Khadijah Binti Khuwailid. ra dalam sabda Rasulullah Saw. berkata, “Ini Jibril, wahai Khadijah, dia telah menyuruhku untuk mengucapkan salam kepadamu dan memberikan kabar gembira bahwa bagimu ada suatu tempat di surga yang terbuat dari untaian mutiara, di dalamnya tak ada kesengsaraan, penderitaan, keletihan.” Khadijah Binti Khuwailid. ra. menjawab, “Sesungguhnya Allah Swt. adalah Zat yang memberikan keselamatan, dan keselamatan bagi Jibril, serta keselamatan dan rahmat Allah Swt. hanya untukmu, wahai Rasulullah.”
Sebeleum bertemu dengan Rasulullah Saw., Khadijah ra. telah beberapa kali berumah tangga. Dan pada saat Allah Swt. mempertemukannya dengan Nabi Muhammad Saw., dia adalah perempuan yang tidak punya ikatan pernikahan. Dia melangsungkan kehidupan dan tanggung jawabnya sendirian. Dia adalah perempuan kaya raya yang memiliki usaha perdagangan yang besar. Di samping terkenal karena kecantikannya, dia juga terkenal mempunyai kepribadian yang sempurna dengan reputasi baik dan nama yang masyhur. Dan yang terpenting, dia terkenal karena kesucian akhlaknya sehingga dia dijuluki “perempuan yang suci.
Dengan segala kelebihan dan keahlian tersebut, banyak laki-laki dari kalangan Quraisy yang ingin mendekatinya dan bermaksud menyuntingnya menjadi istri. Mungkin karena pengalaman rumah tangganya terdahulu sehingga dia selalu berhati-hati dalam menerima lamaran. Alasan lain adalah karena dia sangat disibukkan dengan urusan perdagangan dan segala tanggung jawabnya sehingga tak terasa umurnya telah semakin bertambah dan telah lewat lima tahun dari pernikahannya terdahulu. Akan tetapi, kemasyhuran nama Muhammad Al-Amin Saw. sebagai sosok laki-laki dengan akhlak yang terpuji dan berbagai hal baik yang dia dengar dari pembantunya tentang Muhammad ibn Abdullah ketika beliau mengikuti perjalanan dagang yang terakhir ke Syam dengan mendapat keuntungan besar dan praktik jual beli yang beliau lakukan dengan baik telah mencuri perhatiannya dan menimbulkan harapan dalam hatinya. Dia menyembunyikan secercah cinta kepadanya dari orang-orang yang menyanjungnya.
Akhirnya, terjadilah pernikahan antara Muhammad Saw. dan Khadijah Binti Khuwailid. r.a., keduanya berada dalam kebahagiaan, baik dari segi fisik maupun hati. Dan setelah berjalan beberapa tahun, lahirlah keturunan-keturunan yang baik, dimulai dengan kelahiran putra pertama yang diberi nama Qasim, sehingga Rasulullah juga dikenal dengan julukan Abu Al-Qasim. Kemudian berturut-turut lahirlah Abdullah, lalu Al-Thayyib atau yang dikenal dengan nama Thahir. Tetapi karena hikmah Ilahi yang luhur, semua putranya ini wafat pada usia yang sangat belia. Semua putranya tadi lahir sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Kemudian setelah itu berturut-turut lahirlah putri-putri beliau, dimulai dengan Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, dan Fathimah.
Tampaklah keagungan seorang Khadijah r.a. dalam kapasitas yang paling tinggi dan sempurna setelah terbitnya fajar kenabian hingga dia kembali kepada Allah Swt. diiringi dengan deraian air mata dan kedukaan putri-putrinya. Begitu pula kesedihan sang suami sekaligus utusan yang mulia, mengingat kelembutan tingkah, kebersamaan, dan kepribadian Khadijah r.a. yang kuat.
Pada suatu saat, Rasulullah Saw. sangat senang berkhalwat, menyendiri dari orang-orang dan meninggalkan urusan-urusan dunianya. Dalam kesendiriannya itu, Rasulullah Saw. banyak merenung dan bertafakur dalam dunia malakut hingga ruhnya naik dan keberadaannya menjadi suci untuk persiapan menerima kabar yang agung dan tugas yang penting. Dalam khalwatnya, beliau menempati Gua Hira di Jabal Rahmah dengan membawa bekal makanan dan minuman yang disiapkan oleh Khadijah r.a. Beliau menghabiskan waktu siang dan malam pada bulan Ramadhan dengan berkhalwat.
Suatu hari, beliau kembali dari berkhalwat setelah menerima wahyu yang pertama, yaitu Surah Al-Alaq (96): 1-5 untuk menyampaikannya kepada Khadijah r.a. Di sini terlihat jelas keluhuran pribadi seorang Khadijah r.a., ketika dia langsung menyatakan beriman dan masuk Islam. Hal ini sudah diceritakan dan diramalkan oleh para sejarahwan dan kitab-kitab sejarah. Namun sikap Khadijah r.a. tersebut memunculkan persoalan, apakah keislaman dan keimanan Khadijah r.a. karena mengikuti suaminya? Atau, karena alasan yang lebih mendasar, yaitu untuk menuju kepentingan yang lebih besar dan tinggi?
Dalam sejarah, Rasulullah Saw. kembali kepada Khadijah r.a. dalam keadaan hati yang terguncang dan berkata, “Selimutilah aku.” Kemudian dia menyelimutinya hingga perasaan takut Rasulullah Saw. pun hilang. Lalu beliau bercerita kepada Khadijah r.a., “Telah sampai suatu kabar kepadaku, yang aku sendiri merasa takut mengenai kabar tersebut.” Khadijah r.a. berkata,
“Jangan begitu, demi Allah, Tuhan tidak akan membuatmu sedih untuk selamanya, karena engkau orang yang selalu menyambung tali kekerabatan, selalu menghormati tamu, mengayomi yang lemah, membantu orang yang tidak mampu, dan menolong orang lain yang terkena musibah.” Sikap ini, tidak diragukan lagi merupakan suatu pencapaian, kesadaran, dan kematangan serta pemahaman yang mendalam dari Khadijah r.a. dalam menghadapi suatu peristiwa yang agung.
Hal ini diperkuat oleh penuturan Aisyah r.a., “Suatu hari ketika Rasulullah duduk bersama Khadijah r.a., beliau melihat seseorang berada di antara langit dan bumi, lalu beliau memberitahukan apa yang dilihatnya kepada Khadijah r.a.” Kemudian Khadijah r.a. berkata, “Mendekatlah kepadaku.” Lalu Rasulullah mendekat kepadanya dan Khadijah kembali berkata, “Apakah engkau sudah melihatnya?” Beliau menjawab, “Ya.” Khadijah r.a. berkata lagi, “Sembunyilah engkau di balik bajuku.” Beliau pun melakukannya, dan Khadijah Binti Khuwailid. ra berkata lagi, “Apakah dia seorang manusia?” Beliau menjawab, “Bukan, dia seorang malaikat, karena jika dia setan, dia tidak akan malu-malu seperti ini.” Dengan perkataan yang bijaksana, perbuatan maupun pengalaman hidupnya, Khadijah r.a. menenangkan Rasulullah Saw., memantapkan hatinya. Sungguh Khadijah r.a. telah melewati cinta yang besar menuju cinta yang lebih besar, yaitu kemantapan hati untuk beriman kepada Allah dan RasulNya.
Suatu saat Rasulullah Saw. pulang ke rumahnya, setelah beliau diberi pelajaran oleh Jibril. Khadijah r.a. pun berkata kepada Rasulullah Saw., “Perlihatkanlah kepadaku sesuatu yang diajarkan oleh Jibril kepadamu!” Beliau mengajarkan praktik wudhu kepadanya sehingga dia pun bisa berwudhu seperti halnya Rasulullah berwudhu, kemudian dia shalat bersama Rasulullah Saw. dan berkata, “Sungguh, aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.”
Ibn Hajar berkata di dalam Al Ishkbah, “Menurutku, hal ini merupakan bukti yang paling sahih dalam hal hubungan Khadijah r.a. dengan Islam.” Ibn Ishaq menambahkan, “Khadijah r.a. adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta membenarkan apa yang dibawanya. Maka dengan sebab tersebut, Allah Swt. meringankan beban Rasulullah Saw. sehingga tidak sekali pun beliau mendengarkan sesuatu yang tidak menyenangkan mengenai Khadijah r.a.”
Perahu keimanan terus berlayar menembus kegelapan laut jahiliah, ombak-ombak berdeburan, aliran airnya sangat mendebarkan, sedangkan Rasulullah Saw. memegang kemudinya dengan penuh bijaksana, sabar, dan tawakal kepada Allah Swt. Apabila merasakan keletihan pada kedua tangannya atau menghadapi terjangan angin yang mengadang secara tiba-tiba, beliau melihat ke langit, lalu kembali mengarahkan pandangannya kepada teman hidup dan pendamping setianya, sehingga beliau dapat melihat senyum yang penuh kasih dan mendengar perkataan yang memantapkan hatinya. Dengan demikian, beliau dapat meningkatkan kembali semangatnya untuk melaksanakan perintahNya kembali.
Inilah sisi agung dari kepribadian Khadijah Binti Khuwailid. r.a. sehingga Allah Swt. mengaruniakan kenikmatan kepada Rasulullah Saw. dan memberikan pahala kepadanya. Dan akhirnya, Jibril datang kepada beliau untuk memberikan kabar gembira bahwa Allah Swt. telah menyiapkan untuk Khadijah r.a. tempat di surga, yang di dalamnya tidak ada kebosanan maupun keletihan. Aspek lain dari sisi keagungan Khadijah r.a. adalah dia telah mendermakan seluruh hartanya untuk dibelanjakan di jalan Allah Swt. Dia menyumbangkan seluruh hartanya tanpa hitungan dan tanpa mengharap imbalan apa pun, khususnya saat terjadi peristiwa pemboikotan dan penutupan seluruh akses kehidupan bagi keluarga Abu Thalib sebab mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw. Dia selalu mencukupi segala kebutuhan Nabi Saw. demi kepentingan perjuangan karena setiap perjuangan Nabi Saw. selalu ditujukan untuk dakwah.
Dan Dia mendapatimu sebagai searang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (QS Al-Dhuha [931: 8). Dia juga sangat berempati kepada orang-orang Muslim yang fakir, dan selalu membentangkan tangannya untuk berderma. Dia adalah figur Ummul Mukminin yang sejati, antara pikiran dan perbuatannya selalu selaras, bahkan dia merupakan orang pertama yang mempunyai derajat dan kedudukan mulia.
Hal yang demikian ini membuat Aisyah r.a. sangat cemburu kepada Khadijah r.a. karena Rasulullah Saw. selalu menyebut, menyanjung,dan sering merindukannya. Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. hampir-hampir tidak pernah keluar rumah sebelum menyebut Khadijah r.a. dan melontarkan pujian yang baik kepadanya. Bahkan, beliau sering menyebutnya dalam beberapa kesempatan. Hal itu membangkitkan kecemburuanku kepadanya. Aku berkata kepada Rasulullah Saw., ‘Bukankah Khadijah r.a. hanya seorang perempuan tua dan lemah yang telah digantikan oleh Allah Swt. dengan seseorang yang lebih baik darinya?”‘ Rasulullah Saw. marah setelah mendengar hal tersebut dan menjawab, “Tidak, demi Allah, Dia tidak pernah memberiku seorang pengganti yang lebih baik darinya. Khadijah r.a. telah beriman kepadaku kala semua orang kafir kepadaku, dia membenarkan aku kala banyak orang mendustakanku, dia menolongku dengan hartanya kala semua orang tidak mengindahkanku. Allah Swt. memberiku rezeki berupa keturunan dari dirinya, tidak dari istri-istriku yang lain.” Aisyah r.a. pun berkata dalam hatinya, “Aku berjanji kepada diriku tidak pernah mencelanya lagi untuk selama-lamanya.”
Setelah pemboikotan terhadap keluarga Abu Thalib berakhir, Khadijah r.a. melewati peristiwa tersebut dalam keadaan fisik yang letih, tulang-tulangnya terasa lemah sehingga tidak lama kemudian dia jatuh sakit. Suami dan putri-putrinya mengelilinginya dan berusaha menolong serta mencoba meringankan apa yang dirasa berat olehnya. Akan tetapi, beberapa tabib dan berbagai macam obat penawar belum mampu mengobatinya, sampai tiba saat ruhnya pergi dengan tenang, menghadap Zat Yang Maha agung dan Mahalembut.
Perpisahan dengan Khadijah r.a. ini merupakan salah satu kepedihan paling mendalam yang pernah dirasakan oleh Rasulullah Saw. Khaulah binti Hakim pernah berkata, “Wahai Rasulullah! Aku melihat engkau seakan-akan telah kehilangan kasih sayang bersamaan dengan wafatnya Khadijah r.a.” Beliau menjawab, “Lebih dari itu, dia merupakan seorang ibu bagi keluarganya dan seorang pengatur rumah tangga yang baik.”
Selepas wafatnya Khadijah r.a., hanya perkataan Nabi Saw. yang menjadi pegangan untuk mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan Khadijah r.a. dalam rumah tangganya. Di sisi lain, setiap kali Rasulullah Saw. memandang putri-putrinya, beliau selalu terbayang kepada ibu mereka yang telah tiada. Suasana hening berbalut kesedihan tersimpan dalam hati yang selalu menyebarkan dan menumbuhkan rasa cinta sekaligus diselimuti dengan keimanan.
Pustaka
Perempuan Mulia disekitar Rasulullah SAW Oleh Muhammad Ali Quthb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar