Minggu, 07 Agustus 2011

Barkah ( Ummu Aiman )

Muhammad Saw. bersabda, “Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibu kandungku.”

Barkah kembali bersama Muhammad Saw. ke Kota Makkah menuju rumah Abdul Muththalib. Dengan segenap cinta dan kasih sayang, Barkah merawat Muhammad Saw. Barkah mengurusi dan menyiapkan segala keperluannya. Betapa pun anak seusia Muhammad telah mempunyai kesadaran, kemampuan, dan keteguhan jiwa, dia masih tetap memerlukan seseorang yang mau merawatnya. Dan Abdul Muththalib, sesuai dengan janjinya, melimpahkan segenap cinta dan kasih sayangnya yang tak terkira kepada Muhammad Saw., khususnya setelah dia banyak mendengar dari sana-sini, baik berupa perkataan, keanehan-keanehan, dan isyarat-isyarat, semuanya membicarakan urusan besar dan kabar agung yang berkaitan dengan masa depan Muhammad Saw.

Suatu ketika sekelompok orang dari Bani Madlaj pernah berkata kepada Abdul Muththalib, “Jagalah dia (Muhammad Saw.), karena kami belum pernah melihat telapak kaki yang menyerupai telapak kaki yang ada di makam Ibrahim a.s., kecuali telapak kaki anak ini.” Kemudian Abdul Muththalib menoleh kepada anaknya, Abu Thalib, dan berkata, “Dengarlah apa yang mereka katakan.” Sejak saat itu, Abdul Muththalib menyerahkan pengasuhan Muhammad Saw. kepadanya.

Muhammad Saw. adalah anak yang kuat. Dia biasa mendatangi majelis kakeknya di sekitar Ka`bah. Kakeknya biasa meletakkan kasur di bawah naungan Ka’bah, lalu anak-anaknya duduk di sekitar kasur tersebut sampai Abdul Muththalib datang. Tidak seorang pun dari anak-anaknya yang berani menduduki kasur tersebut sebagai bentuk memuliakan, mengagungkan, dan menghormati kedudukannya. Pada suatu saat, Muhammad Saw. datang dan langsung duduk di atas kasur tersebut, maka paman-pamannya berusaha untuk memindahkannya dari tempat tersebut. Melihat hal itu, Abdul Muththalib berkata, “Biarkan dia di situ! Demi Allah, sungguh dia memiliki keistimewaan.” Lalu, Abdul Muththalib mendudukkannya di atas kasur di samping dirinya, mengusap punggungnya, dan dia merasa selalu gembira melihat tingkah laku yang diperlihatkan oleh Muhammad Saw. Biasanya dia tidak akan makan, kecuali berkata, “Biarkan jatahku diambil oleh cucuku.”

Abdul Muththalib merawat cucunya yang yatim dan agung tersebut tidak dalam waktu yang lama, khususnya dalam hal-hal yang berhubungan dengan masa kanak-kanaknya. Dia meninggalkannya untuk kembali mengurusi persoalan rumah tangganya sendiri. Dia berpesan kepada Barkah untuk selalu menjaganya, merawatnya dengan baik, mengawasinya dan memperhatikannya dengan lembut. Abdul Muththalib juga selalu berpesan kepada Barkah, “Wahai Barkah! Janganlah kamu menelantarkan cucuku, karena aku mendapatinya sebagai anak yang dekat dengan Sidrah Al-Muntaha Banyak Ahli Kitab yang meramalkan bahwa cucuku ini adalah calon nabi untuk umat semesta alam.” Barangkali Barkah telah memahami maksud dari perkataan Abdul Muththalib tersebut. Dia telah melihat dengan matanya sendiri, mendengar dengan kedua telinganya, dan memperhatikan dengan hatinya.

Barkah bertutur secara khusus tentang hal ini. Dia bercerita, “Suatu hari, datang dua orang Yahudi Madinah kepadaku dan berkata, ‘Perlihatkanlah Ahmad kepada kami agar kami dapat melihatnya’ Kemudian, kedua orang itu menatap Muhammad Saw. dengan tatapan yang mendalam. Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya, ‘Anak ini sudah pasti adalah nabi umat semesta alam, sedangkan Madinah adalah tempat hijrahnya. Dia akan mengalami urusan besar mengenai peperangan dan tawanan.’”

Barkah menambahkan, “Ketika Aminah mendengar hal itu, dia merasa khawatir dan takut, lalu segera membawanya pulang hingga akhirnya wafat di Abwa’ dalam perjalanan pulang.”

Pustaka
Perempuan Mulia disekitar Rasulullah SAW Oleh Muhammad Ali Quthb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar