Kehancuran yang Membawa Hidayah
Setelah bisnisku ambruk, lalu aku berdoa kepada Tuhan, yakni tuhan yang kuyakini dalam agama sebelum aku masuk Islam. Lama sekali aku berdoa, tapi tidak ada perubahan, aku tetap tersungkur dalam kenestapaan. Aku sebut semua nama nabi yang pernah kudengar sejak Nabi Adam hingga Budha Gautama. Tiba tiba aku teringatnama Nabi Muhammad. Dan, entah mengapa nama itu mendorongku untuk mengingat sebuah ibadah bernama shalat.
Itulah awal perjalanan ketertarikanku untuk kemudian memeluk Islam. Puncaknya setelah menghadapi kegalauan yang panjang, cobaan yang tidak ringan, konflik dengan orang tua dan anak di Masjid Al-Hidayah, Surowijan, Tamansari, Yogyakarta, pada Februari 1992, aku mengikrarkan dua kalimat syahadat. Sejak peristiwa itulah aku resmi menjadi seorang muslim. Alhamdulillah, kini aku dipercaya menduduki jabatan sebagai Ketua PITI Kodya Yogyakarta, dari WNI keturunan Cina yang tinggal di Yogyakarta. Aku dilahirkan 10 Maret 1947 dari pasangan Kwik A Tjoi dan Gu Kwi Nio. Kedua orang tuaku berbeda agama, tapi bukan Islam. Oleh karena itu, bisa dibayangkan anak-anaknya harus memeluk agama apa? Namun, aku tidak begitu mempedulikan agama mereka.
Kadang aku ikut mama pergi ke Klenteng, kadang juga ke gereja ikut papa. Aku benar-benar belum mempunyai pendirian agama. Waktu terus berjalan, usiaku tentu bertambah kemudian berumah tangga dengan gadis pilihanku, penganut Kristen bernama Liang Lei Chian. Kalau ada keterangan yang mengatakan bahwa orang Cina itu pandai berdagang, sesungguhnya itu tidak benar seratus persen. Nyatanya rintisan karier bisnisku justru bermula diajari oleh orang Jawa bernama Bapak Adnan, yang kemudian beliau ini juga turut mengantarkanku menuju Islam.
Dengan susah payah aku merintis usaha demi mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarga. Berkat keuletan dan ketekunan serta bantuan dari teman-teman, usahaku tidak sia-sia hingga bisa mencapai hasil memuaskan. Bisnisku sukses. Roda kehidupan selalu berputar, begitu kata pepa tah. Demikian dengan bisnisku, setelah mencapai puncak kesuksesan dan hasil yang memuaskan, bisnisku mulai surut dan kemudian ambruk berantakan. Penyebabnya karena aku tertipu. Kehancuran itu nyaris pada taraf mengenaskan. Aku berusaba untuk tabah. Aku sadar bahwa hidup ini selalu menggelinding berputar bagaikan roda, seiring dengan berputarnya roda kehidupan ini. Dalam keadaan ekonomi hancur lebur, lantas timbul pertanyaan dalam diriku, siapa yang mau menolongku? Saudara, rasanya tidak mungkin. Keyakinanku hanya satu pada Tuhan. Oleh karena itu, meski aku jarang ke gereja, setiap hari aku tidak luput dari berdoa. Tapi semua doa yang kupanjatkan itu tidak membuahkan basil. Malah timbul perasaan jengkel dan frustrasi menghadapi permasalahan ini. Bagaimana tidak, bisnis hancur, sementara keluarga tetap memerlukan makan.
Kembali lagi aku panjatkan doa dengan kutambah menyebut nama-nama nabi yang pernah kudengar mulai dari Nabi Adam, Nuh, Musa, Ibrahim hingga Sang Budha Gautama. Tapi saat tiba-tiba aku mengingat nama Nabi Muhammad saw. yang mengingatkan aku pada suatu ibadah yang sering dilakukan umat Islam, yakni ibadah shalat. Aneh memang, karena ibadah.itu sebelumnya tidak pernah kupelajari. Bagaimana aku bisa mengerjakannya? Sekilas kubayangkan bagaimana orang Islam itu menjalankan shalat. Betapa sulitnya, belum lagi bagaimana bacaan-bacaannya.
Namun, bayangan akan kesulitan itu rupanya tidak bisa mengalahkan dorongan yang dahsyat itu. Akhirnya, aku nekad mengambil sarung yang bersih dari almari dan aku benar-benar mengerjakan shalat. Tentu tidak jelas apa yang kubaca saat itu. Aku hanya menirukan gerak shalat yang pernah kulihat sebelumnya dengan bacaan dalam hati. Yang jelas dalam gerakan-gerakan itu, aku lakukan dengan bahasaku sendiri, aku memohon petunjuk kepada Tuhan agar diberikan bimbingan dan keteduhan hingga aku bisa keluar dari kemelut itu. Ternyata ada sebuah keajaiban. Setelah aku mengerjakan shalat yang mungkin saja salah itu, seakan ada sebuah titik terang yang tergambar dari permasalahan hidup yang buntu itu. Lantas timbul pertanyaan dalam diriku, apakah ini yang namanya petunjuk? Wallahu a’lam. Tidak lama setelah itu, kegelisahanku hadir. Membayangkan bagaimana selanjutnya mengatakan hal itu kepada keluargaku dan bagaimana pula menghadapinya bila nanti ada pertentangan. Saat itu pula aku bayangkan betapa marahnya keluargaku karena aku telah menyimpang dari garis keturunan Kwik yang konon pemeluk Kristen yang taat. Aku betul-betul merasa hidup dalam persimpangan jalan, antara memilih panggilan nurani atau pertimbangan keluarga. Pikir punya pikir, lalu aku putuskan pindah rumah menjauh dari orang tua.
Tujuannya agar aku lebih leluasa dalam memenuhi panggilan nurani. Saya berpikir dengan pindah rumah, aku bisa lebih tenang menjalankan ibadah dalam agama pilihanku. Akhirnya, istri dan anak kuboyong ke sebuah rumah kontrakan baru, yakni di Kemetiran Kidul Yogyakarta. Di rumah baru ini, aku semakin leluasa mengikuti gelora hatiku. Yang lebih menggirangkan lagi adalah ketika keinginanku pindah agama ini, aku utarakan kepada istriku, ternyata ia tidak menentang, semuanya diserahkan kepadaku. Namun, kata orang bijak, jalan menuju kebaikan itu selalu ada saja hambatannya. Dalam kegirangan itu hadir tantangan dari rekan-rekanku yang telah mendengar dan mengetahui gelagatku. Mereka menakut-nakuti tentang beratnya menjadi orang Islam, seraya mempertanyakan kemampuanku. Masuk Islam itu berat, lho, harus shalat dengan bacaan yang sulit. Harus puasa sepanjang hari, juga mengerjakan ibadah sunnah, kata teman-temanku mencoba mempengaruhi pendirianku. Belum lagi kerikuhanku masuk masjid untuk pertama kali dan menyatakan masuk Islam. Dengan berusaha menepis semua tantangan itu, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri, dengan tekad yang bulat setelah mengenakan sarung aku pergi ke Masjid Al-Hidayah yang terletak di Kampung Surowijan, Tamansari, Yogyakarta. Di hadapan jamaah, pada bulan Februari 1992 aku nyatakan keislamanku dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Lantas namaku berganti menjadi Abdurahman. Tidak lama kemudian istriku tercinta mengikuti jejakku, masuk Islam, alhamdulillah.
Melihat aku dan istriku sudah masuk Islam, Andayani anak perempuan pertamaku berang. Ia menentang dengan keras sikapku pindah agama. Kian hari konflik dengan anakku kian menajam. Menghadapi sikap anakku ini, aku memilih mengalah, seraya terus berdoa semoga kelak dia dan keluarga yang lain diberikan hidayah. Aku yakin bahwa hidayah itu suatu hari pasti akan datang. Jeritan dan doaku, didengar Allah SWT. Pertentangan, konflik dengan anakku tak urung surut. Malah timbal sebuah keajaiban. Yang semula anakku membenci orang tuanya karena Islam, entah faktor apa, ia tiba-tiba memintaku diantar ke Jalan Malioboro ke sebuah toko busana muslimah. Ia meminta supaya dibelikan busana muslimah. Dari gelagat itu kebahagiaanku sebagai orang tua makin meluap, terharu yang tiada tara hingga tak terasa pipiku basah dengan air mata. Rupanya sinar hidayah mulai datang padanya, gumamku. Setelah saya pindah dan membangun rumah di Glagah Sari Nomor 34, sejarah baru dalam keluargaku kembali terukir. Andayani anakku masuk Islam. Alhamdulillah, hatiku bersorak girang.
Kali ini aku memohon Prof. Dr. Mukti Ali sebagai sesepuh PITI untuk bersedia mengislamkan anakku. Di rumahku, Pak Mukti Ali membimbing anakku membaca dua kalimat syahadat, sekaligus memberi bekal awal. Saat itu kegembiraanku meluap penuh rasa syukur. Hingga tidak terasa aku meneteskan air mata yang keharuan dan kebahagiaan. Berkalikali kuucapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Demikianlah udara kebahagiaan telah mulai mengembus dalam kehidupan keluargaku. Namun yang menjadi keprihatinanku adalah kedua orang tuaku. Mereka tampaknya masih jauh dengan agama Allah ini, hingga akhir hayatnya. Pengalaman pahit yang sulit kulupakan ketika ayahku meninggal. Menurutku, hal wajar bila orang tua meninggal, anaknya berkunjung untuk menjenguk. Tapi ketika aku mau mendekati jenazahnya, baik saat di rumah sakit maupun di rumah, aku tidak diperkenankan mendekatinya. Di rumah sakit perawat dan dokter mencegat dan melarangku mendekati jenazah ayah.
Demikian pula saat di rumah. Maksudnya agar aku tidak mengislamkan ayahku, katanya. Lho, bagaimana mumgkin orang yang sudah mati kok diislamkan, kataku. Ini adalah hal yang lucu. Ayahnya sendiri yang mati, mendekati saja tidak boleh gara-gara perbedaan agama. Saya sadar sepenuhnya bahwa keimanan seseorang bisa habis terkikis bila tidak dipelihara. Oleh karena ihi, guna mempertebal keimanan, selain menimba ilmu dari Para tokoh Islam dan teman sepergaulan, saya juga membaca buku-buku tentang Islam dan rajin mengikuti pengajian termasuk ceramah di televisi. Namun, bila ada hal-hal yang kurang jelas tentang Islam, saya tidak malu-malu menanyakan pada orang yang kuanggap lebih menguasainya. Kerap kali sehabis shalat Jumat, aku menunggu khatib keluar dari masjid untuk berdiskusi sejenak tentang Islam. Dengan demikian, pengetahuan dan wawasanku tentang Islam, insya Allah akan terus bertambah. Karena dakwah merupakan kewajiban setiap muslim, apa yang kuperoleh itu kuusahakan untuk kusampaikan pula pada orang lain dengan caraku sendiri. Terutama pada kawan-kawan di lingkungan keturunan Cina. Kepada mereka, saya berupaya mengadakan pendekatan dan sedikit demi sedikit kujelaskan tentang sejarah Islam di Cina.
Aku tunjukkan bahwa sesungguhnya agama nenek moyang orang Cina itu adalah Islam, bukan Kristen. Dengan menunjukkan fakta sejarah yang sulit dibantah ini rasanya banyak warga Cina yang kudekati bersimpati. Beberapa di antaranya ada yang sudah mengikuti jejakku dan aktif ke pengajian. Tanpa bermaksud riya, insya Allah dalam segala kesempatan aku gunakan untuk berdakwah. Termasuk dalam perguruan karate “Kyokushinkal” yang aku pimpin di komplek rumahku. Kurang lebih ada 200-an anak belajar karate di rumahku. Dari situlah aku berusaha menanamkan nilai-nilai Islam pada murid-muridku. Kalau kemudian aku menjabat sebagai Ketua PITI Kodya Yogyakarta, ini aku anggap sebagai sebuah amanah yang harus aku laksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab kepada-Nya. Terakhir, aku pesan kepada para muallaf, baik yang bergabung dalam PITT maupun yang ada di luar PITT, hendaknya rajin-rajinlah belajar tentang Islam. Bangkitkan kemauan untuk mau memperluas pergaulan dengan tokoh-tokoh muslim yang berwawasan luas. Bagi yang sudah Islam sejak lahir jangan buru-buru mencurigai seorang Cina yang Muallaf. Sikap kecurigaan itu terus terang saja bisa membuat bingung mereka yang akan masuk Islam. Janganlah orang yang masuk Islam malah dicurigai, tidak masuk Islam lantas dimusuhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar