Minggu, 07 Agustus 2011

Halimah Al Sa’diyah

Dalam tradisi Arab jahiliah, menyusu kepada selain ibu kandung dan tinggal di daerah pedalaman Badui merupakan salah satu tanda kemuliaan dan status sosial. Hal ini dimaksudkan agar anak mendapat asupan makanan yang bergizi untuk perkembangan otaknya dan mengalami masa remaja yang menyenangkan.

Pada suatu hari, Halimah dan beberapa perempuan dari Bani Sa’ad datang ke Makkah untuk mencari anak-anak yang akan disusuinya. Setiap perempuan mendapat satu orang anak susuan kecuali Halimah. Halimah bercerita, “Tidak seorang perempuan pun di antara kami kecuali ketika ia diserahi bayi Muhammad Saw., ia enggan menerimanya, apalagi setelah diketahui bayi itu terlahir sebagai yatim. Ketika kami beranjak meninggalkannya, kami berkata, ‘Apa yang akan dilakukan ibu bayi ini jika kami mengambilnya? Padahal, kami berharap agar bisa dikenal oleh ayah dari bayi tersebut. Sementara apa yang akan diperbuat oleh ibu bayi ini?’ Demi Allah, semua temanku telah mendapat seorang anak susuan kecuali aku. Ketika aku tidak mendapat seorang pun anak susuan selain bayi Muhammad ini, kami pun sepakat untuk segera pulang. Aku berkata kepada suamiku, Al-Harits ibn Abdul ‘Uzza, ‘Demi Allah, aku tidak suka jika pulang nanti tidak membawa seorang pun anak susuan. Karena itu, aku memutuskan untuk mengambil anak yatim itu.’ Lalu suaminya menjawab, ‘Ya, engkau harus mengambilnya. Semoga Allah menganugerahkan berkah-Nya kepada kita lantaran anak ini.’ Lalu, aku pergi dan mengambilnya. Demi Allah, aku benar-benar terpaksa mengambilnya karena tidak ada seorang pun anak susuan selain dia.

Setelah mengambil anak itu, aku pun membawanya pulang. Di tengah perjalanan, aku menyusuinya sehingga ia bisa minum sampai kenyang. Aku juga menyusui anak kandungku hingga kenyang. Di lain pihak, suamiku mengambil seekor unta yang penuh dengan susu, kemudian dia memerasnya sehingga kami bisa minum sampai kenyang. Lalu kami beristirahat dan tidur dengan nyaman. Pagi harinya, suamiku berkata, ‘Wahai Halimah, demi Allah, aku melihatmu telah mengambil jiwa yang penuh berkah. Apakah kamu tidak melihat, kita tidak pernah bisa beristirahat dengan nyaman dan penuh berkah sebelumnya, hingga kita mengambil bayi ini’, dan Allah tidak henti-hentinya menambahkan berkah-Nya kepada kita?’

Kemudian kami pulang ke rumah kami. Demi Allah, aku memacu untaku dengan cepat hingga melampaui unta-unta lain, yang membuat teman-temanku berkata, ‘Celaka engkau, wahai anak Abi Dzu’aib! Apakah ini unta yang dulu engkau naiki bersama kami?’ Aku pun menjawab, ‘Benar, inilah unta yang engkau maksud itu.’ Mereka lalu berkata, ‘Demi Allah, unta ini dalam keadaan baik.’

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, sampailah kami di wilayah Bani Sa’ad. Aku tidak tahu tanah Allah manakah yang lebih gersang daripada tanah Bani Sa’ad. Biasanya, aku menggembalakan kambingku pada pagi hari dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang dan penuh dengan air susu sehingga kami bisa memeras susunya sesuka kami. Sementara orang-orang di sekitar kami hanya dapat memeras beberapa tetes air susu dari kambingnya. Jika pulang pada sore hari, kambing-kambing mereka masih dalam keadaan lapar sehingga tak ada setetes pun air susu. Kami benar-benar merasakan berkah Allah yang selalu tercurah kepada kami.

Dua tahun berselang
Muhammad Saw. tumbuh menjadi remaja yang tidak sama dengan anak-anak seusianya. Tidak sampai dua tahun sampai dia menjadi anak yang kuat, kami pun menyerahkan dia kepada ibunya. Kami melihat pada dirinya tersimpan sejuta berkah yang dititipkan oleh Allah kepadanya. Dan ketika aku bertemu ibunya, aku berkata kepadanya, ‘Biarkanlah kami membawa pulang anak ini lagi pada tahun ini, karena kami khawatir anak ini terkena wabah yang melanda Makkah.’ Demi Allah, kami masih bersama ibunya sampai dia berkata, `Ya’. Lalu dia menyerahkannya kepada kami sehingga kami mengasuhnya lagi sampai dua atau tiga bulan.

Suatu hari, ketika anak itu sedang bermain bersama saudara sesusunya di belakang rumah kami, dia pun pergi menyendiri dari kami. Tiba-tiba saudaranya datang tergesa-gesa sambil berkata, ‘Di sana saudaraku didatangi dua orang laki-laki yang berpakaian putih, kemudian kedua orang itu membaringkan saudaraku dan membelah perutnya’ Mendengar perkataannya itu, aku dan ayahnya merasa terkejut. Kemudian, kami bergegas mendatanginya dan menemukannya sedang berdiri dalam keadaan kusut. Ayahnya memeluknya seraya berkata, ‘Wahai Anakku, bagaimana keadaanmu?’ Lalu dia menjawab, ‘Dua orang lakilaki berpakaian putih mendatangiku, lalu mereka membaringkanku dan membelah perutku. Mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam perutku dan membuangnya. Setelah selesai, mereka mengembalikannya seperti keadaan semula’ Kemudian, kami membawanya pulang ke rumah.

Setibanya di sana, suamiku berkata, ‘Wahai Halimah, aku takut akan terjadi sesuatu terhadap anakku. Lebih baik kita kembalikan dia kepada keluarganya sebelum terjadi sesuatu yang kita takutkan.’ Lalu, kami membawanya pergi untuk menemui ibunya. Sesampainya di Kota Makkah dan menemui Aminah, kami benar-benar melihat binar-binar ketakjuban pada wajahnya. Aminah pun bertanya, `Mengapa kalian berdua mengembalikannya? Bukankah kalian berdua adalah pelindung baginya?’
Lalu kami menjawab, `Tidak, demi Allah, kami telah memutuskan apa yang terbaik bagi kami. Kami takut mengalami kerugian dan bahaya. Karena itu, kami kembalikan anak ini kepadamu’ Aminah kembali bertanya, ‘Apa yang terjadi pada kalian?’ Dia terus mendesak kami agar memberitahukan tentang kabar anaknya. Lalu dia bertanya lagi, ‘Apakah kalian takut godaan setan kepadanya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, setan tidak pernah mampu mengganggunya.’ Aminah berkata lagi, ‘Demi Allah, beginilah keadaan anakku sekarang. Maukah kalian mengetahui keadaannya sewaktu pertama kali dilahirkan?’ Kami menjawab, `Ya.’ Dia pun mulai bercerita, ‘Pada saat aku mengandungnya, aku pernah bermimpi, dan dalam mimpi itu aku diperlihatkan seakan-akan dari perutku keluar cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam. Dan ketika lahir, dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dialami anak yang baru lahir: mengangkat tangan dan menengadahkan kepalanya ke atas langit.’”

Terdapat perbedaan antara Halimah dan anak susuannya yang agung. Keistimewaan masa kanak-kanak yang dijalani Rasulullah Saw. yang berkaitan dengan segala sesuatu, bentuk-bentuk, dan berbagai peristiwa merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi. Dia tinggal di wilayah dan tempat tinggal Bani Sa’ad. Sejarah tentang masa kecil dari kehidupan Muhammad Saw. banyak dibicarakan pada saat-saat terakhir dari kehidupan Rasulullah Saw. yang mulia. Halimah banyak meriwayatkan sejarah tentang Muhammad Saw., dan darinya pula para sahabat meriwayatkan tentang perjalanan hidup beliau.

Pada waktu terjadi Perang Hunain di suatu tempat yang bernama Hawazin, Rasulullah Saw. memperoleh banyak harta dan tawanan dari pihak musuh. Utusan dari Hawazin yang telah masuk Islam menemui Rasulullah Saw. di daerah Ji`ranah, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami adalah penduduk suatu kabilah. Sungguh kami telah ditimpa cobaan yang tidak menakutkan bagimu. Berilah kami anugerah Allah yang telah dikaruniakan kepadamu.” Di antara para tawanan itu terdapat saudara perempuan beliau yang bernama Al-Syaima’. Dia mendatangi Rasulullah Saw. untuk meminta belas kasihnya, dan menuturkan masa kecilnya bersama Rasulullah Saw. Lalu, Rasulullah Saw. pun melebarkan selendangnya dan mempersilakan saudaranya itu untuk duduk di samping dirinya.

Juru bicara kaum itu yang bernama Zuhair ibn Shard berkata, “Wahai Rasulullah, di antara para tawanan itu terdapat wanita-wanita yang pernah menyusuimu dan merawatmu. Seandainya kami menyusui Ibn Abi Syamr atau Al-Nu’man ibn Al-Mundzir, kemudian kami memperoleh dari mereka berdua seperti apa yang kami peroleh darimu, maka kami pasti mengharapkan kebaikan dan belas kasihan dari mereka. Sungguh engkau (Rasulullah) adalah sebaik-baik orang yang diasuh. Ada pepatah yang selalu dikumandangkan:

‘Anugerahilah para wanita yang dulu engkau pernah menyusu kepadanya
Karena mulutmu akan terpenuhi oleh mutiara-mutiara disebabkan kemurnian hatinya
Anugerahilah para wanita yang dulu engkau pernah menyusu kepadanya
Karena engkau akan dihiasi dengan sesuatu yang ia datangkan dan ia tinggalkan
Janganlah engkau benar-benar menjadikan kami bagaikan orang yang mati
Mout mengalahkan kami, sedangkan kami adalah sekumpulan yang bercahaya
Sungguh kami benar-benar bersyukur atas semua kebaikan meski hilang lebur
Dan kami setelah hari ini hanyalah orang yang hina.”

Rasulullah pun berkata kepada Zuhair, “Sesuatu yang ada padaku dan pada Bani Abdul Muththalib, semua itu kepunyaan Allah dan kepunyaan kalian.” Kemudian, orang-orang Anshar berkata, “Segala sesuatu yang ada pada kami adalah kepunyaan Allah dan Rasul-Nya.” Hari itu benar-benar hari penepatan janji dan kebaikan, sedangkan kedudukan itu adalah kedudukan Rasulullah.
Muhammad Saw. pun kembali ke pelukan ibunya, dan berada dalam perawatan kakeknya. Beliau tumbuh menjadi anak yang bersinar wajahnya. Dalam setiap raut wajahnya terpancar keagungan dan keelokan, dalam hatinya terdapat tanda-tanda petunjuk dan keutamaan, dan dari lisannya muncul kelembutan dan kesegaran. Allah telah menjadikannya sesuai dengan kapasitasnya dan mendidiknya.

Aminah menghabiskan hari-harinya dengan merawat beliau dan melindunginya. Aminah merasakan sesuatu yang pernah dia rasakan saat kehamilannya dahulu, berupa sentuhan aneh yang menjalar pada dirinya, sedangkan dia tidak tahu hakikat sentuhan tersebut. Adapun kakeknya, Abdul Muththalib merupakan seorang pembesar suku Quraisy. Dia tak kuat berpisah dengan cucunya dan tidak pernah puas untuk memandangnya. Dia biasa mendatangi cucunya di rumah Aminah pada siang maupun sore hari, bahkan pada setiap waktu. Dia selalu bertanya kepada Aminah, “Bagaimana keadaan Muhammad?” Kemudian dia memeluk dan menciuminya sampai puas. Dia melihat pada diri cucunya terdapat gambaran anaknya, Abdullah ibn Abdul Muththalib yang wafat ketika masih dalam masa pengantin, sehingga dia dihinggapi kesedihan luar biasa. Dia melihat pada diri Muhammad khayalankhayalan yang tidak biasa dan tidak terkendali yang membuatnya semakin menunjukkan kasih sayang, kedekatan, dan kecintaan kepadanya.

Pada waktu usia Muhammad Saw. menginjak enam tahun, Aminah meminta izin kepada Abdul Muththalib untuk pergi ke Kota Yatsrib bersama anaknya untuk mengunjungi pusara Abdullah. Di sana dia akan tinggal di rumah paman-pamannya dari Bani Najjar. Abdul Muththalib pun mengizinkannya dan mengingatkannya untuk selalu menjaga dirinya dengan baik.

Aminah pergi bersama Muhammad Saw. disertai oleh pembantu perempuannya yang bernatna Barkah. Dia bertugas membantu Aminah dan merawat anaknya. Muhammad Saw. sangat dekat dengan Barkah dan mencintainya serta menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya.

Di antara tempat-tempat yang paling membuat Aminah merasa sangat pedih dan sedih adalah ketika berkunjung ke Yatsrib, tempat dikuburnya sang suami tercinta, Abdullah. Di sana, dia selalu mencucurkan air matanya dan mengembuskan napas yang penuh keluh kesah, bahkan hampir-hampir menyebabkan napasnya putus. Muhammad Saw. berada di sampingnya sambil mencucurkan butir-butir air mata bagaikan mutiara-mutiara yang membasahi kedua pahanya yang mulia sebagai bentuk kasih sayang terhadap ibunya dan kasih sayang terhadap ayahnya yang tak pernah dilihatnya. Terasa kemudian panasnya Kota Yatsrib benar-benar menyerang Aminah sehingga menyebabkan dirinya jatuh sakit. Dia merasakan demam di tengah perjalanan pulang ke Makkah. Keadaannya semakin lama semakin parah, sampai kemudian saat tiba di daerah yang bernama Abwa’, dia sakit keras dan mengembuskan napas terakhirnya di sana. Muhammad Saw. menangis tersedu-sedu.

Bahkan, para malaikat di langit menjadi gaduh demi mendengar tangisan dan kesedihan Muhammad Saw. karena kehilangan kedua orangtuanya. Peristiwa ini terjadi saat Muhammad Saw. masih dalam usia kanak-kanak. Sungguh, peristiwa itu memiliki pengaruh yang besar dan berbekas terhadap jiwa. Setelah kejadian itu, Muhammad kecil ini dibawa pulang oleh perempuan muda yang hanya lebih tua beberapa tahun darinya. Perempuan ini adalah Barkah, seorang budak perempuan milik kedua orangtuanya.

Pustaka
Perempuan Mulia disekitar Rasulullah SAW Oleh Muhammad Ali Quthb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar