Aku Ingin Seperti Mutiara di Hamparan Pasir
“… Seperti dalam sebuah dongeng, malam itu aku bermimpi bertemu dengan seorang kakek berjutbah putih, berjenggot panjang yang juga sudah memutih, dengan tongkat di tangannya berkata kepadaku,’Jika kamu ingin mendapat ketenangan dan keselamatan, masuklah ke dalam masjid itu,” kata sang kakek sambil menunjukkan sebuah masjid yang sangat megah dengan tongkat di tangannya. tepatnya pada tanggal 21 September 1989 aku resmi men jadi seorang muslim. Lebih bersuukur lagi kepada Allah SWT, ternyata setahun kemudian, tepatitya pada tanggal 7 November 1990 yang bertepatan dengan usia perkawinan ayah dan ibu yang ke-25, kedua orang tuaku dan keempat saudara-ku menyusul jejakku untuk memeluk Islam. Sebuah, anugerah ilahi yang tak ternilai dengan dunia dan seisinya.”
Sebenarnya tidak ada pengalaman menarik mengapa aku berpindah agama dari Nasrani (Kristen Protestan) kepada agama Islam. Itu semua semata-mata hanya sebuah hidayah yang Allah berikan kepadaku sebagai hamba-Nya. Selain lingkungan tempat tinggalku yang mayoritas muslim, ternyata rekan-rekan sekolahku pun sangat besar pengaruhnya terhadap keyakinanku, meskipun agama yang kuanut berbeda dengan mayoritas siswa di sekolahku. Pelajaran agama (Islam) di sekolahku selalu kuikuti dengan tekun, walaupun saat itu aku masih sebagai penganut agama Kristen (yang juga taat). Tepatnya, Jumat, 9 September 1989, tiba-tiba hatiku dilanda kegelisahan yang tidak menentu dan aku sendiri tidak tahu penyebabnya. Ketika itu aku hanya bisa berdoa (secara Kristen) agar aku diberi ketenangan dan ketenteraman jiwa. Tapi sayang, semakin hari kegelisahanku semakin menjadi dan selalu menghantui setiap gerak dan langkahku. Sampai pada akhirnya kuputuskan untuk berpuasa, karena walaupun keluargaku semua Kristen, namun selayaknya orang Jawa, tradisi dan kebiasaan puasa tetap kami laksanakan. Setelah sekian hari aku berpuasa, tiba-tiba saja pada suatu malam aku bermimpi kedatangan seorang kakek yang penuh kharisma tik. Kakek itu mengenakan jubah, berjenggot putih, dan membawa sebuah tongkat. Dalam mimpi itu si kakek berkata kepadaku, Jika kamu ingin mendapat ketenangan dan keselamatan masuklah ke dalam masjid itu, sambil tongkatnya menunjuk ke sebuah masjid megah. Aku terjaga seketika. Sambil memikirkan arti mimpi yang baru saja berlalu, aku lama merenung, untuk mencoba memikirkan dan mengharap satu jawaban pasti arti mimpi tersebut. Kontan, aku makin gelisah, karena aku memang tidak bisa menafsirkan mimpi. Tapi yang pasti, secara tiba-tiba hatiku mulai berubah terhadap keyakinanku selama ini. Secara tiba-tiba pula aku ingin shalat seperti beberapa temanku yang memeluk Islam. Keesokan harinya tepat hari Jumat, sesampainya aku di sekolah, aku sengaja menemui guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) dengan maksud ingin menceritakan mimpiku dan keinginanku memeluk Islam.
Bapak dan ibu guruku menanggapi serius dan menyambut keinginanku dengan baik. Namun beliau menyarankan agar aku meminta surat izin dari kedua orang tuaku, sebelum aku ikrar mengucapkan dua kalimat syahadat. Begitu jelasnya. berkat izin dan ridha dari Allah SWT, tanpa ada kesulitan, kedua orang tuaku merestui dan menyetujui aku menjadi muallaf. Dengan catatan, aku hares bisa menjadi anak yang saleh, beriman, dan tidak mempermalukan orang tua. Orang tuaku pun berwanti-wanti agar aku tidak mempermainkan agama. Setelah kuperoleh surat izin dari orang tuaku, paginya kuberikan kepada Bapak H. Juhaya, Kepala Sekolahku (SMA Pameungpeuk-Garut), untuk kemudian diteruskan ke Departemen Agama. Setelah mengalami beberapa proses serta atas kebijaksanaan pihak sekolah, akhirnya aku masuk Islam di Masjid Aping Pameungpeuk, tepatnya, tanggal 21 September 1989 dengan disaksikan oleh para pejabat kecamatan dan ulama setempat beserta sesepuh masyarakat sekitar Pameungpeuk. Sejak itulah aku resmi menjadi seorang muslim. Waktu terus bergulir begitu cepatnya, setahun sudah sejak aku mengucapkan dua kalimat syahadat, Allah menurunkan lagi hidayah yang insya Allah menerangi rumah keluargaku. Apa yang terjadi? Dengan proses dan cerita yang hampir sama, alhamduldlah, Allah membukakan pintu hati kedua orang tuaku dan keempat saudaraku untuk mengikuti jejakku meninggalkan Nasrani. Hari bahagia itu tercatat tepat bersamaan dengan hari ulang tahun ke-25 pernikahan kedua orang tuaku, tepatnya 7 November 1990. Alhamdulillah, akhirnya kedua orang tuaku dan keempat saudaraku mengucapkan dua kalimat syahadat yang pertama kalinya di Masjid Pameungpeuk, persis seperti yang kualami setahun sebelumnya. Sejak Januari 1991, setamat aku dan Politeknik ITB, aku melamar kerja dan diterima sebagai penyiar di radio Suara Terunajaya, satu-satunya stasiun radio di Pameungpeuk. Di sinilah aku banyak menimba ilmu pengalaman, sebab di tempat kerja ini aku berhubungan langsung dengan semua lapisan masyarakat yang cukup religius. Hasratku untuk menjadi seorang penyiar, bagiku cukup beralasan. Sebab, bagiku siaran radio termasuk dan akan terus menjadi media dakwah yang cukup efektif. Di samping tentu saja berawal dari kekagumanku kepada para budayawan dan seniman Sunda yang cukup berhasil dengan acara dongengnya. Saya kagum kepada mereka semua, karena dalam setiap kesempatan mereka mendongeng, mereka selalu menyisipkan petuah-petuah agama yang cukup berbobot. Terus terang, saya banyak mendapat dorongan dari beliau, baik moril maupun materiil. Salah satunya adalah Bapak H. Ahmad Sutisna (orang lebih mengenalnya dengan sebutan Uwa Kepoh) yang kini menjadi atasanku (Direktur Radio Suara Terunajaya).
Dengan saya menjadi penyiar, harapan saya tidak lain hanya ingin merealisasikan prinsip watawash-shaubilhaq wattawash-shaubisabr. Acara yang saya bawakan cukup relevan dengan prinsip hidup saya, yakni renungan Jumat. Acara ini saya pandu satu minggu sekali setiap Jumat mulai pukul 11.15 -12.00 WIB. Sasarannya semua kaum hawa, sebab pada jam-jam seperti ini kaum Adam sedang melaksanakan shalat Jumat. Misalnya, berkisar pada masalah-masalah keluarga menurut Islam seperti bagaimana menjadi istri yang salehah, mendidik anak, dan membina keluarga sakinah. walaupun saya sendiri belum menjadi seorang ibu rumah tangga, saya selalu berusaha untuk terus menggali dan membagi pengalaman dengan para pendengar terutama ibu-ibu dan para calon ibu. Aku ingin seperti mutiara di atas hamparan pasir, bagaimanapun kecilnya aku, lemah, dan memiliki keterbatasan, aku tetap ingin berharga, baik bagi keluarga, nusa, bangsa, maupun terutama bagi agamaku, Islam. Harapanku sekarang, semoga Allah SWT tetap dan akan selalu membimbing langkahku dan keluargaku untuk tetap istiqamah di jalan yang benar, jalan yang diridhaiNya.
Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar