Rabu, 07 September 2011

MASJID KHUSUS WANITA DI CINA

Kabar baik juga datang dari  Asia Timur. Tepatnya di Cina. Propinsi Nanjing, di Barat Laut Cina, yang berpenduduk mayoritas muslim kini semakin terbuka dengan kehadiran para dai dari luar negeri. Pemerintah Cina sendiri memberi keringanan dan kemudahan bagi para dai  asing utnuk berdakwah di sini. Tentu saja bagi propinsi, yang  20 juta warganya muslim ini, hal itu merupakan jalan bagi mereka untuk lebih mengenal dan mendalami agamanya.
Berkahnya, di wilayah Tonjesin, yang dikenal sebagai daerah miskin telah berdiri masjid yang cukup megah. Menurut pimpinan Sekolah Islam Khusus Putri yang bermarga Hui, biaya pembangunan masjid tersebut datang dari umat Islam yang datang ke daerahnya. “Kami berterima kasih dengan apa yang diberikan saudara-saudara kami yang datang ke sini. Alhamdulillah, mereka banyak memberikan harta serta bantuan lainnya.”
Dia pun berkata, kini pendidikan muslimahnya semakin maju. Wanita ini mengaku sekolahnya kini memiliki 68 siswa. ”Sekarang kondisi jauh lebih baik sehingga kita tidak perlu takut,” ujarnya. Kini murid-muridnya tak perlu takut untuk bersekolah di sekolah Islam.
Ketika saya lulus sekolah menengah pada tahun 1986, situasinya sangat sulit. Sekarang, kebijakan keagamaan agak longgar. Kami bisa terus maju tanpa merasa ketakutan,” tambah dia.
Kini, para remaja putri di sana sebagian besar sudah berjilbab dengan rapi. Hal ini disebabkan semakin akomodatifnya politik di daerah sehingga memudahkan umat Islam untuk menjalankan agamanya tanpa rasa takut.
Walaupun banyak yang menduga hal ini disebabkan keinginan pemerintah Cina untuk memperluas perdagangannya dengan negara-negara Arab, tak urung hal itu tetap menjadi berkah bagi muslim Cina yang senantiasa mengalami tekanan pemerintah setelah kegiatan agama sangat dilarang oleh rezim Komunis Mao Zedong dengan revolusi kulturalnya. Islam dan agama-agama lain kembali tumbuh subur setelah tahun 1990 dan muslim juga mulai membenahi masjid-masjid yang sudah rusak.
Diwilayah lainnya, yaitu di Ning Xia, telah berdiri beberapa masjid khusus untuk wanita. Di sana wanita berkumpul, berdoa dan mendengarkan ceramah dari imam wanita atau disebut juga ahong (semacam ustadzah-red)
”Kami harus mengedukasi muslimah di sini bagaimana menjadi muslim yang baik,” ujar Wang Shouying, salah satu umam di sana. ”Ahong di sini dibutuhkan karena pemahaman mereka terhadap wanita lebih baik.”
Suara azan dari masjid pun sayup-sayup memanggil  umat muslim untuk shalat. Suara itu pun sampai ke masjid khusus wanita. Mereka shalat dipimpin oleh sang Ahong. Masjid yang tampilan luarnya bernuansa pink ini menampung jamaah wanita yang ingin menambah pengetahuan agamanya dan ingin mempelajari Al-Quran.
Dekat Ning Xia, yaitu di tepian Sungai Kuning, muslimah bisa beraktivitas lebih leluasa. Mereka bekerja di pemerintahan, kantor, bank, toko dan sekolah. Di sini masjid khusus wanita pun banyak didirikan.
”Partai Komunis Cina membebaskan kita dari dapur dan punya hak dan kewajiban sama dengan pria,”kata Wu Lian ( 45) ibu dua anak yang juga seorang Kepala Sekolah TK Rakyat Yisha Hui di Wu Zhong.
Di Ning Xia, anak-anak perempuan juga sudah sangat akrab dengan Bahasa Arab dan Al-Quran. Kemampuan menguasai Bahasa Arab dan Quran juga memperbesar kemungkinan mereka untuk bekerja. “Mereka bisa menjadi penerjemah, guru atau bisa meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi,” kata Ma Mingxian, Kepala Institut Studi Islam dan Al-Quran di Yinchuan.
Di Masjid Pusat Wu Zhong, Yang Mingnan berbagi tugas dengan suaminya. Dia bertugas menjadi guru bagi kaum wanita, sedangkan suaminya selain sebagai imam salta juga bertindak sebagai ustadz. Langkah strategis untuk meluaskan ajaran Islam di Negeri Tirai Bambu.

Sumber : Majalah UMMI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar