Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

Menjadi Ustadz di Kemiliteran AS Setelah Ditolak jadi Opsir

kisahmuallaf.com - Khalid Shabazz adalah satu dari lima pembimbing rohani muslim yang bertugas di basis militer AS di Eropa. Perjalanan hidup lelaki asal Alexandria itu, sampai menjadi seorang da'i yang memberikan bimbingan rohani bagi para prajurit AS di Eropa, cukup unik. Ia adalah seorang mualaf yang tekun mempelajari dan memperdalam Islam hingga dipercaya menjadi ustaz.

Nama aslinya adalah Michael Barnes, lulusan perguruan tinggi Jarvis Christian College, menganut aliran Kristen Lutheran. Sebelum bergabung dengan kemiliteran, Ia bekerja di jaringan pertokoan terkemuka di Baton Rouge dengan penghasilan 67 USD per minggu.

"Saat itu, istri saya sedang mengandung anak kedua. Saya harus melakukan sesuatu untuk hidup saya. Saya menemui tenaga rekrutmen dan akhirnya bergabung dengan kemiliteran. Saya masuk ke bagian artileri. Masuk ke kemiliteran adalah hal terbaik dalam kehidupan saya," ujar Shabazz.

Sebagai seorang prajurit artileri, Shabazz hidup prihatin. Tidur di tempat yang kondisinya sangat buruk, disumpahi, dibentak-bentak, tapi itu semua justru mendewasakannya sebagai manusia dan menjadi titik awal ia mengkaji ulang kehidupan religiusnya.

Suatu hari, Shabazz yang waktu itu belum masuk Islam bertanya pada seorang prajurit yang muslim tentang konsep-konsep ajaran Islam. Shabazz terpesona dengan respon dari prajurit muslim itu dan memutuskan untuk mempelajari agama Islam.

Selama dua tahun Shabazz menekuni agama Islam, dan dalam perjalanananya mempelajari Islam, ia memutuskan untuk menjadi staf di kemiliteran. "Saya masuk sekolah staf militer, karena saya ingin keluar dari pasukan artileri," ujarnya.

Dalam kurun waktu dua tahun itu pula, Shabazz memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. Ia pun mengganti nama Michael Barnes menjadi Khalid Shabazz. Ujian pertamanya setelah menjadi seorang muslim adalah, ketika ia ditolak untuk meningkatkan skornya agar bisa masuk ke Sekolah Kandidat Opsir. Keislaman dan rutinitas Shabazz menunaikan salat Jumat, menjadi alasan penolakan itu.

Shabazz merasa sangat kecewa. Ia lalu mengadukan persoalannya dan bermaksud minta bantuan pada seorang pembimbing rohani Islam yang bertugas di kemiliteran. Ustaz yang ditemui Shabazz malah menanyakan, mengapa Shabazz tidak mencoba menjadi pembimbing rohani saja, jika ditolak masuk Sekolah Calon Opsir, agar ia bisa membantu orang yang menghadapi persoalan seperti dirinya.

Itulah awal cerita Shabazz menjadi seorang pembimbing rohani di dinas kemiliteran AS. "Saya kira hidup ini begitu menakjubkan. Kalau waktu itu saya dibolehkan meningkatkan skor nilai saya agar diterima di sekolah calon opsir, saya mungkin tidak akan pernah menjadi seorang pembimbing rohani atau ustaz di sini," ungkap Shabazz.

Bertugas Sebagai Ustaz di Kemiliteran

Shabazz lalu belajar metodologi Al-Quran, hadis dan perbandingan agama selama dua setengah tahun, untuk menjadi imam di Graduate School of Islamic and Social Sciences di Ashburn. Ia juga belajar bahasa Arab selama dua tahun di Universitas Yordania di Amman.

Shabazz resmi menjadi pembimbing rohani di kemiliteran AS pada tahun 1999. Ia ditugaskan ke berbagai negara untuk mendampingi para tentara AS yang bertugas di Afrika, Bosnia, Kosovo, Polandia dan Timur Tengah. Ia juga pernah ditugaskan di kamp penjara angkatan laut AS, kamp Guantanamo di Kuba, juga ke Irak selama 15 bulan.

Selama di Irak, Shabazz berkeliling ke barak-barak militer AS, memberikan pemahaman tentang Islam dan aspek budaya Islami pada para komandan dan prajurit nonmuslim. "Saya sampaikan pada para komandan pasukan AS di Irak, apa yang boleh dan tidak boleh berdasarkan ajaran agama Islam," tukasnya.

Shabazz mengatakan, prajurit yang muslim tidak berbeda dengan prajurit yang berlatar belakang agama lain. Tujuan utama mereka adalah ibadah. "Setiap Jumat, kami salat berjamaah. Kami saling memberikan dukungan satu sama lain, berusaha menciptakan kenyamanan bagi para jamaah dan memastikan jika para prajurit sedang menghadapi masalah dan kesulitan, kami selalu ada buat mereka," tandas Shabazz.

Dalam melaksanakan tugasnya, Shabazz mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya untuk para prajurit yang nonmuslim. "Saya main bola basket dan angkat berat bersama mereka. Kebanyakan dari mereka dekat dengan saya bukan untuk alasan spiritual, tapi untuk mendapatkan pengarahan, saya menjadi mentor mereka," ujar Shabazz.

Pihan, Yakin Sudah Melakukan Tindakan yang Benar dengan Masuk Islam

Khadija
kisahmuallaf.com - Khadija Acuna Pihan, perempuan asal Jerman ini bersyahadat pada tahun 2005. Pilihannya menjadi seorang muslimah membuatnya harus "kehilangan" seluruh keluarganya yang tidak bisa menerima keislamannya. Namun ia yakin, suatu saat Allah Swt akan mengembalikan keluarganya dan memahami mengapa ia memilih masuk Islam.

"Islam adalah jalan kebenaran yang akan saya jalani. Sekarang, setiap kali saya berdoa, saya merasa sedang bicara pada Tuhan, dan Tuhan sedang mendengarkan saya," kata Pihan mengawali cerita di awal ia menjadi seorang muslimah.

Ia mengatakan, Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki ajaran yang jelas. "Siapa yang membaca Qur'an dengan hatinya, akan menemukan sebuah agama yang terang. Saya meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan dan saya bahagia menemukan jalan saya dengan-Nya. Saya yakin sudah melakukan tindakan yang benar dengan masuk Islam. Saya bersyukur, Tuhan menuntun saya ke jalan yang benar," ujar Pihan yang memilih nama Islam, Khadija setelah bersyahadat.

Acuna Pihan lahir dan dibesarkan dalam ajaran Kristen. Ia dan keluarganya rajin ke gereja. Namun, saat datang ke gereja dan mendengar cerita pendeta bahwa Yesus adalah anak Tuhan, selalu terpintas dalam pikiran Pihan mengapa pendeta ini bicara seperti itu dan Pihan tidak mau mengarnya.

"Saya membaca doa yang saya pelajari sejak saya berusia 7 tahun. Tapi saya merasa tak seorang pun mendengarkan doa saya, bahkan Yesus. Mengapa orang-orang ini datang ke gereja dan setelah itu para lelaki pergi ke restoran untuk minum minuman keras, lalu para perempuan bertengkar dengan mereka karena pulang dalam keadaan mabuk. Inikah ajaran Kristen?" tanya Pihan dalam hati.

Pihan yakin pasti ada hal lain yang diajarkan agama. Ia pun mempelajari berbagai agama. "Banyak agaman yang aneh. Orang menyembah Buddha sebagai Tuhan atau menyembah matahari, sapi, bunga, bahkan setan. Hal semacam itu bukan agama saya," batin Pihan ketika itu.

Ia lalu menemukan buku tentang Nabi Muhammad Saw. dan mengetahui bagaimana Rasulullah Saw. menyebarkan agama Islam serta betapa berbahayanya hidup sebagai seorang muslim di zaman itu. Pihan juga membaca sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw, mulai dari silsilah keluarganya, kehidupan rumah tangganya dan siapa saja istri-istri beliau.

"Saya tidak bisa berhenti saat membaca buku itu, sehingga saya membaca semua buku-buku itu dalam satu hari. Buku yang saya baca menceritakan tentang kitab suci Al-Quran yang berisi firman-firman Allah dan rasa ingin tahu saya tentang Quran pun muncul," ujar Pihan.

"Ketika saya membaca surat Al-Fatihah, jantung saya berdebar hebat. Saya terus membaca surat-surat lainnya dan saya hati saya tenang saat membacanya. Ketika saya membaca surat Maryam dan mengetahui apa yang tertulis di surat itu, saya jadi paham mengapa saya tidak bisa memercayai apa yang dulu dikatakan pendeta di gereja," tukasnya.

Ia melanjutkan, "Dalam Kristen, kami belajar bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan kami harus berdoa padanya. Itulah yang kami lakukan selama ini. Lalu, saya membaca Quran yang usianya sudah ribuan tahun, dan isinya selalu sama bahwa Yesus hanya seorang nabi seperti juga Nabi Muhammad Saw serta nabi-nabi lainnya. Quran juga menyatakan bahwa Tuhan tidak punya anak dan kita dilarang menyembah Tuhan yang lain kecuali Allah Swt."

Kata-kata dalam Quran yang membuat Pihan beralih ke agama Islam. Selain itu, yang membuatnya meyakini Quran, meski kitab suci itu sudah berusia ribuan tahun, isinya tidak berubah. Berbeda dengan kitab suci umat Kristiani, Kita Perjanjian Lama isinya berbeda dengan Kitab Perjanjian Baru, padahal dalam ajaran Kristen disebutkan bahwa Tuhan mengatkan "Jangan mengubah kata-kata ku kecuali aku perintahkan kalian mengubahnya."

"Kristen memiliki 10 ajaran suci. Salah satunya adalah dilarang membunuh manusia. Tapi ketika orang-orang Kristen datang ke Amerika Selatan, mereka membunuh banyak orang Indian karena orang-orang Indian itu menolak masuk Kristen. Hal yang sama dilakukan orang-orang Kristen di Afrika," papar Pihan.

"Jadi, bagaimana mereka mengajarkan kita jangan membunuh, jika mereka sendiri membunuh. Semua itu membuat saya ingin pindah agama. Saya capek dengan kebohongan ajaran Kristen dan saya menemukan Islam satu-satunya agama yang memiliki ajaran yang jelas ..."

"Islam membawa kembali kebebasan dalam jiwa saya dan saya bahagia sejak awal saya masuk Islam. Islam adalah hidup saya. Tanpa Islam saya bukan apa-apa, dan jika Allah Swt memalingkan wajah-Nya, saya tak mampu hidup," tandas Pihan.

Idris De Vries: Kun Faya Kun

Aku berkata pada diriku sendiri “Demi Tuhan! kalau Tuhan itu memang ada, maka sudah sepatutnya ia memiliki sifat seperti itu!”.
Aku besar di wilayah utara Belanda. Di sana jarang sekali ditemukan warga keturunan asing. Satu-satunya agama yang kuketahui sejak kecil adalah Kristen. Aku pun menganut agama tersebut meski tidak begitu meyakininya. Aku sudah ragu tentang konsep Trinitas sejak kecil.
Bagaimana mungkin Tuhan bisa berperan sebagai "Anak Tuhan' di saat yang bersamaan? Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan Anak-Nya sendiri mati disalib oleh para pembangkang? Bagaimana mungkin Anak Tuhan bisa dibangkitkan kembali oleh Tuhan ke surga, padahal Anak Tuhan tersebut adalah Tuhan itu sendiri? Maka meski sejak kecil aku percaya bahwa Tuhan itu memang ada, tapi aku tidak meyakini kebenaran Kristen, satu-satunya agama yang kukenali saat itu.
Di saat usiaku 13 atau 14 tahun, ketika bersepeda ke sekolah, aku sempat merenung bahwa Tuhan memang ada tetapi tidak yang sebagaimana diajarkan dalam agama Kristen. Hingga berusia 19 tahun, aku percaya bahwa tidak ada agama yang turun langsung dari Tuhan, dan tiap manusia harus mencari-cari keberadaan dan hubungan dengan Tuhan secara sendiri-sendiri.
Namun itu semua berubah ketika kuputuskan untuk membaca terjemahan Alquran. Itu bukan untuk mencari-cari agama yang diturunkan Tuhan tetapi untuk mencari tahu apa-apa yang diyakini oleh jutaaan penganut agama Islam di dunia.
Aku mulai membaca Alquran dari awal surat, hingga kemudian suatu malam sampai pada surat Maryam, yang mana Allah berfirman tentang perkataan-perkataan yang diucapkan kaum Nasrani tentang-Nya dan Nabi Isa as. Allah menyatakan, “Kami Jadikan' dan terjadilah ia (kun faya kun).” Setelah membaca ayat tersebut, aku berkata kepada diri sendiri, “Demi Tuhan! kalau Tuhan itu memang ada, maka sudah sepatutnya ia memiliki sifat seperti itu!” Ia tidak memiliki anak, dan cukup bagi-Nya untuk menyatakan 'Terjadilah' maka terjadilah!'
Sejak itu aku yakin bahwa inilah agama yang benar. Aku mulai mengubah kebiasaanku sebelumnya seperti minum alkohol atau makan daging babi. Aku juga berusaha berpuasa pada Ramadhan. Semua kulakukan sendirian.
Pada usia 24 tahun, setahun setelah aku lulus kuliah, aku ke Belanda bagian selatan. Di sana banyak para pendatang Muslim baik dari Turki dan negara-negara lainnya. Di sinilah aku mencari tahu tentang Islam. Alhamdulillah aku bertemu dengan seorang imam masjid. Sayangnya ia kurang mahir berbahasa Belanda. Aku kemudian diperkenalkan dengan anaknya seorang aktivis dakwah. Dari anak imam masjid inilah aku mengenal Islam melalui jalan yang benar, dari thariqul iman (jalan menuju iman) hingga bagaimana Islam kaffah itu. Saat itulah aku masuk Islam.
Jelas langkahku ini membuat orangtuaku tidak suka. Namun mereka tidak sampai mengusirku karena mereka tetap menganggap aku sebagai anak yang harus tetap dicintai. Tapi aku sendiri agak sulit mencintai mereka karena kekafirannya.

Ketidakadilan Barat
Aku selalu hidup di dunia Barat. Aku juga tidak terlahir sebagai Muslim.
Aku melakukan semua hal yang biasa dilakukan oleh para remaja seusiaku yang kupikir akan membuatku senang. Tapi tetap saja tidak pernah merasa senang. Kini setelah menemukan jalan kebenaran, aku menyadari bahwa semua perilaku di masa lalu untuk mencari ketentraman itu adalah sebab kenapa aku tidak pernah merasa bahagia.
Di samping itu aku juga selalu merasakan betapa dunia ini dicengkeram oleh ketidakdilan. Aku ingat ketika berumur 8 atau 9 tahun menyaksikan berita tentang kebrutalan tentara zionis Israel terhadap dua anak Palestina. Aku sempat menangis melihatnya, kenapa ada manusia yang bisa melakukan hal tersebut kepada manusia lainnya.
Kemudian, ketika beranjak dewasa dan menjadi mahasiswa ekonomi, aku mulai membenci sistem ekonomi yang kupelajari, karena sistem tersebut tidak mengenal adanya belas kasihan. Aku selalu bepikir mengapa manusia harus selalu berjuang untuk bisa bertahan hidup? Kenapa manusia tidak bisa saling mengasihi dan menolong satu sama lainnya. Aku sempat melihat adanya sifat saling membantu dalam sistem sosialisme. Namun sejak keambrukannya, aku tidak yakin untuk bisa mendukung sistem sosialisme secara sepenuhnya. Maka aku tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti sistem kapitalisme.
Namun sejak aku mendapatkan hidayah untuk menemukan Islam, aku kini tahu bahwa alternatif dari kapitalisme itu ada. Aku melihat ada masalah yang sama selama ini di dunia seperti penindasan, kemiskinan, dan monopoli kekayaan. Dulu aku pesimis apakah permasalahan tersebut akan bisa diselesaikan sehingga tidak terlalu banyak memusingkan. Tapi kini aku bisa berpikir lebih jernih. Ternyata banyak sekali yang bisa dilakukan dan yang harus dilakukan. Jadi, aku yakin bahwa Islam mampu menyelesaikan semua masalah di dunia sekarang. Dan aku pikir juga tidak sendirian.
Krisis kredit macet memang telah menghancurkan harapan umat Islam terhadap sistem Kapitalisme. Apabila kita bertanya kepada umat Islam hari ini, kita akan dapatkan tanggapan bahwa pada akhirnya hanya Islam yang menjadi harapan sebagai solusi. Artinya, kembalinya sistem Islam dalam bentuk negara sudah mulai tampak di horison. Pertanyaannya bukan lagi apakah negara Islam akan kembali hadir, namun kapan ia akan kembali terbentuk.
Sebagai seseorang yang mempelajari sistem ekonomi Islam dan ekonomi Kapitalisme, aku sangat berharap semakin cepat Islam kembali adalah semakin baik. Ketika itu terjadi maka akan terhenti semua macam penindasan terhadap manusia yang selama ini menguntungkan segelintir kelompok manusia yang lain. Lebih jauh lagi, pemiskinan masyarakat yang memperkaya kelompok yang lain juga akan berakhir. Hari itu adalah hari berakhirnya kegelapan dan terbitnya cahaya kehidupan di bawah tuntunan yang benar. Karena itu tantangan bagi umat Islam sekarang adalah bagaimana menjelaskan Islam itu dalam perspektif yang benar

Subhanallah! Penulis Yahudi Terkemuka Masuk Islam

Penulis Yahudi terkemuka berkebangsaan Jerman, Henryk Broder mengumumkan masuk Islam, setelah serangkaian panjang tulisan-tulisannya yang sangat memusuhi Islam dan kaum Muslim.
Surat kabar “Palestina Online” menyebutkan bahwa Henryk Broder adalah seorang veteran jurnalis majalah yang begitu populer Jerman, Der Spiegel, serta penulis buku best seller di Jerman pada tahun 2007, berjudul “Hei Eropa …. Anda menyerah”. Sehingga ia dianugerahi sebagai penulis terbaik jerman pada tahun itu.
Diantara perkataannya yang terkenal sebelum ia masuk Islam: “Saya tidak ingin Eropa menyerah kepada kaum Muslim”. Paekataan itu disampaikan ketika Menteri Kehakiman Jerman mengatakan bahwa “Bisa saja syariat Islam adalah dasar perundang-undangan…. Eropa harus menerima kenyataan ini. Islam menjadi ideologi yang terkait dengan permusuhan terhadap gaya hidup modern Barat. Saya menyarankan kaum muda Eropa agar bermigrasi. Eropa sekarang tidak akan tetap seperti ini setelah lebih dari dua puluh tahun…. Eropa akan beralih ke Islam secara demografis…. Kami memberikan persetujuan secara aneh dalam menanggapi tindakan kelompok fundamentalis Islam.”
Henryk Broder (61 tahun) pada saat mengumumkan bahwa dirinya masuk Islam berteriak dengan keras, untuk menegaskan keyakinannya, “Ayo dengarkan bahwa saya benar-benar telah masuk Islam!”
Broder mengumumkan masuk Islam setelah mengalami konflik internal yang begitu mengganggu dalam dirinya selama bertahun-tahun. Pengumuman itu dilakukan dalam sebuah diskusi dengan imam masjid Ridha di Nyukuln. Di mana ia menjelaskan bahwa akhirnya ia a merasa lega dapat menyingkirkan penindasan kebenaran yang dilakukannya terhadap anggota badannya.

Kembali Pada Agama Fitrah
Dalam mengomentari pertanyaan tentang mengapa ia meningalkan agamanya (Yahudi), maka Broder berkata bahwa ia tidak meninggalkan agama melainkan kembali kepada Islam, yaitu kepada agama fitrah yang dibawa setiap manusia sejak lahir.
Penulis Jerman ini mengucapkan dua kalimat syahadat di depan dua orang saksi, dan kemudian mengubah namanya menjadi Henry Muhammad Broder. Setelah itu ia berkata dengan bangga: “Aku sekarang menjadi anggota dari sebuah umat yang berjumlah 1,3 juta orang di dunia, yang dihina terus-menerus, dan mereka pun bereaksi atas penghinaan itu. Sungguh aku senang bisa kembali ke rumah di mana aku dilahirkan.”
Masuk Islamnya sang penulis, yang sebelumnya selalu menyerang akidah Islam dan perbuatan kaum Muslim dalam menjalankan agamanya ini disambut kaum Muslim. Sebab ia yang telah meneriman penghargaan sastra ini akan menolak memberikan legalitas terhadap para pembela pola pikir anti-semitisme di antara orang-orang Yahudi sendiri (almokhtsar.com, 20/7/2010).

Masuk Islam Gara-Gara Dikejar Anjing

Oleh M. Arif As-Salman
Segala puji hanyalah bagi Allah, Tuhan yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tuhan yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yang mengatur pergantian siang dan malam. Tuhan yang melihat hamba-hamba yang tengah sujud di kegelapan malam, Tuhan yang mendengarkan doa-doa hamba-Nya.
Tuhan yang ketika disebutkan nama-Nya bergetarlah hati hamba-hamba-Nya yang beriman, dan ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah kokohlah iman mereka.
Tuhan yang Agung yang penuh belas kasih. Tuhan yang kepadanya semua makhluk akan kembali dan dikumpulkan.
Ia memberikan hidayah kepada manusia dengan cara-Nya. Kadang cara itu tidak terduga. Maha suci Allah...
Beberapa orang pemuda tengah berkumpul di rumah Allah, di sebuah mesjid, di kota Paris. Sebagian mereka adalah orang-orang yang baru memeluk Islam. Sebagian lain adalah muslim sejak kecil.
Setiap hari usai shalat subuh berjamaah setiap orang secara bergantian membaca kitab Riyadus Solihin yang disusun oleh Imam Nawawi.
Setelah hadits-hadits itu dibaca, mereka menghafalkannya dan menancapkan niat dalam hati untuk mengamalkan dan menyampaikan pada orang lain, sebagaimana pesan Rasulullah, "Ballighuu `anniy walau aayah", sampaikanlah tentangku walau satu ayat yang kalian tahu!
Beberapa orang ulama menjelaskan hadits ini, ballighuu: sampaikanlah, adalah sebuah perintah dari Rasul yang harus diikuti, `anniiy, tentangku, adalah suatu kemuliaan menyampaikan risalah Rasul, walau aayah: adalah takhfif, sebuah keringanan. Di mana setiap muslim memiliki kesempatan untuk menjadi seorang muballigh, da`i ke jalan Allah SWT, mengajak manusia kepada ketaatan, menyampaikan apa yang ia ketahui tentang al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah.
Setelah membaca dan mendengarkan hadits-hadits dengan penuh cinta, ta`zhim dan tasdiq (membenarkan apa yang didengar), mereka bermusyawarah. Seseorang dari mereka ditunjuk untuk memimpin musyawarah.
"Saudara-saudaraku, tak henti-hentinya kita memanjatkan syukur kepada Allah `Azza wa Jalla, pada hari ini kita telah kembali dihidupkan. Allah memberi kita kesempatan untuk beribadah pada-Nya, bertobat atas dosa-dosa kita, menambah bekal untuk akhirat. Mari kita isi hari ini dengan memperbanyak istighfar, memperharui tobat dan beramal soleh."
"Saudaraku, kita juga harus bersyukur Allah memberi kita kesehatan dan kelapangan untuk shalat subuh di rumah Allah swt ini. Sebuah hadits dari Ustman bin Affan radhiyallahu `anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah, maka seolah-olah ia telah mendirikan setengah malam, dan barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, maka seolah-olah ia telah mendirikan (shalat) seluruh malam", hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim."
"Dalam hadits lain disebutkan, dari Abi Zuhair Umarah bin Ruaibah radhiyallahu `anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, "Tidak akan masuk neraka seseorang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelam matahari, yaitu shalat subuh dan ashar. Hadits ini juga diriwayatkan Imam muslim."
"Saudaraku, mari kita isi hari ini dengan ketaatan. Kita manfaatkan setiap detik yang kita lewati, jangan sampai kita lalai, terpedaya oleh tipu daya setan dan hawa nafsu. Saudaraku, usai musyawarah ini hendaknya kita tetap duduk di mesjid untuk berzikir pada Allah.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir sampai terbitnya matahari, lalu shalat dua rakaat, maka baginya pahala, seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna."
Dan terakhir, ada empat perkara yang jika berkumpul dalam diri seorang muslim dalam satu hari, maka ia akan masuk sorga, sebagaimana yang disebutkan Rasul, empat perkara itu adalah: Puasa sunat, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan memberi makan orang miskin....
Mereka saling berbagi informasi tentang kegiatan silaturahmi pada hari sebelumnya. Siapa yang telah dikunjungi, bagaimana keadaannya, tinggal dimana, dan seterusnya. Mereka selalu bersemangat demi tersebarnya dakwah ke seluruh penjuru kota Paris dan ke seluruh bumi Allah, agar tidak ada satupun manusia yang meninggal kecuali telah beriman pada Allah subhanahu wa ta`ala.
Di tengah musyawarah mereka dikejutkan dengan masuknya seorang pemuda yang sedang ketakutan ke dalam mesjid, nafasnya tidak teratur, dari wajahnya terlihat bekas ketakutan itu. Ia habis berlari.
Pemuda itu menuju tempat mereka berkumpul. Salah seorang dari mereka dengan penuh lembut dan senyum menyapa pemuda tersebut. "Kenapa Anda terlihat sangat ketakutan, apa yang terjadi?" Pemuda itu masih berusaha mengatur nafasnya, setelah agak tenang, pemuda itu mulai berbicara.
"Tadi, sewaktu saya keluar rumah, di jalan besar tiba-tiba seekor anjing menggonggong kepada saya, saya ketakutan, saya lari, dan anjing itu mengejar saya. Kemanapun saya lari saya dikejarnya, lari balik ke rumah, tidak mungkin, karena jalan pulang ke rumah di belakang anjing itu, saya terus mencari tempat perlindungan. Di ujung jalan saya melihat ada rumah yang terbuka pintunya, di belakang saya anjing terus mengejar, dan akhirnya saya masuk ke sini. Tapi yang membuat saya heran, kenapa anjingnya tidak masuk mengikuti saya, sedangkan tadi kemana arah saya lari dia terus mengejar saya… ini rumah siapa dan tempat apa?", tanya pemuda itu. "Ini rumah Allah, tempat kaum muslimin beribadah", salah seorang dari mereka menjawab.
Pemuda itu masih heran. "Maksud Anda?" "Rumah Allah tidak dimasuki anjing, dia makhluk yang najis, sedangkan rumah ini suci, dinaungi oleh malaikat, dan siapa yang masuk ke rumah ini ia akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian" Pemuda itu tercengang-cengang. "Owh.. begitu" katanya masih diliputi rasa penasaran yang tinggi.
Kemudian mereka menjelaskan tentang islam padanya. Hati pemuda itu tersentuh dengan penjelasan-penjelasan yang mereka berikan. Tentang keagungan rumah Allah, tentang islam, tentang indahnya persaudaraan dalam islam, tentang hakikat hidup dan dunia, tentang kematian dan tentang akhirat.
Mereka melihat air matanya menetes, ia terharu, hatinya seolah merasakan tetesan embun hidayah yang menyejukkan.., kemudian mereka mengajaknya memeluk Islam dan pada saat itu juga pemuda tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat... Subhanallah..
Salah seorang dari mereka berucap syukur dalam hati. Pemuda tersebut kerap ia lihat setiap kali ia menuju mesjid, tapi ia tidak kenal namanya. Pemuda yang tak henti ia doakan tiap malam dalam tahajudnya tersebut dengan tetes air mata, kini telah masuk ke pangkuan Islam. Ia pun terharu, memuji Allah, bertasbih, bertahmid dan bersyukur pada-Nya. Tanpa terasa pipinya basah..
"Alhamdulillah, segala puji bagi-Mu ya Rabb, Engkau telah mengabullkan doa hamba-Mu yang lemah ini yang hamba panjatkan sejak 4 bulan yang lalu," ucapnya dalam hati.
Salah seorang dari mereka bertanya kepada temannya yang meneteskan air mata tersebut, "Kenapa menangis akhi?, tanyanya. "Saya begitu terharu akhi, Allah telah menggerakkan satu dari makhluknya dan menjadikan sebab masuk Islamnya saudara kita ini, subhanallah.."
Setelah pagi itu, mereka kian bersemangat merintis dakwah, mengajak manusia ke jalan Allah. Tahun demi tahun dilalui, mereka tidak pernah berkeluh kesah, tidak pernah lelah, bahkan semakin gagah dan teguh. Mereka terus berusaha, bergerak dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mengajak manusia ke jalan Allah.
Dan berkat kesungguhan dan doa-doa panjang yang mereka panjatkan di tengah hening dan pekatnya malam, telah banyak orang-orang yang memeluk Islam dan telah banyak kaum muslimin yang sadar akan dirinya dan kembali ke jalan Allah, subhanallah..
Dan pemuda mualaf itu telah menjadi seorang yang gigih menyebarkan risalah islam ke seantero penjuru kota Paris. Ia tak kenal lelah, tak kenal siang dan malam. Dakwah telah menjadi tujuan hidupnya, ia tak kenal henti menangis di sepanjang malam, memohon pada Allah agar hidayah islam masuk ke dalam hati setiap manusia yang belum beriman.
Walau ia dicerca, dimaki ia tak surut, langkahnya telah kokoh sekokoh batu karang di tengah ganasnya ombak, niatnya telah teguh, hatinya telah mantap dan azamnya telah kuat. Tidak akan berhenti sampai ajal menjemput. Ia telah mencintai Islam dengan segenap raga dan jiwanya, cinta yang agung, cinta yang mulia dan cinta yang membawa kepada kenikmatan abadi di sorga kelak.

NB: Ini adalah kisah nyata yang saya dengarkan lansung dari seorang teman saya bernama Rosyid, dari Maroko. Sedikit ditambahkan ilustrasi agar ceritanya mengalir saja...
Salam perjuangan!

marif_assalman@yahoo.com

Senin, 15 Agustus 2011

Selembar Bulu Mata

Konon di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia bersikeras membantah.
“Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”
“Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat.
Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yg kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu.”
“Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.
Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yg memandangi.”
Disusul oleh telinga, “Saya yg mendengarkan.”
Hidung pun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.”
Bibir mengaku, “Saya yang merayu.”
Lidah menambah, “Saya yang mengisap.”
Tangan meneruskan, “Saya yang meraba dan meremas.”
Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”
“Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu”, ucap malaikat.
Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam neraka jahanam.
Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yg amat lembut dari selembar bulu matanya:
“Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”
“Silakan”, kata malaikat.
“Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yg lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yg terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”
Konon, dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni surga: “Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”

Berdagang dengan Allah

Rasulullah SAW terbiasa mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya untuk senantiasa bersabar atas segala sesuatu yang menimpa mereka. Termasuk dalam masalah lapar sekalipun.
Mereka senantiasa mengencangkan ikat pinggang. Bila tidak ada sama sekali yang dimakan, maka mereka pun akan berpuasa. Itulah yang dicontohkan Rasul SAW kepada sahabat-sahabatnya.
Suatu hari, seusai mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya di Masjid Nabawi Madinah, maka pulanglah Ali bin Abi Thalib ke rumahnya.
Sesampai di rumahnya, ia menemui istrinya, Fatimah, putri Rasulullah SAW, yang sedang duduk memintal benang.
“Wahai perempuan yang mulia, adakah suatu makanan yang dapat dimakan oleh suamimu ini?” tanya Ali.
Fatimah pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak mempunyai sesuatu pun. Tetapi, aku punya uang enam dirham yang akan kugunakan untuk membeli makanan buat Hasan dan Husein.”
“Tolong, berikanlah uang tersebut kepadaku,” ujar Ali. Kemudian Fatimah memberikan uang itu kepada Ali bin Abi Thalib. Setelah itu, Ali pun segera keluar membawa uang enam dirham itu untuk membeli makanan buat Hasan dan Husein.
Dalam perjalanan, Ali melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri di dekat pohon kurma, dengan pakaian yang sangat kumal. Rupanya ia seorang pengemis. Melihat ada yang mendekat, pengemis itu pun meminta kepada Ali.
” Wahai tuan, siapakah yang hendak mengutangi Allah dengan piutang yang baik?” ujar laki-laki tersebut seraya mengutip ayat Al-Quran surah Al-Baqarah [2] ayat 245.
“Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat-gandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang lebih banyak. Dan Allah akan menyempitkan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
Maka secara spontan Ali pun memberikan semua yang dimilikinya itu tanpa sisa. Setelah itu, ia pun segera kembali ke rumahnya dengan hati yang sangat lapang dan penuh kepuasan.
Namun, ketika Fatimah menyaksikan suaminya yang pulang tanpa membawa apa pun, maka menangislah putri Raswlullah SAW ini. Menyaksikan hal itu, Ali pun bertanya, “Wahai perempuan yang mulia, mengapa engkau menangis?”
Fatimah menjawab, “Wahai putra paman Rasulullah SAW, kulihat engkau tidak membawa apa-apa dari uang yang aku berikan tadi. Mengapa bisa demikian? Bagaimana makanan Hasan dan Husein?”
Ali pun kemudian menyampaikan kejadian yang sesungguhnya. “Wahai perempuan yang mulia, sesungguhnya uang itu telah aku pinjamkan kepada Allah,” jelas Ali.
Mendengar hal itu, maka Fatimah pun tersenyum seraya berkata, “Engkau benar wahai suamiku.”
Maka selesailah untuk sementara persoalan yang mereka hadapi. Namun, bagaimana dengan hari esok?
Ali pun kemudian berpamitan pada Fatimah. Ia bermaksud menemui Rasulullah SAW. Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan seorang Arab dusun yang sedang menuntun seekor unta betina.
Orang Arab dusun tersebut berkata kepada Ali. “Hai Bapak Hasan, belilah unta ini dariku.”
Ali menjawab, “Aku tidak memiliki uang.”
“Gampang saja. Beli saja unta ini, dan nanti engkau bisa membayarnya setelah laku,” kata Arab dusun itu.
“Berapa engkau akan menjual unta ini?” tanya Ali.
“Seratus dirham,” jawabnya.
“Baiklah. Kalau begitu aku membelinya,” kata Ali.
Setelah semuanya disepakati, berpisahlah Ali dengan orang Arab dusun tersebut. Ali lalu membawa unta betina itu untuk dijual.
Saat menuntun unta tersebut, tiba-tiba datanglah orang Arab dusun lainnya. Ia bertanya kepada Ali. “Wahai bapak Hasan, apakah engkau akan menjual unta ini.” Ali pun mengiyakannya.
“Berapa engkau akan menjualnya?” tanya Arab dusun itu.
“Seratus enam puluh dirham,” kata Ali. (Dalam riwayat lain disebutkan, jumlahnya hingga tiga ratus dirham).
“Baiklah, aku beli unta itu,” jawab Arab dusun tersebut. Maka ia pun membayar harga unta itu kepada Ali bin Abi Thalib.
Setelah itu, Ali kemudian mencari Arab dusun yang pertama. Dan saat bertemu, ia serahkan harga unta yang dibelinya itu dengan harga seratus dirham.
Selanjutnya, Ali pun pulang dan bertemu dengan istri tercinta, Sayyidah Fatimah az-Zahra. Ali kemudian memberikan semua uang yang didapatkannya hari itu kepada Fatimah. Istrinya heran melihat dirham yang demikian banyak itu. Ia pun bertanya kepada Ali dari mana sumber dana yang didapatkan itu.
“Inilah hasil kita berdagang dengan Allah,” kata Ali. Maka tersenyumlah Fatimah. Ali kemudian menceritakan peristiwa yang dialaminya hari itu kepada Fatimah. Mereka bertanya-tanya, siapakah gerangan kedua orang Arab dusun itu? Ali kemudian mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu.
Rasul menjelaskan bahwa orang yang menjual unta itu adalah malaikat Jibril, dan yang membelinya adalah malaikat Mikail. Sedangkan unta itu adalah tunggangan Fatimah di hari kiamat.
Sumber: Cahaya Ramadhan Republika, 24 Agustus 2010

Surga Karena Memuliakan Orang Miskin

Alkisah, di negeri Arab, ada seorang janda yang sangat miskin. Ia memiliki seorang anak. Karena kemiskinannya itu, ia pun berusaha meminta sesuap nasi kepada siapa saja yang mau berrnurah hati. Janda tersebut mengembara ke mana saja demi nasi dan makanan untuk dia serta anaknya.
Suatu hari, ia melintas di sebuah masjid dan bertemu dengari seorang Muslim. Kepadanya, janda ini meminta bantuan. “Wahai, tuan, sudilah kiranya bermurah hati. Anakku sedang kelaparan dan aku mohon pertolongan kepada Anda,” ujar janda tersebut.
“Mana buktinya kalau Anda miskin dan anak Anda seorang yatim?” tanya laki-laki Muslim itu.
Sang janda tersebut berpikir bagaimana harus menunjukkan bukti yang diminta lelaki itu. Apalagi di situ tidak ada yang mengenalnya. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, ia pergi berlalu dan meninggalkan laki-laki tadi.
Tak lama berselang, si janda bertemu dengan seorang laki-laki Majusi. Ia pun meminta pertolongan kepadanya. Tanpa berpikir panjang, laki-laki Majusi ini langsung membawa si janda ke rumahnya dan memberikan uang serta pakaian. Bahkan, si Majusi ini memerintahkan janda dan anaknya untuk tinggal di rumahnya.
Pada malam harinya, bermimpilah laki-laki Muslim tadi. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan Rasulullah SAW. Ia melihat banyak orang mendatangi Rasulullah. Rasul SAW pun menyambut mereka dengan senang hati. Ketika tiba giliran laki-laki Muslim tadi, Rasulullah menolak menyambutnya.
Lelaki tersebut lantas berujar kepada Rasul SAW, “Ya, Rasulullah, aku juga umatmu dan aku mencintaimu,” ujar laki-laki tersebut.
Rasulullah menjawab, “Apa buktinya bahwa kamu umatku dan kamu mencintaiku?” Laki-laki tersebut langsung terdiam. Ia merasa malu karena pertanyaan yang diajukan Rasulullah sama dengan yang ia ungkapkan saat seorang janda meminta pertolongan kepadanya.
Rasulullah SAW kemudian menunjukkan sebuah gedung yang sangat megah di dalam surga. “Lihatlah ini. Seharusnya ini milikmu. Namun, karena engkau menolak menolong umatku dan anak yatim yang sedang kelaparan, tempat ini menjadi milik si orang majusi yang telah menolongnya.”
Pada saat yang sama, si Majusi rupanya juga bermimpi serupa. Ia sangat bahagia karena akan diberikan tempat di dalam surga, sebuah gedung yang sangat megah.
Pagi harinya, si laki-laki Muslim ini mencari janda tersebut. Ia mendapatinya sedang berada di rumah orang Majusi tersebut. Dengan memaksa, ia meminta si Majusi untuk menyerahkan janda tersebut kepadanya.
“Serahkanlah kepadaku janda dan anak yatim itu. Biarlah aku yang menolongnya,” kata dia.
Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh si Majusi. “Tidak. Aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu,” tegasnya.
“Berikan saja. Nanti, aku beri engkau uang dinar yang sangat banyak,” pinta si Muslim.
“Tidak. Aku tidak akan menyerahkannya kendati engkau bayar dengan gunung emas sekalipun,” jawab si Majusi.
“Tapi, engkau orang Majusi, tak pantas engkau menolong janda yang Muslim itu. Seharusnya, orang Muslim juga yang menolongnya,” kata si Muslim.
Orang Majusi itu lalu bercerita, “Tadi malam, aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau berkata bahwa beliau akan memberikan surga yang semula akan diberikan kepadamu untukku. Ketahuilah bahwa pagi ini, ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah SAW karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang yang mencintainya,” ujar laki-laki Majusi yang telah memeluk Islam tersebut.
Sumber: Cahaya Ramadhan Republika, 27 Agustus 2010

Jumat, 12 Agustus 2011

Penasaran Tragedi WTC, Christina Akhirnya Yakin Dengan Islam


Saat dua pesawat menabrak gedung WTC pada 11 September silam, Christina Rountree masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Seperti sebagian besar warga Amerika lain, ia mengaku terperangah dan marah.

"Kemudian muncul di berita bahwa itu semua dilakukan oleh Muslim. Saya pun bertanya pada teman-teman Muslim saya, 'mengapa orang-orang ini berbuat atas nama Islam. Itu agama kalian bukan?"

Christina masih ingat, teman-temannya berkata, "Mereka adalah orang-orang gila. Mereka tidak mewakili Muslim. Islam adalah agama damai."

Namun ia tidak puas dengan jawaban itu. Ia pun mulai mencari tahu sendiri tentang keyakinan tersebut. Bahkan di kampus ia bergabung dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim.

Saat mencari tahu itulah mata Christina mulai terbuka. Selama ini rupanya Christina juga tengah mencoba menentukan seperti apa kehidupannya kelak dan ia melihat bahwa informasi tentang Islam selama ini adalah salah.

Ia pun memutuskan untuk membantu warga non Muslim di Amerika untuk memahami Islam. "Mereka mendapat informasi salah dan itu mengkhawatirkan," ungkap Christina. "Saya seorang Afro-Amerika, jadi saya tahu betul rasanya dihakimi karena tampilan anda,"

Namun awalnya Christina juga ragu bila orang-orang akan mendengarkannya. Ia pun membagi keraguan itu kepada temannya, seorang Muslim.

Sang teman berkata padanya. "Well, Christina, apakah tidak lebih keren dengan memberi contoh bagaimana seorang Muslim seharusnya, dan tidak menghabiskan waktu dengan berbicara apa yang bukan Muslim.

Saat mendengar itu, Christina merasa menemukan tombol 'klik. "Entah mengapa saya merinding mendengar itu dan saya terharu. Itu momen yang sangat emosional."

Ia pun kian dalam mempelajari Islam. Hingga akhirnya ia menyatakan meyakini kebenaran Rasul Muhammad dan semua kebaikan yang ia lakukan. Ia menyukai gagasan terstruktur yang ditawarkan Islam dan juga fakta yang ia jumpai bahwa Al Qur'an menjawab semua yang ia butuhkan.

Pada 17 November 2006, Christina menyatakan keislamannya. Ia berikrar dengan mengucapkan syahadat, bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah.

Ia merasa memeluk Islam merupakan sesuatu yang diinginkan Tuhan terhadapnya. Meski, ia mengaku, itu bukan sesuatu yang diinginkan oleh ibunya.

"Ibu saya sungguh gusar, ia mengira saya melakukan ini demi seorang laki-laki, karena selama ini saya selalu dekat dengan para pria dengan tampilan Timur Tengah atau Indian," tutur Christina.

"Padahal saat itu saya tidak memiliki satu teman dekat lelaki satu pun. Jadi ia tidak bisa menggunakan kartunya," katanya. Sementara sang ayah cenderung menghormati keputusannya. "Ayah berkata, lakukan apa yang membuatmu bahagia. Lakukan apa pun yang membuat kamu berpikir telah menemukan Tuhan,"

Christina mengatakan ibunya justru kini kian dekat denganya sejak ia memeluk Islam. Bahkan ibunya juga kerap ikut saat ia pergi ke masjid.

Menjadi Muslim ia pun mengalami masa sulit dan menyakitkan. Salah satunya ketika terjdi upaya pengeboman pada sebuah maskapai di Detroit saat Hari Natal yang berhasil digagalkan. Ia menilai itu kemunduran besar bagi Muslim di mana pun.

"Bukan lagi sekedar dua langkah, itu seperti ribuan langkah mundur," ujar Christina. "Pasalnya kami baru sampai pada titik di mana anda dapat berbicara tentang Islam dalam aura positif dan bukan dianggap pengkhianat ketika anda melakukan itu."

Sebuah pengalaman dalam penerbangan kian memperburuk perasaan Christina. Tak lama setelah upaya serangan oleh seorang Muslim Nigeria, ia berada dalam sebuah pesawat yang hendak lepas landas, ketika seseorang di sebelahnya mengajak berbicara tentang topik tersebut

"Ia dan juga pilot berulang kali mengatakan, 'Para Muslim tidak seharusnya di Amerika. Saya harap mereka semua mati'. Mereka terus mengatakan itu dan itu lagi," kenang Christina.

Saat itu ia langsung paham, bahwa itulah pandangan tentang Muslim yang mungkin dimiliki mayoritas warga AS. Christina pun berharap dapat menjadi penangkal pandangan itu dengan menjadi contoh nyata.

Namun ia mengakui saat itu ia memilih diam dan tidak mengatakan bahwa ia sebenarnya seorang Muslim. Ia merasa terlalu dibebani oleh obrolan tersebut.

Pengalaman itu tak membuat ia kehilangan harapan bahwa suatu saat Amerika akan melakukan seperti yang ia lakukan, mempelajari sendiri bagaimana Islam sesungguhnya.

"Padahal warga Amerika cenderung cepat bertanya tentang segala sesuatu," ujarnya. "Anehnya tidak untuk ini (Islam-red)."

Christina menyatakan ia pun masih harus belajar banyak tentang keyakinan barunya. Saat ini ia memang tidak berjilbab karena itu bukan yang ia peroleh pertama kali. Namun ia berharap dan berdoa suatu saat ia akan mengenakan. (Republika.co.id)

Kamis, 11 Agustus 2011

Malaikat dan Pejabat...

Seorang pejabat penting jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang Malaikat menghampiri si pejabat yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!"



"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ..." kata si pejabat ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pejabat bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit."

Dengan lembut si Malaikat berkata, "aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu."

Tanpa menunggu reaksi dari si pejabat, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra-putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua - itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu."

Kembali terlihat di mana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam kerjanya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar di hadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pejabat ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pejabat ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah di antara karyawanku, kerabatku, kolegaku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, kau berbuat untuk kepentingan mu saja tanpa menghiraukan karyawan mu yang seharusnya kamu buat bersyukur, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah."

Si pejabat tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00."

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pejabat bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

"Bukankah itu Panti Asuhan?" kata si pejabat pelan.

"Benar, kau pernah memberi bantuan bagi mereka saat bulan ramadhan, beberapa bulan yang lalu. Walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri."
"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang Pejabat penting terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu."

*********


Temen-temen...

Cerita ini hanyalah sebuah gambaran agar kita lebih instropeksi diri. Saya membayangkan ketika diri saya mati nanti, apakah orang disekeliling saya akan kehilangan, atau sebaliknya mereka mengabaikan atas kematian saya, atau yang paling parah apakah mereka bersyukur malah?

Ah.. mumpung kita masih diberi umur, lakukanlah yang terbaik untuk orang-orang disekitar kita, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.

Jika kau diberi kepercayaan untuk memegang kekuasaan, maka janganlah menjadi sombong. Apalagi hanya berbuat untuk kepentingan dirimu saja. Karena ada beberapa orang yang menggantungkan nasib diri dan keluarga-nya di tangan mu, maka seharusnya kamulah yang menuntun dan membuat mereka bahagia, bukan semena-mena terhadap mereka.

Dan satu lagi, janganlah engkau meremehkan sedekah, sesuai cerita diatas, justru sedekah-nya yang menyelamatkan pejabat tersebut...

Semoga bermanfaat...

Kiriman dari : Bayoe DS

Kisah Tukang Cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.

“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada”.
“Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .

“Jika TUHAN ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.

“Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (Jawa : mlungker-mlungker – Red), kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!”

Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.

“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.

“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.

Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?
Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”

Jika Anda berpikir bahwa TUHAN ITU ADA, sampaikan cerita ini kepada orang lain. Semoga kita selalu mendapat kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Amien..