AUGILDA Nekke Mahola adalah nama saya, berasal dari suku Sangir di Kepulauan Sangir Talaud, Sulawesi Utara. Tapi, saya lahir dan dibesarkan di Abepura (Irian Jaya), 18 November 1960. Sebelum masuk Islam, saya beragama Kristen Protestan. Saya masuk Islam pada tahun 1978 dan yang mengislamkan saya adalah Ibu Hajjah Nur di Jayapura.
Ayah saya bernama Donat Mahole dan ibu bernama Dorce Pakade. Kedua orang tua saya beragama Kristen Protestan yang taat. Begitu Pula dengan saudara kandung saya yang berjumlah enam orang, semuanya taat dalam melaksanakan ajaran agamanya. Jadi, hanya saya sendirilah satu-satunya yang menganut agama Islam.
Sebelum masuk Islam, sebagaimana yang lainnya, saya juga rajin ikut kebaktian di Gereja Paulus di Dok V Jayapura. Bahkan, saya aktif dalam kegiatan gereja, termasuk kegiatan Pemuda-Pemudi Immanuel Jayapura. Ketika mendengar saya masuk Islam, keluarga saya agak terkejut. Namun, keluarga saya tidak terlalu menghiraukan. Sebab, di samping waktu itu saya sudah dianggap cukup dewasa untuk menentukan pilihan dan jalan hidup, juga yang namanya keyakinan beragama itu adalah urusan pribadi masing-masing. Tentu, hal ini tidak boleh dilarang. Dengan demikian, hubungan saya dengan keluarga, tetap baik-baik saja. Mereka tidak terlalu memmpermasalahkannya. Alhamdulillah sampai sekarang pun tetap demikian. Semuanya berjalan dengan baik.
Pada tanggal 10 Juni 1979, saya menikah dengan Suradi, pemuda keturunan Jawa-Bugis di Masjid Raya Jayapura. Walaupun waktu itu yang bertindak sebagai wali nikah adalah wali hakim dan bukan orang tua saya sendiri, tetapi saya betul-betul merasakan kebahagiaan tersendiri. Tahun 1986, saya mengikuti suami ke Sentani yang bekerja sebagai pegawai PT. Pos Indonesia. Selama di Sentani, saya sering mengikuti pengajian yang sifatnya hanya ikut-ikutan saja. Mengingat selama itu saya tidak pernah diajar mengaji, shalat, menghafal doa-doa, dan sebagainya hanya mendengarkan ceramah saja.
Alhamdulillah, tanggal 10 Juni 1999, saya mendapat petunjuk dari Allah SWT, sehingga bisa bergabung dengan Majelis Taklim Muhtadin. Senang sekali rasanya bisa bergabung dengan ibu-ibu dan bapak-bapak di Majelis Taklim Mualaf ini. Apalagi anggota pengajian semuanya adalah mualaf. Kini, di dalam kegiatan majelis taklim ini, saya bisa mengaji, shalat, dan menghafal doa-doa sehari-hari. Begitu pula, saya bisa berqasidah bersama-sama rekan-rekan mualaf.
Sekarang ini, saya benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam beribadah dan mempelajari serta mendalami Islam yang sebenarnya. Memang, Islam itu kalau bisa kita laksanakan dan kita amalkan dengan ikhlas, insya Allah kita betul-betul akan merasakan kenikmatan tersendiri. Terbukti, apa yang saya rasakan saat ini. Mudah-mudahan kenikmatan yang selama ini saya rasakan akan berlangsung sepanjang hayat masih di kandung badan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar