Gelombang Fitnah dan Siksaan Fisik Menimpa Diriku
Semula tidak pernah terlintas dalam benakku akan menjadi orang Islam seperti saat ini. Kedamaian dan ketenteraman yang paling dalam justru aku dapatkan dalam agama yang semula aku benci dan tak pernah tersurat dalam garis keturunanku. Bagaimana tidak? Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang taat memeluk agama nashoro. Dusun Nyanyali Kelurahan Taniwal, Seram Barat, Ambon, tempatku lahir dan dibesarkan adalah sebuah desa yang hampir 100 persen penduduknya beragama nashoro. Kami semua aktivis yang taat.
Tanggal 13 Agustus 1956 menurut keterangan ayahku, aku lahir dari rahim seorang perempuan yang wajahnya hanya kukenal lewat foto-foto usang yang tertempel di dinding. Karena bersamaan dengan kelahiranku, ibuku langsung dipanggil menghadap Tuhan. Aku mempunyai empat kakak kandung, masing-masing Fiter Mahulette, Korlina Mahulette, Yohana Mahulette, dan Agus Mahulette. Menginjak balig, ayahku, A.M. Mahulette mengatakan bahwa ibu yang bernama Norto Aalaro NC sangat sayang padaku ketika aku masih dalam rahimnya. Saat-saat ayah bercerita tentang ibu, membuat hatiku pilu, oh nasib, mengapa hidupku tidak seperti teman-temanku yang pernah merasakan kehangatan dekapan seorang ibu. Tetes-tetes air mata kerinduan bertemu ibu tak tertahankan. Aku hanya bisa berdoa waktu itu, semoga ibu ada di surga.
Keadaan keluargaku memang akrab dengan keprihatinan, bukan saja karena aku terlahir yatim, melainkan juga kondisi ekonomi kami boleh dibilang pas-pasan. Maklumlah ayah yang hanya bermata pencaharian sebagai petani sagu itu, harus tampil sebagai bapak sekaligus ibu bagi kami. Itulah sebabnya pendidikan formalku hanya sampai kelas II SR Taniwel. Menginjak dewasa, baru kusadari betapa banyak hikmah dan keprihatinan yang telah menimpa diriku. Sejak kecil aku telah terlatih hidup mandiri. Tahun 1972 saat usiaku menginjak 16 tahun, aku menyeberang ke Jawa dan terdampar di Gresik Surabaya Jatim untuk mengadu nasib di PT Semen Gresik. Merasa tidak cocok, aku pergi ke Indramayu ikut PT Promik bekerja di pabrik terigu. Tahun 1980 aku pindah ke Jawa Tengah bagian selatan yang terkenal dengan pertaminanya, yakni Cilacap. Yang sampai sekarang menjadi tempatku berlabuh dan berteduh bersama keluargaku di Tambakreja Cilacap.
Panasnya kota Cilacap, justru membawa kesejukan dalam hatiku. Kedamaian dan ketenteraman sulit aku gambarkan dengan untaian kata-kata. Sebagian yang aku rasakan adalah kian hari, bulan dan tahun keteguhanku dalam memeluk Islam semakin kokoh, insya Allah. Tetapi, perjalananku hingga seperti ini tidaklah berjalan mulus. Perjalananku penuh liku dan bahaya, bahkan dengan tebusan nyawa. Gelombang fitnah dan cacian adalah makananku tiap hari saat keislamanku masih baru. Bahkan, sekali waktu aku harus mengalami babak belur dihajar teman-teman sesuku dan seagama nashoro. Dengan dalih yang dicari-cari, mereka mengatakan bahwa aku telah mencemarkan nama baik agama. Aku sempat terpukul, ketika keluargaku tidak menerima diriku setelah tahu aku menjadi muallaf. Alhamdulillah, sekarang semua sudah baik. Yang menjengkelkan adalah teman-teman seagama yang dulu sama-sama mengadakan kebaktian di rumah ibadah di Cilacap. Hingga tahun kemarin mereka masih sering mengundangku ke rumah ibadah mereka.
Awal kisahku mengenal Islam tidak dapat dipisahkan dan perkenalanku dengan seorang janda muda beranak satu bemama Maryati. Itu terjadi pada tahun 1981. Bagiku perempuan berambut pendek itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki perempuan lain. Karena tak sanggup membendung perasaan, aku katakan terus terang bahwa aku mencintainya. Aku tanyakan pula apakah mau menjadi istriku, mendampingi hidupku. Sebetulnya aku ragu menyatakannya. Aku takut kalau di tolak, mengingat penampilanku. Aku tidak ganteng, pendek, hitam, dan berambut kribo. Di luar dugaan, melalui musyawarah keluarganya, Maryati dari desa Jatilawang dan beragama Islam ini menerimanya. Aku senang sekali waktu itu. Tetapi aku tersentak kaget ketika Maryati mengajukan sebuah permintaan kepadaku. Dia menginginkan agar aku pindah agama, masuk Islam dan upacara pernikahan pun dila ksanakan secara Islam. Bagaimana mungkin aku melepas agama yang sudah mengakar ini. Aku bersikukuh tidak mau pindah agama. Walhasil, rencana perkawinan dengan perempuan pujaanku itu gagal seketika. Aku kembali merana, kesepian yang amat menyiksa sehingga membuat batinku terasa digoncang-goncang, bertengkar antara dua pilihan, pilih Maryati atau agama. Sebulan lamanya perasaan-perasaan itu menyiksaku. Membuat tidur tak nyenyak, makan pun tak enak. Saat sendiri sepulang kerja, pikiranku melayang dan berandai-andai. Andaikata aku sakit siapa yang merawat? Aku tidak punya siapa-siapa, keluarga dan saudaraku jauh, aku hidup sebatang kara di sini. Akibat pertanyaan-pertanyaan yang selalu menggeli tik dan mengganggu konsentrasi kerja, akhirnya aku tentukan pilihan kembali kepada Maryati meski aku harus melepas agamaku.
Tak lama kemudian upacara perkawinanku yang sederhana berlangsung di rumah orang tua Maryati. Tetapi dalam soal agama perasaanku masih mengambang, belum mantap. Sering aku menertawakan diriku sendiri, “telah kutukar agama dengan seorang perempuan”. Sebagai muslim yang taat, istriku selalu mengajariku tentang Islam. Ia menyuruhku segera melaksanakan shala t dan mengajariku membaca Al-Qur’an. Entah hambatan apa, rasanya pelajaran-pelajaran dari istriku itu sulit diterima. Setelah enam bulan belajar masih saja aku tidak bisa apa-apa. Akhirnya, aku bersilaturahmi kepada seorang tokoh Islam yang ada di Cilacap. Ia seorang kepala SMA Muhammadiyah Cilacap bernama Drs. Abdul Rasyid. Aku ceritakan perjalanan hidupku kepadanya. Pak Rasyid terharu mendengar ceritaku dan menyarankan untuk mendatangi Ustadz Sutiyo (alm), seorang guru SMP Islam, agar aku dapat lebih intensif belajar Al-Qur’an. Dengan ketekunan dan semangat belajar tinggi satu tahun kemudian aku sudah khatam membaca Al-Qur’an. Melalui silaturahmi dan bergaul dengan orang Islam yang aku anggap mumpuni (memadai), aku terus membekali diriku dengan keimanan, yakni memberikan bantuan kepada saudara-saudara seiman yang sedang membangun tempat ibadah. Aku tidak dapat memberikan bantuan berbentuk uang, sebab aku sendiri belum mampu untuk itu. Aku hanya bisa memberikan bantuan berupa tenaga, menenteng map, dan mendatangi saudara seiman yang mampu supaya memberikan bantuannya. Beberapa tahun kujalani tugas berat yang memberikan sebuah kenikmatan padaku, karena hanya itulah yang bisa kulakukan. Bukan berarti takabur, banyak sudah mushalla yang mendapat bantuanku. Ada dua mushalla, Al Qomariah dan Ar-Rahmah Tambakreja yang dari mulai pembangunan hingga diresmikan Bupati Cilacap, dananya berasal dari usahaku, hasil minta-minta itu. Aku juga ikut terlibat dalam pencarian dana pada pembangunan Pondok Pesantren terkenal, Al Ikhya Ulumaddin Kesugihan. Setahun lalu aku diundang Dewan Dakwah Islam Indonesia Jakarta bersama mantan Pastur Suparno yang sekarang menjadi dai untuk wawancara. Panggilan itu tidak dapat aku penuhi karena aku belum mendapat cuti dari perusahaanku. Ternyata Pak Parno mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji. Aku kaget, rupanya Tuhan belum menghendaki aku ziarah ke Tanah Suci. Tetapi aku berharap pada masa mendatang, mudah-mudahan aku bisa memenuhi panggilan itu.
Aku sangat bersyukur, karena dari segi ekonomi hidupku lebih baik dibanding tahun-tahun lalu. Aku juga mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu baik moril maupun materiil. Kini aku tinggal bersama istri dan ketiga anakku, Amal (11), Halimah (9), dan Muhammad Adam (6). Semoga Allah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada saudara-saudaraku yang lain.
Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar