Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah Swt. dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha untuk meluruskannya, tulang itu akan patah. Jika engkau membiarkannya, tulang itu tetap bengkok. Oleh karena itu, jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Kita melihat hadis ini menyoroti kelemahan alamiah perempuan. Dalam dirinya ada kebengkokan naluriah yang tidak bisa diluruskan oleh siapa pun. Namun, demikianlah tuntutan kebijaksanaan Allah Swt. sebagaimana termasuk kebijaksanaan-Nya Dia menjadikan laki-laki memiliki kemampuan untuk memelihara hal ini dengan membawanya pada pergaulan yang baik.
Imam Al-Ghazali—seperti dikutip dalam Al-Lulu’ wa Al-Marjan karya Muhammad Fu’ad Abdul-Baqi, h. 194— berkata, “Salah satu kewajiban suami terhadap istri adalah memperlakukannya dengan baik. Perlakuan baik kepadanya bukan hanya tidak menyakitinya, melainkan juga bersabar atas perilaku buruk, kelambanan, dan kemarahannya untuk meneladani Rasulullah Saw. Ketahuilah bahwa ada istri beliau yang mengejek beliau dengan mengulang perkataannya dan ada pula yang tidak memedulikan beliau hingga malam. Lebih dari itu, laki-laki dapat lebih bersabar atas perilaku buruk istri dengan humor yang bisa menyenangkan hatinya.”
LARANGAN BERSIKAP BURUK KEPADA WANITA
Rasulullah Saw. bersabda, “Aku ingatkan kepada kalian tentang hak dua orang yang lemah, yaitu anak yatim dan perempuan.” (HR Imam Ahmad, ibn Majah, dan Al-Hakim)
Hadis ini memperingatkan perlakuan buruk terhadap perempuan, sebagaimana terhadap anak yatim. Hadis ini juga mengumpamakan perempuan dengan orang yang lemah dan tertawan, serta menjelaskan bagaimana syariat Islam mengharamkan sikap aniaya kepada keduanya. Selain mengumpamakan perempuan dengan orang lemah yang tidak berdaya, Rasulullah Saw. juga mengumpamakan orang yang telah berumah tangga dengan orang yang tertawan. Beliau juga bersabda, “Janganlah mencari-cari alasan untuk menyakiti mereka.”
LARANGAN MENYAKITI ISTRI
Dari Ayyas bin ‘Abdullah bin Abu Dzubab: Rasulullah Saw. bersabda, ‘Janganlah memukul hamba (perempuan)Allah Swt.” Kemudian, ‘Umar bin Al-Khaththab mendatangi Rasulullah Saw. seraya berkata, “Kadang-kadang kaum perempuan berbuat durhaka kepada suami mereka. ‘Umar meminta keringanan agar dibolehkan memukul mereka. Namun, sejumlah perempuan mendatangi istri-istri Nabi Saw. dan mengadukan perlakuan suami mereka. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda, “Banyak perempuan menemui istri-istri Muhammad untuk mengadukan perlakuan suami mereka. suami-suami seperti itu bukanlah orang-orang terbaik.” (HR Abu Dawud, lbn Majah, Al-Darimi, lbn Hibban, dan Al-Hakim)
Ada kaitan erat antara keimanan dan akhlak yang baik. Semakin baik akhlak seseorang, keimanannya pun semakin sempurna. Semakin baik sikap seseorang kepada orang lain dengan menampakkan wajah berseri, tidak menyakiti, dan berbuat baik, keutamaannya pun semakin besar di sisi Allah Swt.
Kaitan seperti ini berpengaruh besar terhadap hubungan di antara anggota-anggota masyarakat, khususnya kasih sayang kepada perempuan ketika keimanan kaum laki-laki berkaitan dengan tingkat kebaikannya kepada istri mereka, di samping menunjukkan ketinggian akhlak mereka.
Beliau juga bersabda, “Hanya orang mulia yang memuliakan perempuan dan hanya orang tercela yang merendahkan mereka.” Dalil yang paling kuat terhadap hal ini adalah bahwa seruan ini ditujukan kepada kaum Muslim agar menggunakan hukum syariat dan akal sehat dalam menyelesaikan perselisihan dengan istri, bukan menggunakan perasaan.
Meskipun syariat membolehkan pemukulan kepada istri, hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa. Selain membolehkannya, syariat juga mencela orang yang melakukannya sebagai kebiasaan. Syariat juga menyebutkan bahwa orang yang tidak menggunakan cara tersebut sebagai orang yang paling baik.
Pustaka
100 Pesan Nabi untuk Wanita Oleh Badwi Mahmud Al-Syaikh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar