Minggu, 07 Agustus 2011

Daniel Sihombing (Muhammad Rafli)

Karena Masuk Islam, Saya Kenyang Dibantai dan Diusir

Inilah sejarah besar dalam hidup saya. Sebelum masuk Islam, terus terang saya adalah bajingan tengik yang kerjanya menyengsarakan masyarakat. Mencuri, menodong, judi, berantem, minumminuman keras, main perempuan, adalah irama kehidupan saya. Kelakuan saya yang brutal itulah yang kerap mengantarkan saya ke penjara. Tujuh kali saya harus mendekam di balik terali besi. Akan tetapi, ternyata petualangan saya harus berakhir dengan Islam. Meski untuk itu, saya harus menebusnya dengan tebusan yang tidak ringan. Saya dibantai, nyawa terancam oleh keluarga, hingga puncaknya saya diusir dari rumah. Sekarang Cilacaplah tempat berlabuh saya hingga kini.

Ibu saya bernama Rosida Silaban dan Ayah bernama Alle Sihombing. Saya lahir 9 November 1972 di Desa Biaro, Kecamatan Biaro, Batu Sangkar, Padang, Sumatra Barat. Kami empat bersaudara. Tiga kakak dan satu adik. Masing-masing bernama Mangaan, Madin, Nur Salim, dan Mangatuk.

Keluarga saya sebetulnya keluarga yang taat pada agama, kecuali saya. Karena itulah, saya tumbuh menjadi anak berandalan yang oleh masyarakat dan bahkan teman-teman disebut “anjing”, pemimpin “geng”. Saya menjadi pimpinan “geng” bukan karena saya jagoan dan ampuh, melainkan karena saya sering memamerkan dan mengandalkan keluarga. Ayah seorang pensiunan militer di Tanitung, sedangkan seorang abang saya adalah anggota militer di Medan.
Karena perilaku saya yang berandalan itulah saya bolak balik masuk penjara. Pertama, Januari 1988 saya dihukum dua bulan penjara, karena menodong dan dapat 25 gram emas serta uang 350.000 rupiah. Kedua, November 1988 saya masuk penjara lagi karena menghamili perempuan dan tidak bertanggung jawab. Ketiga, Maret 1990 saya dipenjara selama tiga bulan karena mencuri kerbau seharga 350.000 rupiah. Keempat, 1990 dipenjara tujuh bulan karena memukul orang. Kelima, 1992 dipenjara satu tahun karena memukul orang juga. Keenam, 1992 dipenjara dua minggu karena judi dan minum-minuman keras. Dan yang ketujuh, dipenjara selama lima bulan karena memukul orang sampai cacat.

Di ruang penjara yang ketujuh itulah, pada malam Sabtu yang saya sendiri lupa tanggalnya, saya bermimpi bertemu kakek-kakek berpakaian putih dan berkata, “Tobatlah kamu, karena perbuatanmu itulah masyarakat menjadi sengsara.” Saya terbangun begitu orang tua itu menghilang. Saat itu jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Pagi harinya sekitar pukul 09.00 WIB ibu datang menjenguk ke penjara membawa nasi. Saya berpesan kepada ibu agar besok ketika besuk membawa Alkitab. Alkitab itu saya baca siang malam selama tiga bulan terus-menerus tidak puas-puasnya hingga masa penjara habis. Setelah saya bebas, saya hanya beristirahat di rumah satu minggu. Saat itu saya tidak bekerja apa-apa karena tubuh saya hancur digebuki. Selama seminggu saya berpikir ingin merantau ke daerah lain. Pergilah saya ke daerah Sumatra Barat, bekerja sebagai kondektur bus “Manila Indah”.

Sebagai laki-laki normal saya tertarik kepada seorang perempuan. Yanti namanya. Selama tiga bulan saya pacaran dengan menyembunyikan status agama saya, sebab dia Islam. Ketika Yanti pergi ke masjid untuk menunaikan shalat magrib disambung isya, saya menunggu di rumahnya. Selama menunggu saya memanfaatkan waktu dengan membaca-baca Injil yang saya sembunyikan di balik baju. Saat itu saya juga tertarik untuk membaca kitab suci Al-Qur’an terjemahan, milik Yanti. Dalam terjemahan Al-Qur’an itu, saya membaca sejarah Nabi Adam hingga Nabi Isa. Saya sangat terkejut ketika membaca sejarah Nabi Isa.
Dalam Islam ternyata dia bukan Tuhan, sedangkan yang disalib bukan Isa melainkan Yudas. Saya juga membaca terjemahan surah al-Ikhlash. Karena saya tak sanggup memecahkan sendiri masalah itu, saya tanyakan hal itu dari satu pendeta ke pendeta lain. Dan gereja satu ke gereja lainnya untuk memperoleh kejelasan. Namun, semua keterangan yang saya peroleh tidak ada yang memuaskan, bahkan membuat saya semakin ragu dengan kebenaran agama yang saya anut waktu itu. Akhirnya saya datang kepada ulama terkenal di Padang bernama Haji Muhammad Rabani, guna meminta penjelasan. Setelah puas mendengarkan penjelasan Pak Haji, saya mengemukakan niat ingin masuk Islam. Namun, Rabani meminta supaya saya minta izin dahulu pada orang tua. Setelah tiga bulan surat yang saya kirim ke orang tua tidak ada jawaban, saya pun lantas menjadi muallaf dan dikhitan di masjid dengan banyak saksi. Di antaranya Sapaner, M. Rabani, dan Dasae, perawat yang mengkhitan saya.

Setelah sembuh dari khitan, saya pulang ke rumah. Pukul 24.00 WIB (malam), saya baru sampai. Karuan saja ayah langsung marah dan menanyai tentang kepindahan agama itu.

Karena saya menjawab dengan mantap bahwa saya sudah beragama Islam, saya langsung diusir ayah sebelum bertemu ibu, padahal saya sangat rindu bertemu dengan ibu. Namun, apalah daya, tengah malam pukul 01.00 itu saya pergi meninggalkan rumah ke sebuah mushalla di Padang menempuh 35 km dengan berjalan kaki. Di mushalla inilah saya menangis sepuas-puasnya, betapa sakitnya hati saya menghadapi sikap ayah. Seusai menjalankan shalat subuh, rasa rindu pada ibu semakin menjadi-jadi. Akhirnya saya putuskan untuk kembali lagi ke rumah dengan berjalan kaki hanya untuk bertemu ibu. Pukul 08.00 saya sampai di rumah, saat ayah pergi ke sawah. Rindu saya terhadap ibu terasa terobati sudah. Saat ayah pulang dari sawah keributan terjadi lagi, untung ibu bisa melerai kami. Dengan kasih sayang seorang ibu, akhirnya ibu meminta kepada ayah supaya memberi kesempatan istirahat di rumah guna mempertimbangkan lebih lanjut.

Saya hanya sanggup bertahan setengah tahun di rumah. Dalam waktu setengah tahun inilah pembantaian demi pembantaian yang dilakukan keluarga kepada saya terus berlangsung. Bila saya ingin menjalankan shalat subuh, saya katakan pada ayah bahwa saya akan berolah raga, padahal saya akan shalat di ladang. Suatu ketika saya dibuntuti dari belakang. Persis saat sujud kepala saya dilempari batu oleh ayah. Alhamdulillah, saya masih dilindungi Allah. Batu besar yang dilemparkan itu hanya menyerempet kepala hingga tidak mengakibatkan luka. Demikian pula sikap kakak saya yang nomor dua. Karena ada di rumah, dia tahu apa yang saya lakukan. Saat saya menunaikan shalat zhuhur di kamar, persis rakaat terakhir ketika saya mengucapkan Allahu Akbar dia memukul punggung saya dengan kayu pohon kelapa sebesar lengan. Anehnya, saya tidak merasakan sakit, hanya baju dan celana robek. Saya diam saja tidak melakukan perlawanan. Waktu pun terus berlalu. Suatu ketika saat maghrib tiba, saya segera bergegas masuk kamar untuk menunaikan shalat
maghrib. Waktu itu ayah dan ibu belum pulang dari sawah. Ketika mereka pulang, masakan belum siap dan air baru mendidih. Karena bacaan saya keras, kakak langsung mengambil air yang sudah mendidih itu dan disiramkan ke sekujur tubuh saya. Selama tiga minggu saya tidak dapat berbuat apa-apa karena tubuh lecet dan melepuh karena air panas. Sampai sekarang bekasnya di tangan masih kentara. Tubuh dan tangan saya yang sakit itu tidak diobati kecuali diolesi minyak, sebab saya tidak mempunyai uang untuk membeli obat.

Saat lain, ketika saya tidur siang, kakak nomor dua datang lagi membawa pisau dan batang ubi. Saya mau dibunuh. Tapi sekali lagi, Allah masih melindungi saya. Pisau yang semula akan ditancapkan di tubuh saya menyangkut di jendela, saya segera lari keluar. Seperti kesetanan, kakak mengejar saya dengan pisau siap terhunus. Melihat kejadian itu, lagi-lagi ibu masih berusaha melerai sampai tangan ibu luka terkena pisau dan bajunya robek. Sambil menangis ibu mengatakan pada kakak, “Aku saja yang kau bunuh nak, jangan adikmu, Daniel.” Melihat hasil bujukan dan tindakan fisik tidak berhasil, keluarga mengubah rencana. Mereka akan mengawinkan saya dengan gadis Kristen bernama Eva. Ayah mengatakan kalau saya mau kawin dengan Eva dan kembali pada agama kami, saya akan diberi uang 1,5 juta, 200 ekor babi, dan harta serta emas calon istri. Akan tetapi, dengan tegas saya katakan, “Saya tidak mau kawin kecuali dia mau pindah ke Islam. Lebih baik saya miskin di dunia daripada harus masuk neraka.” Mendengar jawaban yang ketus itu, ayah dan kakak marah sekali. Kemudian ayah mengambil pisau dan kakak siap dengan pistolnya. Saya akan dibunuh bila masih mempertahankan Islam. Lagi-lagi ibu melerai, akhirnya saya pun diusir.

Bulan Mei 1994 setelah saya mengemasi pakaian, saya pamit dengan baik-baik. Dengan tidak berbekal uang sepeser pun, saya berani menyetop bus Antar Lintas Sumatra. Saya
ceritakan semua kejadian pada sopir. Sopir yang baik itu memperbolehkan saya menumpang sampai ke Jawa. Saya turun di Kebumen Jateng, sebab kakak yang nomor satu ada di sana. Saat turun, sopir itu masih memberi saya ongkos becak 5.000 rupiah. Tanpa menemui kesulitan saya berhasil menemukan rumah kakak. Oleh kakak, saya diberi pekerjaan sebagai satpam di sebuah proyek. Tidak saya katakan terus terang kejadian di rumah, tetapi surat ayah yang isinya meminta kakak mengembalikan saya pada agama leluhur hampir tiap hari datang. Bahkan, ayah mengatakan kalau tidak mau supaya diusir saja.

Dengan segala upaya kakak berusaha mengembalikan saya ke agama asal. Saya bahkan didukuni dan diancam tukang pukul sewaan kakak. Karena tidak berhasil, akhirnya saya diusir. Saya tidak tahu mau ke mana setelah diusir kakak. Akhirnya, saya datangi Haji Thohir dan meminta uang untuk bekal. Semula beliau melarang saya pergi, namun karena niat saya untuk pergi dari Kebumen sudah bulat, beliau memberi bekal nasihat dan uang 5.000 rupiah. Di jalan raya saya melihat bus “Amara” melintas. Saya stop tanpa tahu kemana tujuan bus itu. Setelah di atas, barulah saya tahu kalau bus itu menuju Cilacap. Tanpa pikir panjang saya memberikan ongkos. Akhirnya, sampailah saya di terminal Cilacap. Setelah makan di warung saya bertanya pada penjaga warung dan agen-agen bus di mana ada pekerjaan. Hasilnya nihil. Hingga berkat bantuan umat Islam di PPC (Pelabuhan Perikanan Cilacap) saya diantarkan ke Yayasan At-Thuba Jalan Kendeng no. 55 Cilacap yang hingga sekarang menjadi tempat tinggal saya.
Untuk memperdalam keimanan, saya mengikuti pesantren kilat yang diadakan oleh Pertamina dan Al-Irsyad. Entah, sampai kapan saya berada di tempat ini. Yang jelas saya sudah agak tenang dapat mengerjakan shalat dengan khusyu dan bisa menambah pengetahuan keagamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar