Al-Qur’an Mempesona dan Telah Berhasil Merangkul Saya
Seraya berdiri di depan pintu, hampir pada setiap ujung malam, kerap aku berdoa, “Terima kasih ya Tuhan. Telah Engkau berikan semua kehidupan ini padaku. masih ada satu permintaan, tunjukkanlah aku dan keluargaku pada jalan yang lurus. Jalan yang Engkau ridhai. Aku bingung, mana sesungguhnya agama yang betul itu, ya Tuhan?
Sejak kecil aku tinggal di Cilacap sebelah barat Pasar Cede. Tetapi sesungguhnya, aku dilahirkan di Yogyakarta, 31 Mei 1942. Poncowinatan, itulah kampung kelahiranku. Ayahku bernama Santoso Rahardjo, seorang keturunan etnis Tionghoa, sebagai penganut Budha yang taat. Sedangkan ibuku, Sri Sumarsih, termasuk orang Yogya asli. Saudaraku ada empat dan aku merupakan anak ketiga. Agama keluarga kami berbeda. Adikku Kristen, sedangkan kakakku penganut Budhis seperti ayah.
Mengingat Bapakku seorang Budhis yang taat, kerap aku melihat ayah bersemedi, diam menyendiri. Bila ayah sedang bersemedi, tidak seorang pun yang berani mengganggunya termasuk ibuku. Aku sendiri tidak pernah tahu apa sebetulnya yang sedang dilakukan ayah. Yang jelas, aku hanya tahu Tuhan itu tiga, yaitu Tuhan Bapak (Allah), Tuhan lbu (Maria), dan Tuhan Anak (Yesus) yang kemudian aku mengenalnya dalam istilah trinitas. Akan tetapi, keyakinan ini berbeda dengan pernyataan ayah yang menga takan bahwa Tuhan itu satu, tidak bisa dilihat, dicoba, tetapi menguasai semua Perbedaan ini membingungkan, sampai aku akhirnya hanya menanyakannya kepada seorang pastur. Akan tetapi, ternyata pastur menjawab, “Kamu tidak usah banyak berpikir, tidak usah macam-macam. Pokoknya percaya saja.” Mendengar jawaban seperti itu hatiku berontak, tidak terima.
Suatu saat tatkala aku sekolah di SMA, aku menerima salah satu pelajaran agama. Meskipun bagi siswa di luar Islam diperkenankan keluar ruangan saat pelajaran agama Islam diajarkan, aku saat itu tetap duduk dan mencermatinya. semua kulakukan karena aku hanya menyelesaikan kebingunganku kala itu. Begitulah niatku, saat aku mengikuti pelajaran agama Islam. Perjalanan mencermati agama Islam pun berlangsung.
Dalam pelajaran agama Islam itu, aku melihat teman-teman bila akan memulai pelajaran agama, membaca lafal-lafal yang asing dari perbendaharaan bacaanku. Setelah itu, diterangkan konsep Tuhan yang semuanya tercakup dalam arti dan pemahaman kalimat syahadat. “Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya. Ia yang menciptakan dan menguasai seluruh alam ini,” begitulah penjelasan guru agamaku di kelas.
Lama aku termenung. Ada satu titik kesamaan antara pernyataan ayahku dan isi kalimat syahadat yang dijelaskan guru agamaku. Rupanya, secara tidak sadar ayahku telah menanamkan arti ketauhidan yang aku sendiri tidak menyadarinya saat itu. Hanya saja, keterangan yang disampaikan guruku itu lebih jelas. la menjelaskan bagaimana sifat-sifatNya, kekuasaan-Nya, dan siapa nabi dan rasul-Nya. Tidak hanya itu, rukun iman dan rukun Islam termasuk materi yang kudapatkan. 0,…Islam itu begitu, tho? Kataku dalam hati. Tampaknya aku mulai tertarik pada agama yang satu Bahkan, sempat pula aku berpikir ingin masuk Islam. Akan tetapi, ternyata saat itu tidak ada yang membimbing, walaupun memang banyak teman yang beragama Islam. Mungkin karena mereka memandang aku sebagai seorang keturunan etnis Tionghoa.
Islam kembali mengajakku, kali ini lewat azan. Bila azan tiba, teman sepermainanku kerap meminta izin dari permainannya. Kebiasaan ini mengundang rasa penasaranku. Karena pernah suatu saat, aku mengikuti mereka dari belakang. Teryata baru kuketahui mereka meminta izin karena mereka harus mengerjakan shalat. Mulanya aku asing, apa sih sesungguhnya yang mereka lakukan? Berkumur, membasuh tangan, mengusap muka, sampai akhinya berdiri tegak yang kemudian seraya merengkuh menghadapkan diri, mereka seolah-olah menghadapi seseorang. Siapa? Entah, yang jelas begitulah tingkah polah mereka. Meskipun pada awalnya aku sering diasingkan teman-teman, namun lama kelamaan mereka pun baik-baik. Tentu saja ini membuatku merasa senang. Sebab, mereka pun akhirnya bisa menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka.
Setelah aku berumah tangga, timbul pertanyaan dalam hatiku, mau dibawa ke mana keluargaku? Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang hadir dan cukup menggoncangkan hatiku setelah aku menikah. Terlebih lagi, ayahku pun pernah bilang bahwa “hidup pasti mengalami mati dan setelah mati, manusia dimintai pertangung jawabanya”. Kataka-kata inilah yang kemudian terus terngiang dalam pikiran dan batinku. Tidak ada jawaban dan tidak ada ketenangan dalam jiwaku. Yang jelas, kehidupanku tidak lagi merasa tenang. Aku saat itu sangat membutuhkan sesuatu yang bisa menenteramkan hatiku. Aku pun akhirnya mulai mencari ketenangan pada Budha. Suatu saat aku pergi ke Kelenteng, pada saat yang lain aku pergi ke gereja. Namun, dengan langkah demikian pun tidak pula kutemukan ketenangan. Ketika merasa usia kian hari semakin memasuki usia senja, kebutuhan akan ketenangan jiwa mendorongku untuk semakin keras berusaha mencarinya. Mencari sesuatu yang mampu menjawab “keriuhan” jiwaku ini. Begitulah ungkapan hatiku saat itu. Seraya berdiri di depan pintu, hampir pada setiap ujung malam, kerap aku berdoa, “Terima kasih ya Tuhan. Telah Engkau berikan semua kehidupan ini padaku. Tetapi masih ada satu permintaan, tunjukkanlah aku dan keluargaku pada jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai.” Aku bingung, mana sesungguhnya agama yang betul itu, ya Tuhan? Begitulah, pekerjaanku pada setiap ujung malam. Aku panjatkan mata hati ini hanya padaNya. Hanya pada-Nya yang mempunyai kekuasaan alam semesta ini. Sampai pada akhirnya ekspresitas emosi ini tumpah. Aku menangis, merasakan ketakutan yang luar biasa yang sebelumnya belum pernah kualami.
Semua penjelasan ayah tentang keterbatasan hidup, pertanggungjawaban manusia setelah mati yang disampaikan guru agamaku di SMA, semuanya berhamburan hadir di pelupuk mata kasat dan mata hatiku. Tidak kuasa aku membendungnya, sampai aku larut dengan isak tangis. Betapa pentingnya agama. Bagaimana dengan Islam? Itulah yang saat itu kupikirkan. Aku ingin menjadi seorang muslim. Niatku kian hari tambah mantap. Mulailah aku berkonsultasi. Orang Islam pertama yang kutemui adalah Bapak H. Sardjono yang saat itu menjabat ketua sebuah partai politik. Sambutannya hangat, tampak dan kerendahan hatinya yang kemudian menyarankan agar aku menemui Bapak Aziz Matori di Depag Cilacap. Dari Bapak Aziz inilah aku mulai mengetahui ajaran Islam yang lebih berarti. Kasih sayangnya, persahabatannya, termasuk semua hukum dan aturannya yang tercakup dalam Al-Qur’an telah mempesona dan bisa merangkulku. Tidak ditunda lebih lama lagi, aku pun akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Jami Darussalam Cilacap yang disaksikan pula oleh seorang tokoh Islam Tionghoa , H. Yunus Yahya. Alhamdulillah, aku telah menjadi muallaf. Namun, sebagai seorang muslim yang baru, aku menyadari betapa banyaknya godaan. Salah satu di antaranya keluarga. Keluargaku masih menganggap rendah Islam. Acuh tak acuh, seakan-akan tidak mau mengenalku hanya karena aku Islam. Akan tetapi, semua itu memang akhirnya harus aku acuhkan. Yang aku yakini kini, aku harus terus mengkaji apa itu Islam. Tentu saja, sembari terus meluaskan cakrawala pergaulan keislamanku. Apalagi semua anak dan istri sudah masuk Islam. Kemantapan yang harus kumiliki tidak boleh hanya sebatas kebutuhanku sendiri, tetapi juga harus dirasakan oleh istri dan semua anak-anakku. Keinginan menjadikan diri, istri, dan anak-anak sebagai penganut Islam yang taat dan kaffah, aku realisasikan dengan memasukkan anak kedua ke pondok Pesantren Gontor. Aku berharap semoga semua keturunanku dapat mengisi keterbatasan hidupnya dengan ajaran-ajaran Islam yang dapat menolong saat kita menghadap-Nya. Bahkan, dalam benakku terbesit keinginan bahwa aku harus membuat surat wasiat yang isinya mengharuskan anak-anakku taat pada Al-Qur’an dan hadits yang ternyata bisa membawa ketenangan dan telah bisa merangkulku dari kegelisahan-kegelisahan atas keterbatasan hidup ini.
Pustaka
Kembali Ke Pangkuan ISLAM Oleh TARDJONO ABU M. MUAZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar