Dalam Pelarian Kuraih Sebersit Sinar Islam
Pada mulanya, di mataku, Islam tidak jauh dari suatu ajaran atau paham kepercayaan yang menanamkan konsep hidup yang radikal, ekstrem, sadis, dan teroris. Setiap individu pemeluknya dituntut memiliki rasa fanatisme dan kepercayaan yang mendalam sehingga gambaran kekerasan, peperangan, dan saling menghancurkan bagian dan simbol keberadaan umat Islam yang tidak terpisahkan dari perjalanan kehidupan ini.
Penilaian yang berangkat dari kebutaan hati dan pemikiran ini tampak kian nyata dan bukan sekadar slogan kosong belaka. Betapa tidak, di salah satu wilayah Kute, Denpasar, Bali, aku sering menyaksikan dan mendengar perselisihan antar individu anggota maupun keluarga muslim. Tragisnya, perselisihan demi perselisihan di kalangan ini sering Pula berdampak negatif, bahkan tidak jarang menjadi pemicu perselisihan keluarga lain yang berlainan agama. Dengan adanya fakta-fakta tersebut, lengkap dan sempurnalah sudah vonisku terhadap ajaran Islam. Sebagai umat nonmuslim, aku merasa bersyukur dan bangga atas segala bimbingan dan ajaran agamaku dengan nilai-nilainya yang luhur. Agamaku tidak hanya mampu menanamkan ketenangan serta ketenteraman batin bagi para umatnya. Lebih jauh, kepercayaan keluarga dan nenek moyangku ini telah mampu membuktikan kerukunan serta bisa menimbulkan rasa welas asih (kasih sayang) terhadap sesama umat manusia. Walaupun berlainan agama. Dari kenyataan ini, suatu ketika, aku pernah memiliki pandangan, bahwa agamakulah sesugguhnya yang mampu dan pantas dijadikan kepercayaan dunia dalam upaya penciptakan kehidupan yang damai, tenteram, sejahtera, dan bahagia.
Namun demikian, dari segala pandangan serta pemikiranku terhadap Islam serta agamaku, pernah pula melahirkan suatu keraguan dan ketidakpercayaan diri, hingga menimbulkan berbagai pertanyaan dalam diriku. Sebab kalau pun agamaku terbaik dan benar, mengapa saudara-saudara setanah air dan umat manusia di dunia ini seolah-olah hanya berpaling sebelah mata terhadap agama kepercayaanku? Apakah karena mereka telah buta mata dan hatinya sehingga suatu kebenaran dan kenyataan budaya umat manusia tidak lagi mereka lirik dengan segenap hati? Mengapa mereka tidak mau memikirkan semua ini? Aku sungguh tidak tahu! Beberapa tahun lamanya, aku berusaha mencari jawaban. Ada apa di balik semua itu dan adakah rahasia yang belum kuketahui? Haruskah aku mempelajari agama lain dengan saksama dan mendalam? Perlukah aku melakukan perbandingan dengan umat agama lain?
Ketika pikiran dan jiwaku lelah, rasa-rasanya aku seperti hidup di dunia yang lain. Suatu kehidupan yang asing dan tidak pernah kualami, apalagi kuidamkan. Aku merasakan situ kebangkitan serta ketegaran jiwa dan tampaknya aku mulai menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku itu. Suatu kebangkitan hidup di alam kelam dan gelap. Tidak bisa dipungkiri, hidupku kian jauh dari nilai-nilai agama yang selama ini merupakan jalan dan acuan hidupku. Ya, aku tidak ubahnya selembar kapas yang diembuskan putaran angin, terbang melayang ke sana ke man tanpa arah dan tujuan. Entah di mana aku harus menghentikan pengembaraan bersama angin yang tidak pernah kuketahui ujungnya.
Di tengah-tengah kegelapan, kusadari langkah hidupku kian tidak menentu, bahkan titian hidupku berubah 180 derajat, tatkala aku meniru gaya hidup para turis asing dan domestik yang sengaja liburan ke Bali. Di pulau ini, aku menyaksikan betul, bagaimana mereka memaknai hidup. Kebebasan, kenikmatan, serta pelbagai bentuk sarana pemuas diri yang terhampar luas pada setiap tempat. Kupikir, tidak mungkin kemolekkan dan keindahan pulau ini hanya dinikmati orang-orang berduit saja. Tidak ingin masa remajaku berlalu begitu saja, begitulah pikirku saat itu. Akhirnya, terlenalah aku dalam berbagai kebebasan, kenikmatan, kesenangan, serta kebahagiaan duniawi.
Dalam arus gelap ini, aku berkenalan dengan seorang perjaka asal Purworejo. Sucipto, namanya. Dari perjumpaan ini berlanjut pada perbincangan-perbincangan hati yang intensif. Bahkan, dari kepribadiannya aku menemukan sebersit sinar Islam yang tidak mudah kulupakan. Bukan hanya pandangannya yang kuat, tetapi prinsip-prinsip hidupnya pun cukup matang. Pandangan-pandangannya terhadap Islam membuatku tersentak. Bagaimana tidak, Islam yang selama ini kupandang sebagai ajaran yang mengerikan, ternyata betapa damai dan dinamisnya. Damai dan dinamis dalam memaknai apa fungsi manusia dan kewajibannya di alam yang serba sementara ini. Untuk menghentikan pelarian dan kegundahan ini, kuputuskan Sucipto untuk menjadi teman hidup sekaligus pedamping hidupku. Sebuah pintu yang ternyata kemudian harus terhambat karena keluarganya menolak kehadiranku. Dalam keadaan yang menyulitkan ini, aku dan Sucipto segera mengambil langkah seribu, kawin lari. Tepatnya tahun 1968, saat usiaku menjelang 22 tahun dengan penghulu Bapak Abdurahman. Saat itulah, kuucapkan dua kalimat syahadat. Suatu janji bersejarah yang betul-betul harus kuperjuangkan tapi sulit terlupakan. Sebuah pernikahan yang cukup romantis bagi seseorang seperti aku yang baru saja menemukan hal-hal yang baru dari seorang lelaki yang paham betul arti cinta dalam Islam.
Hari-hari selanjutnya tidak hanya kuisi dengan dialog- dialog panjang tentang agama dengan suami saja, tetapi juga bersama beberapa ustadz dan ulama di Bali. Mereka sangat tulus membimbing sekaligus mengantarkan keberadaanku seperti sekarang ini. Ustadz-ustadz itu adalah Ustadz Abdurahman, H.S. Habib Adnan, dan Drs. Abdul Damanhuri, S.H. yang juga mengasuh pengajian ibu-ibu di Denpasar Bali. Seiring dengan titian sejarah waktu, kini aku berbahagia bersama empat orang anak dan dua anak asuh. Hanya satu obsesiku kini, aku ingin menanamkan nilai-nilai Islam kepada segenap keluarga yang kental dengan Balinya. Insya Allah, aku ingin menjadi seorang muallaf dengan keutuhan Islam, iman, dan ihsan.
Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar