Minggu, 07 Agustus 2011

Maria Sri Sumarni

Saya Bahagia Setelah Masuk Islam

Cobaan demi cobaan menerpa diri saya, laksana kapal yang terdampar di tengah samudra luas tanpa batas, saya terombangambing dalam kehidupan dunia yang penuh glamour. Kini, saya temukan kebahagiaan yang pernah hilang. Mu tiara yang pernah saya cari bukan ada di lautan atau di padang pasir. Bukan pula terdapat di hutan belantara, bukan pula di tembok emas, melainkan ada di dalam nurani.

Mungkin pembaca sudah dapat mendeteksi siapa saya? Yang jelas nama saya pernah dibaptis bernama Maria Sri Sumarni, sedangkan nama udara (sewaktu masih menjadi penyiar radio Rosika sekarang Irama Adinada Surakarta: Maria Ardhy). Rasanya tidak utuh jika tidak saya awali dari nol. Di kota Solo, mungkin nama saya tidak asing. Maklumlah, saya memimpin kelompok Sanggar Shakuntala yang memproduksi sandiwara radio. Di sela-sela kesibukan, kadangkala muncul kesunyian. Ada perasaan tidak puas saat menganut agama yang lama. Saya bingung, benarkah agama ini cocok untuk saya? Waktu terus berlalu, seiring dengan lajunya umur serta kemajuan dan kegiatan usaha, saya terus dikendalikan waktu. Waktu yang seharusnya saya dapat kendalikan, justru berbalik mengendalikan saya. Apakah sudah ada kedamaian? Yah, saat ini sudah. Semenjak saya mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi muallaf, dansaya menemukan hakikat hidup dan kehidupan.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa harta dan begitu pula jiwa ini pun merupakan titipan atau amanah yang kesemuanya tidak ada yang abadi untuk bisa kita miliki seterusnya. Akan tetapi, waktu adalah seperti kontrak yang harus saya isi dengan berbagai lembaran aktivitas. Saya tetap terjun di organisasi IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) atau kegiatan sosial lainnya. Tidak jarang, saya pun ikut-ikutan menyelenggarakan kegiatan of air yang menguntungkan, seperti: Festival Rambut Panjang, Ketoprak Kolosal “Bedah Kartosuro”, dan kegiatan yang lain. Akan tetapi saat istirahat tiba, pikiran saya menerawang jauh. Saya sudah terkenal. Harta sudah melimpah. Suami setia. Anak pun sudah dewasa. Yang satu bernama Agung, satunya lagi bemarna Antok. Satu per satu tergambar ambisi dan prestasi yang telah saya raih. Ketika mendukung acara Bu Bei di Radio Rosika (sekarang Irama Adinada) nama saya menjadi kembang lambe ‘buah bibir’. Hampir semua orang gandrung dengan suara dan obrolan saya. Bukan hanya kalangan bawah, mahasiswa dan mahasiswi pun gandrung dengan opini humor saya. Bahkan, Walikota Solo, HR Hartomo pun sangat terkesima dengan obrolan Bu Bei dan Pak Bei. Lagi-lagi terselip bisikan suci dalam hati nurani, “Sampai kapan saya terkenal? Sampai kapan saya populer? Dunia ini fana. Tidak ada yang abadi, laksana roda pedati yang kadangkala di bawah dan kadang pula di atas. Saya mulai menyadari sepenuhnya sangkan paraning dumadi ‘asal dan berakhirnya kehidupan’. Di tengah malam saya bangun sendiri. Saya lihat bintang-bintang di angkasa yang penuh misteri. Menikmati denyut jantung ini berhenti, niscaya berhenti pula tugas sebagai sang makhluk. Saya akan menghadap Sang Khaliq.

Mendadak, darah saya berdesir dan sekejur tubuh bergetar. Timbul pertanyaan dalam diri, sudah siapkah saya menghadap Tuhan dengan bekal amal saleh yang masih sedikit? Dalam diam dan renungan diri, kadangkala muncul perasaan aneh, apakah agama yang saya anut sudah sesuai dengan hati nurani? Perasaan waswas muncul. Dalam kondisi semacam ini, suami saya, Drs. Sri Mulyono TA begitu sayang menuntun saya. Kami berdua bergandengan menuju satu titik cahaya perdamaian, yaitu cahaya Tuhan Allah Yang Maha Esa. Kebimbangan saya pun semakin memuncak pada tahun 1992. Berbulan-bulan saya seperti orang bingung. Bukan masalah uang, bukan pula masalah status sosial, melainkan pakaian jiwa yang masih saya cari. Setelah bertanya ke sana kemari, saya mulai menemukan referensi agama yang cocok.

Tiap kali ada tokoh spiritual yang saya kunjungi. Saya pun semakin mantap bahwa dunia ini sangat kecil. Dunia tidak berarti bila dibandingkan dengan kebesaran dan keagungan Allah, bila suatu hari saya menyempatkan diri mengikuti pengajian Kiai Mangli. Hal ini saya lakukan dalam rangka mengukuhkan iman dan pencarian identitas. Inikah hidayah dari Allah? Ternyata Tuhan memberi petunjuk kepada saya. Malam hari, saya seperti dibangunkan untuk shalat. Lho? Agama saya? Waktu itu saya masih non-Islam. Esok harinya, saya berkeinginan untuk menjalani puasa. Ya, benar-benar kekuatan dari Allah SWT. Lambat laun saya dan suami menemukan formulasi pakaian jiwa. Apakah itu? Islam. Islam agama saya, nabi serta rasulnya Muhammad saw.

Sejak itu saya semakin mantap. Titik kebahagiaan makin terang. Laksana mendapat rembulan di malam gelap gulita. Saya tersenyum dengan bibir basah penuh syukur “alhamdulillah” Saya dan suami sudah bahagia dalam naungan Islam. lnsya Allah, kami senantiasa seiring dan sejalan mencari ridhaNya. Yang menjadi harapan saya sekarang, adalah bisa selamat dunia dan akhirat. Kini, saya temukan kebahagiaan yang pernah hilang. Mutiara yang pernah saya cari bukan ada di lautan atau padang pasir. Bukan pula terdapat di hutan belantara, bukan pula di tembok emas, melainkan ada di dalam nurani. Jiwa ini saya penuhi dengan takbir, tasbih, dan tahmid. Maha Suci Allah yang telah memberikan hidayah. Semoga Allah memberikan pula kebahagiaan seisi rumah tangga saya yang ada di Panularan, Surakarta. Juga diberikan keselamatan dunia akhirat.

Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ

2 komentar:

  1. Alkhamdulillahirobbil aalamin...mbak maria ardhi salah satu pemain sandiwara radio kesukaan sy dulu petualangan kristal...yg jd Sabrina klo gak salah...sehat selalu flm lindungan Allah swt dan semuga istiqomah dlm pelukan iman islam...

    BalasHapus
  2. saya sejak lama nyari judul sandiwara radio BUKU BERDARAH, maria Ardi sebagai rangge mahluk entah berantah yang baik. cerita horor ini diputar jam 9 malam, ngerii sekali. ada yang juga seneng denger buku berdarah ?
    ceritanya ada sekelompok orang (kalau gak salah nama bintangnya kristal juga) mereka masuk ke dunia lain yang sedang kacau akibat awan merah yang membunuh setiap mahluk yang ditemui. setiap ada awan merah siapapun yang tidak sembunyi akan mati.....
    Saya tinggal di sumatra, penasaran banget karena waktu itu gak bisa rutin dengarkan seperti Babad tanah leluhur atau misteri gunung merapi yang banyak stasiun radio memutar. kalau sanggar sakuntala memang tidak se hits sanggar prativi. dalam artian tidak banyak stasiun yang menyiarkan sandiwara produksi sanggar sakuntala. kecuali di jogja dan solo dimana sandiwara bahasa jawa banyak diproduksi sanggar sakuntala...

    BalasHapus