Tampilkan postingan dengan label Shiroh Nabi dan Shahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shiroh Nabi dan Shahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

Nasibah binti Ka'ab Al-Anshariyah (Ummu Umarah)

Walaupun Nasibah binti Ka’ab seorang muslimah, namun keberaniannya diarena pertempuran menandingi banyak laki-laki. Disebutkan didalam Siyar A’lam An Nubala ( 2/278), Ummu Umarah ( Nasibah binti Ka’ab) pernah mengikuti peristiwa bai’at ul Aqabah kedua, Perang Uhud, Perang Hudaibiyah, Perang Hunain dan Perang Yamamah . Dia mendapatkan  mendapatkan lebih dari  12 luka disalah satu pertempuran, bahkan hingga putus tangannya dipertempuran lain. Allahu AKBAR .

Do’a Rasulullah saw untuk Nasibah binti Ka'ab dan putranya.
Dari Abdillah bin Zaid bin Ashim, dia berkata,” Saya menyaksikan Perang Badar,  ketika kaum Muslimin kocar kacir lari meninggalkan Rasulullah saw beliau bertanya,” Apakah kamu putra Ummu Umarah ?”. Saya menjawab,” Ya. Beliau bersabda,” Lemparlah.” Sayapun melempar musuh yang mengendarai kuda dengan batu. Lemparanku mengenai mata kuda musuh dan laki-laki itupun jatuh. Melihat peristiwa itu Rasulullah saw tersenyum, dan beliau melihat luka dibagian punggung ibuku seraya bersabda,” Ibumu, ibumu, balutlah lukanya. Ya Alloh, jadikanlah mereka sahabatku di jannah. Sayapun berkata,” Dan sayapun tidak menghiraukan lagi apa yang menimpaku di dunia.”

Perang Uhud.
Saat Perang Uhud berkecamuk, Nasibah binti Ka’ab  terlibat didalamnya. Beliau mengisahkan tentang posisinya ketika itu sebagaimana yang dituturkan Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat-nya,
“ Siang itu, sambil membawa sekendi air, saya keluar menuju Uhud untuk menyaksikan pertempuran kaum muslimin. Mula pertama, kaum muslimin memenangkan pertempuran. Sehingga akhirnya saya dapat menemui Rasulullah saw bersama sahabat-sahabatnya. Namun ketika kaum muslimin mulai kalah, saya langsung terjun kemedan laga. Saya halau segala serangan  yang menuju Rasul dengan pedang saya Dan pada saat yang sama saya arahkan beberapa anak panah kearah musuh, sehingga saya terluka”.
Namun ketika kaum muslimin mulai kalah, saya langsung terjun kemedan laga
Ummu Sa’id binti Sa’ad bin Rabi’ pernah bertanya kepada Ummu Umarah tentang sebab luka dipundaknya yang telah membengkak dan begitu dalam. Dia (Ummu Umarah) menjawab,” (Saat Perang Uhud) saya berhadapan dengan Ibnu Qami’ah yang datang menerobos Rasullulah saw, sambil berteriak,” Tunjukkan Muhammad padaku !”Amru ibnul Ash dan beberapa orang bersama saya , segera menghalangi Ibnu Qami’ah. Akupun terkena pukulannya.
Dalam perang Uhud inilah, Nasibah binti Ka’ab/ Ummu Umarah  mendapat lebih dari 12 luka. Dan luka terparah dipundaknya membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk kesembuhannya.
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!
Demikian keberaniaan shahabiyah yang satu ini. Melihat  Rasulullah saw dalam keadaan terdesak, tanpa pikir panjang, ia masuki  kancah pertempuran itu. Dan siap menghadapi  resiko apapun .  Demi melindungi  Rasulullah saw  sang pembawa risalah.  Tak sedikitpun ia mengkhawirkan keselamatannya.

Perang Yamamah.
Disebutkan di dalam Al-Ishabah (4/418), Al Waqidi menceritakan bahwasanya Nasibah binti Ka’ab ketika sampai kepadanya berita, bahwa putranya, Hubaib bin Zaid, terbunuh ditangan Musailamah . Dia berjanji kepada Alloh untuk mati dihadapan Musailamah atau dia yang membunuhnya.  Ketika pecah perang Yamamah yang dipimpin Khalid bin Walid, ia ikut bersama putanya Abdullah. Ternyata Abdullah bin Zaid lah yang membunuh Musailamah. Sedang tangan Ummu Umarah putus.  Allahu Akbar !!!
Akhwati … Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!
Demikianlah kisah keberanian, kegigihan , kesabaran dan semangat berkorban yang menakjubkan dari seorang mujahidah bernama Nasibah binti Ka’ab Al Anshariyah. Yang juga berhasil mendidik kedua putranya dengan keteladanan, sehingga salah satunya syahid dimedan jihad.
Semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah diatas. Tidak hanya kita muslimah tapi juga kaum rijal, yang akhir-akhir ini mengendur semangat jihadnya. ALLAHU Akbar !!!
( Sumber : Muslimah Berjihad, Karya Yusuf Al-‘Uyairi )

Hindun Binti Amru Bin Haram

Profil Hindun Binti Amru Bin Haram ( Isteri Amru Ibnul Jamuh )
Hindun binti Amru adalah sosok muslimah yang hatinya dipenuhi kecintaan kepada Islam. Kecintaannya kepada ad dinul haq,Islam, menjadikannya muslimah yang gigih mengobarkan semangat jihad bagi para rijal. Untuk  memperjuangkan, mempertahankan, membela  tegaknya kalimah Alloh SWT.  Tak terkecuali kepada suami, anak dan keluarganya.

Siapakah Hindun binti Amru ?
Beliau adalah isteri Amru ibnul Jamuh, salah seorang pemuka Bani Salamah yang terhormat. Namun memiliki cacat yaitu pincang. Walaupun demikian, dengan keadaan fisik yang tidak normal tersebut, Amru ibnul Jamuh berhasil meraih syahid. Ia tidak mau tertinggal dalam jihad melawan musuh-musuh Islam.Walaupun sesungguhnya tidak ada kewajiban atasnya untuk itu. Demikian juga putranya Khallad dan Abdullah ( saudaranya) merekapun syahid.
Hindun binti Amru kehilangan tiga orang yang dicintainya dalam satu waktu. Namun itu tidak menjadikannya lemah, atau hanyut dalam kesedihan.

Membawa Jenazah ke Madinah.
Ketika Hindun akan membawa jenazah ketiga orang yang dicintainya ke Madinah untuk dimakamkan disana, Ummul Mu’minin Aisyah melihatnya dan berkata padanya,” Kamu memiliki kebaikan , lalu apa kamu tinggalkan dibelakangmu ?”
Hindun menjawab,” Rasulullah SAW adalah orang sholeh, dan setiap musibah setelah beliau adalah kecil. Dan Alloh SWT mengambil dari orang-orang mu’min untuk menjadi syuhada !!”.
“Siapa mereka ?” Tanya Aisyah ra.
“Saudaraku, putraku Khallad dan suamiku Amru ibnul Jamuh”.
“ Kemana engkau akan pergi dengan jenazah mereka ?,” lanjut Aisyah.
“ Saya hendak mengubur mereka di Madinah,” jawab Hindun.
Subhanallah … akhwati … mari kita hayati ketegaran dan kesabarannya. Amat sedikit muslimah yang mampu melakukannya. Kehilangan tiga orang yang dicintai dalam satu waktu, namun tetap sabar.
Berangkatlah Hindun menuju Madinah. Namun kuda yang dikendarainya tidak mau berjalan kearah yang dimaksud. Akhirnya Hindun mengarahkan tali kekangnya kearah kancah Perang Uhud, maka kuda itupun bergerak menuju kesana.
Disanalah Rasulullah SAW menguburkan ketiganya ( Amru ibnul Jamuh, Khallad dan Abdullah ).
Setelah penguburan Rasulullah SAW berkata kepada Hindun,” Wahai Hindun, mereka bertiga nanti di jannah saling berdampingan”. Dengan wajah berseri-seri, Hindun berkata,” Wahai Rasulullah, do’a kanlah saya agar bisa bersama mereka ( dijannah nanti) “.
Kecintaannya kepada tegaknya Islam, menjadikan penawar rasa duka kehilangan orang-orang yang sangat dekat dan sangat dicintainya.
Itulah hakikat Iman, kecintaan kepada Alloh SWT, Rasululullah  dan berjihad dijalanNya  berada diatas segala-galanya.
Semoga, dengan semakin memahami dan menghayati ketegaran, kesabaran dan kegigihan para shahabiyah. Alloh SWT tumbuh suburkan dalam hati kita benih-benih keimanan yang melahirkan semangat jihad untuk berkorban, baik harta maupun nyawa. Demi tegakNya kalimah Alloh SWT diatas bumi . Bumi yang sejatinya Alloh SWT wariskan kepada hamba-hambaNya yang sholih.  Sehingga umat Islam tidak akan dilecehkan dibelahan bumi manapun. Allahu Akbar.
( Sumber : Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW )

Ibunda Rab'ah bin Abi Abdirrahman

Alkisah, ayahnya Rabi’ah yang bernama Farrukh, ikut serta dalam ekspedisi kaum muslimin menuju khurasan untuk berperang dimasa pemerintahan Bani Umayyah. Ketika itu Rabi’ah masih berada dalam kandungan ibunya. Sang ayah meninggalkan uang tiga puluh ribu dinar untuk istrinya, ibunda Rabi’ah. Setelah itu farrukh pun berangkat untuk berjihad fii sabiilillah.
Dua puluh tahun berjalan, Farrukh sang Mujahid kembali ke Madinah sembari mengendarai kuda dengan tombak ditangan. Sesampainya di rumah, ia turun dari kudanya lalu mendorong pintu rumah dengan tombak tadi. Sontak, Rabi’ah ( yang merasa asing denagn orang ini ) segera keluar seraya membentaknya, “ hei musuh allah! Engkau hendak membobol rumahku?” “tidak,” sahutnya, Farrukh pun kembali bertanya, “ hei musuh Allah, jadi kamu lelaki asing yang berani mengganggu istriku?” keduanya pun saling menyerang satu sama lain dan bergumul dalam perkelahian hebathingga para tetangga berkerumun disekitar mereka. Akhirnya kabar ini sampai ke telinga Imam Malik bin Anas –salah seorang murid Rabi’ah- dan beberapa syaikh lainnya. Mereka pun dating untuk menolong Rabi’ah. Rabi’ah berkata kepada lelaki itu, “ Demi allah , aku tak akan melepaskan mu sebelum membawamu ke hadapan sultan, “ Farrukh menimpali, “ Aku tak akan melepaskanmu juga, dank au tertangkap basha ada bersama istriku.”
Orang-orang pun rebut membicarakannya . akan tetapi, ketika tampak oleh mereka Imam Malik, semua tenang kembali. Lalu Imam Malik berkata kepada lelaki tadi, “ Hai pak tua! Silahkan anda mencari rumah lainnya,” “ ini rumahku sendiri,” sahut lelaki tadi, “ akulah Farrukh Maula Bani Fulan.” Kata-kata Farrukh tadi ternyata  terdengar oleh istrinya dari dalam rumah, maka ia pun bergegas keluar dan berkata, “orang ini adalah suamiku, dan pemuda ini adalah puteraku. Suamiku ini meninggalkanku dalam keadaan mengandung anaknya!”
Akhirnya keduanya saling berpelukan dengan bercucuran air mata. Lalu Farrukh masuk ke dalam rumahnya dan bertanya keheranan, “ pemuda itu adalah puteraku? ” “Ya,” jawab istrinya. Farrukh pun tenggelam dalam pembicaraan bersama istrinya, ia asyik bercerita tentang pengalaman jihadnya selama ini, dan sebab-musabab terputusnya berita darinya. Namun istrinya tak bisa menikmati ceritanya, ia digelayuti fikiran yang tiba-tibamuncul dalam benaknya. Kebahagiaannya berkumpul dengan sang suami dibayangi kekhawatiran akan masalah uang titipan suaminya yang telah habis. Dalam hati ia bergumam, “apa yang harus kukatakan bila suamiku menanyakan uang yang diamanatkan kepadaku agar kumanfaatkan dengan baik, bagaimanakah kiranya sikap suamiku jika kukatakan bahwa harta itu telah habis tak tersisa…? Bisakah dia menerima alasanku bahwa uang itu habis untuk biaya pendidikan Rabi’ah? Percayakah dia bahwa pendidikan puteranya sampai menghabiskan 30 ribu dinar? Bisakah ia meyakinkan Farrukh bahwa tangan puteranya lebih pemurah dari pada awan yang mengguyur bumi dengan hujannya, hingga tak menyisakan satu dirham pun? Padahal seluruh warga Madinah tahu bahwa Rabi’ah amat pemurah dalam menyantuni guru-gurunya.”
Dan apa yang dikhawatirkannya itu ternyata terjadi juga. Tiba-tiba Farrukh menoleh kepada istrinya seraya berkata, “Aku membawa uang 4000 dinar. Ambillah uang yang kutitipkan padamu dahulu. Mari kita kumpulkan semua lalu kita belikan kebun atau rumah. “ tapi Ummu Rabi’ah pura-pura sibuk dan tak menjawabnya. Maka Farrukh mengulangi lagi permintaannya, “ Ayo lekaslah, mana uang itu?” “uang itu telah kusimpan ditempat yang aman, nanti akan kukeluarkan beberapa hari lagi, insya Allah ,” jawab istrinya. Pembicaraan keduanya pun terputus lantaran adzan berkumandang. Maka Rabi’ah segera berangkat menuju masjid lalu duduk di halaqah-nya. Tak lama berselang, datanglah Imam Malik bin Anas, al-Hasan bin Zaid, Ibnu Abi Ali al-Lahbi, al-Musahiqi, dan tokoh-tokoh Madinah lainnya, dan orang-orang berkumpul mengitarinya. Di rumah istri Farrukh ( ibunda Rabi’ah ) berkata kepada suaminya, “ Ayo, sekarang berangkatlah dan shalatlah di masjid Rasulullah ( Masjid Nabawi ).” Maka ia pun berangkat dan kemudian shalat disana. Di masjid itu tampak olehnya sebuah halaqah yang penuh sesak oleh manusia. Ia segera mendatanginya dan berdiri di dekatnya. Orang-orang sedikit melonggarkan jalan baginya, sedangkan Rabi’ah sedikit menundukkan kepalanya seakan ia mengisyaratkan bahwa ia tak pernah melihat lelaki tadi. Ia duduk dibawah thawilah ( sejenis canopy). Abu Abdirrahman (Farrukh) merasa ragu atas pemandangan yang ia saksikan. Kemudian ia bertanya, “ siapa syaikh ini?” “apa anda bukan warga Madinah?” kata orang tersebut. “saya penduduk sini,” jawab Farrukh. “ Masih adakah di Madinah orang yang tak mengenalnya?” Tanya orang tersebut. “ Maaf saya benar-benar tidak tahu sejak 27 tahun lalu saya meninggalkan kota ini dan baru kemarin saya kembali,” kata Farrukh. “Oo..wajar saja, duduklah sejenak akan saya jelaskan. Syaikh itu adalah seorang tokoh tabi’in, dan ulama terpandang. Dialah ahli Haditsnya kota Madinah. Dia juga seorang faqih dan imam panutan kami meski usianya masih sangat muda,” ujar orang tersebut. “ Masya Allah.. la quwwata illa billah,” kata Farrukh terkagum-kagum. “Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Yahya bin Sa’id al-Qahthan, al-Auza’I, Laits bin Sa’ad, dan lain-lain,” lanjut orang itu. “ Tetapi anda belum..” kata Farrukh hendak bertanya. Namun tanpa memberinya kesempatan, orang tersebut melanjutkan keterangannya, “ Dia juga terkenal sangat dermawan dan bijaksana. Di Madinah tidak ada orang yang lebih dermawan terhadap kawan dan kerabatnya dari dia. Dia hanya mengharap apa yang ada di sisi Allah SWT.” “iya, tapi anda belum menyebutkan namanya,” sela Farrukh. “namanya adalah Rabi’ah ar-Ra’yi,” jawab orang itu. “Rabi’ah ar-Ra’yi?” Tanya Farrukh.
“Nama aslinya Rabi’ah, tetapi para ulama danpemuka Madinah biasa memanggilnya Rabi’ah ar-Ra’yi. Karena setiap kali mereka menjumpai kesulitan atau merasa tidak jelas tentang suatu nash al-Quran atau hadits, mereka bertanya kepadanya. Kemudian beliau berijtihad dalam masalah tersebut dengan menggunakan qiyas apabila tidak menemukan dalil yang jelas, kemudian menyimpulkan hukumbagi mereka yang memerlukannya secara bijaksana.”
Nama aslinya Rabi’ah, tetapi para ulama danpemuka Madinah biasa memanggilnya Rabi’ah ar-Ra’yi. Karena setiap kali mereka menjumpai kesulitan atau merasa tidak jelas tentang suatu nash al-Quran atau hadits, mereka bertanya kepadanya. Kemudian beliau berijtihad dalam masalah tersebut dengan menggunakan qiyas apabila tidak menemukan dalil yang jelas, kemudian menyimpulkan hukumbagi mereka yang memerlukannya secara bijaksana.” “tapi anda belum menyebutkan nasabnya,” sela Farrukh lagi. “Dia adalah Rabi’ah bin Abi Abdurrahman, putra Farrukh yang berangkat berjihad fi sabilillah  sejak 27 tahun silam. Kemudian ibunyalah yang memeliharadan mendidiknya . tadi sebelum shalat tadi saya mendengar dari orang-orang bahwa ayahnya telah kembali kemarin malam.” Tiba-tiba berderailah air mata Farrukh tanpa orang itu tahu sebabnya. Lalu kembalilah Abu Abdirrahman ke rumahnya dan bercerita kepada Ummu Rabi’ah, “Sungguh, aku telah mendapati puteraku dalam suatu keadaan yang tak pernah dicapai oleh seorang pun dari kalangan ahli ilmu maupun fuqaha.” Maka si ibu mengatakan,” manakah yang lebih kau sukai, tiga puluh ribu dinar, atau yang baru saja yang kau lihat tentang puteramu?” “Tidak, demi Allah, tak ada yang lebih kucintai  melainkan apa yang baru saja kulihat!” sahut Farrukh. “Ketahuilah bahwa aku telah membelanjakan uang itu seluruhnya demi pendididkan puteramu,” kata Ummu Rabi’ah. “Sungguh demi Allah, kau tak menyia-nyiakannya kalau begitu,” kata Farrukh.

Ibunda Haritsah Bin Suraqah

Haritsah bin Suraqah adalah seorang pemuda Anshar. Beliau punya cerita yang amat menarik tentang dirinya sebagaimana yang tersebut dalam buku-buku Sirah nabawiyah. Penggalan akhir dari cerita ini bahkan ada dalam Shahih bukhari. Tentu bukan hanya kisah tentang dirinya, tapi juga sang ibu yang turut mewarnai jalan hidup yang menjadi pilihannya.
 Kisah ini bermula ketika Nabi SAW menyeru para sahabatnya untuk pergi ke Badar. Mendengar seruan Nabi tadi, Haritsah bin Suraqah mendatangi ibunya, seorang wanita tua yang telah bungkuk punggungnya. Sang ibu sangat sayang kepada anaknya yang satu ini. Hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa si anak pun kadang membuatnya cemas. Sengatan matahari di siang hari terhadap anaknya juga membuatnya cemas. Bahkan lebih dari itu, seandainya si buah hati bersimpuh di hadapannya, lalu memintanya menyerahkan nyawanya untuknya, niscaya sang ibu tak segan-segan memberikannya.
Suatu ketika sang ibu bersimpuh di hadapan anaknya. Dengan penuh harap ia memohon kepada Haritsah agar mau menikah. Ia amat merindukan lahirnya seorang cucu dari buah hatinya ini. Dengan lembut haritsah berkata,”Bunda..” “apa yang hendak kau perbuat wahai anakku?” Tanya sang ibu. “saat ini Rasulullah sedang mengajak para sahabat untuk menyertai beliau ke Badar dan akau berniat untuk ikut bersama mereka,” kata Haritsah. “wahai anakku, sungguh demi Allah, amat berat rasanyaberpisah denganmu. Wahai anakku, tetaplah bersamaku dan janganlah pergi!” pinta sang ibu sambil memelas. Namun Haritsah tak putus asa, ia terus menerus membujik ibunya sambil menciumi kening sang ibu serta kedua tangan dan kakinya hingga ia merelakan keberangkatannya. “pergilah, hai anakku, nampaknya aku tak akan merasakan nikmatnya makan, minum, dan tidur hingga engkau kembali kepadaku,” kata ibunya. Perlahan sang ibu mengenakan pakaian bagi anaknya, menyelempangkan panah dan busurnya, kemudian mengecup keningnya, lalu melepas kepergiannya.
“Tatkala kaum muslimin tiba di Badar, mereka bermarkas di sekitar sumur Badar. Setelah mereka bermarkas di sana, mulailah pasukan kafir tiba kompi demi kompi untuk mengambil posisi mereka. Sesaat sebelum gendering perang di tabuh, kedua pasukan telah siap berhadap-hadapan. Ketika itulah tiba-tiba Haritsah berlari menuju sumur Badar,tenggorokannya kering terbakar rasa haus. Bergegas ia ke sumur tadi untuk melepas dahaganya”.
Tatkala kaum muslimin tiba di Badar, mereka bermarkas di sekitar sumur Badar. Setelah mereka bermarkas di sana, mulailah pasukan kafir tiba kompi demi kompi untuk mengambil posisi mereka. Sesaat sebelum gendering perang di tabuh, kedua pasukan telah siap berhadap-hadapan. Ketika itulah tiba-tiba Haritsah berlari menuju sumur Badar,tenggorokannya kering terbakar rasa haus. Bergegas ia ke sumur tadi intuk melepas dahaganya. Tatkala kedua tangannya menciduk air dari sumur untuk di minum, tiba-tiba ada seorang sahabat yang melihatnya. Ia adalah seorang muslim dari Bani Najjar. Rasulullah SAW menugaskannya untuk menjaga sumur Badar dari para penyelinap. Sebagai orang yang di tugasi intuk menjaga sumur, sahabat tadi khawatir jika ada seseorang dari pihak musuh yang ingin mencelakai kaum muslimin dengan mencemari air sumur itu.
Maka tatkala ia mendapati Haritsah hendak mengambil air di sumur tersebut, ia langsung waspada dan berkata, “A’udzubillah, orang kafir ini hendak mencemari sumur kita!?” segeralah ia siapkan busurnya, lalu ia letakkan sebatang anak panah di atasnya. Dengan seksama ia bidikkan anak panah tadi kea rah Haritsah, lalu dipanahnya Haritsah sekuat tenaga dan kemudian, Bless..!! anak panah itu tepat mengenai kerongkongan Haritsah!! Dia pun berteriak kesakitan. Ia terkapar di tanah sembari teriak-teriak minta tolong. Anak panah tadi nyaris membuatnya tak bisa berbicara. Namun tak seorang pun datang menolong. Mereka mengira bahwa Haritsah adalah mata-mata musuh. Ia mencoba mencabut anak panah itu, namun apa lacur, ternyata tubuhnya yang justru terkoyak karenanya. Darah pun mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia terus menerus mengerang kesakitan sambil meregang nyawa, dan akhirnya ia wafat. Setelah terbunuh, si penjaga sumur menghampirinya untuk mencari tahu tentang orang itu. Alangkah kagetnya ia ketika mendapati bahwa yang terbunuh ternyata Haritsah bin Suraqah. "La haula wa la quwwata illa billah!!” serunya terperanjat. Ia segera mengabarkan kepada Nabi SAW akan apa yang terjadi, namun beliau memaafkannya.
Usai peperangan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya kembali ke Madinah, kaum muslimin keluar berbondong-bondong menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Wanita, anak-anak, dan orang tua sama-sama menunggu di gerbang kota, di tengah teriknya matahari dan gersangnya padang pasir. Para wanita menunggu kedatangan suami mereka, anak-anak menunggu kedatangan ayah mereka, dan orang tua menunggu kedatangan anak mereka. Di antara mereka yang menunggu tadi ialah ibunda Haritsah bin Suraqah seorang wanita tua yang jantungnya berdegup kencang menanti kedatangan anak tersayang. Tatkala pasukan kaum muslimin tiba di Madinah, anak-anak berlarian menghampiri ayahnya masing-masing, kaum wanita bergegas mencari suami mereka, demikian pula para orang tuamenyambut anak mereka,sedangkan ibunda Haritsah masih duduk termenung menunggu kedatangan anaknya.
Rombongan pertama telah tiba, disusul yang kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, kedua ratus. Namun, Haritsah tak kunjung tiba, sedangkan sang ibu tetap setia menantinya di tengah terik matahari yang membakar kulit. Ia takkan bosan menanti jantung hatinya itu, setelah selama ini ia selalu menghitung hari demi hari, bahkan menit demi menit menanti kedatangan anaknya. Ia bertanya kesana kemari perihal anaknya. Namun lagi-lagi, ia kembali dengan tangan hampa. Hampir saja ia dihinggapi rasa putus asa akan anaknya. Berulang kali ia mencari-cari anaknya, namun sang anak tak terlihat juga diantara rombongan-rombongan itu. Maka dipegangnyalah seorang sahabat seraya bertanya, “apakah engkau mengenal Haritsah bin Suraqah?” “ya, ibu siapa?” Tanya orang itu. “aku adalah ibunya, aku ibunda Haritsah,” jawab si ibu. “jika anda benar ibunya, maka tabahkanlah hati anda, sesungguhnya Haritsah telah terbunuh,” jawab orang itu. Mendengar kata-kata itu segeralah terbayang dalam hatinya akan Jannah. Ia berteriak, “Allahu Akbar!! Anakku telah syahid!! Semoga ia akan memberiku syafaat di Jannah kelak.” “Syahid? Kurasa ia tidak mati syahid,” sela orang itu. “lho, ada apa memangnya?” Tanya si ibu keheranan. “ia tidak mati di tangan orang kafir,” jawab lelaki itu. “ia tidak terbunuh diantara barisan kaum muslim?” Tanya si ibu. “tidak,” jawab lelaki tadi. “ia tidak terbunuh demi mempertahankan panji-panji Islam?” Tanyanya lagi. “tidak,” jawab lelaki itu. “lantas bagaimana ia mati terbunuh? Dimanakah Haritsah anakkku?” tanyanya agak histeris. “sesungguhnya Haritsah terbunuh sebelum perang dimulai, dan yang membunuhnya adalah salah seorang dari kaum muslimin. Jadi anakmu belum sempat berperang sedikitpun,” kata lelaki itu. “apa maksudmu?” Tanya si ibu. “ia bukanlah seorang syahid menurutku. Akan tetapi, semoga saja Allah memasukkannnya dalam Jannah,” jawabnya enteng. Setelah mendengar jawaban itu, sang ibu bertanya, “kalau begitu dimanakah Rasulullah SAW?” “itu dia, beliau sedang menuju kemari,” katanya.
Maka bergegaslah perempuan ‘malang’ ini mendatangi Rasulullah SAW, ia mengayun langkahnya yang berat dengan hati yang diliputi kegalauan akan anaknya, air matanya berderai membasahi pipinya, namun bukan air mata biasa, akan tetapi seakan ruhnya yang menetes. Di hadapan Nabi SAW, perempuan ‘malang’ ini berdiri dengan kepala tertunduk. Nabi SAW menatapnya dengan penuh rasa iba, wanita tua sebatang kara, tak punya tempat kembali untuk berbagi kesedihan. Beliau pun bertanya, “siapa anda?” “aku ibunya Haritsah,” jawabnya. “apa yang anda inginkan, wahai ibunda Haritsah?” tanya Nabi SAW. “ya Rasulullah, engkau tahu betapa cintanya aku kepada Haritsah dan semua orangpun tahu alangkah cintanya aku kepadanya. Ya Rasulullah, aku mendengar aku mendengar bahwa ia telah terbunuh. Maka kumohon padamu kabarkanlah aku dimana ankku sekarang? Kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah Allah menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” serunya. Nabi pun menatapnya dengan keheranan, “apa yang barusan anda katakan hai ibunda Haritsah, apa yang anda katakan?” “sebagimana yang engkau dengar tadi, ya Rasulullah, kalau ia berada di Jannah, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah Allah menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” jawabnya.
Maka Nabi yang pengasih ini menatapnya dnegan iba. Ia tak ubahnya seperti wanita tua yang sedang kalut pikirannya. Hatinya dipenuhi kegalauan. Ia berangan-angan andai saja anaknya berdiri di depannya, kemudian ia mendekapnya, menciumnya, dan membelainya. Ia rela berkorban apa saja untuk itu semua, walau dengan nyawanya sekalipun. Kedua kakinya terlihat kaku, lisannya terdiam membisu, tulang-tulangnya nampak rapuh, punggungnya yang membungkuk, kulitnya yang keriput dan suaranya yang serak seakan tertahan dalam kerongkongan. Alangkah malangnya nasib perempuan tua ini. Ia berdiri sembari kedua matanya menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Kiranya jawaban apa yang akan didengarnya dari utusan Allah ini? Melihat kepasrahannya, ketundukkannya, dan keterkejutannya atas kematian anaknya, Nabi SAW berpaling kepadanya seraya berkata, “apa yang ibu katakan?” “seperti yang engkau dengar sebelumnya, ya Rasulullah,” jawabnya. “celaka, bagaimana engkau ini, hai ibunda Haritsah, kau sedih kehilangan anakmu? Bukan Cuma satu Jannah baginya, ada Jannah yang bertingkat-tingkat disana, dan Haritsah berada di Firdaus yang paling atas.” Tatkala mendengar jawaban ini redalah tangisnya dan kembalilah akalnya, lalu ia berkata “ya Rasulullah, ia benar-benar berada di Jannah??” “iya,” jawb  beliau SAW. Maka kembalilah perempuan ‘malang’ ini ke rumahnya, disanalah ia mengisi hidup sambil menanti datangnya kematian. Ia rindu untuk segera bersua dengan buah hatinya di Jannah. Ia tak meminta ghanimah maupun harta, tidak pula mencari ketenaran maupun popularitas. Ia cukup ridha dengan Jannah, toh selama berada di Jannah, ia bisa makan sepuasnya, berteduh di bawah pohon-pohon rindang sesukanya, dan berkumpul bersama wajah-wajah yang berseri karena melihat wajah Allah. Mereka semuanya ridha didalamnya.
Demikianlah balasan yang setimpal bagi mereka. Bukankah selama ini mereka telah mempertaruhkan nyawa untuk itu, tubuh mereka yang dahulu penuh sayatan pedang, tusukan tombak, dan tancapan panah. Kini tibalah saatnya menuai segala jerih payah. ”Mereka berada diatas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan diatasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Bagi mereka ada buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksan mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang mereka telah kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam..” (QS. al-Waqi’ah: 15-26).
Semoga Allah merahmatimu wahai ibunda Haritsah, dan menempatkanmu bersamanya dalam Jannatul Firdaus.  

Asma' Binti Abu Bakr, Dzatun Nithaqain (Perempuan Pemilik Dua Ikat Pinggang)

Siapakah Asma’ binti Abu Bakr ?
Asma’ adalah salah seorang putri Abu Bakr ash Shiddiq. Ia dilahirkan 27 tahun sebelum peristiwa hijrah. Usianya sepuluh (10) tahun lebih tua dari saudaranya seayah ( ‘Aisyah binti Abu Bakr ra ). Sedangkan Abdullah bin Abu Bakr adalah saudaranya sekandung.
Beliau masuk Islam ketika masih berada di Mekah. Setelah tujuh belas (17 ) orang sahabat lainnya masuk Islam. Beliau juga termasuk  salah seorang perempuan yang memba’iat Rasululullah saw.
Asma” dinikahi oleh Zubair ibnul-Awwam yang saat itu tidak memiliki apapun, kecuali  seekor kuda yang oleh Asma’ selalu diberi makan dan dirawatnya.
Kisah dua ikat pinggang.
Indahnya kisah yang mengantarkan Asma’ kepada julukan Dzatun Nithaqain / Perempuan pemilik dua ikat pinggang adalah saat ia mempersiapkan perbekalan untuk Rasulullah saw dan ayahnya yaitu Abu Bakr ash-Shiddiq hijrah ke Madinah.  Asma’ dengan cekatan, membelah ikat pinggangnya menjadi dua. Satu untuk mengikat dan mengangkat makanan Rasullah saw dan ayahnya. Sedangkan satu potong lainnya tetap ia gunakan sebagaimana layaknya perempuan lain.
Kedermawana n Asma’ binti Abu Bakr ash-Shiddiq
Abdullah bin az-Zubair putra beliau menggambarkan kedermawanan ibunya, ia berkata,” Aku tidak pernah melihat  ada dua orang perempuan yang lebih dermawandari pada ‘Aisyah dan Asma’. Sedang kedermawanan mereka berbeda. Aisyah sering mengumpulkan hartanya. Maka ketuika relah banyak terkumpul, maka ia akan membagikannya kebanyak orang. Sedangkan Asma’, ia tidak pernah menyisakan sedikitpun dari hartanya untuk esok hari”.
Subhanallah … Alhamdulillah … Allahu Akbar !!!
Bagaimana dengan kita ya ukhti ??? Dengan segala sikap konsumtif yang melekat ?. Belanja kerudung, jilbab, gamis dan lain-lainnya yang mengikuti  trend ??? Demi performance semata ???
Ya ukhti … ya ummi … mari kuatkan azam untuk merubah diri
  Nasihat mulia dan ketegaran seorang Ibu
Disebutkan di dalam Siyar A’lam An-Nubala (2/293), Urwah berkata,” Saya dan saudara saya, Abdullah bin az-Zubairpernah menemui ibu kami pada hari kesepuluh sebelum beliau terbunuh.
Abdullah bin az-Zubair berkata,” Bagaimanakah engkau mendapati dirimu ?”.
Asma’ menjawab,” Sakit”.
Abdullah berkata ,” Sesungguhnya didalam kematian ada ketentraman”.
Asma berkata,” Mungkin engkau mengharapkan kematianku, namun janganlah engkau lakukan hal itu”.
Lalu, ia tertawa. Dia berkata lagi,” Demi Alloh, saya belum ingin mati hingga engkau datang kepada Hajjaj bin Yusuf untuk memeranginya. Dan engkau terbunuh dan itu yang aku harapkan. Atau engkau menang hingga menjadi penyejuk mata. Janganlah engkau mundur selangkahpun dan bersepakat dengannya, hanya karena benci kepada mati.
Sesungguhnya jasad ini tidak ada artinya, sebab arwah itu berada disisi Alloh, bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah”.
Sesungguhnya, Abdullah bin az-Zubair berkata demikian kepada sang Ibu karena me khawatir ibunya tak kuasa  bila sesuatu hal buruk terjadi pada dirinya. Namun apa yang terjadi, sang Ibu yang mulia itu malah memberinya  nasihat yang membangkitkan semangat.
Takdir terjadi, Abdullah terbunuh bahkan disalib oleh al-Hajjaj. Selama beberapa saat.
Ketika Ibnu Umar datang kepadanya untuk bertakziyah atas kematian putranya, beliau mendapati Asma’ binti  Abu Bakr berada  disudut masjid. Ibnu Umar menoleh kepadanya dan berkata,” Sesungguhnya jasad ini tidak ada artinya, sebab arwah itu berada disisi Alloh, bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah”.
Asma’ binti Abu Bakr berkata,” Apakah yang menghalangiku untik tidak bertaqwa kepada Alloh dan sabar. Padahal dahulu kepala Nabi Yahya bin Zakaria saja menjadi hadiah bagi para pembangkang Israil.
Subhanallah … ketegaran yang tak terbayangkan.
Setelah jenazah diturunkan, dengan congkaknya Hajjaj berkata kepada Asma’ Bagaimana kamu melihat ku memperlakukan Abdullah ?”.
Asma’ menjawab,” Aku melihatmu telah merusak dunianya dan dia merusak aikhiratmu/ agamamu”.
Betapa agungnya perempuan yang mampu meneguhkan diri  dalam menghadapi berbagai musibah. Hatinya tak pernah merasa lemah dalam menghadapi berbagai cobaan.
Bagaimana dengan kita ???  Semoga Alloh SWT membantu kita untuk tegar dan istiqomah dijalanNya. Aamiiin. ( dbs )

Ummu Haram binti Mulhan Syuhada al Bahr

Siapakah Ummu Haram binti Mulhan ?
Dia adalah bibi Anas bin Malik, saudari Ummu Sulaim dan isteri Ubadah ibnush-Shamit. Beliau adalah perempuan Anshar dari Kabilah Najar al-Madani.
Memohon do’a kepada Rasulullah saw agar syahid.
Disebutkan didalam Al-Ishabah(4/441), Rasulullah saw bersabda ketika beliau berada dirumah Ummu Haram binti Mulhan. Ketika bangun dari tidurnya ( sebelum waktu dhuhur/ qailulah ) beliau tertawa kemudian bersabda’” Ada sekelompok manusi dari umatku yang diajak berperang dijalan Alloh SWT mengarungi lautan seperti seorang raja yamg memimpin keluarganya”.
Ummu Haram binti Mulhan spontan berkata,” Wahai Rasulullah SAW , berdo’alah kepada Alloh SWT agar saya menjadi bagian dari mereka’.
Maka beliau berdo’a, dan kemudian kembali beristirahat meletakkan kepalanya di pembaringan. Kemudian beliau bangun dan tertawa.
Ummu Haram kembali bertanya,” Apa yang menyebankanmu tertawa?”.
Beliau menjawab,” Ada sekelompok manusia dari umatku yang diajak berperang dijalan Alloh mengarungi lautan seperti seorang raja yang memimpin keluarganya.”
Ummu Haram binti Mulhan pun berkata,” Wahai Rasulullah berdo’alah kepada Alloh agar saya menjadi bagian dari mereka.”
Rasulullah saw bersabda,” Engkau adalah golongan pertama.”
Subhanallah …. Perhatikan dan hayati… betapa ia merindukan syahid dijalanNya. Betapa besar keinginannya  menjadi salah seorang pasukan perang fi sabilillah.
Ummu Haram binti Mulhan berangkat jihad
Ummu Haram dinikahi oleh Ubadah ibnush-Shamit yang kemudian mengajaknya berlayar. Ummu Harampun berangkat berlayar mengarungi samudera  untuk berjihad. Takdir terjadi, ketika berada dilautan lepas perahu terbalik dan ummu Haram meninggal dunia. Semoga Alloh SWT meridhoinya.
Ibnu Atsir berkata,” Peristiwa itu terjadi ketika pasukan kaum muslimin menaklukan Qubrus. Jsad Ummu Haram dikebumikan dikota Qubrus. Panglima saat itu adalah Muawiyah bin Abu Sofyan pada tahun 27 Hijriah. Masa Khalifah Utsman bin Affan.
Demikianlah sosok Ummu Haram, semoga kita dapat mengambil Ibroh darinya. Betapa keinginan mulia mencapai puncak ketinggian Islam pun. Banyak dimiliki dan diingini oleh para perempuan dimasa itu.
Bagaimanakah dengan kita saat ini ???
( Muslimah Berjihad o/ Yusuf Al ‘Uyairi dan Perempuan-perempuan Mulia disekitar Rasulullah SAW o/ M. Ibrahim Salim )

Al Khanza binti Amru; Ibu Empat Syuhada

Nasihat Al Khanza’ Kepada ke-Empat Putranya
Disebutkan dalam Thabaqat Asy-Syafi’i (1/260), Al-Ishabah (7/6/4), ”Al Khanza’ binti Amru As-Salmiyyah ikut di satu pertempuran Al-Qadisiyyah, bersama empat putranya. Beliau memberi nasihat dan memompakan semangat jihad serta sikap pantang menyerah atau mundur satu langkahpun."
Dia pernah berkata, ”Kalian telah masuk Islam sebagai orang-orang yang taat. Kalian telah hijrah sebagai sebuah pilihan dan kalian adalah putra-putra dari seorang ayah dan seorang ibu. Nenek moyang kalian tidak ada yang tercela, demikian pula paman-paman kalian “.
Kemudian dia berkata lagi, ”Kalian telah mengetahui dan meyakini apa yang dijanjikan  Allah kepada kalian berupa pahala yang besar dalam memerangi orang-orang kafir. Dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal itu adalah lebih baik daripada negeri yang fana. Apabila kalian bangun esok pagi dalam kondisi selamat, insya Allah, maka berangkatlah untuk memerangi musuh kalian dengan penuh sabar dan mohonlah kepada Allah kemenangan atas musuh-musuh-Nya. Apabila kalian menyaksikan perang sedang berkecamuk dengan sengitnya serta api pertempuran semakin panas, maka kobarkanlah api pertempuran itu. Dan bertarunglah dengan komandan pertempuran pada saat pasukan itu membabi buta. Maka engkau akan meraih kemenangan dengan membawa harta yang melimpah dan kemuliaan dinegeri yang kekal”.
Terjun ke Kancah Pertempuran.
Keempat putra beliau keluar dan memegang teguh amanah sang ibu. Keesokkan harinya, mereka bersegera menuju markaz dan memulai pertempuran. Mereka tampil satu persatu, dengan mengumandangkan takbir dan bait-bait syair penyemangat.
Putra pertama terjun, berjuang-juang habis-habisan hingga terbunuh. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melimpahkan rahmatNya.
Putra kedua tampil, dan memberikan perlawanan yang tidak kalah sengit dari kakaknya. Akhirnya ia terbunuh. Semoga rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala terlimpah atasnya.
Putra ketiga menyusul. Seolah tak ingin kalah dari kakak-kakaknya. Ia menyerang dan bertempur dengan sungguh-sungguh. Hingga kematian menjemputnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melimpahkan rahmat atasnya.
Akhirnya, putra ke-empat ikut terjun kekancah perang yang semakin memanas. Subhanallah, ia pun ikut terbunuh. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melimpahkan rahmat atasnya.
Berita syahidnya ke-empat putra Al Khansa’ pun sampai ke telingan sang ibunda. Bagaimanakah sikapnya ?
Beliau berkata, ”Alhamdulillah, Dia telah memuliakanku dengan kematian mereka dan aku berharap kepada Rabbku semoga Dia mengumpulkan diriku bersama mereka di dalam kediaman yang penuh dengan RahmatNya.
Kemudian Umar bin Al Khaththab memberi pesangon kepada Al Khanza ‘ atas kematian putra-putranya, masing-masing 200 dirham.
Ya ummi … berapa putrakah Allah Subhanahu wa Ta'ala titipkan kepada kita ???
Sudahkan kita bersyukur  sesuai petunjukNya ???
Mari muhasabah bersama. (dbs)

Nenek 'Umar bin Abdul Aziz'

Umar bin Abdul Aziz, itulah dia mukjizat Islam! Sebuah lembaran putih di antara lembaran-lembaran hitam dinasti Bani Marwan. Sosok manusia pilihan yang lahir dari perpaduan antara dua unsure yang amat bertolak belakang! Ya, sekali lagi amat bertolak belakang! Mengapa demikian?

Ia terlahir dari keluarga Bani Umayyah yang terhitung keluarga ningrat, pemegang tampuk kekuasaan. Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Mesir yang diangkat oleh saudaranya, Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. Abdul Aziz memerintah Mesir selama 20 tahun. Sebagai gubernur, hidupnya tentu penuh dengan kenikmatan. Hidangan lezat, istana megah, pakaian indah dan kendaraan mewah. Sedangkan ibunya bernama Ummu ‘Ashim, Laila binti ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Seorang wanita dari keluarga Umar bin Khaththab yang tersohor dengan kezuhudan dan pola hidupnya yang amat bersahaja. Nah, dari perpaduan dua unsur inilah terlahir sosok Umar bin Abdul Aziz, si mukjizat Islam.

Sungguh, riwayat hidupnya merupakan fenomena yang sangat luar biasa. Menggambarkan sosok pribadinya,sungguh merupakan suatu hal yang sulit dilakukan. Memang benar,terhadap suatu sejarah besar, selalu ditemui pertanyaan dan keraguan yang mengharubirukan kita tentang diri seorang besar dan pemimpin adil semisal beliau ini. Sebenarnya, kesulitan sesungguhnya yang kita hadapi ialah dari sekian banyak kumpulan fakta yang berhubungan dengan kebesaran dan kelebihannya, sisi mana yang mesti diambil dan mana yang mesti ditinggalkan. Ketaatan dan ketekunannya dalam beribadah, ketinggian jiwanya, kewibawaannya, keadilannya, atau sepak terjangnya yang mengagumkan itu? Faktor utama yang ikut mewarnai pribadi seorang Umar bin Abdul Aziz adalah keshalihan istri ‘Ashim bin Umar bin Khaththab, yang merupakan nenek dari Umar bin Abdul Aziz.

Khalid Muhammad Khalid, seorang penulis Mesir kondang menuturkan dalam bukunya khulafaur rasul sebagai berikut, “waktu itu, malam gelap gulita. Kota Madinah telah tertidur lelap. Semua orang sedang terbuai dalam mimpi di rumahnya masing-masing. Namun, di sana masih ada seseorang yang tetap terjaga katrena gelisah  diusik rasa tanggung jawabnya yang demikian besar, dan memang ia selalu gelisah seperti itu,sehingga tak pernah barang sekejap pun dapat berdiam diri. Ditelusurinya jalan-jalan dan lorong kota Madinah yang sempit itu, yang terasa hanyalah kegelapan malam yang hitam pekat bagai tinta, dan angin dingin yang menusuk tulang. Orang itu selalu keluar dan berjalan mengendap-endap. Setiap rumah diamatinya dari cekat dengan seksama. Dipasangnya telinga dan matanya baik-baik, kalau-kalau ada penghuninya yang masih terjaga karena lapar, atau yang tak dapat memicingkan matanya karena sakit, atau yang merintih dalam penderitaan atau barangkali ada seorang kelana yang terlantar. Ia selalu mengamati kalau-kalau ada kepentingan rakyatnya yang luput dari perhatiannya, karena ia yakin betul bahwa semua itu nanti akan dimintakan pertanggung jawaban kepadanya. Diperhitungkannya inci demi inci, butir demi butir, dan tak mungkin ada yang terlewatkan di hadirat Allah Ta’ala.
Orang itu adalah khalifah kaum muslimin, sosok yang selama ini mereka panggil dengan Amirul Mukminin. Benar! Ia tiada lain adalah Umar bin Khaththab. Sudah panjang jalan dan lorong yang ditelusurinya malam itu, sehingga  tubuhnya terasa letih, keringatpun mengucur dari sekujur tubuhnya meskipun malam itu begitu dingin. Oleh sebab itu, ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah dinding rumah kecil nan reot. Karena letih, ia duduk di tanah sambil mencoba beristirahat barang sejenak. Setelah kedua kakinya mulai terasa berkurang, ia bermaksud melanjutkan langkahnya menuju ke masjid. Sebab, tidak lama lagi fajar segera menyingsing.

Tiba-tiba, disaat duduk bertumpu pada kedua tangannya, didengarnya ada suara lirih dalam gubuk itu. Suara itu merupakan percakapan yang terjadi antara seorang ibu dengan anak gadisnya. Yaitu tentang susu yang baru saja mereka perah dari kambing mereka, untuk dijual dipasar pagi hari nanti. Si ibu meminta agar anaknya mencampur susu itu dengan air, sehingga takarannya lebih banyak dan keuntungan yang diperolehnya nanti dapat mencukupi kebutuhan mereka hari itu. Amirul Mukminin memasang telinganya lebih baik lagi untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

nak, campurlah susu itu dengan air!” kata si ibu. “tidak boleh bu. Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang akan dijual dengan air,” jawab gadis itu. “tetapi semua orang melakukan hal itu,nak. Campur sajalah! Toh Amirul Mukminin tidak melihat kita, namun Rabb Amirul Mukminin pasti mengetahuinya!” jawab gadis itu.
“ nak, campurlah susu itu dengan air!” kata si ibu. “tidak boleh bu. Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang akan dijual dengan air,” jawab gadis itu. “tetapi semua orang melakukan hal itu,nak. Campur sajalah! Toh Amirul Mukminin tidak melihat kita, namun Rabb Amirul Mukminin pasti mengetahuinya!” jawab gadis itu. Mendengar ucapan si gadis tadi,berderailah airmata Amirul Mukminin, ia tak kuasa menahan tangis karena terharu. Bukan airmata kesedihan, melainkan airmata ketakjuban dan kegembiraan. Bergegas ia bangkit dan melangkah menuju masjid, lalu shalat fajar bersama para sahabatnya. Seusai menunaikan shalat, ia segera pulang ke rumahnya. Dipanggillah puteranya, ‘Ashim, dan diperintahkannya untuk berkunjung kepada ibu si gadis di rumah reot itu, dan menyelidiki keadaan mereka.

‘Ashim kembali seraya menyampaikan kepada bapaknya perihal penghuni rumah yang didatanginya. Amirul Mukminin kemudian menceritakan percakapan yang didengarnya malam tadi kepada puteranya, sehingga ia memerintahkan kepadanya untuk menyelidiki keadaan keluarga itu. Di akhir percakapan itu, Amirul Mukminin lalu berkata kepada puteranya yang saat itu sudah waktunya untuk berumahtangga, “pergilah temui mereka, dan lamarlah gadis itu untuk jadi istrimu. Aku melihat bahwa ia akan member berkah kepadamu nanti. Mudah-mudahan pula ia dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat!” ‘ashim pun akhirnya menikahi gadis miskin tapi mulia dan suci hati itu. Mereka berdua dikaruniai seorang puteri yang mereka beri nama Laila, yang kemudian lebih terkenal dengan ummu ‘Ashim. Ummu ‘Ashim ini tumbuh menjadi seorang gadis yang taat beribadah dan cerdas, yang akhirnya diperistri oleh Abdul Aziz bin Marwan, dan dari keduanya terlahirlah Umar bin Abdul Aziz. Demikianlah silsilah keturunan mereka, dan nyatalah bashirah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab tentang diri gadis yang membawa berkah itu.

“Dan orang-orang yang beriman lalu anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”  (QS.ath-thur : 21)

Sosok Umar bin Abdul Aziz
Beliau dilahirkan pada tahun 60 Hijriah, bertepatan dengan tahun mangkatnya Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pendiri Daulah Umawiyah. ‘Umar adalah lelaki yang berparas elok, berkulit putih, berjambang tipis, bertubuh kurus, dan bermata cekung. Pada wajahnya terdapat bekas tapal kuda. Memang sewaktu kecil ia pernah masuk ke kandang kuda lalu ditendang pada bagian kepalanya. Karenanya ia disebut Asyajj Bani Umanyyah, artinya orang dari Bani Umayyah yang terluka kepalanya.

Kecerdasan Umar bin Abdul Aziz
Salah seorang tokoh ahlul bait yang bernama Muhammad bin Ali al-Baqir pernah ditanya tentang Umar, maka jawabnya, “Dialah orang cerdasnya Bani Umayyah, kelak ia akan dibangkitkan sebagai umat seorang diri.” Maimun bin Mihran berkata, “ Para ulama disampinga Umar tak ubahnya seperti santri.” Imam Ahmad pernah berkata, “Diriwayatkan dalam hadits bahwa Allah akan membangkitkan dipenghujung tiap abad seorang alim yang akan memperbaharui keberagaman umat ini. Setelah kami perhatikan, ternyata pada seratus tahun pertama Umarlah orangnya. Sedangkan pada seratus tahun berikutnya ialah asy-Syafi’i.
Ketawadhu’an Umar bin Abdul aziz
Usai memakamkan Sulaiman bin abdil Malik, ‘Umar mendengar suara gemuruh dan derap kuda. Iapun bertanya, “Ada apa ini?” “ini adalah kendaraan resmi kekhalifahan, ya Amirul Mukminin. Ia sengaja didatangkan kemari agar anda menungganginya,” jawab seseorang. “Aku tak membutuhkannya, jauhkan ia dariku. Kemarikan saja bighal-ku,” jawab Umar enteng. Maka mereka mendekatkan bighalnya dan Umar pun menungganginya. Tapi tiba-tiba datanglah kepala keamanan yang mengawal Umar dari depan sembari memegang tombak. “apa-apaan ini, aku tak perlu pengawal. Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin,” kata Umar.

Maimun bin Mihran meriwayatkan bahwa suatu ketika ia bertemu dengan Umar bin Abdul Aziz, lalu Umar memintanya untuk menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah SAW. Maka Maimun menyebutkan satu hadits yang amat berkesan hingga Umar menangis sejadi-jadinya, lalu kata Maimun, “ ya Amirul Mukminin, kalu saja aku tahu anda bakal menangis niscaya akan kubawakan hadits lain yang lebih ringan,” “Hai maimun, ini gara-gara kami terlalu banyak makan kacang adas, dan sejauh yang kuketahui, ia bisa melunakkan hati, memperbanyak air mata, dan melemaskan badan,” sanggah Umar. Al-‘Ishami mengomentari kisah ini dengan mengatakan,” Dia benar, memang kacang adas memiliki sifat-sifat itu, akan tetapi rahasia sesungguhnya yang menyebabkan Umar menangis ialah karena hatinya amat takut kepada Allah. Akan tetapi, ia punya alas an untuk menisbatkan sebab tangisnya pada adas, karena pengaruhnya yang memang seperti itu. Seakan ia ingin menjauhkan dirinya dari apa yang mungkin menimbulkan riya”
Mutiara Hikmah Umar bin Abdul Aziz
Begitu terpilih menjadi khalifah, Umar langsung berpidato di depan rakyatnya. Ia menghaturkan puji-pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi Saw, kemudian berkata, ”kuwasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah karena takwa adalah pengganti segalanya, namun segalanya tak bisa menggantikan takwa. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barang siapa beramal untuk akhiratnya pastilah Allah mencukupi baginya perkara dunianya. Perbaikilah batin kalian, niscaya Allah akan memperbaiki lahir kalian. Perbanyaklah mengingat kematian dan bersiap-siaplah sebelum ia datang, karena kedatangannya merupakan penghapus setiap kenikmatan. Sesungguhnya orang yang tahu bahwa leluhurnya telah tiada semua, mestinya sadar bahwa dirinya amat pantas untuk mati. Ingatlah bahwa umat ini tidak berselilsih lantaran Tuhan mereka, tidak pula lantaran Nabi-Nya atau kitab suci-Nya. Akan tetapi mereka berselisih lantaran dinar dan dirham, dan sungguh, demi Allah aku tidak akan memberikan yang batil pada seorangpun, dan tidak pula menahan yang haq darinya,” kemudian Umar mengangkat suaranya keras-keras hingga terdengar semua orang, “saudara sekalian, siapa yang taat kepada Allah, maka ia wajib ditaati, dan siapa yang bermaksiat kepada-Nya, maka tak ada ketaatan baginya. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah, namun jika aku bermaksiat, mak janganlah kalian menaatiku!!”  (waroah dachlan / Ibunda Para Ulama-Sufyan bin Baswedan-WAFA press)

Ummu Waraqah, Syahidah di Dalam Rumahnya

Shahabiyah satu ini, telah menjadikan rumahnya sebagai  masjid. Menghiasinya dengan ibadah. Seluruh waktunya diisi dengan sangat amanah. Tiada waktu dilalui tanpa Kitabullah. Seorang mukminah shalihah, Ummu Waraqah binti Al Harits Al Anshariyah.
Termasuk golongan pertama masuk Islam
Ketika intimidasi kepada sahabat-sahabat Rasulullah SAW  semakin menjadi-jadi di Mekah, atas perintah Allah SWT,  Rasulullah SAW mengizinkan mereka hijrah ke Madinah. Dan beliaupun segera menyusul kesana. Kehadiran beliau SAW yang membawa risalah agung tersebut, sudah dinanti-nanti oleh  masyarakat  Madinah yang berhati bersih dan ikhlas. Salah satu di antaranya adalah Waraqah binti Al Harits.  Ia masuk Islam sejak pertama kali mendengarnya dan banyak meriwayatkan hadits-hadits. Maka layak masuk dalam kafilah assabiquunal  awwaluun, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah At Taubah : 100,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Alloh dan Alloh menjadikan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai didalamnya. Mereka kekal didalamnya selama-0lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
Syukur dan takbir sambut kedatangan Nabi Muhammad SAW
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Gema syukur dan takbir terdengar nyaring di seluruh pelosok kampung Bani ‘Amr bin ‘Auf. Takbir bergema di mana-mana, sebagai ungkapan rasa syukur. Penduduk Yatsrib serempak keluar dari rumah masing-masing  untuk menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan mengucapkan shalawat sebagaimana yang diajarkan beliau SAW.
Mereka berdiri berjajar mengitari beliau, sementara beliau SAW tampak sangat tenang, dan wahyupun turun kepadanya,
" . . . Maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.“ ( QS.At Tahrim: 4)
Hari itu merupakan hari yang paling meriah yang dialami warga Madinah sepanjang sejarah.
Setelah sholat  Jum’at  Rasulullah SAW masuk ke kota Yatsrib, yang sejak hari itu dirubah namanya menjadi kota Madinah.
Ummu Waraqah  termasuk salah seorang penduduk kota Madinah yang sangat bersyukur  dan  berbahagia dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW. Kebahagian itu merasuk kerelung-relung hatinya. Karena kepribadian beliau SAW sudah lama didengar, dan risalahnya telah lama diimani.
Mukminah ahli ibadah
Hidayah Allah Ta'ala menembus relung hatinya yang terdalam. Imanpun menghujam kokoh dalam batinnya. Ummu Waraqah berbai’ah kepada Rasulullah SAW. Sejak saat tu, ia mulai menekuni ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla dengan sungguh-sungguh. Waraqah tidak hanya pandai membacanya, melainkan juga memahami dan  menghafalnya dengan baik.
Lebih dari  itu, Ummu Waraqah pun berusaha menghimpun dan menuliskannya pada tulang, kulit, pelepah kurma dan lain-lain. Ia berhasil menghimpun ayat-ayat Allah 'Azza wa Jalla yang turun di rumahnya waktu itu. Setelah Rasulullah SAW wafat, dan Abu Bakar ra berencana menghimpun Al Qur’an, Ummu  Waraqah ditunjuk Khalifah untuk menjadi salah seorang rujukan penting bagi Zaid bin Tsabit sebagai pelaksana proyek.
Ummu Waraqah binti Al Harits di mata Rasulullah SAW
Rasulullah SAW sangat menghormati Ummu Waraqah. Beliau kerap berkunjung ke rumahnya sebagai bentuk penghormatan. Beliau SAW juga mengangkat  seorang muazin yang sudah lanjut usia khusus untuknya. Atas saran Rasulullah SAW yang sangat memahami kebersihan dan kejernihan hatinya, Ummu Waraqah menjadikan rumahnya sebagai masjid. Dan ia sebagai imam khusus bagi kaum muslimah.
Allah SWT menjadikan Ummu Waraqah syahidah di rumahnya
Rasulullah SAW bersabda,

“Siapa yang memohon mati syahid dengan tulus, maka Allah akan memberi balasannya seperti balasan yang diberikan kepada para syuhada’. Walaupun ia mati di atas tempat tidur.“ (HR Muslim).
“Siapa yang memohon mati syahid dengan tulus, maka Allah akan memberi balasannya seperti balasan yang diberikan kepada para syuhada’, walaupun ia mati di atas tempat tidur.“ (HR Muslim).
Ummu Waraqah binti al-Harits bukan hanya seorang ahli ‘ibadah. Ia pun seorang mukminah yang mencintai jihad dan merindukan syahid di jalan Allah. Ketika ia mengetahui bahwa Rasulullah SAW menganjurkan sahabatnya untuk ikut perang Badar maka ia pun menjumpai Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, izinkanlah aku ikut perang bersamamu untuk merawat tentara yang terluka dan sakit. Mudah-mudahan Allah memberiku mati syahid dengan cara itu.”
Rasulullah SAW bersabda, ”Tinggallah di rumahmu, karena sesungguhnya Allah SWT  akan memberimu anugerah sebagai orang yang mati syahid.” ( HR Abu Dawud )
Mukminah ahli ibadah itu pulang mentaati saran Rasulullah SAW. Dengan sebuah pengharapan besar yang membuncah di dada, yaitu menjemput syahid di rumahnya sendiri.
Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, ummu Waraqah sangat kehilangan dan merasa terpukul. Namun ia tetap istiqomah. Semasa Rasulullah SAW hidup ia termasuk mukminah yang diridlainya. Maka kini tinggal menanti syahid itu datang.
Rasulullah SAW bersabda, ”Tinggallah di rumahmu, karena sesungguhnya Allah SWT  akan memberimu anugerah sebagai orang yang mati syahid.” ( HR Abu Dawud )
Menjemput syahid
Akhirnya kerinduan dan pengharapan panjang itu pun datang,  Ummu Waraqah menerima penghargaan tertinggi tersebut. Dalam Riwayat Abu Dawud dikisahkan sebagai berikut ,
"Ummu Waraqah memiliki seorang budak laki-laki dan budak perempuan. Kedua budak itulah yang membunuhnya dengan menutup wajah Ummu Waraqah dengan kain hingga meninggal. Kemudian mereka melarikan diri. Keesokkan harinya Umar mengumumkan kasus tersebut seraya berkata, ”Siapa yang mengetahui keberadaan budak tersebut, atau pernah melihatnya, maka tangkap dan bawalah kepadaku.” Akhirnya kedua budak itupun tertangkap, lalu dibunuh dan diikat ditiang. Inilah kasus pertama di kota Madinah orang yang dihukum dengan cara dibunuh dan diikat di tiang. “
Seluruh penduduk Madinah dicekam duka yang dalam, atas meninggalnya Ummu Waraqah mukminah mulia, yang zuhud, ahli ibadah, dan perindu syahid di dadanya.
Semoga Allah SWT meridhoi  Ummu Waraqah binti Al Harits Al Anshariyah.

Bagaimana dengan kita wahai ikhwah ???

Apakah kita akan merasa cukup dengan menjadi seorang ahli ibadah ???

Semoga kita dapat mengambil ibroh dari tekad, semangat dan azam seorang Ummu Waraqah.

* Sumber:  Kitab 35 Sirah Shahabiyah (Shahabiyyat Haular Rasuul SAW), Mahmud Al Mishri.

Kabsyah binti Rafi' ra, Kesyahidan Putranya Mengguncang 'Arsy

Shahabiyah yang akan kita ikuti kisahnya kali ini, adalah sosok ibu yang senantiasa mendorong putranya bersegera terjun ke medan jihad. Dia telah merelakan kedua putranya syahid demi meninggikan kalimah Allah dan meraih jannah. Dialah Kabsyah binti Rafi’ bin Mu’awiyah bin ‘Ubaid bin al-Abjar al-Khudriyyah.
Kabsyah binti Rafi’ adalah ibunda Sa’ad bin Mu’adz al-Asyhali pembawa bendera kaum Anshar dan salah seorang anggota majlis syuro saat Perang Badar. Kesyahidannya mengguncang ‘Arsy, membuat Allah tersenyum dan diiringi oleh 70 ribu malaikat.
Kabsyah bersyahadat
Hidayatut taufik menembus keimanan Sa’ad bin Mu’adz melalui da’wah yang disampaikan Mush’ab bin ‘Umair. Beliau adalah utusan Rasulullah SAW ke Yatsrib/ Madinah. Atas izin Allah dengan cahaya Islam yang memancar di wajahnya dan lisan yang terbimbing, dua tokoh besar Madinah taslim, yaitu Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair.
Atas kemurahan-Nya juga keislaman Sa’ad bin Mu’adz diikuti oleh seluruh bani Abdul Asyhal, tidak seorangpun membantah seruannya sebelum matahari terbenam. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Tidak ketinggalan Ummu Sa’ad bin Mu’adz yaitu Kabsyah binti Rafi’, pada hari itu juga ia memeluk Islam. Kebersihan jiwa dan keikhlasan, mempermudah masuknya cahaya iman kedadanya. Rasa syukur dan kebahagiaannya menjadi sempurna ketika rumah yang didiaminya menjadi pusat perkembangan da’wah kala itu. Sehingga Kabsyah memiliki kesempatan turut andil secara maksimal dalam menyebarkan kemuliaan Islam ke seluruh pelosok Madinah.
Harapan mulia
Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, Kabsyah/Ummu Sa’ad sangat berharap Beliau SAW berkenan tinggal di rumahnya. Namun Allah berkehendak lain, dengan memilihkan tempat tinggal bagi Rasul-Nya di rumah bani Najjar. Tepatnya di rumah Abu Ayyub al-Anshari ra.
Seluruh keluarga dan suku Anshar berlomba-lomba memberi pelayanan terbaik bagi Rasulullah SAW dan para sahabatnya dari golongan Muhajirin. Kabsyah berada di barisan paling depan dalam memberikan segala sesuatu keperluan untuk da’wah dan pelayanan kepada sang pembawa risalah agung, Nabi Muhammad SAW.
Ummu Sa’ad adalah sosok yang selalu berusaha menjadi pelopor dalam kebaikan. Dia adalah perempuan pertama yang berba’iah kepada Nabi Muhammad SAW di Madinah.
Kabsyah berada di barisan terdepan dalam memberikan segala sesuatu keperluan untuk da’wah dan pelayanan kepada Rasulullah SAW.
Kabsyah adalah sosok wanita yang selalu berusaha menjadi pelopor dalam kebaikan.
Peran Kabsyah dalam Perang Badar
Ketika Perang Badar terjadi, Ummu Sa’ad mendorong dan menyemangati kedua putranya Sa’ad bin Mu’adz dan ‘Amr bin Mu’adz ra untuk ikut berjihad. Ummu Sa’ad sangat bahagia kedua anaknya bergabung dalam misi tersebut. Bahkan sang ibu berharap putranya dianugerahi syahadah di jalan-Nya. Namun takdir berbeda, mereka pulang dengan selamat dan memperoleh kemenangan. Layaknya azam setiap mereka yang berjihad, isy kariman aumut syahidan (Hiduplah mulian atau matilah sebagai syahid).
Peran Kabsyah dalam Perang Uhud
Usai Perang Uhud, para muslimah termasuk Ummu Sa’ad bergegas keluar rumah, untuk memastikan keselamatan Rasulullah SAW. Sebelumnya, terbetik kabar banyak kaum muslimin gugur dalam peperangan itu, termasuk salah seorang putra Ummu Sa’ad yaitu ‘Amr bin Mu’adz ra.
Dalam perang itu ‘Amr bin Mu’adz perang dengan gagah berani, hingga menjemput syahid.
Andil Ummu Sa’ad/ Kabsyah binti Rafi’ dalam Perang Khandak
Ummu Sa’ad, menyeru anaknya Sa’ad bin Mu’adz untuk bersegera berangkat berperang. , hingga ia tidak memperhatikan bahwa baju besi yang dipakai putranya tidak sempurna, seluruh sikunya terbuka dan terlihat jelas. Bahkan ‘Aisyah ra sempat mengingatkan hal tersebut. Rupanya itulah jalan menuju syahid. Sa’ad bin Muadz akhirnya menemui ajal,  setelah urat lengan yang terkena panah menimbulkan luka yang cukup parah dan tidak kunjung sembuh.
Di masa sakitnya, ia pernah memenuhi panggilan Rasulullah SAW untuk sebuah tugas memutus sebuah perkara untuk bani Quraizhah. Rasulullah SAW menilai putusan itu sangat adil, Beliau bersabda, ”Engkau telah memutuskan hukuman sesuai dengan hukum Allah dan hukum Rasul-Nya.”
Setiap perempuan berdusta dengan tangisnya, kecuali Ummu Sa’ad
Bagaimanapun, Ummu Sa’ad/Kabsyah binti Rafi’ sedih dan menangisi kepergian anaknya. Ketika Rasulullah SAW tiba di rumah Sa’ad bin Mu’adz, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya. Mendengar tangisan Ummu Sa’ad Rasulullah SAW bersabda, “Setiap perempuan berdusta dengan tangisnya, kecuali Ummu Sa’ad.” Kemudian jasad Sa’ad dibawa keluar. Orang-orang yang mengangkatnya berkata, ”Wahai Rasulullah kami tidak pernah mengangkat jenazah seringan ini.” Rasulullah SAW bersabda, ”bagaimana tidak ringan, malaikat telah turun ke bumi begini dan begini. Mereka belum pernah turun dengan cara seperti ini sebelumnya. Dan mereka ikut memikul jenazah bersama kalian."
Rasulullah SAW pernah menemui Sa’ad saat terbaring sakit dan nafasnya tersengal-sengal. Rasulullah SAW bersabda, ”Semoga Allah membalas kebaikanmu selama ini sebagai pemimpin kaum yang baik. Engkau telah membuktikan janjimu, maka aku berdo’a semoga Allah membuktikan janji-Nya kepadamu.”
Rasulullah SAW bersabda, ”Arsy Allah yang Maha Pengasih berguncang karena kematian Sa’ad bin Mu’adz.” ( Muttafaq ‘ alaih ).
”Arsy Allah yang Maha Pengasih berguncang karena kematian Sa’ad bin Mu’adz.”
Ibnu Umar ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Hamba shalih yang (kematiannya) telah mengguncang 'Arsy, membuat pintu-pintu langit terbuka dan 70.000 malaikat hadir mengiringinya. Padahal mereka belum pernah turun ke bumi seperti ini sebelumnya, merasa kesempitan kemudian Allah memberinya keleluasaan. Hamba shalih yang dimaksud adalah Sa’ad bin Muadz," (HR.Bukhari Muslim).
Mendengar kebaikan yang diperoleh putranya, Ummu Sa’ad sangat terhibur.
70 Ribu Malaikat hadir mengiring jenazah Sa'ad bin Mu'adz dan memikulnya bersama kaum muslimin.
Menghadap Sang Khalik
Setelah menempuh perjalan dan perjuangan yang panjang, Ummu Sa’ad akhirnya menyusul kedua putranya, menemui Sang Khalik. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha.
Semoga Allah SWT mengumpulkan mereka di surge Firdaus.
Tak inginkah kita berkumpul kembali di jannah dengan keluarga yang kita cintai ?

* Sumber: 35 Sirah Shahabiyah (Shahabiyyaat Haular Rasuul SAW), Mahmud Al Mishri

Shafiyyah, Mukminah Pertama yang Membunuh Orang Musyrik

Ibunda Hawari (Pengawal Setia) Rasulullah SAW dan Mukminah pertama yang membunuh orang musyrik

Siapakah Shafiyyah binti Abdul Muthalib ?
Shafiyyah adalah putri Abdul Muthalib bin Hasyim, paman Rasulullah SAW yang juga Pemimpin dan tokoh Quraisy yang sangat disegani. Ibundanya adalah Halah binti Wahb saudara kandung Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah SAW.
Suami pertama Syafiyyah adalah Al-Harits bin Harb. Al Harits meninggal lebih dulu. Kemudian Syafiyyah menikah dengan Al ‘Awwam bin Khuwailid, saudara kandung Khadijah Binti Khawailid ra, Ummul Mukminin pertama di masa Islam.
Putra Syafiyyah adalah Zubair bin Al ‘Awwam yang mendapat julukan Hawari (pendamping setia Rasulullah SAW).
Karakter Shafiyyah.
Shafiyyah hidup dan dibesarkan dalam lingkungan terpilih, sehingga dia tumbuh menjadi orang mulia. Beliau mendapat tugas kehormatan menjamu dan memberi makan kepada para jamaah haji (As-Siqaayah).
Shafiyyah menguasai sastra dan fasih berbahasa, sangat terpelajar, piawai  menunggang kuda dan berani bak ksatria.
Shafiyyah menguasai sastra dan fasih berbahasa, sangat terpelajar, piawai  menunggang kuda dan berani bak ksatria
Orang besar terlahir dari Ibu yang Mulia
Kita akui bersama, banyak orang besar terlahir dari para ibu yang tangguh pula. Betapa tidak, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Para mukminah tersebut memiliki hati yang bersih, tulus dan ikhlas dalam setiap amaliahnya. Tidak ada yang diharapkannya selain keshalihan putra-putri yang dibesarkannya. Dengan iman, azam, keringat, air mata bahkan darah diharapkan mereka menjadi manusia yang siap berjuang untuk meninggikan kalimah Allah SWT.
Zubair bin Al Awwam adalah salah satu buktinya. Ia adalah ksatria Rasulullah SAW yang memiliki keberanian dan kemampuan di atas rata-rata. Bahkan Umar bin Khatthab menyetarakannya dengan 1000 orang pasukan. Hal ini terjadi pada saat penaklukan Mesir.  Ia dan ketiga rekannya diutus oleh Al-Faruq untuk membantu pasukan muslimin yang  terdesak. Saat  itu, Pasukan  Kaum Muslimin dipimpin oleh ‘Amr bin Al-Ash.
Zubair melakukan hal yang sangat heroik dan menantang. Di saat pasukan hampir mengalami kekalahan, Zubair naik ke benteng musuh yang sangat kuat seorang diri, lalu terjun ke tengah-tengah pasukan musuh sambil memekikkan “Allahu Akbar“ untuk membuka pintu gerbang. Zubair pun berhasil, dan pasukan kaum muslimin dapat menembus benteng dengan leluasa dan menghancurkan musuh sebelum mereka sadar.
Suami Shafiyyah yang kedua pun , Al ‘Awwam bin Khuwaild lebih dulu menghadap Allah SWT. Dan meninggalkan seorang anak laki-laki hasil pernikahan mereka yang juga bernama Zubair. Shafiyyah mendidik putranya ini dengan sangat tegas.
Keislaman Shafiyyah binti Abdul Muthalib
Ketika Islam mulai menyinari Jazirah Arab dan Wahyu telah turun, Rasulullah SAW  menyeru kepada keluarga, sebagai implementasi dari perintah Allah SWT dalam Surah Asy-Syu’ara : 214. “Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluarga yang paling dekat denganmu.“
‘Aisyah ra, meriwayatkan ketika turunnya ayat tersebut di atas, ’Nabi SAW mengumpulkan segenap keluarganya sambil berkata, ”Wahai Fatimah binti Muhammad, Wahai Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak dapat membela kalian sedikitpun di hadapan Allah; Adapun mengenai harta, silakan minta dariku sesuka hatimu.”
Nur Islam, menembus relung hati terdalam Shafiyyah dan ia pun taslim (masuk Islam), berserah diri secara total kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan, Zubair putranya telah lebih dulu menerima Islam.
Sejak saat itu, Shafiyyah maksimal berinteraksi dengan Dien yang agung ini. Shalatnya terjaga, shaum sunnahnya ditunaikan, lidahnya tak pernah kering dari berzikir kepada Alloh SWT.
Shalatnya terjaga, shaum sunnahnya ditunaikan, lidahnya tak pernah kering dari berzikir kepada Allah SWT.
Shafiyyah binti Abdul Muthalib pun termasuk dalam rombongan muhajirin, setelah perintah hijrah dari Allah SWT diturunkan kepada Rasulullah SAW.
Peran Shafiyyah di Perang Uhud
Di tengah kecamuk Perang Uhud, Syafiyyah dan beberapa muslimah lainnya ikut ambil bagian. Mereka mengantar air bagi para pasukan yang kehausan. Selain itu, Shafiyyah juga mempersiapkan panah dan mengobati yang terluka..
Karena Pasukan Pemanah tak taat kepada perintah Rasulullah SAW dan tergoda ghanimah, sehingga turun dari bukit. Maka pasukan kaum muslimin harus menelan pil pahit kekalahan. Banyak sahabat melarikan diri dan menyelamatkan diri masing-masing, hingga Rasulullah SAW hanya dilindungi oleh sedikit pasukan. Shafiyyah tidak tinggal diam, ia meraih tombak dan mengacung-acungkannya di hadapan pasukan muslimin yang lari berhamburan sambil berteriak, “Engkau telah membiarkan Rasulullah berjuang seorang diri!!!”
Rasulullah SAW merasa iba melihat Shafiyyah, dan berkata kepada putra Shafiyyah, Zubair bin ‘Al Awwam, ”Temui ibumu dan ajaklah segera ia pergi meninggalkan medan perang. Jangan sampai dia melihat kondisi saudara kandungnya  (Hamzah bin Abdul Muthalib).” Zubair langsung mendekati ibunya dan menyampaikan pesan Rasulullah SAW. Zubair berkata, ”Ibu, sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruhmu agar mundur dari medan perang….”
Shafiyyah balik bertanya, “Memangnya kenapa? Aku menerima kabar bahwa saudara kandungku telah syahid dan tubuhnya dirusak. Ketahuilah, bagiku hal itu terlalu ringan selama dipersembahkan di jalan Allah. Kami dapat menerima dengan lapang dada semua kejadian itu. Sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bahwa aku akan tetap sabar dan tabah, insya Allah”.
Subhanallah … ketabahan, keteguhan dan kesabaran yang luar biasa yang hanya dimiliki oleh hamba-hamba-Nya yang terpilih …
Zubair pun kembali menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan pesan ibunya. Rasulullah SAW berkata, ”Kalau begitu biarkan dia dalam posisinya sekarang.” Kemudian Shafiyyah,  mendatangi jenazah saudara kandungnya.  Ikut menyalatkannya dan mendoakan agar Allah SWT mengampuni dosa-dosanya.
Mukminah pertama yang membunuh orang musyrik
Dalam Perang Khandaq (parit) pasukan musuh bersekutu akan menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Tapi Allah punya makar tersendiri, Dia menolong kaum muslimin dengan mengirimkan angin kencang yang memporak-porandakan perkemahan kaum kufar. Hingga mereka tercecer dipadang pasir, bak tikus yang berhamburan.
“Ketika Rasulullah SAW keluar Madinah untuk menghadapi musuh (dalam Perang Khandaq) beliau menempatkan kaum muslimah di benteng milik Hasan ra, karena benteng itulah yang paling kuat. Tiba-tiba seorang Yahudi  datang dan mencoba menyelidiki benteng tersebut. Melihat hal itu, Shafiyyah berkata, ”Maka aku langsung mengambil  sepotong kayu dan turun dari benteng untuk mendekati Yahudi itu. Aku buka pintu benteng perlahan-lahan, lalu menyerang orang Yahudi lalu memukulnya hingga mati.”
Allahu Akbar, betapa beraninya Syafiyyah binti Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq menyatakan, ”Shafiyyah adalah muslimah pertama yang membunuh orang musyrik.”
Ibnu Ishaq menyatakan, ”Shafiyyah adalah muslimah pertama yang membunuh orang musyrik.”
Saatnya berpisah
Shafiyyah adalah hamba Allah, bukan hamba dari para hamba-Nya.  Karenanya, dia tetap istiqamah dengan Islam walaupun Rasulullah SAW telah berpulang ke rahmatullah. Shafiyyah tetap genggam erat ajaran nabinya hingga ia terbaring menanti ajal.
Setelah mengisi detik-detik hidupnya dengan perjuangan yang tak kenal lelah, saatnya pun tiba, Shafiyyah binti Khuwailid menemui Rabbnya. Shafiyyah meninggal dalam usia 70 tahun lebih, sungguh usia yang penuh berkah. Jenazahnya dimakamkan di area pekuburan Baqi.
Shafiyyah tetap genggam erat ajaran nabinya hingga ia terbaring menanti ajal.

Semoga Allah SWT meridhai Shafiyyah binti Abdul Muthalib.
Semoga Allah menjadikan kita, para muslimah dan mukminah yang berjiwa mujahidah, sebagai Shafiyyah-Shafiyyah masa kini. Aamin ya Mujibassaailiin!.


* Sumber: 35 Sirah Shahabiyah, Karya Mahmud Al-Mishri.

Zunairah . Ketabahan Menyembuhkan Butanya

Shohabiyah kita kali ini adalah seorang hamba sahaya yang istiqomah. Walaupun ia seorang budak yang dapat diperjual belikan. Namun, mengakar kuatnya iman didada, kokoh tegaknya keyakian menjadikannya sebagai sosok yang berani, menghadapi siapapun. Termasuk sang majikan. Sehingga tak seorangpun dapat mencabut bahkan sekedar menggoyahkan aqidahnya.

Shohabiyah kita kali ini bernama Zunairah. Dan ia adalah budak dari Abu Jahal. Orang yang amat sangat membenci Rasulullah saw.

Menghadapi siksaan teramat pedih.

Setelah tahu bahwa budaknya memeluk agama Islam. Abu Jahal, langsung memanggil Zunairah dan menginterogasinya. “ Zunairah, benarkah kamu telah menganut Islam ?”tanya Abu Jahal. “ “Benar. Saya percaya pada seruan Muhammad, karena itu saya mengikutinya,” jawab Zunairah.

Abu Jahal mencoba, menggoyang keyakinan Zunairah. Ia bertanya kepada kawan-kawannya.” “Hai kawan-kawan, apakah kalian juga mengikuti seruan Muhammad ?”

“ Tidaaak,” jawab mereka serempak.

“ Nah sekiranya yang diserukan Muhammad itu baik, tentu mereka dulu yang akan mengikutinya,” kata Abu Jahal sambil mengejek.

Namun hal itu, sama sekali tidak menggoyahkan keyakinan Zunairah.

Melihat Zunairah yang teguh pada pendiriannya, Abu Jahal semakin kalap. Ia memukul Zunairah dengan sewenang-wenang tanpa belas kasihan. Pukulannya membabi buta, bertubi-tubi. Beberapa pukulannya mendarat diwajah dan kepala Zunairah.

Akibat siksaan yang dialaminya, akhirnya Zunairah mengalami kebutaan.

Melihat hamba sayanya buta, alih-alih ia menaruh iba. Abu Jahal yang kejam malah mengejek dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. “ Matamu menjadi buta itu, akibat engkau masuk Islam. Coba kau tinggalkan agama Muhammad itu, matamu akan sembuh kembali,” katanya.

Zunairah merasa sedih dengan celaan itu. Bukan karena dirinya yang diejek, tapi karena agamanya dilecehkan. Iapun menjawab dengan lantang. “ Kalian semua pembohong, tidak bermoral. Latta dan Uzza yang kamu sembah itu tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi memberi manfaat dan mudharat,” katanya.

Abu Jahal bertambah marah. Ia pukul Zunairah sekeras-kerasnya sambil berkata,” Wahai Zunairah ingatlah kepada Latta dan Uzza. Itu berhala sembahan kita sejak nenek moyang kita. Tak takutkah jika mereka nanti murka kepadamu. Tinggalkan segera agama Muhammad  yang melecehkan kita,” kata Abu Jahal.

“ Wahai Abu Jahal, sebenarnya Latta dan Uzza itu buta. Lebih buta dari mataku yang buta akibat siksaanmu. Meski mataku buta, Alloh tidak akan sulit mengembalikannya, menjadi terang. Tidak seperti tuhanmu Latta dan Uzza itu,” kata Zunariah.

Subhanallah kecerdasan dan keberaniaan  yang luar biasa,dalam berdebat, telah ditunjukan oleh seorang hamba sahaya kepada majikannya…

Sikap syaja’ah yang sangat layak untuk diteladani. Berkata yang benar dihadapan penguasa yang dholim !!!! Sungguh sebuah amaliyah yang tinggi nilainya dihadapan Alloh SWT.

Atas kebesaran Alloh, keesokkan harinya, mata Zunariyah  yang buta akibat siksaan Abu Jahal dapat melihat kembali.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!!!!!!!!!

Zunairah dapat Melihat kembali.

Menyaksikan hal itu, Abu Jahal heran . Namun dasar orang kafir, dia malah berkata,” Ini pasti karena sihir Muhammad ,” sambil kembali menyiksa hamba sahayanya.

Alhamdulillah Abu Bakar segera datang dan memerdekakan Zunairah setelah member tebusan kepada Abu Jahal.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!

Sungguh sebuah teladan yang layak menjadi bahan renungan dan sangat perlu diikuti. Sikap istiqomah yang mantap, yang tak tergoyahkan sedikitpun, baik dibujuk dengan rayuan  dunya maupun disiksa hingga mengakibatkan hilangnya penglihatan.

Alhamdulillah  perjuangan  Zunariyah mempertahankan  keyakinannya berakhir ahsan. Karena penglihatannya kembali terang . Bahkan Alloh SWT lewat hambaNya Abu Bakar Ash Shiddiq telah memberinya sebuah hadiah kemerdekaan/ kebebasan.

Sebuah kisah yang menakjubkan. Semoga Alloh SWT KUATKAN kita untuk menjadi mukminah yang istiqomah. Siap mengadapi apapun, demi mempertahankan aqidah shohiha.

(maraji': 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  karya Hepi Andi Bastoni). [ummu azizah/voa-islam.com]

Ummu Dzar Al-Ghifariyah: Teladan Istri Setia Pendamping Suami

Shahabiyah yang akan kita telusuri kisahnya kali ini adalah  Ummu Dzar, istri shahabat Abu Dzar Al-Ghifari. Kesetiaannya mendampingi  suami, layak diteladani. Betapa tidak, karena beliau ikhlas merawat dan menemani sang suami hingga ajal menjemput . Dalam kesendirian di padang pasir liar nan luas membentang.

Rabadzah, tempat tinggal Abu Dzar Al-Ghifari

Karena adanya perbedaan pendapat, dengan Utsman bin Affan, maka Abu Dzar Al-Ghifari dan keluarganya memilih Rabadzah, padang pasir liar sebagai tempat tinggal mereka. Sebuah keputusan yang sangat berani. Karena daerah tersebut sangat jarang dilalui kafilah. Dan mereka pun hidup tanpa ada tetangga di kanan dan kirinya.

Sang istri yang shalihah, tanpa keluh kesah , dengan setia, mendampingi Abu Dzar Al-Ghifari dan anaknya. Hidup dalam kesederhanaan yang amat sangat. Ditambah lagi, di kemudian hari Abu Dzar Al-Ghifari menderita sakit yang cukup parah.

Menjelang ajal menjemput

Ajal pun semakin dekat, Ummu Dzar selalu berada di sisi sang suami untuk mengurus segala keperluannya. Melihat kondisi, yang semakin parah … Ummu Dzar akhirnya menangis di samping sang suami.

Abu Dzar bertanya, “ Apa yang kamu tangiskan, padahal maut itu pasti datang ?”

“ Karena engkau akan meninggal, padahal pada kita tidak ada kain untuk kafanmu!” jawab Ummu Dzar pilu.

Abu Dzar tersenyum dengan amat ramah, seperti layaknya orang yang akan merantau jauh. Lalu berkata kepada istrinya itu,” Janganlah menangis!  Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah saw bersama beberapa sahabatnya saw, saya dengar Beliau saw  bersabda,” Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman!”

Semua yang ada di majelis Rasulullah saw telah meninggal di kampung dan di hadapan jama’ah kaum muslimin. Tidak ada lagi yang hidup di antara mereka kecuali aku.

Nah, inilah aku sekarang menghadapi maut di padang pasir. Maka perhatikanlah jalanan, kalau-kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang !

Demi Allah, saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi!”

Tak berapa lama,  Abu Dzar pun kembali ke hadirat Allah SWT. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un.

Kenyataan yang ada

Subhanallah! Apa yang diucapkan Abu Dzar sungguh menjadi kenyataan. Karena tentu saja dia tidak berbohong, dan pasti tidak dibohongi. Karena Rasulullah SAW adalah ma’shum.

Tidak lama berselang, sesudah Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, tampak serombongan kafilah  yang sedang berjalan cepat di padang sahara itu. Subhanallah! Kafilah itu adalah Kafilah kaum mukminin yang  dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ibnu Mas’ud, merasa sangat trenyuh, karena ia melihat  sesosok tubuh yang terbujur seperti jenazah, sedang di sisinya duduk seorang perempuan tua, Ummu Dzar dan anaknya yang sedang menangis.
...Subhanallah! Betapa kesetiaan, ketegaran dan ketabahan Ummu Dzar, sangat layak dicontoh. Setia dan istiqamah mendampingi sang mujahid pilihan, hingga akhir hayatnya....
Subhanallah! Betapa kesetiaan, ketegaran dan ketabahan Ummu Dzar, sangat layak dicontoh. Setia dan istiqamah mendampingi sang mujahid pilihan, hingga akhir hayatnya. Walaupun harus bertempat tinggal di  padang pasir liar, padahal usianya sudah sangat tua. Dan tanpa harta yang berharga, hingga, kain untuk mengkafani suaminya pun tidak dimilikinya.

Ibnu Mas’ud, membelokkan tali kekangnya ke arah perempuan tua tersebut. Diikuti anggota rombongan dibelakangnya. Saat pandangan matanya tertuju pada tubuh sang jenazah … tampak olehnya wajah sahabatnya … sahabat seaqidah, sahabat seperjuangan dalam membela tegaknya Islam. Dialah Abu Dzar . Maka, air mata pun mengucur deras dari kedua pelupuk matanya. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un. Ia pun berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah SAW. Anda berjalan sebatang kara. Mati sebatang kara. Dan dibangkitkan sebatang kara !”

Ibnu Mas’ud RA pun duduk, lalu bercerita kepada para sahabatnya maksud dari pujian yang diucapkannya.

‘ Anda berjalan seorang diri, mati seorang diri, dan dibangkitkan nanti seorang diri !”

Ucapan itu terjadi di waktu Perang Tabuk, tahun kesembilan Hijriah.

Perang Tabuk

Perang Tabuk, adalah perang melawan pasukan Romawi yang cukup menakutkan. Mereka berada di satu tempat dan siap menggempur umat Islam.  Saat itu, musim panas teramat teriknya. Sehingga tidak banyak kaum muslimin yang menyambut seruan Rasulullah SAW.

Mereka yang ikut pun, akhirnya berguguran di tengah jalan, satu demi satu . Sebagian disebabkan azam yang tidak mantap. Abu Dzar sempat tertinggal oleh rombongan, karena keledai yang ditungganginya, berjalan sangat gontai. Disebabkan lapar yang sangat dan teriknya matahari yang membakar. Namun Abu Dzar tidak patah semangat.
Akhirnya, karena tidak ingin tertinggal dalam kesempatan jihad, saat itu, Abu Dzar bertekad melanjutkan perjalanannya, mengejar rombongan Rasulullah saw dengan berjalan kaki, sambil memikul beban bawaannya.

Subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, ia berhasil . Alhamdulillah, bi-iznilah Abu Dzar dapat bertemu kembali dengan rombongan Rasulullah saw saat mereka beristirahat. Azam yang kuat, memberikan hasil akhir yang diharap.

Sungguh, menggapai surga adalah  hal yang tidak mudah dan hanya diberikan kepada hamba-hambanya yang terpilih …

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat” (Qs. Al-Baqarah 214).

Sebagai muslimah, banyak hal dapat kita lakukan dan persiapkan untuk berkhidmat di jalan-Nya. [ummu izzah/voa-islam.com]

Maroji: 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah SAW oleh Hepi Andi Bastoni.

Sumayyah binti Khubbath: Wanita Beriman Pertama yang Gugur Syahid

Kisah perjuangan Sumayyah sungguh indah dan menawan untuk didengar. Kisahnya memiliki pengaruh sangat kuat untuk generasi muslim sesudahnya. Dia menjalani kehidupannya dengan berbagai ujian dan cobaan; mulai dari ujian terkecil hingga yang besar. Sumayyah merampungkan ujian dalam kehidupannya dengan sebuah titel kesuksesan terbesar, yaitu kesyahidan. Dia terdaftar dalam urutan para syuhada yang akan menerima hadiah surga dari Allah dan hidup di sisi-Nya serta diberi rezeki melimpah.

Diceritakan bahwa ketika Islam mulai muncul ke permukaan, Sumayyah yang juga istri seorang syahid bernama Yasir dan ibu seorang syahid bernama Ammar itu segera menyambutnya, sehingga dia termasuk salah satu wanita beriman pada fase pertama kemunculan Islam. Bahkan dapat dikatakan bahwa Sumayyah adalah wanita pertama yang memberikan perlawanan kepada kaum musyrikin demi membela panji Islam. Ibnul Atsir mengatakan, “Dia adalah orang ketujuh dari tujuh orang yang mula-mula masuk Islam. Dia termasuk orang yang menerima siksaan berat demi Allah SWT.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Orang yang mula-mula membela Islam ada tujuh orang; Rasulullah SAW, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib, Ammar, dan Sumayyah.”

Di dalam bukunya, Nisaa` min ‘Ashri An-Nubuwwah, Syaikh Ahmad Khalil Jam’ah menegaskan bahwa dalam lintasan sejarah Islam, tidak dikenal seorang wanita yang memiliki kesabaran seperti Sumayyah. “Dia menjadikan kesabaran sebagai sebuah syiarnya,” tulisnya. Ini mengingat, dapat dibayangkan bagaimana keadaan seorang wanita yang sudah tua renta, namun mampu menghadapi siksaan yang begitu berat dari orang-orang kafir. Disebabkan keimanan kepada Allah, dia sanggup menghadapi berbagai kesedihan dan kesulitan.
... Sumayyah tidak seorang diri menghadapi pedihnya siksaan dan getirnya kehidupan. Dia menghadapi siksaan bersama seluruh anggota keluarganya...
Sumayyah tidak seorang diri menghadapi pedihnya siksaan dan getirnya kehidupan. Dia menghadapi siksaan bersama seluruh anggota keluarganya. Lecutan cemeti telah menghancurkan tubuh-tubuh mereka. Akan tetapi, keimanan yang kokoh kepada Allah laksana gunung karang yang tidak terpengaruh gelombang dahsyat ataupun angin yang hebat.

Dikisahkan bahwa Sumayyah diserahkan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah kepada keponakannya, Abu Jahal yang fasik. Meski kondisinya sangat renta dan ringkih, namun Sumayyah mampu menghadapi apa yang orang kuat sekalipun tidak mampu menghadapinya. Abu Jahal yang telah dihinakan oleh Allah mengambilnya dengan tujuan memuaskan rasa dengki di dalam hatinya, sekaligus mencabut akidah Islam yang tertanam di dada Sumayyah.

Menghadapi intimidasi Abu Jahal, Sumayyah memilih diam seribu bahasa dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Abu Jahal mengolok-oloknya dengan berkata, “Engkau tidak beriman kepada Muhammad, melainkan karena engkau merindukan ketampanannya.” Namun Sumayyah tetap tidak mau berbicara. Dia bertahan dari siksaan dengan rasa bangga. Karena dia merasa jauh lebih mulia daripada Abu Jahal dan para pengikutnya. Dia bangga dengan akidah tauhid yang diyakininya. Dengan tauhid, Sumayyah merasa ringan menghadapi siksaan yang pahit, karena dia yakin berada di jalan Allah.
...Menghadapi intimidasi Abu Jahal, Sumayyah memilih diam seribu bahasa dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Abu Jahal mengolok-oloknya...
Mengenai gambaran betapa beratnya siksaan yang dihadapi mereka, Ibnu Katsir menceritakan, dia menukil dari Ibnu Ishaq yang mengisahkan, “Ketika waktu zuhur tiba, Yasir, ayah, dan ibunya (Sumayyah) berangkat bersama Bani Makhzum. Mereka menyiksa keluarga Yasir di sekitar Kota Makkah. Rasulullah berlalu di dekat mereka seraya bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, dijanjikan surga untuk kalian.”

Lalu Al-Baihaqi, dengan sanadnya, meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulukllah berlalu di dekat Ammar dan keluarganya yang sedang menerima siksaan. Kemudian beliau bersabda kepada mereka, “Bergembiralah wahai keluarga Ammar dan Yasir, sesungguhnya telah dijanjikan surga untuk kalian semua.” (HR. Al-Hakim)

Ketika orang-orang musyrik telah merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayyah, maka mereka membunuhnya dengan tombak yang dihunjamkan ke arah kemaluannya. Dan Sumayyah pun menjadi syahidah pertama.
... Ketika orang-orang musyrik telah merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayyah, maka mereka membunuhnya...
Kerasnya intimidasi dan dahsyatnya siksaan kaum kafir Quraisy menyebabkan anak dan suaminya juga terbunuh di jalan Allah. Mereka terbunuh sementara keimanan dan keislaman tetap kokoh bercokol di dalam hati mereka.

Semoga Allah meridhai Sumayyah, anaknya, dan suaminya. Semoga mereka mendapatkan ampunan dari Allah, sebagai yang disabdakan Rasulullah, “Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir, dan Engkau telah melakukan itu.” [ganna pryadha/voa-islam.com]

Fatimah binti Khatthab: Menghantar Umar Al-Faruq Memeluk Islam

Fatimah adalah putri Khatthab bin Nufa’il al-Makhzumi al-Quraisy, seorang mulia berderajat tinggi dan utama di kalangan orang Arab. Ibundanya adalah Hamtamah binti Hasyim bin Mughirah.

Fatimah binti Khatthab memiliki peran penting di masa awal dakwah Rasulullah SAW. Dia termasuk  salah seorang shahabiyah yang pertama berbaiat di hadapan Rasulullah SAW. Demikian juga suaminya, Said bin Zaid. Beliau memberi contoh mulia bagi setiap muslimah dalam hal menyembunyikan dan menjaga rahasia. Sebagai bentuk perlindungan, terhadap Islam dan terhadap Rasulullah SAW. Dia juga mempraktikkan keteladanan dalam keberanian.

Nikmat besar yang sangat disyukurinya adalah atas izin Allah, ia berhasil menghantar sang kakak, Umar bin Khatthab memeluk Islam. Sebagaimana permohonan Nabi Muhammad saw kepada Allah, agar menguatkan Islam dengan salah satu dari dua Umar.

Umar bin Khatthab memeluk Islam

Umar bin Khatthab RA, mengisahkan tentang dirinya masuk Islam. Beliau RA berkata,  aku keluar rumah tiga hari sesudah masuk Islamnya Hamzah RA. Aku bertemu dengan Nu’aim bin Abdillah al-Makhzumi. Aku katakan kepadanya,” Apakah kamu benci agama bapak moyang kamu  dan lebih cenderung kepada agama Muhammad?”
Dia menjawab, “Orang yang lebih besar haknya atas dirimu saja sudah melakukan hal ini.”
“Siapa dia?”.
“Adikmu, Fatimah dan iparmu, yakni suaminya, Said bin Zaid.
Aku bergegas menuju rumah adikku. Kudapati pintunya terkunci, tetapi aku mendengar dengungan suara dari dalam rumah. Ketika pintu terbuka, akupun masuk. Akupun bertanya,” Suara apa yang kudengar tadi ?”.
Fatimah membantah,” Aku tidak mendengar apa-apa.” Kami terus berbantah-bantahan, hingga akhirnya kupegang kepalanya. Fatimah berkata,” Semua ini akan mencelakakanmu, aku malu ketika aku melihat darah.”
Aku berkata,” Perlihatkan kepadaku kitab yang kudengar kalian membacanya tadi.”
Fathimah menjawab, “Kami mengkhawatirkan kamu atasnya.”
Kukatakan, “Kamu jangan khawatir. Aku bersumpah demi tuhan-tuhan itu, aku pasti mengembalikannya apabila aku sudah membacakannya kepada mereka.”
Adikku berkata, “Tidak menyentuhnya kecuali makhluk-makhluk yang disucikan.” Lantas Aku mandi dan kubaca:
1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
3. tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
5. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arasy.
6. kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.
7. dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
8. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik),

Aku berkata, “Betapa bagusnya ucapan ini dan betapa mulianya.”
Ketika Khabbab bin al-Arrat mendengar pembicaraan ini, maka ia pun keluar dari persembunyiannya di belakang rumah Fatimah. Dia bersembunyi ketakutan ketika mendengar suara Umar mengetuk pintu.

Khabbab berkata, “Wahai Umar, sesungguhnya aku berharap agar Allah mengkhususkan engkau dengan doa nabi-Nya. Sesungguhnya aku mendengar pada suatu sore Beliau SAW berdo’a,” Ya Alloh, kuatkanlah Islam dengan Abul Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khatthab” (dalam riwayat lain disebutkan: “Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar”).

Aku berkata kepada Khabbab,” Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad berada. Aku akan datang menemuinya untuk masuk Islam”. Khabbab mengajakku kerumah Arqam bin Abil Arqam (di dekat bukit Shafa) sampai aku mengikrarkan Islam di hadapan Rasulullah SAW. Pada saat itu, Rasulullah saw langsung bertakbir, demikian juga para sahabat di sana, dan juga mengumandangkan tahlil. Mereka menampakkan kegembiraan mereka (Ma’rifah ash-Shahabah, Abu Nu’aim al Ashbahani, 7145, hasan).
Subhanalloh, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!

Demikianlah, kisah Umar bin Khatthab memeluk Islam. Yang tidak dapat dilepaskan dari peran besar sang adik, Fatimah. Yang sudah lebih dulu memeluk Islam. Dan menunjukkan ketegarannya, walaupun darah sempat mengucur di wajahnya … Saat berseteru dengan sang Al Faruq, Umar bin Khatthab. Tidak ada kemarahan, apalagi sakit hati padanya. Bahkan, ia tetap penuh semangat, mendorong sang kakak untuk memeluk Islam.

Semoga kita semua, para muslimah dapat mengambil ibrah dari kisah di atas. [ummu izzah/voa-islam.com]

Maroji’: Ali bin Nayif asy-Syuhud, Kisah Shahabiyah: Mawar-mawar Padang Pasir (judul asli: Masyahir an-Nisa’ al Muslimat).