Barkah dan Nabi Muhammad Saw. pindah ke rumah Abu Thalib yang merawatnya berdasarkan wasiat dari Abdul Muththalib. Di sinilah muncul ibu keempat bagi Muhammad Saw., yaitu istri Abu ‘thalib yang bernama Fathimah binti Asad ibn Hasyim ibn Abdi Manaf dan merupakan ibu dari Ali ibn Abu Thalib.
Pada waktu itu, Muhammad Saw. berumur delapan tahun dan masih memerlukan kehangatan seorang pengasuh yang bisa melindunginya. Segera dalam hatinya tersimpan kerinduan yang diliputi antara kepedihan dan harapan. Dan bagi Muhammad Saw. telah disediakan toko untuk memenuhi keperluan dan kebutuhannya. Sementara Fathimah binti Asad adalah sebaik-baik Muhammad Saw. dan anak-anaknya yang lain. Dia banyak memberikan curahan budi pekertinya dan selalu berusaha mengasuhnya dengan sebaik-baik asuhan, sesuai dengan kemuliaan keturunannya dan kemurnian nenek moyangnya.
Asuhan Fathimah terus berlangsung sampai Muhammad Saw. menjadi pemuda yang mumpuni, dapat mencukupi dirinya sendiri dengan hidup mandiri. Dia kemudian menikah dengan Khadijah binti Khuwailid. Karena Muhammad Saw. adalah seorang yang selalu menepati janji dan penuh kebaikan, dialah yang mengafani Fathimah pada hari wafatnya dengan jubahnya. Lalu beliau bersabda, “Aku tidak menemukan setelah Abu Thalib orang yang lebih baik daripada dia (Fathimah binti Asad).”
Di sinilah terlihat perpaduan antara asuhan Barkah dan Fathimah binti Asad kepada Muhammad Saw., di samping peran Abu Thalib, pamannya, yang mencurahkan segenap cinta dan kasih sayang sebagai pengganti bagi kepahitan hidupnya dalam keadaan yatim. Maka benarlah firman Allah Swt. yang menyatakan, Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi-(mu) (QS Al-Dhuha [93]: 6).
Keterangan sejarah menyebutkan bahwa Fathimah binti Asad telah masuk Islam dan ikut berhijrah, lalu meninggal dunia di Madinah semasa Rasulullah Saw. masih hidup. Dia dianugerahi umur panjang hingga menginjak lanjut usia. Sementara itu, Barkah tetap menemani Muhammad Saw. sebagai pengasuhnya, tidak pernah meninggalkannya dan tidak pernah jauh darinya, sampai ketika tinggal di rumah Abu Thalib.
Ketika Muhammad Saw. menikahi Khadijah, beliau memerdekakan Barkah. Barkah pun kemudian menikah dengan `Ubaid ibn Zaid dan melahirkan anak laki-laki yang bernama Aiman. Karena itu, Barkah dikenal dengan panggilan Ummu Aiman dan termasuk orang-orang yang paling dahulu masuk Islam saat muncul cahaya kenabian. Baginya, hal itu merupakan kebenaran, apalagi karena dia telah mengalami dan rnerasakan serta mendengar berbagai pembicaraan dan kabar tentang datangnya nabi dan rasul pembawa kabar gembira dan petunjuk.
Ketika datang perintah hijrah, Barkah pun ikut berhijrah. Alasan-alasan yang mendorongnya ikut berhijrah adalah karena adanya ayat-ayat tentang keimanan dan disebabkan kedalaman iman dalam hatinya. Ibn Sa’ad meriwayatkan bahwa ketika Ummu Aiman berhijrah, dia memilih melewati daerah Nasr daripada lewat Rawha’. Di tengah perjalanan, dia kehausan dan tidak ada sedikit pun air yang dia bawa, karena dia sedang berpuasa. Namun, rasa haus tersebut sangat memberatkan-nya. Tiba-tiba dari langit turun seember air dengan tali berwarna putih. Ummu Aiman berkata, “Kemudian aku meminumnya sampai hilang rasa hausku. Setelah peristiwa itu, aku tak pernah lagi merasa kehausan dan aku menghalangi rasa hausku dengan cara berpuasa pada tengah hari yang sangat terik sehingga aku tidak merasa kehausan.”
Di Kota Madinah, Ummu Aiman selalu menyayangi Muhammad Saw. dan melayani segala kebutuhannya, sebagaimana diriwayatkan dari Sufyan ibn ‘Uyainah. Ummu Aiman selalu melayani segala kebutuhan beliau hingga saat beliau berkunjung ke rumahnya untuk menanyakan keadaan dan kesibukannya, dan untuk mengingat perawatan dan kasih sayangnya selama ini kepadanya, sebagaimana yang kadang-kadang diakui oleh beliau di hadapan Ummu Aiman. Dia selalu bersikap ramah dan selalu tersenyum dalam melayani segala kebutuhan beliau. Dia senantiasa menghidangkan segala sesuatu yang beliau sukai, baik berupa makanan atau minuman, dan dia bekerja dengan rasa senang dan bahagia di hadapannya.
Rumah Ummu Aiman adalah rumah kecil dan sederhana yang disenangi oleh Muhammad Saw. karena di dalamnya terdapat ketenangan dan penuh kasih sayang, seperti halnya teman-teman Ummu Aiman yang mendapati banyak kebaikan dan berkah dalam sikap Muhammad Saw. yang selalu menggembirakan dan membahagiakan mereka.
Suami Ummu Aiman, ‘Ubaid ibn Zaid, akhirnya menceraikan dirinya. Meski demikian, dia merasa banyak mendapatkan kemuliaan jiwa sebagai buah dari pernikahan ini, misalkan dalam diri anaknya, Aiman. Bahkan, dia mendapati seagung-agungnya kemuliaan pada diri Muhammad Saw. yang dia rawat sejak lahir ke dunia. Bagi Muhammad Saw., Barkah adalah ibu kedua setelah ibu kandungnya, Aminah r.a. Muham-mad Saw. melihat kepada Ummu Aiman dengan mata kenabian. Dia dapat menembus berbagai hijab dan bertindak berdasarkan kedalaman hati, dan dia dapat melihat sesuatu yang tak dapat dilihat orang-orang biasa. Rasulullah Saw. pernah bersabda di hadapan sebagian sahabat di Makkah sebelum peristiwa hijrah, “Barang siapa yang merasa senang jika dapat menikahi perempuan calon penghuni surga, nikahilah Ummu Aiman.” Dia adalah tempat keluarnya kata-kata mulia yang banyak mengandung makna dan tujuan yang banyak. Semakin kami merenungkan, maka kami menemukan apa yang dimaksud dengan kata-katanya. Kami menyadari bahwa akal dan pena kami tidak cukup untuk memahaminya secara mendalam. Barang siapa menikahi salah seorang penghuni surga, tentu saja ia termasuk dalam penghuni surga pula. Maha-suci Allah, dan demi keagunganmu, wahai Rasulullah!
Di antara orang yang mendengar sabda Rasulullah tersebut adalah Zaid ibn Haritsah. Sebagaimana diketahui, dia adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan budak, maka dia pula yang pertama kali menjawab panggilan kenabian yang mulia ini, sebagai bukti kecintaannya untuk memperoleh pahala surga dan jawaban atas keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, dia menikahi Barkah. Dari pernikahannya dengan Ummu Aiman ini, lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Usamah ibn Zaid, yang kemudian dikenal dengan sebutan al-hubb ibn al-hubb. Sungguh, Rasulullah Saw. telah banyak memengaruhinya dalam hal cinta dan kasih sayang.
Al Barkah sesuai dengan arti harfiahnya selaras dengan tingkah laku dan kenyataan yang selalu dilakukan oleh Barkah atau Ummu Aiman, karena biasanya yang terjadi pada sebagian orang, apa yang disandang dalam namanya kadang hanya selaras dalam kenyataan pada satu bagian tertentu, atau kadang selaras sepenuhnya dengan arti nama yang disandangnya. Sementara di sisi lain, kadang terjadi perbedaan mencolok yang sangat jauh antara kapasitas orang dan nama yang disandangnya, perbedaannya bagaikan langit dan bumi, antara timur dan barat, atau bertentangan bagaikan pertentangan kegelapan dan cahaya. Betapa banyak orang yang menyandang nama Sa`id yang berarti kebahagiaan, tetapi tidak pernah mengecap kebahagiaan sedikit pun, bahkan termasuk golongan orang-orang yang sengsara. Betapa banyak orang yang menyandang nama Amin yang berarti terpercaya, tetapi ia lebih banyak menyelewengkan kepercayaan yang diperolehnya. Betapa banyak yang menyandang nama Khalil yang berarti kekasih, tetapi sedikit pun tidak mempunyai rasa kasih sayang. Sungguh benar Rasulullah Saw., karena beliau adalah orang yang selalu benar dan terpercaya serta tidak pernah berkata-kata dengan menuruti hawa nafsunya. Adapun Zaid ibn Haritsah adalah syuhada pertama dalam peperangan Mu’tah. Dia dan istrinya, Ummu Aiman, dianugerahi Surga Firdaus yang tertinggi, yaitu tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa. Adapun Ummu Aiman mempunyai keutamaan yang lain. Anaknya, Aiman, dia didik dengan cara yang penuh keimanan dan keislaman serta membimbingnya dengan pengaruh yang ditularkan dari keluhuran cara asuhan dan budi pekertinya dalam mendidik. Aiman ditakdirkan menjadi syuhada pada Perang Khaibar, tetapi Ummu Aiman menerimanya dengan sabar dan ikhlas serta merasa terhormat dengan kemuliaan yang didapatkan dari Rasulullah.
Keutamaan lain dari Ummu Aiman ialah dia tidak merasa terpengaruh atau marah, ketika Rasulullah memilih suaminya, Zaid ibn Haritsah, untuk dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy, yang tak lain adalah anak perempuan bibinya (Zaid ibn Haritsah). Hal ini dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan jahiliah dalam masalah nasab dan keturunan. Dan juga sebagai salah satu bukti ketinggian iman, Islam, dan ketakwaan serta sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah Swt. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran, Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa (QS Al-Hujurat [49]: 13).
Ummu Aiman menerima dengan diam dan penuh kerelaan atas pilihan Rasulullah, dan berusaha mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Dia termasuk pencari kebenaran tanda-tanda keimanan yang hakiki dan termasuk pelopor orang-orang yang selalu mencintai Allah dan Rasul-Nya, Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu” (QS Ali ‘ImrAn [3]: 31).
Dalam hari-hari terakhir hidupnya, dia menangis sebanyak dua kali dengan tangisan yang sangat memilukan. Tangisannya yang pertama adalah saat Rasulullah wafat. Banyak dari para wanita Mukmin yang mencucurkan air matanya dan diliputi kesedihan yang luar biasa karena berpisah dengannya. Akan tetapi, berbeda dengan Ummu Aiman, dia memberikan kami kebanggaan setimpal dengan kedalaman imannya. Suatu saat, Abu Bakar dan Umar mengunjunginya karena menilai kasih sayang dan kedekatannya dengan Allah serta menghormati ke-dudukannya di sisi Rasulullah. Ketika Abu Bakar mengajak Umar, dia berkata, “Wahai Umar, ikutlah bersama kami untuk mengunjungi Urn- mu Aiman sebagaimana Rasulullah mengunjunginya.” Ketika keduanya masuk ke kamar Ummu Aiman, dia sedang menangis. Lalu keduanya bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Dia menjawab, “Segala sesuatu pada sisi Allah adalah yang terbaik bagi RasulNya.”
Apa yang telah engkau lihat dari jawaban seorang perempuan Mukmin yang telah diberi kabar gembira masuk surga? Dia melanjutkan, “Aku menangis karena tahu wahyu telah berhenti.” Ucapan Ummu Aiman tersebut membangkitkan tangisan Abu Bakar dan Umar, sehingga mereka berdua menangis bersamanya.
Sungguh Ummu Aiman telah terangkat derajatnya dengan segala perasaannya, gerak-geriknya, dan kearifannya, baik semasa hidupnya maupun setelah kematiannya, melewati berbagai macam materi di bumi hingga ke ufuk langit menuju tempat yang tertinggi.
Adapun tangisannya yang kedua adalah pada hari terbunuhnya Umar ketika sedang menunaikan shalat. Dan, tangisannya yang kedua itu menyebabkan dia kehilangan penglihatannya. Ketika ditanya tentang peristiwa tersebut, dia menjawab, “Inilah hari dimulainya kemunduran Islam.” Dia melihat dengan penglihatan dan mata hatinya serta kedalaman imannya bahwa Umar adalah satu-satunya laki-laki yang telah Allah jadikan kebenaran pada setiap ucapan dan hatinya. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw., “Dalam hatinya (Umar) terdapat keimanan, dalam genggaman tangannya terletak pedang kebenaran, dan dalam sorot matanya terpancar sinar keyakinan.”
Ummu Aiman dianugerahi usia yang panjang, kemudian waktu juga yang merapuhkan fisiknya, karena setiap badan pasti mengikuti perputaran waktu. Barkah akan bertemu dengan orang terkasihnya, yaitu Muhammad Saw. dan dia akan menemaninya menghadap Allah Swt. Kemudian tiba ajalnya secara langsung, maka kembalilah ruhnya kepada Pemiliknya. Allah telah ridha kepadanya dan memberi kesenangan kepadanya, juga memuliakan tempat kembalinya dan mengumpulkannya bersama orang-orang yang saleh dari hamba-hamba-Nya.
Pustaka
Perempuan Mulia disekitar Rasulullah SAW Oleh Muhammad Ali Quthb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar