Minggu, 07 Agustus 2011

Nailis Sa’adah

Meski Tanganku Disagat Pisau, Tapi Imanku Tetap Kugenggam Erat

Sungguh,aku tidak menyangka sama sekali, kalau pada akhirnya aku mendapat augerah Allah yang begitu besar. Aku bisa mendapat pertolongan pada saat keadaanku sangat terdesak. Anehnya, yang begitu menaruh perhatian untuk menolongku dengan tulus, datang dari seorang yang selama ini tak kukenal. Semuanya itu datang begitu tiba-tiba dan tak terduga sama sekali. Padahal, hampir saja nyawaku melayang direnggut oleh ayah kandungku sendiri. Ini semua gara-gara aku mempelajari Islam secara sembunyi-sembunyi, lalu setelah aku memahaminya, kujalankan pula syariat-Nya secara sembunyi-sembunyi.

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Sejak sore tadi, hujan yang membasahi bumi kota Yogyakarta membuat aktivitas warga kota gudeg itu terhenti. Mereka banyak yang enggan keluar rumah dan lebih memilih ngendon (diam) di rumah daripada harus keluyuran di tengah turunnya hujan, termasuk ayah dan ibuku, yang tak jadi berangkat ke pasar untuk berbelanja. Dengan turunnya hujan itulah penyiksaan yang kualami mencapai puncaknya. Kalau pada hari-hari sebelumnya, ayah hanya menyayatkan pisau pada lenganku, pada malam itu pisau sudah menempel di leherku. Hampir saja aku digorok oleh orang yang selama ini merawatku sendiri. Entah itu gertakan semata atau ancaman serius, aku tak tahu pasti. Tapi yang jelas, pada malam itu wajahnya cukup garang. Ayah menuntutku agar aku kembali pada ajaran semula, Kristen Protestan. Namun, perintah itu tak kuhiraukan sama sekali, seperti layaknya Bilal bin Rabah ketika mendapat siksaan dari majikannya, aku pun meniru ketegarannya sambil mengucapkan ” Allahu Akbar”. Nama lengkapku sejak kecil adalah Stefani Natalia Yuskuniawati. Aku merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak usiaku empat tahun, oleh ayahku yang menjadi dosen sekaligus pendeta itu, aku akan dipersembahkan bagi kehidupan gereja, “membantu pekerja tuhan”. Oleh sebab itu, sejak kecil aku sudah dimasukkan ayahku ke sekolah calon biarawati di Yogyakarta. Usiaku kini sudah menginjak tujuh belas tahun dan sudah menjalani pendidikan calon biarawati sampai tingkat sembilan. Namun pada usiaku yang menginjak dewasa itu, aku mengenal Islam lewat adikku, Kristina Widiawati. Dia murid SD yang bare berusia 12 tahun, tapi otaknya cukup cerdas dan menyenangi pelajaran agama Islam. Lewat adikku itu pulalah, aku mengenal Islam dan konsep tauhid yang terpatri dalam surah al-Ikhlash.

Selama mengikuti pendidikan di Santa Maria Fatima, Duwet, Yogyakarta, aku mendapat bimbingan dari beberapa romo yang sudah terkenal, di antaranya Romo Mangunwijaya, Romo Suto, dan lain-lain. Namun, dari apa yang kuterima selama ini, aku hanya diperkenalkan pada satu agama, Kristen. Tak ada agama lain yang diperkenalkan padaku selain Kristen. Kalau pun aku mengenal Islam, itu hanya melalui adikku yang masih duduk di bangku SD tersebut.

Entah mengapa, aku lebih tertarik kepada Islam daripada Kristen yang mengurungku dalam tembok biara. Aku tidak ingin hidup sebagai suster yang tidak bersuami. Aku ingin berontak, karena memang menurut naluri kewanitaanku aku ingin mempunyai pedamping. Rasa cintaku pada Islam kian hari semakin menggebu, setelah setahun lalu secara sembunyi-sembunyi aku membawa buku-buku Islam. Aku pun tidak ketinggalan membaca buku-buku yang mengritik keberadaan Alkitab yang selama ini hampir setiap tahun bunyi keredak-sionalannya berubah-ubah. Antara satu penerbitan dan yang lainnya akan berbeda jauh bila tahun penerbitannya berganti. Ini kutemukan misalnya pada Alkitab cetakan tahun 1992 dengan cetakan tahun 1993. Dalam Matius 3:17 ada perbedaan mencolok tentang kata anak , pada peristiwa pembabtisan Yesus. Aku juga menemukan kekeliruan tentang ramalan Yesus, yang berkaitan dengan hari kebangkitannya. Keyakinanku terhadap Kristen kian hari semakin goyah manakala kuketahui bahwa setiap tahun sekali ada pihak yang merevisi Alkitab. Pihak itu bernama Gideon yang bersidang untuk membahas perkembangan Alkitab. Setelah aku mulai meyakini kebenaran Islam, aku pun bertekad untuk bisa menjadi seorang muallaf yang baik. Meskipun untuk itu, risiko berat bakal kuterima, tapi niatku sudah bulat. Tak mungkin aku surut. Aku lebih menghargai pendapat yang benar daripada aku harus membebek tanpa ujung-pangkalnya.

Benarlah! Aku pun mendapat siksaan dari ayahku. Ibuku yang menyaksikan penderitaan itu, tidak bergeming untuk melerainya. Ia hanya menonton semua kejadian yang kualami. Untunglah pada malam aku hendak digorok itu, tiba-tiba telepon berdering. Ayah yang sejak tadi terlihat garang, berbalik sebentar menuju kamarnya untuk mengangkat telepon. Nah, kesempatan baik itu tidak kusia-siakan begitu saja. Aku segera menyelinap di balik pintu, lalu melompat jendela dan pagar menuju jalan raya. Saat itu hujan deras sehingga aku bisa lobos dari kejaran ayahku. Begitu aku bisa meloloskan diri dari kejaran ayahku, aku segera meminta bantuan sahabatku. Aku segera ditolongnya setelah kuutarakan niatku sekaligus kuceritakan apa yang baru saja kualami. Untunglah teman itu berbaik hati. Seluruh keluarganya mendukungku dan menjamin keselamatanku. Lalu setelah situasinya dirasakan memungkinkan, aku dimasukkan dalam sebuah pesantren. Di lembaga pendidikan ini aku mendapat sambutan hangat dari Pak Kiai, bahkan ketika aku sakit keras, beliaulah yang membiayaiku berobat ke rumah sakit. Kini aku bahagia bisa belajar Islam dengan leluasa. Yang kuharapkan hanyalah agar ayahku bisa menghentikan perlakuan kasarnya padaku. Bagaimana pun aku ini adalah darah dagingnya, tidak mungkin aku berani durhaka padanya. Namun kalau soal keyakinan, itu adalah hak asasi masing-masing individu. Orang tua tidak berhak memaksakan kehendaknya, apalagi disertai penyiksaan, malah itu akan membuatku tidak simpati sama sekali pada ajaran yang dibawanya. Belum lagi dalam usiaku yang sudah dewasa seperti ini, kupikir aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.

Dalam doaku, aku bisa menggapai cita-citaku sebagai dai. Jangan lupa, dalam doa itu ucapkan namaku yang baru, Nailis Sa adah. Berkat doamu itulah, insya Allah hatiku akan semakin tabah dan cita-citaku akan tetap erat kugenggam. Aku minta maaf, untuk sementara kurahasiakan dulu tempatku belajar “nyantri”. Semua ini tentu saja untuk keselamatan aku dan agama yang kuyakini.

Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar