Minggu, 07 Agustus 2011

Kisah Muallaf ” Ananto Dananjaya “

Mau Menipu, Malah Tertipu

Ketika pertama kali bibir saya dituntun untuk membaca dua kalimat syahadat, tak sedikit pun di hati terbit pengakuan akan keesaan Allah SWT. Tuhan yang saya sembah tetap Kristus. Antara mulut dan hati saya memang berlawanan. Ketika itu ikrar yang saya ucapkan tak meninggalkan bekas sedikit pun di dalam hati. Sebab, sesungguhnya saya memang tak berniat menjadi muallaf.

Saat itu, yang ada di benak saya bahwa saya akan menjadi seorang suami. Jadi, saya melakukan itu hanya sekadar untuk mengelabui, sekaligus memenuhi syarat sahnya pernikahan secara Islam. Tapi tak saya duga, apa yang terjadi kemudian sangat berbeda dengan yang saya rencanakan. Saya benar-benar menjadi seorang muslim.

Di “Kota Tape” Bondowoso, tepatnya di Kelurahan Kelabang, Kecamatan Kelabang, 23 km dari jantung kota, saya dilahirkan 28 tahun silam. Kami termasuk keluarga besar tujuh bersaudara. Saya sendiri anak yang kelima. Secara turuntemurun keluarga kami menganut agama Katolik. Kendati bukan pemeluk yang taat, tapi dalam hal-hal yang prinsip,ayah cukup tegas pada anak-anaknya. Setelah pensiun dari PLN, ayah semakin “takwa” dengan mengikuti kebaktian di gereja secara rutin.

Begitu tamat SMP, saya melanjutkan ke SMEA di Jember. Di sini saya tinggal bersama Pak De. Sejak menginjak kelas 2 SMEA, saya menjalin cinta dengan adik kelas, namanya Eka Hidayati. Dia beragama Islam. Semula, saya senantiasa dihantui kekhawatiran untuk berterus terang pada orang tua Eka. Eka pun saya minta untuk merahasiakan hubungan kami. Namun akhirnya terbongkar juga. Ayah Eka ternyata tidak keberatan saya memacari anaknya, asalkan saya bisa memberi jaminan bahwa kelak bila sudah sampai pada waktunya, saya harus bersedia masuk Islam. Ini tentu sebuah permintaan yang terlalu sulit untuk saya penuhi,bahkan mustahil.

Keluarga saya tentu tak akan rela bila saya pindah agama. Hal semacam ini juga pernah dialami salah satu kakak saya. Ayah marah besar. Bahkan beliau mengancam akan mengusir kakak bila dia sampai mengorbankan agama demi cintanya itu. Kakakku keder juga. Akhirnya, ia mengalah. Cintanya pun kandas.

Karena saya tak bisa menjamin akan memenuhi permintaan mereka, maka kami pun dilarang berhubungan lagi. Akan tetapi, saya tak kurang akal. Secara diam-diam, kami tetap berhubungan. Benang cinta yang kami rajut sudah begitu menyatu dan tak mudah untuk diurai. Tapi terus terang, perbedaan agama senantiasa menjadi beban dalam pikiran saya. Sebab, saya pikir, untuk apa sebuah percintaan dibina jika tak ada tujuan akhir yang jelas.

MASUK ISLAM DEMI CINTA

Akhirnya, hati saya luluh juga. Saya berjanji pada mereka bahwa nanti kalau akan menikah, saya pasti akan masuk Islam. Eka dan keluarganya gembira sekali mendengar janji saya itu. Kegembiraan yang mungkin akan menjadi racun buat mereka kelak, pikir saya. Sebab, janji saya itu hanya akal-akalan saja. Tidak mungkin saya pindah agama.

Dalam masalah ini saya sudah menyusun skenario, yaitu kelak jika Eka sudah resmi menjadi istri saya, secara perlahan saya akan kembali pada agama saya semula. Saya tak akan menceraikan istri saya, asalkan dia mau hidup bersama saya, meski berbeda agama. Syukur-syukur kalau dia bisa ikut agama saya. Tapi kalau tidak, tak apa-apa. Yang pasti, saya harus menjadi domba Kristus lagi.

Ketika pernikahan itu dilaksanakan, tanpa ragu saya membaca dua kalimat syahadat dan kemudian dilanjutkan dengan akad nikah. Resmi sudah saya menjadi suami Eka. Saat itu pertengahan Juni 1992. Rumah tangga yang saya jalani cukup harmonis. Sama sekali saya tak merasa asing di lingkungan keluarga istri saya itu, kendati saya seorang mualaf. Mertua saya begitu baik memperlakukan diri saya. Dalam beberapa kesempa tan saya bahkan diperkenalkan ke masyarakat, diajak ke pengajian, dengan harapan akan bisa cepat beradaptasi dan lebih mengerti tentang Islam. Walaupun hati saya memberontak, namun saya tak kuasa menolak kemauan mereka. Mereka terlalu baik kepada saya.

Perjalanan hidup kami semakin cerah. Setelah tamat di Akademi Perhotelan dan Pariwisata, saya diterima bekerja di sebuah departement store di kota Jember. Waktu pun terus berlalu mengisi hari-hari kami. Dua tahun sudah saya hidup berumah tangga. Niat saya semula yang ingin kembali ke Katolik setelah menikah, semakin terlupakan. Hati saya kian condong pada Islam.

Saya senang bergaul dengan teman dan tetangga yang kebanyakan muslim itu. Sementara itu, ayah terus-menerus menekan saya agar cepat “pulang kandang”. Jiwa saya diliputi kebingungan. Selama kurun waktu tersebut, agama yang saya anut tetap mendua: luarnya Islam, tapi dalamnya Katolik. Namun akhirnya, saya sadar bahwa kalau terus-menerus begini, hidup saya tak akan pernah sepi dari kebingungan dan kecamuk batin. Persoalan pun tak akan habis-habisnya. Karena itu, saya memutuskan untuk benar-benar menjadi muslim luar-dalam.

Maka, lima tahun setelah menikah, tepatnya 3 Deseibber 1997, untuk yang kedua kalinya saya dibaiat menjadi seorang muslim. Kali ini syahadat yang saya ucapkan sungguh membekas dalam hati. Jelas, apa yang saya alami ini adalah sebuah hidayah dari Allah SWT. Semula, niat saya ingin mengelabui umat Islam, tapi akhirnya justru saya yang “KO”. Mungkin ungkapan inilah yang pas buat saya, mau menipu, malah tertipu. Dan, dari situlah saya membuka jalan menuju keselamatan di dunia dan akhirat. Insya Allah.

Pustaka
Saya memilih Islam Oleh Abdul Kadir Zein

Tidak ada komentar:

Posting Komentar