SEBUAH bangunan gereja katedral berdiri tegak di salah satu sudut Kota Krakow, Polandia. Bukan hanya katedral, masih ada belasan gereja lain di Kompleks Kota Tua Krakow yang sudah berusia ratusan tahun, mulai dari gereja untuk tentara hingga kaum papa.
Di Negeri Polska yang mayoritas penduduknya beragama Kristen Katolik, begitu banyak gereja dibangun, sama seperti di Indonesia yang penduduk mayoritasnya beragama Islam dan begitu banyak berdiri masjid hampir di pelosok negeri. Di Kota Warsawa, ibukota Polandia, pemandangan serupa juga terlihat.
Di negeri itu, jumlah penduduk beragama Katolik mencapai 88,4 persen. Agama Yahudi sempat mendominasi sebelum Perang Dunia II di Kota Warsawa. Bahkan sebelum Hitler memutuskan mengekspansi wilayah Jerman, Warsawa merupakan kota dengan populasi umat Yahudi terbesar di dunia dengan mencapai 400 ribu orang. Dengan jumlah sebesar itu, hanya Kota New York, Amerika Serikat yang bisa menyaingi.
Meski demikian, Islam juga memiliki tempat di negara yang terletak di Eropa Tengah itu walau jumlahnya tak sampai sepersen dari total penduduk Polandia. Diperkirakan terdapat sekitar 30.000 warga Muslim di Polandia atau kurang dari 0,1 persen dari populasi mayoritas Katolik Roma.
Hubungan Polandia dengan Islam sudah dimulai sejak abad kesepuluh. Hal ini dibuktikan dengan catatan tentang bangsa Polandia dalam sejarah Islam yang ditulis oleh utusan dari kekhalifahan Islam abad Cordova, Ibrahim bin Jakub dan diterbitkan dalam kronik Arab al-Bakri. Interaksi Polandia dengan ummat muslim berlangsung dalam hubungan bisnis di mana pedagang muslim sering bertransaksi di sana. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya koin Arab yang ditemukan di sejumlah situs arkeologi Polandia.
Islam masuk di Polandia sejak abad 14, diperkenalkan oleh bangsa Tartar yang menetap di Lituania. Pada masa itu, para penguasa mendukung kehadiran mereka karena mereka memiliki kemampuan keprajuritan yang tinggi. Bangsa Tartar yang tinggal di Lithuania, Ruthenia dan wilayah timur Polandia saat ini diberikan izin untuk bisa memeluk agama Sunni dengan syarat mereka melakukan tugas kemiliteran.
Ratu Lithuania bahkan membangun perumahaan Tartar pertama. Kebanyakan mereka adalah tahanan politik dari sebelah barat Kerajaan Mongolia yang didirikan salah satu keturunan Genghis Khan. Lama-kelamaan jumlah penduduk terus meningkat dan terkonsentrasi di daerah pusat politik dan perdaganagn. Mereka bekerja sebagai pedagang dan penyamak kulit.
Sejak itulah, Islam berkembang di Polandia. Pada abad ke-12, muslin Tartar juga ikut berpartisipasi dalam perjuangan Polandia merebut kemerdekaan. Pada masa penjajahan, mereka tidak diizinkan mendirikan organisasi sosial dan budaya. Barulah pada 1918 atau akhir Perang Dunia Pertama ketika Polandia memperoleh kemerdekaan, ummat muslim Tartar memiliki ruang lebih terbuka untuk mengekspresikan diri. Mereka membentuk organisasi kebudayaan dan sosial, bahkan mereka juga menerbitkan majalah dan buku-buku tentang sejarah dan tradisi mereka.
Selama perang dunia kedua, kaum muslimin, seperti semua orang Polandia lain, berpartisipasi dalam perang melawan Jerman dan Uni Soviet. Mereka juga mendapat tekanan. Kaum intelektual khususnya yang aktif dalam kegiatan keagamaan diburu oleh polisi rahasia dari kedua aggressor.
Usai perang, kaum muslim Tartar banyak menempati wilayah Bialystok serta Gdansk dan mulai merapikan barisan kembali dengan mendirikan Asosiasi Muslim dan Asosiasi Tartar Polandia yang juga aktif dalam kegiatan sosial dan budaya. Mereka menerbitkan majalah dan menggelar konferensi serta pameran ilmiah.
Baru pada tahun 1970an, masyarakat Islam di Polandia mulai beragam. Biasanya mereka adalah imigran dari bekas negara Yugoslavia, Pakistan, Afghanistan, dan sejumlah kecil para mualaf. Selain itu pada 1970-1980an, Polandia juga menarik sejumlah pelajar dari negara blok sosialis di Timur Tengah dan Afrika. Kebanyakan di antara mereka memutuskan untuk menetap di sana. Pada akhir 1980, komunitas Islam di sana semakin aktif dan terorganisasi dengan baik.
Muslim Polandia pada umumnya adalah penganut Islam sunni dan banyak elemen dari keyakinan mereka mirip dengan orang Turki nomadik namun mereka juga mengadopsi budaya dan kebiasaan orang Polandia dan Rusia.
Meski menjadi minoritas, toleransi beragama dirasakan ummat muslim di sana dan mereka tidak pernah mendapatkan tekanan dari agama lain. Mereka juga bisa mendirikan masjid, dan masjid yang tertua bisa ditemukan di Perkampungan Bohoniki dan Kruszyniany. Sebuah masjid baru juga dibangun di Gdansk dan Warsawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar