Minggu, 07 Agustus 2011

Niat dan Ikhlas : Sebagai Peranan


Niat sebagai awal perbuatan

Sesungguhnya (sah atau tidaknya) amal seseorang itu bergantung pada niatnya dan setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkannya. (HR Bukhari)

Alkisah, ada seorang santri ingin sowan kiai sebagai rasa ta’dhimul (hormat) kepada kiai. Dalam benaknya, ia ingin memberikan sesuatu kepada sang kiai sebagai rasa katresnan. Namun, apa yang pantas untuk beliau? Di camping itu, ia juga tidak mempunyai apa-apa. Akhirnya, ia teringat kalau di belakang rumahnya ada beberapa pohon singkong, dicabutlah pohon itu oleh si santri. Kemudian, singkong itu ia bersihkan dan dibungkus dengan rapi.

Si santri pun berangkat sowan kiai dengan harapan bisa bertemu dengan beliau. Sampai di halaman pondok, ia termenung, ingat beberapa tahun silam. Dahulu, ia hidup di pondok bersama kiai, mengaji bersama, bersenda gurau, kerja bakti, dan mujahadah.

Setelah sampai di rumah kiai, ia mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum.” Namun, setelah salam ketiga baru terjawab oleh sang kiai. Ternyata, beliau baru saja selesai salat Dhuha.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” kata Pak Kiai dengan suara lembut dan di wajahnya terpancar gambaran ahli ilmu dan ibadah. la pun dipersilakan masuk.

Setelah bincang-bincang menanyakan kesehatan, keadaan, dan kegiatan keagamaan dirasa sudah cukup, akhirnya si santri matur, “Pak Kiai, saya mohon maaf dan tambah doa restu, mudah-mudahan saya menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi agama. Pak Kiai, ini ada sedikit singkong hasil dari tanaman sendiri.”

Pak Kiai merasa terkesan dan iba setelah mendengar dan melihat si santri, bukan karena harga singkongnya yang murah, tetapi niat silaturahim dan keikhlasannya untuk memberikan sesuatu kepadanya.

Kata Pak Kiai, “Matur nuwun, taruh saja singkong itu di dapur. Oh ya, di dapur ada seekor ayam, ambil saja dan peliharalah. Semoga bisa beranak-pinak,” doa Kiai. Kemudian, si santri mengambil ayam itu dan izin pulang.

Sesampai di tengah jalan, si santri bertemu dengan teman lamanya yang dulu sama-sama nyantri kepada Pak Kiai. Teman santri heran dan bertanya, “Kamu bawa ayam dari mana?”
Jawab santri, “Dari rumah Pak Kiai.”

Temannya bertanya lagi, “Kok kamu dikasih ayam oleh Kiai, apa yang kamu bawa ketika ke tempat Kiai?”
Jawab si santri, “Saya bawa singkong.”

Setelah bercakap-cakap sejenak, akhirnya mereka berpisah dan meneruskan perjalanan masing-masing. Dalam benak teman santri itu, ada rasa gelisah dan pikiran yang salah, “Dia tali sowan kepada Pak Kiai membawa singkong,pulangnya dikasih ayam. Kalau saya sowan kepada Pak Kiai membawa kambing, pasti dikasih sapi.”

Akhirnya, teman santri itu pun berniat silaturahim ke Pak Kiai dengan membawa seekor kambing gemuk, dengan harapan ketika pulang diganti dengan sapi oleh Pak Kiai. Setelah lama berbincang-bincang dengan Pak Kiai, akhirnya santri yang satu ini pamit, “Kiai, saya rasa sudah cukup, saya mohon izin pulang dan ini ada kambing buat Pak Kiai.”

Jawab Pak Kiai, “Nak, kalau kamu silaturahim, tidak perlu repot-repot membawa apa-apa karena silaturahim itu sendiri, kata Rasulullah saw. dapat memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki. Tapi terima kasih. Tolong kambing itu dibawa ke dapur. Oh ya, di dapur ada singkong. Kalau kamu mau singkong itu, kamu bawa pulang saja.”

Subhanallah, dua santri dengan dua hati yang berbeda: yang satu dengan niat baik dan ikhlas membawa singkong, kemudian pulang membawa ayam. Sedangkan, santri yang satunya mempunyai niat salah dan pamrih, akhirnya kambingnya diganti dengan singkong.

Sekelumit kisah di atas dapat diambil pelajaran. Siapa saja yang niatnya tidak ikhlas, jangankan di akhirat, di dunia saja mereka tidak akan mendapat balasan yang diharapkan. Sungguh besar kekuatan niat dan ikhlas dalam beramal saleh, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.

Dari Umar bin Khaththab r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amal seseorang itu bergantung pada niatnya dan setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrah itu diterima oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan, barangsiapa yang berhijrah karena keuntungan dunia yang dikejarnya atau karena perempuan yang akan dinikahinya maka hijrahnya itu pada apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Alangkah indahnya, dengan datangnya bulan Ramadan, semua hal dalam bulan ini yang diniati dengan baik dan ikhlas, mulai dari niat puasa, puasa itu sendiri, salat Tarawih, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya akan mencapai derajat takwa, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 183, “Wahai orang¬orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ramadan yang datangnya setahun sekali ini, jangan sampai kita tidak mendapatkan keberkahannya, hanya karena puasa ikut-ikutan tanpa niat ibadah yang jelas. Sebagaimana ada sebagian saudara kita non muslim di kampung-kampung itu kalau Ramadan ada yang ikut puasa.

Setiap perilaku dan amalan seorang mukmin harus jelas arah dan tujuannya, termasuk di dalam menghadapi Ramadan. Niat harus lurus dengan berkata, “Saya berniat berpuasa menjalankan kewajiban dengan ikhlas hanya karena Allah SWT.”

Ketika Ramadan datang, Rasulullah sering mengucapkan, “Selamat datang, ya Ramadan, ya al-muthahir !” Kemudian, para sahabat bertanya, “Siapakah al-muthahir itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Al-muthahir adalah bulan Ramadan, is menyucikan dari dosa-dosa dan maksiat.”

Kiat-Kiat Meluruskan Niat Puasa
1. Harus memahami makna, hikmah, dan tujuan puasa Ramadan. Allah SWT mengharapkan, dengan puasa yang baik dan benar, manusia akan terampuni semua kesalahan dan termasuk ke dalam golongan 1 orang-orang yang bertakwa.

2. Landasan berpuasa adalah keimanan, bukan ikut ikutan. Dari sana akan tampak hasil dari ibadah puasa, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sarong siapa berpuasa pada bulan Ramadan dengan keimanan dan kesabaran maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Menghindarkan diri dari perbuatan maksiat karena maksiat itu dapat menghancurkan niat. Banyak sekali remaja ketika berpuasa, untuk menghilangkan rasa lapar dan haus, mereka bermain game, melihat video porno, atau membaca komik sampai menjelang magrib. Jadi, niat puasa mereka tercoreng oleh hal-hal negatif, itu artinya “terpedaya

4. Memperbanyak amal saleh, seperti mendatangi majelis taklim, membaca Al-Qur’an, dan ikut kegiatan amalan Ramadan.

5. Tidak membiarkan waktu kosong untuk hal-hal yang tidak berguna. Semua waktu untuk tarbiyatul lslamiyah untuk mengingatkan niat berpuasa Ramadan adalah untuk mencari keberkahan dan ampunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar