Minggu, 07 Agustus 2011

AMINAH BINTI WAHB

Aminah binti Wahb adalah seorang wanita Quraisy yang memiliki rahim teragung dan paling mulia. Karen di dalam rahimnya bersemayam benih manusia yang teragung dan termulia, yang senantiasa berpindah-pindah dari satu tulang sulbi laki-laki ke tulang sulbi laki-laki lainnya, berdasarkan ketentuan yang telah digariskan Sang Maha Pencipta ‘Azza Wa Jalla. Hingga pada akhirnya, tibalah saatnya dia dikeluarkan dari tulang sulbi Abdullah ibn Abdul Muththalib, seorang pemuda Quraisy yang ketampanan wajah dan kemuliaan perilakunya melampaui pemuda-pemuda seusianya. Cahaya kenabian bersinar di antara kedua bola matanya dan bependar menyebar melalui pandangan tajam kedua matanya. Serang pemuda yang penebusan dirinya dari penyembelihan untuk dijadikan persembahan demi membebaskan sumpah orang-tuanya merupakan penebusan termahal yang pernah diketahui oleh masyarakat Arab.

Hal itu demi kekalnya proses pemilihan yang ditentukan oleh Allah sebagai suatu kenyataan yang hakiki, berakar kukuh dalam inti sejarah perjalanan hidup manusia dan sebagai saksi atas kehendak mutlak Tuhan, yang tidak ada perubahan di dalam kalimat-kalimat-Nya serta tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya. Allah Swt. berfirman, Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing), (sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (QS Ali ‘ImrAn [3]: 33-34).

Setelah penebusan dirinya dari penyembelihan, dengan wajah yang tampak cerah, pergilah Abdullah dengan ayahandanya Abdul Muththalib untuk mencarikan jodoh bagi anaknya tersebut. Dan sesampainya di Ka’bah, dia berjumpa dengan seorang perempuan dari kabilah Bani Asad ibn Abdul `Uzza. Ketika melihat wajah Abdullah yang berkilauan dengan cahaya kenabian, perempuan tersebut berkata, “Engkau memiliki sesuatu yang sebanding dengan unta-unta yang disembelih. Demi engkau! Sekarang mendekatlah kepadaku.” Mendengar ucapan perempuan itu, Abdullah berkata:

Adapun yang haram, lebih baik aku mati
Adapun yang halal, tiada yang halal yang perlu dijelaskan
Orang mulia selalu menjaga harga diri dan agama
Bagaimana mungkin dengan hal yang engkau kehendaki?

Akhirnya, setelah melalui proses seleksi yang amat panjang, jatuhlah pilihan Abdul Muththalib kepada Aminah binti Wahb Al-Zuhriyah, seorang gadis dari kabilah Bani Zuhrah untuk diperistri putranya, Abdullah. Pada masa itu, Aminah adalah seorang gadis Quraisy yang paling terhormat.

Sebelumnya juga, seorang dukun wanita dari Tabbalah bernama Fathimah binti Mur Al-Khasy`amiyyah dia termasuk perempuan Arab yang tercantik dan paling suci, telah melihat cahaya kenabian di wajah Abdullah, sehingga dia pun menawarkan dirinya untuk dinikahi Abdullah. Akan tetapi, Abdullah menolaknya, lalu perempuan tersebut berkata:

Kulihat awan muncul
Berkilauan di akhir tetesan hujan
Melambung tinggi cahaya yang menetangi
Di sekitarnya bagai cahaya fajar
Kulihat siramannya menghidupkan negeri
Dan bangunan gersang tak berpenghuni
Kulihat kemuliaan yang semakin menjauh
Tidak setiap yang menyalakan api akan terang
Demi Allah, wanita dari Zuhrah telah merampas darimu
apa yang ia rampas sementara kau tak tahu

Berita-berita tentang kedatangan seorang nabi dari keturunan Nabi Ismail a.s. telah menyebar di kalangan masyarakat Arab seluruhnya. Hal itu diketahui dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), berdasarkan pengetahuan mereka dengan melihat apa yang disebutkan Taurat, baik secara eksplisit maupun implisit. Dan berita tersebut telah menjadi perbincangan hangat di kalangan ahli perdukunan.

Masa muda Abdullah ibn Abdul Muththalib dipenuhi hal-hal yang menakjubkan. Dia memiliki rupa yang menawan sehingga membuat setiap orang yang memandang merasakan ketenangan. Dia juga berjiwa bersih dan berakhlak mulia. Belum pernah sekali pun dia mengajak wanita untuk menjadi pendamping hidupnya, hingga akhirnya terlaksana pernikahan antara Abdullah dan Aminah, dan bersemailah benih mulia itu di dalam rahim Aminah. Karena itu, Abdullah telah menunaikan tugas yang dikhususkan Allah kepadanya dengan sangat baik.

Beberapa bulan setelah kehamilan istrinya, Abdullah pun berangkat ke Syam untuk berdagang. Di tengah perjalanan pulang dari Syam, dia jatuh sakit sehingga memutuskan untuk menetap sementara di Yatsrib (Madinah) di rumah kerabatnya dari Bani Al-Najjar untuk dirawat dan diobati. Tetapi tidak berapa lama setelah sakit, ajal pun menjemputnya.

Betapa sedih Aminah ditinggal oleh sang suami tercinta yang hanya sempat tinggal serumah dengannya dalam beberapa bulan. Dia tangisi kepergian suaminya dengan tangisan yang memilukan, dan meratapinya dengan ratapan yang mengiris perasaan.

Sungguh sebuah perpisahan yang sulit dan berat. Dan terasa semakin berat ketika dia merasakan gerakan sang jabang bayi di dalam perutnya. Bayi yang telah menjadi yatim sebelum dilahirkan dan sebelum membuka matanya untuk melihat kehidupan.

Begitu besarnya rasa sakit yang menusuk relung jiwa Aminah karena ditinggal suami tercinta. Akan tetapi, dia mendapatkan pelipur lara dan penawar duka dari ayah mertuanya. Abdul Muththalib tidak pernah meninggalkan menantunya tersebut, kecuali jika ada keperluan yang sangat penting.

Bayi yang ada di dalam rahimnya itu merupakan pelipur lara yang terbesar bagi diri Aminah. Tidak pernah dia merasakan kebimbangan dan kegelisahan secara jasmani maupun ruhani. Bahkan sebaliknya, dia merasakan kedamaian dan ketenangan jiwa. Seakan akan dia adalah sesuatu yang begitu mulia dan terhormat, terangkat dari kebendaan manusia dan dunia, laksana bayang-bayang lamunan yang melayang membubung tinggi ke atas awan.

Pada suatu malam, datanglah seseorang di dalam mimpinya dan berkata, “Engkau telah mengandung pemimpin dan nabi umat ini.” Pada kesempatan lain, sebelum melahirkan, orang tersebut mendatangi lagi Aminah dan berkata, “Apabila engkau melahirkannya, katakanlah, Aku melindunginya dengan Zat Yang Maha Esa dari keburukan orang-orang yang hasud (iri),’ dan namailah dia Muhammad.”

Demikianlah mimpi-mimpi silih berganti mendatangi Aminah, menghiburnya, menguatkannya, membuatnya lebih sabar, menghapus dukanya, serta mengangkat derajatnya dan derajat kandungan yang ada di dalam perutnya. Hingga tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Pada malam kedua belas, bulan Rabi` Al-Awwal, saat fajar menyingsing, lahirlah sang jabang bayi.

Waktu kelahirannya memiliki isyarat dan arti yang mendalam serta visi yang jauh ke depan. Dia adalah fajar kemanusiaan yang menyingsing, membelah kegelapan kebodohan, menghapuskan kegelapan penyelewengan dari jalan yang lurus, dan menghancurkan kezaliman manusia terhadap diri mereka dan terhadap orang lain.

Dia lahir pada musim semi, setelah musim dingin berlalu, yang penuh dengan badai topan, gelegar halilintar, serta kegelapan awan. Setelah musim panas dengan terik mataharinya yang membakar, dan setelah musim gugur dengan kekeringannya.

Aminah berkata, “Ketika aku melahirkan putraku, keluar bersamanya cahaya yang terang di antara timur dan barat, menerangi istana-istana negeri Syam dan negeri-negeri di sekelilingnya. Aku bisa melihat iring-iringan unta di Kota Basrah. Aku juga melihat tiga tanda yang tercetak: satu tanda di timur, satu di barat, dan satu lagi di atas Ka’bah.”

Sang kakek, Abdul Muththalib, ikut menyaksikan kelahirannya. Lalu dia membawanya keluar mengelilingi Ka’bah, sambil tidak henti-hentinya berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniai anak kecil yang agung derajatnya. Aku melindunginya dengan nama Allah dan dengan rukun-rukun (Ka`bah).”

Saat itulah dimulai peranan Halimah binti Abi Dzu’aib sebagai ibu kedua dalam kehidupan Muhammad. Sebelumnya, Muhammad pertama kali menyusu kepada seorang wanita yang bernama Tsuaibah, mantan budak pamannya, Abu Lahab (Abdul ‘Uzza ibn Abdul Muththalib) orang yang paling menyayangi ayahanda Rasulullah, Abdullah, dan terpukul atas kepergiannya. Ketika Tsuaibah memberitahunya kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw., dia terlihat senang dan gembira. Lalu dia pun memerdekakan Tsuaibah hal itu merupakan kebanggaan tersendiri di kalangan bangsawan Arab. Selama beberapa hari, Tsuaibah selalu menemani Aminah setelah dia melahirkan karena dia (Tsuaibah) juga baru melahirkan putranya, sehingga Muhammad Saw. dapat ikut menyusu darinya hingga Halimah datang dan mengambilnya.

Peranan Halimah sangatlah penting pada masa kanak-kanak Rasulullah Saw. selama beliau tinggal bersamanya di perkampungan Bani Sa’ad.

Pustaka
Perempuan Mulia disekitar Rasulullah SAW Oleh Muhammad Ali Quthb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar