Masuk Islam karena Ingin Kekang Diri
Ajaran Islam terbukti ampuh dalam mengekang hawa nafsu yang mendorong manusia ke arah kebaikan. Apalagi bila memasuki suatu organisasi dakwah, iman dan Islam pun kian mantap.
Saya masuk agama Islam mulai tahun 1980. Keluarga saya merupakan penganut agama Budha layaknya sebagian masyarakat keturunan Tionghoa. Meskipun aku menganut suatu agama, namun kehidupan sehari-hari amat jauh dari nilai-nilai agama. Saya termasuk play boy kelas kakap yang terus menerus melakukan kemaksiatan. Pilihan saya untuk masuk Islam, merupakan suatu mukjizat dari Allah. Ibarat haji yang harus ada panggilan dari Allah maka saya juga masuk Islam karena ada panggilan dari-Nya. Saya termasuk dari keluarga miskin yang tidak mau menjadi miskin di dunia dan miskin pula di akhirat. Kalau itu terjadi, aku termasuk orang yang paling merugi, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Setelah saya masuk Islam, seperti umumnya kaum keturunan Tionghoa, saya tidak disetujui oleh keluarga, khususnya ayah dan ibu. Berbagai tekanan dilancarkan kepada saya, tetapi karena saya tetap ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam, orang tua mulai bisa melakukan tawar-menawar. Saya diizinkan masuk Islam oleh ayah, asalkan saya bisa melakukan pendekatan dengan penduduk lainnya sekaligus melebur di dalamnya. Saya yakin, dengan masuk Islam, proses pembauran akan relatif lebih mudah. Menurut saya, Islam merupakan solusi terbaik dalam memecahkan persoalan pembauran yang sampai saat ini masih terus diperbincangkan. Kalau sudah masuk Islam, tidak dikenal lagi perbedaan antara warga keturunan dan warga pribumi. Tidak ada lagi sekat-sekat yang bisa memisahkan antara warga yang berkulit putih dan bermata sipit dengan warga pribumi yang berkulit coklat dan bermata lebih lebar. Dalam Islam yang lebih utama adalah ketakwaan setiap orang, bukan penampilan bentuk fisik tubuhnya.
Bahkan, saya mempertanyakan istilah pribumi dan nonpribumi atau warga asli dan warga keturunan. Pribumi atau asli, menurut saya, berarti penduduk yang pertama kali menempati wilayah Indonesia ini, sedangkan yang lainnya adalah warga pendatang. Jadi, siapakah orang atau suku yang benar-benar bisa dianggap pribumi di Indonesia? Apakah Indonesia asli itu adalah dari suku Jawa, Sunda, atau sukusuku yang lainnya? Adapun ibu, bukan hanya mengizinkan, tetapi malah memberi modal untuk membuka usaha. Seperti warga-warga ketunan lainnya yang lebih banyak menggantungkan hidup dari dunia bisnis, maka dengan modal inilah saya memulai bisnis secara kecil-kecilan. Setelah berjalan bertahun-tahun, alhamdulillah lambat laun saya sudah mempunyai sebuah perusahaan induk (holding company) yang diberi nama “KITA Group”. Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam KITA Group adalah P.T. Kedawung Setia Industri, Ltd. Tbk. (perusahaan plastik), P.T. Kedawung Setia Corrugaed Carton Box. Ltd. (karton pembungkus), P.T. Kasih Sejahtera (Hotel Taman Regent’s Malang), P.T. Windu Utama Banjarmasin, Bank AMIN, P.T. BPIZ Anglomasi Indah, dan P.T. Kita Makmur Metal Industri Industrial, Ltd. (produk rumah tangga). Janganlah berburuk sangka terlebih dahulu, dengan tercantumnya nama Kedawung di beberapa perusahaan yang saya pimpin. Nama Kedawung tidak ada hubungannya dengan Probosutejo sebagai permilik dan pemimpin Group Kedawung. Mungkin hanya secara kebetulan bila kami menggunakan nama Kedawung.
Pengusaha keturunan juga sering diidentikkan dengan “kenakalannya” dalam berbisnis. Umumnya, ada anggapan yang beredar di kalangan masyarakat, kalau pengusaha keturunan hanya bisa mengeruk keuntungan dan tidak mau menanggung kerugian. Sehingga, ia akan menanamkan modalnya kalau situasi di Indonesia aman dan tenteram, tapi kalau situasinya kacau, pengusaha keturunan pun akan melarikan diri sekaligus melarikan modalnya. Insya Allah, saya bukanlah tipe pengusaha seperti itu. Saya seorang pengusaha muslim dan sudah merasa sebagai bagian tidak terpisahkan dari warga Indonesia lainnva. Tidak akan terlintas sedikit pun niat saya untuk melarikan modal ke luar negeri. Khusus pembinaan para muallaf warga keturunan, saya kira belumlah berjalan secara maksimal. Masih ada banyak ganjalan seperti belum padunya organisasi yang menaungi warga muslim keturunan Tionghoa. Di Indonesia ini, kita kenal ada organisasi semacam Pembinaan Iman Tauhid Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Lalu, ada Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) yang mempunyai cabang-cabang di sejumlah kota di Indonesia seperti Bandung, Cirebon, Yogyakarta, dan Surabaya. PITI juga mempunyai pengurus di tingkat provinsi yang dinamakan DPW. Mengapa warga muslim keturunan yang jumlahnya belum banyak ini tidak bisa bersaht?
Saya sendiri mau bergabung dengan PITI agar bisa mengekang diri dari perbuatan-perbuatan yang menjurus maksiat. Dengan masuk PITI, saya bisa bergaul dengan teman-teman sesama muslim keturunan sehingga bisa menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Saya pernah memimpin DPW PITI Jawa Timur selama sepuluh tahun mulai dari tahun 1986 s.d 1996. Sedangkan, saat ini saya hanya duduk sebagai dewan penasihat. Saya berusaha membina warga muslim keturunan yang jumlahnya 8.000 K.K. Janganlah hanya kita bisa mengislamkan warga keturunan Tionghoa saja, tapi tak mampu membina iman dan tauhidnya. Untuk pembinaan yang lebih efektif, alangkah lebih baiknya bila PITI dan YHKO bisa bergandengan tangan.
Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar