuk tetap sebagai bar. Kami tahu bahwa bar merupakan salah satu tempat haram bagi umat Muslim, namun kami yakin ciytra tersebut dapat berubah jika Masjid ini berhasil didirikan."
"Kami telah mengajukan penawaran kepada agen real estat dan sekarang mencoba untuk mengumpulkan uang."
Trust telah mendistribusikan selebaran ke keluarga Muslim Whitley dengan harapan dapat mengumpulkan dana awal sebesar £ 100,000 untuk hipotek.
Rencana itu termasuk membuat aula untuk sholat harian, sholat Jumat, dan Sholat Ied.
Selain itu, tempat tersebut rencananya juga digunakan sebagai tempat untuk mengajarkan Al-Quran dan memberikan pelajaran bahasa Arab kepada penduduk setempat. Ia juga ingin menawarkan kelas TI pada tingkat yang berbeda dan mengadakan acara-acara masyarakat dan kebudayaan.
Brosur yang meminta orang untuk menyumbangkan £ 250 per rumah menuliskan, "Karena sekarang Whitley Tavern telah menjadi fokus dari masyarakat.
"Sementara beberapa anggota ingin melihat bar semacam itu sebagai tempat dengan anti-masalah sosial."
"Masyarakat Muslim menganggap bangunan ini tetap dapat dipakai masyarakat dan dimanfaatkan sebagai tempat untuk berjamaah."
Seorang warga Whitley, yang tidak ingin namanya disebutkan, berkata, "Setelah berbicara kepada beberapa orang termasuk orang-orang yang tinggal di kedua sisi properti tersebut, secara umum menyatakan perasaan bahwa para penduduk tidak menginginkan didirikannya sebuah Masjid. Orang-orang yang cukup takut tentang gagasan itu."
Sementara itu pembangunan Masjid Abu Bakar di Oxford Road mulai berjalan setelah sebelumnya dikritik karena kemajuannya yang lambat.
Menulis di website Masjid pada hari Minggu, 14 Juni lalu, Khairun Jazaku menuturkan, "Pemasangan bata sekarang sedang berjalan dan pekerjaan pembuatan ruang bawah tanah juga telah dimulai."
"Jendela, atap, dan kubah semua harus dilakukan bersama-sama dengan pemasangan bata dan ini bukan tugas kecil. Kita harus meningkatkan dana untuk memastikan bahwa tidak ada jeda dalam pekerjaan penting ini."
Menjadikan tempat umum sebagai Masjid merupakan hal yang lumrah terjadi di Eropa dan AS.
Seperti yang terjadi di wilayah Rock Hill, AS, dimana umat Muslim menjadikan sebuah pusat perbelanjaan sebagai tempat ibadah bersama.[muslimdaily.net/rimanews]
Muslimah Australia Selamat Dari Ancaman Penjara Karena Pakai Burqa
Seorang Muslimah Australia, Carnita Matthews (47), didakwa telah melakukan fitnah alias kebohongan dengan melontarkan tudingan bahwa seorang polisi mencoba merobek burqa-nya. Tapi, dakwaan tersebut tidak terbukti karena polisi tidak bisa membuktikan bahwa wanita dalam burqa tersebut adalah Carnita Matthews. Dengan tidak adanya bukti tersebut, Carnita Matthews akhirnya pun terbebas dari hukuman penjara.
Carnita Matthews yang berasal dari Woodbine, Sydney, itu didakwa hukuman enam bulan penjara karena membuat pernyataan palsu. Carnita Matthews dituduh telah menuding seorang pejabat polisi, Sersan Paul Kearney, mencoba untuk membuka secara paksa burqa-nya. Carnita Matthews juga dikatakan telah menuduh Paul Kearney sebagai seorang rasis.
Namun demikian, Hakim Clive Jeffreys mengatakan bahwa dia tidak terlalu yakin bahwa Carnita Matthews yang membuat tuduhan rasisme tersebut. Karena, orang yang menuduh Paul Kearney itu mengenakan burqa saat kasus ini berawal. Demikian laporan News.com.au.
Jikapun Carnita Matthews adalah orang yang menuding Paul Kearney saat membuat pengaduan di kantor polisi pada beberapa waktu lalu, Jeffreys tetap tidak yakin bahwa Carnita Matthews tahu bahwa ucapannya tersebut bisa tergolong pernyataan palsu. Untuk bisa membuat masalah tersebut menjadi sebuah kasus, Carnita Matthews saat itu dalam kondisi mengangkat burqa-nya saat melapor ke kantor polisi.
Sambil berteriak 'Allahu Akbar', puluhan Muslim memberikan dukungan kepada Carnita Mathews yang menjalani sidang di Pengadilan Downing Centre. Pada tahun lalu, Carnita Matthews membuat pernyataan dengan mengatakan polisi tidak bisa membuktikan bahwa dirinya yang berada di balik burqa tersebut.
[muslimdaily.net/rpblk]
Carnita Matthews yang berasal dari Woodbine, Sydney, itu didakwa hukuman enam bulan penjara karena membuat pernyataan palsu. Carnita Matthews dituduh telah menuding seorang pejabat polisi, Sersan Paul Kearney, mencoba untuk membuka secara paksa burqa-nya. Carnita Matthews juga dikatakan telah menuduh Paul Kearney sebagai seorang rasis.
Namun demikian, Hakim Clive Jeffreys mengatakan bahwa dia tidak terlalu yakin bahwa Carnita Matthews yang membuat tuduhan rasisme tersebut. Karena, orang yang menuduh Paul Kearney itu mengenakan burqa saat kasus ini berawal. Demikian laporan News.com.au.
Jikapun Carnita Matthews adalah orang yang menuding Paul Kearney saat membuat pengaduan di kantor polisi pada beberapa waktu lalu, Jeffreys tetap tidak yakin bahwa Carnita Matthews tahu bahwa ucapannya tersebut bisa tergolong pernyataan palsu. Untuk bisa membuat masalah tersebut menjadi sebuah kasus, Carnita Matthews saat itu dalam kondisi mengangkat burqa-nya saat melapor ke kantor polisi.
Sambil berteriak 'Allahu Akbar', puluhan Muslim memberikan dukungan kepada Carnita Mathews yang menjalani sidang di Pengadilan Downing Centre. Pada tahun lalu, Carnita Matthews membuat pernyataan dengan mengatakan polisi tidak bisa membuktikan bahwa dirinya yang berada di balik burqa tersebut.
[muslimdaily.net/rpblk]
Tak Mau Lepas Burqa Dipenjara 1 Tahun
Wanita muslim yang menolak untuk melepas burqa saat diminta oleh polisi New South Wales (NSW), Australia akan menghadapi hukuman satu tahun di penjara. Aturan ini baru ditetapkan di New South Wales, Australia pada Senin (4/7/2011) kemarin.
Seperti ditulis news.com.au, mengutip Daily Telegraph Selasa (5/7/2011), polisi NSW, Australia kini diberi kekuasaan untuk memaksa siapa pun untuk membuka wajah wanita Muslim yang mengenakan burqa, jika dicurigai melakukan kejahatan atau jika mereka dianggap berpotensi melakukan tindakan kriminal.
Jika mereka menentang polisi dan menolak untuk menutup burqa, dia bisa dipenjara setahun atau didenda AUD 5500. Sanksi ini juga sejalan dengan beberapa aturan di beberapa negara di belahan dunia.
Di Prancis, di mana burqa benar-benar dilarang di depan umum, perempuan yang mengenakannya terancam denda sebesar US$ 202.
Aturan tersebut diterapkan, menyusul kasus penolakan membuka burqa oleh Carnita Matthews, saat mobilnya dihentikan oleh polisi.
Matthews dianggap membuat pernyataan palsu oleh hakim karena dia tidak bisa membuktikan ucapannya adalah benar-benar dia yang membuat pernyataan tersebut, karena wajahnya tertutup burqa.
Komisaris Polisi Andrew Scipione meminta kepada pemerintah untuk menutup celah hukum yang mencegah petugas dari mengidentifikasi tersangka kriminal.
Sementara Gubernur New South Wales, Barry O'Farrell kemarin mengatakan semua orang tak terkecuali ras apapun harus membantu polisi mengidentifikasi orang yang diduga pelanggaran kriminal.
"Saya tidak peduli apakah seseorang memakai helm sepeda motor, burqa, niqab, cadar wajah atau apa pun. Polisi harus diizinkan untuk meminta orang-orang tersebut untuk membuat identifikasi mereka jelas," katanya setelah rapat kabinet.
[muslimdaily.net/detik]
Seperti ditulis news.com.au, mengutip Daily Telegraph Selasa (5/7/2011), polisi NSW, Australia kini diberi kekuasaan untuk memaksa siapa pun untuk membuka wajah wanita Muslim yang mengenakan burqa, jika dicurigai melakukan kejahatan atau jika mereka dianggap berpotensi melakukan tindakan kriminal.
Jika mereka menentang polisi dan menolak untuk menutup burqa, dia bisa dipenjara setahun atau didenda AUD 5500. Sanksi ini juga sejalan dengan beberapa aturan di beberapa negara di belahan dunia.
Di Prancis, di mana burqa benar-benar dilarang di depan umum, perempuan yang mengenakannya terancam denda sebesar US$ 202.
Aturan tersebut diterapkan, menyusul kasus penolakan membuka burqa oleh Carnita Matthews, saat mobilnya dihentikan oleh polisi.
Matthews dianggap membuat pernyataan palsu oleh hakim karena dia tidak bisa membuktikan ucapannya adalah benar-benar dia yang membuat pernyataan tersebut, karena wajahnya tertutup burqa.
Komisaris Polisi Andrew Scipione meminta kepada pemerintah untuk menutup celah hukum yang mencegah petugas dari mengidentifikasi tersangka kriminal.
Sementara Gubernur New South Wales, Barry O'Farrell kemarin mengatakan semua orang tak terkecuali ras apapun harus membantu polisi mengidentifikasi orang yang diduga pelanggaran kriminal.
"Saya tidak peduli apakah seseorang memakai helm sepeda motor, burqa, niqab, cadar wajah atau apa pun. Polisi harus diizinkan untuk meminta orang-orang tersebut untuk membuat identifikasi mereka jelas," katanya setelah rapat kabinet.
[muslimdaily.net/detik]
Derita Muslim Uighur yang Selalu Ditindas dan Dibungkam
Dua tahun usai kerusuhan mengguncang Xinjiang yang berpenduduk mayoritas Muslim, suara-suara etnis Uighurs masih dibungkam. Mereka dipaksa diam dengan ancaman penjara dan kamera pengintai yang diberlakukan oleh pemerintah Cina, demikian Amnesty Internasional menuturkan pada laman online mereka, Selasa, (5/7).
"Pemerintah tak hanya memberangus orang-orang yang menyinggung insiden pada Juli 2009 silam, mereka juga menggunakan pengaruh kekuasaan hingga di perbatasan untuk memaksa setiap orang agar tutup mulut," ujar direktur Amnesti Internasional untuk Asifa Pasifik, Sam Zarifi.
Dalam masa-masa itu, kelompok besar etnis Han turun ke jalan-jalan untuk melampiaskan dendam terhadap etnis Uighur. Situasi itu menimbulkan kekerasan etnis terburuk di Cina dalam beberapa dekade terakhir.
Kerusuhan menyebabkan hampir 200 orang tewas dan 1.700 orang terluka, demikian penghitungan pemerintah. Namun pihak Uighurs menyatakan jumlah korban tewas lebih tinggi dan terbanyak dari komunitas mereka.
Pemerintah Cina sejauh ini telah memvonis 200 orang--sebagian besar Uighurs--dalam kasus itu dan menghukum mati 26 orang di antaranya.
Usai kejadian tersebut, Cina memasang sekitar 17 ribu kamera pengintai di lingkungan Urumqi yang sebelumnya telah dipasangi kamera. Pemasangan terutama dilakukan di kawasan padat etnis Uighurs, minoritas Muslim berbahasa Turki yang diperkirakan berjumlah 8 juta orang.
"Tren umum yang terjadi, penindasan yang terjadi di penjuru Cina terhadap Muslim, terutama berpusat di Xinjiang. Di sana Uighur menjadi minoritas di tanah kelahirannya," ujar Zarifi.
Xinjiang telah menjadi daerah otonomi sejak 1955. Namun, status itu tak lantas menghilangkan sikap represif pemerintah Cina. "Menyerang setiap Uighurs yang berbicara bebas tak akan menyelesaikan keluhan di akar rumput," ujar Zarifi.
Seorang Uighur, Ershidin Israil, yang mencari suaka baru-baru ini dipaksa kembali dari Kazakhstan ke Cina. Rupanya pemerintah Cina melakukan tekanan terhadap tetangganya, negara Asia Tengah itu.
Penahanannya menuai keprihatinan karena kemungkinan besar ia mengalami penyiksaan dan dakwaan terhadap dirinya direkayasa.
Ershidin bukan satu-satunya kasus Urumqi yang tertindas. Seorang penyiar radio terkemuka di negara itu, Memetjan Abdulla, kini menjalani hukuman penjara seumur hidup karena memposting surat protes di laman Uighur, Salkin.
Lalu ada pula Tursanjan Hezim dan Dilshat Paerhat, mantan redaktur situs berita online terkenal di Uighur. Tursanjam diganjar tujuh tahun dan Dilshat harus mendekam lima tahun, juga gara-gara menayangkan protes secara online.
Kemudian seorang jurnalis Uighur, Hairat Niyaz, kini harus hidup di balik sel selama 15 tahun dengan dakwaan membahayakan keamanan negara setelah ia menulis essai dan bersedia diwawancara oleh jurnalis Hongkong menyusul protes Juli 2009. Padahal Hairat yang juga mantan redaktur media online itu dulu dianggap sebagai pro pemerintah.
Kelompok hak asasi menuduh Cina menggunakan kedok kebijakan anti-terorism dalam penindasan terhadap Muslim Uighur. Muslim juga menuding pemerintah sengaja menggiring jutaan etnis Han masuk ke lingkungan mereka untuk menggusur identitas dan budaya mereka.
Pengamat mengatakan kebijakan pemindahan etnis Han ke Xinjiang demi menyolidkan otoritas Beijing terus didorong. Kini proporsi Han dalam wilayah itu meningkat tajam, dari hanya 5 persen pada 1940-an menjadi lebih dari 40 persen saat ini.
Beijing memiliki alasan. Wilayah luas Xinjiang adalah aset berharga karena terletak di lokasi yang strategis, dekat Asia Tengah dan di sana terdapat cadangan minyak dan gas sangat besar.[muslimdaily.net/rpk]
"Pemerintah tak hanya memberangus orang-orang yang menyinggung insiden pada Juli 2009 silam, mereka juga menggunakan pengaruh kekuasaan hingga di perbatasan untuk memaksa setiap orang agar tutup mulut," ujar direktur Amnesti Internasional untuk Asifa Pasifik, Sam Zarifi.
Dalam masa-masa itu, kelompok besar etnis Han turun ke jalan-jalan untuk melampiaskan dendam terhadap etnis Uighur. Situasi itu menimbulkan kekerasan etnis terburuk di Cina dalam beberapa dekade terakhir.
Kerusuhan menyebabkan hampir 200 orang tewas dan 1.700 orang terluka, demikian penghitungan pemerintah. Namun pihak Uighurs menyatakan jumlah korban tewas lebih tinggi dan terbanyak dari komunitas mereka.
Pemerintah Cina sejauh ini telah memvonis 200 orang--sebagian besar Uighurs--dalam kasus itu dan menghukum mati 26 orang di antaranya.
Usai kejadian tersebut, Cina memasang sekitar 17 ribu kamera pengintai di lingkungan Urumqi yang sebelumnya telah dipasangi kamera. Pemasangan terutama dilakukan di kawasan padat etnis Uighurs, minoritas Muslim berbahasa Turki yang diperkirakan berjumlah 8 juta orang.
"Tren umum yang terjadi, penindasan yang terjadi di penjuru Cina terhadap Muslim, terutama berpusat di Xinjiang. Di sana Uighur menjadi minoritas di tanah kelahirannya," ujar Zarifi.
Xinjiang telah menjadi daerah otonomi sejak 1955. Namun, status itu tak lantas menghilangkan sikap represif pemerintah Cina. "Menyerang setiap Uighurs yang berbicara bebas tak akan menyelesaikan keluhan di akar rumput," ujar Zarifi.
Seorang Uighur, Ershidin Israil, yang mencari suaka baru-baru ini dipaksa kembali dari Kazakhstan ke Cina. Rupanya pemerintah Cina melakukan tekanan terhadap tetangganya, negara Asia Tengah itu.
Penahanannya menuai keprihatinan karena kemungkinan besar ia mengalami penyiksaan dan dakwaan terhadap dirinya direkayasa.
Ershidin bukan satu-satunya kasus Urumqi yang tertindas. Seorang penyiar radio terkemuka di negara itu, Memetjan Abdulla, kini menjalani hukuman penjara seumur hidup karena memposting surat protes di laman Uighur, Salkin.
Lalu ada pula Tursanjan Hezim dan Dilshat Paerhat, mantan redaktur situs berita online terkenal di Uighur. Tursanjam diganjar tujuh tahun dan Dilshat harus mendekam lima tahun, juga gara-gara menayangkan protes secara online.
Kemudian seorang jurnalis Uighur, Hairat Niyaz, kini harus hidup di balik sel selama 15 tahun dengan dakwaan membahayakan keamanan negara setelah ia menulis essai dan bersedia diwawancara oleh jurnalis Hongkong menyusul protes Juli 2009. Padahal Hairat yang juga mantan redaktur media online itu dulu dianggap sebagai pro pemerintah.
Pengamat mengatakan kebijakan pemindahan etnis Han ke Xinjiang demi menyolidkan otoritas Beijing terus didorong. Kini proporsi Han dalam wilayah itu meningkat tajam, dari hanya 5 persen pada 1940-an menjadi lebih dari 40 persen saat ini.
Beijing memiliki alasan. Wilayah luas Xinjiang adalah aset berharga karena terletak di lokasi yang strategis, dekat Asia Tengah dan di sana terdapat cadangan minyak dan gas sangat besar.[muslimdaily.net/rpk]
Di Lithuania Atlet Dicoret dari Tim Karena ia Muslim
Dalam wawancara menarik di website olahraga Azeri, seorang atlet basket Rolandas Alijevas mengklaim ia dicoret dari Tim Nasional Lithuania karena dirinya adalah seorang Muslim.
Alivejas bercerita bahwa ayahnya adalah seorang Azeri (Azerbaijan) sedangkan ibunya dari Lithuania. Ia dilahirkan di Kaunas dan mengaku Muslim seperti ayahnya. Ayahnya sendiri merupakan atlet judo di Azerbaijan.
Sebelumnya Alijevas pernah memperkuat tim basket pada tahun 2005 ketika negaranya memenangkan Piala Dunia Basket U-21 di Argentina. Ia juga pernah memenangkan beberapa medali emas. Meskipun ia mengikuti pelatihan tim nasional Lithuania tapi tidak pernah dimainkan dalam pertandingan resmi.
Alijevas mengklaim dirinya seharusnya dipanggil timnas Lithuania, tetapi karena beberapa alasan ia tidak dipanggil. Awalnya ia tidak tahu kenapa, lalu ia sadar karena dirinya seorang Muslim.
Terbersit kemudian ia pindah saja menjadi warga Azerbaijan, negara asal ayahnya, agar ia bisa terus bermain basket di Piala Dunia. Namun karena ia pernah bermain untuk tim muda Lithuania saat Piala Dunia maka keinginan bermain bagi Azerbaijan sepertinya mustahil terlaksana.
Namun Alijevas tetap akan berusaha pindah ke Azerbaijan dan bermain untuk timnas, ia akan berkonsultasi dengan ayahnya. Meskipun timnas Azerbaijan tidak sehebat Lithuania.
Islamophobi ternyata juga melanda dunia olahraga, Eropa masih rasis. [muslimdaily.net/extratime.az]
Alivejas bercerita bahwa ayahnya adalah seorang Azeri (Azerbaijan) sedangkan ibunya dari Lithuania. Ia dilahirkan di Kaunas dan mengaku Muslim seperti ayahnya. Ayahnya sendiri merupakan atlet judo di Azerbaijan.
Sebelumnya Alijevas pernah memperkuat tim basket pada tahun 2005 ketika negaranya memenangkan Piala Dunia Basket U-21 di Argentina. Ia juga pernah memenangkan beberapa medali emas. Meskipun ia mengikuti pelatihan tim nasional Lithuania tapi tidak pernah dimainkan dalam pertandingan resmi.
Alijevas mengklaim dirinya seharusnya dipanggil timnas Lithuania, tetapi karena beberapa alasan ia tidak dipanggil. Awalnya ia tidak tahu kenapa, lalu ia sadar karena dirinya seorang Muslim.
Terbersit kemudian ia pindah saja menjadi warga Azerbaijan, negara asal ayahnya, agar ia bisa terus bermain basket di Piala Dunia. Namun karena ia pernah bermain untuk tim muda Lithuania saat Piala Dunia maka keinginan bermain bagi Azerbaijan sepertinya mustahil terlaksana.
Namun Alijevas tetap akan berusaha pindah ke Azerbaijan dan bermain untuk timnas, ia akan berkonsultasi dengan ayahnya. Meskipun timnas Azerbaijan tidak sehebat Lithuania.
Islamophobi ternyata juga melanda dunia olahraga, Eropa masih rasis. [muslimdaily.net/extratime.az]
Langganan:
Postingan (Atom)