Minggu, 07 Agustus 2011

Sumiati

Aku Dituduh Sebagai Pelacur

Aku harus segera kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT, begitulah kata hatiku dari lubuk hati yang paling dalam. Namun bagaimana caranya? Apalagi selama ini aku dikenal masyarakat sebagai seorang biarawati, pengkhutbah di rumah-rumah peribadatan.

Aku lahir tahun 1977 di kota budaya Solo. Ibuku seorang aktivis gereja dan ayahku seorang pegawai sipil golongan rendahan. Kendati keluargaku hidup dalam kesederhanaan, tetapi ketaatan beragamanya cukup fanatik. Sejak kecil aku sudah dididik agama yang dianut ibu, bahkan aku pernah dibaptiskan. Sejak kanak-kanak, aku bercita-cita ingin berjuang menegakkan kebesaran agama yang dianut ibu. Oleh sebab itu, kupilih sekolah pun di lembaga pendidikan sepaham. Didukung oleh wawasan keagamaan yang kuperoleh di lembaga pendidikan tersebut dan ditambah aktivitasku mengikuti berbagai khutbah keagamaan, maka pada usiaku yang ke-14, aku sudah dipercaya menjadi pengkhutbah di rumah-rumah peribadatan. Banyak teman-teman yang lebih mempercayaiku memegang setiap kegiatan yang digelar di rumah peribadatan, sehingga keyakinanku semakin kuat, bahkan aku selalu berusaha mempengaruhi teman-teman di luar agamaku untuk ikut agamaku. Memang, tidak sedikit yang mengatakan bahwa aku ini termasuk gadis yang lincah, rajin, dan aktif menyebarkan agama. Sampai orang tuaku sendiri mempunyai keinginan untuk memasukkan aku ke sekolah biarawati. Begitu ada tawaran dari orang tua, hatiku semakin mantap. Hampir pada setiap khutbah, kukenakan baju biarawatiku hingga aku merasa mempunyai kebanggaan tersendiri.

Suatu hari, keluargaku mengalami musibah. Kehidupan ekonomi keluarga menurun drastis. Penghasilan semakin tidak mencukupi kebutuhan, padahal kebutuhan semakin hari tambah meningkat. Akibatnya, tatanan keharmonisan keluarga mulai terusik. Ketaatan beribadah kian menurun, bahkan perhatian orang tua terhadap anak-anak semakin tidak jelas. Oh,…sangat mengerikan. Dalam kondisi ketidakharmonisan keluargaku, waktu itu aku menerjunkan diri ke dalam lembah hitam. Keadaan ekonomi mendesakku menjadi seorang wanita yang terlarut hawa nafsu. Mencari kepuasan dan kesenangan dengan teman-teman sekolahku yang peminum, pemabuk, dan penghisap nikotin. Naudzubillah !!. Padahal saat itu aku baru duduk di kelas tiga SMP. Uang sekolah sering kumanfaatkan untuk membeli minuman keras. Sungguh sebuah pekerjaan yang dilaknat dan dimurkai Allah SWT. Perbuatan brutal itu agak berkurang, setelah aku pindah sekolah dari Trenggalek Jawa Timur ke Solo Jawa Tengah. Di Solo, aku tinggal bersama nenek. Nenekku sering memberi nasihat kepadaku. Akhirnya, walaupun belum seratus persen sembuh, kesadaranku sedikit demi sedikit mulai pulih kembali.

Setamat SMP, aku melanjutkan ke STM Negeri I Solo dan mengambil jurusan elektro. Dengan biaya sekolah sepenuhnya ditanggung oleh nenekku. Di lingkungan keluarga nenek, aku merasakan hadirnya lagi keharmonisan keluarga. Tidak lama kemudian, keharmonisan keluarga nenek terganggu ketika aku menyatakan diri ingin masuk Islam. Panggilan ayat-ayat Allah SWT itu kuyakini kebenarannya, bahkan hatiku sempat tergetar ketika mendengar suara azan bergema. Hampir setiap pagi saat azan subuh, aku tidak bisa lagi memejamkan mata. Betul-betul sebuah bunyi yang indah yang bisa menembus hati yang paling dalam. Yang kuinginkan saat itu, hanyalah melihat dan mengikuti bagaimana orang Islam bershalat subuh. Namun, tentu saja berat kulakukan sebab masyarakat mengenalku sebagai biarawati, pengkhutbah di rumah-rumah peribadatan.

Mengingat keinginanku yang semakin kuat, akhirnya aku mencari berbagai informasi tentang Islam. Akhirnya, aku bisa memperoleh keterangan yang agak jelas tentang Islam dari teman-teman sekolahku. Setelah kudapatkan informasi tentang Islam maka semakin berkobar-kobarlah niat dan keinginanku untuk segera pindah agama. Entah mengapa tiba-tiba keharmonisan keluarga nenek kugegerkan karena aku ingin menjadi muallaf. Keinginanku hanya satu, aku betul-betul ingin kembali kepada ajaran yang benar. Kekagumanku terhadap Al-Qur’an tidak sebatas isinya, tetapi juga pada keberadaannya yang telah menyelamatanku dari lembah hitam. Lewat lantunan ayat-ayatnya, aku menyadari semua perbuatan buruk dan tidak benar yang pernah kulakukan selama ini. Seperti yang bisa kuduga sebelumnya, keinginan ini akhirnya menimbulkan pertentangan keluarga. Tidak ada satu pun keluargaku yang setuju, bahkan ada yang mengancam dan memaksaku untuk segera meninggalkan rumah. Namun karena tekad sudah bulat, aku memilih pergi dari rumah. Alhamdulillah, pilihanku tidak salah. Aku ikut guru sekolahku yang kebetulan beragama Islam. Di rumah guruku itulah, kuikrarkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak Mikan Suwamo. Kendatipun kini aku hidup menumpang, batinku merasa lebih tenteram. Hatiku betul-betul merasakan kedamaian. Aku bertobat atas segala kekhilafanku selama Kini, hanya Al-Qur’an yang membuat hidupku lebih tenang. Isi dan makna yang terkandung di dalamnya begitu mengagumkan. Tidak pernah aku temukan sebelumnya, kitab yang isi dan maknanya selengkap dan sesempuma Al-Qur’an. Di dalamnya tercakup persoalan-persoalan kecil sampai persoalan-persoalan besar, balk menyangkut pribadi manusia maupun masyarakat pada umumnya.

Sedikit demi sedikit, wawasan keislamanku mulai bertambah. Kudapatkan semua itu dari buku-buku kecil yang kubeli dari kioas-kios buku. Selain itu, aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan keislaman seperti pengajian-pengajian. Semua itu kuarahkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaanku kepada Allah SWT, di tengah-tengah kesibukanku membantu keluarga Bapak Mikan Suwarno. Memang, kini kegiatanku lebih beragam. Bahkan, tanpa mengganggu aktivitas sekolah, ibadah, shalat, dan sebagainya, kini aku mulai memakai jilbab. Alhamdulillah, keimananku kurasakan semakin hari semakin bertambah, tetapi seiring dengan itu cobaan pun semakin berat menimpaku. Banyak sindiran yang sering menyakitkan hatiku. Terlebih lagi sikap dan kebencian keluargaku. Mereka tidak hanya memberhentikan uang sekolah, tetapi juga menuduhku sebagai pelacur, sehingga teman-teman yang semula akrab denganku kini menjauhi. Aku betul-betul merasa kehilangan mereka.

Walaupun semua itu berat kurasakan, tetapi aku yakin bahwa semua itu hanyalah merupakan bagian dari ujian bagi keimananku. Kuyakini semua ini adalah ujian iman. Aku yakin, suatu saat ujian ini akan segera berakhir dan kalau aku sabar menghadapinya, insya Allah, Allah SWT akan menolong orang-orang yang sabar dan tabah. Kini, selain aku berjuang untuk segera menamatkan sekolahku dari STM, aku juga ingin segera bisa bekerja. Sedikit demi sedikit, aku ingin mengatasi kesulitan ekonomi selama ini. Biaya sekolah yang selama ini kuperoleh dari hasil keringatku sebagai seorang pembantu, cukup menjadi pendorongku untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Insya Allah dengan tetap berpegang pada akidah Islam, aku ingin berjuang membesarkan ajaran Rasulullah Muhammad saw, nabi akhir zaman.

Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar