Daniel Streich, Mualaf asal Swiss
Ia bercita-cita membangun masjid terindah di Eropa di negaranya Swiss.
Sebelum masuk Islam, Daniel Streich adalah seorang anggota SVP sejati dan penganut Protestan yang taat. Media massa memberitakan bahwa ia termasuk aktivis SVP yang paling getol mengkampanyekan referendum pelarangan menara masjid bahkan ada yang menyebutkan Streich termasuk salah satu penggagas larangan kontroversial itu.
Namun sembilan belas hari sebelum referendum, Swiss dihebohkan dengan pengakuan pendiri sekaligus pimpinan Partai Rakyat Swiss (SVP) wilayah Gruyeres ini. Ia mengumumkan telah masuk Islam dan menegaskan dirinya tidak terlibat dalam upaya pelarangan menara masjid.
Diskriminatif
Sejak referendum (jajak pendapat) 29 November 2009, umat Islam di Swiss tidak boleh lagi membangun menara masjid. Karena 57,5 persen pemilih dari 2,67 juta warga yang memberikan suara mendukung pelarangan itu, sedangkan 42,5 persen lainnya menentang.
Sebenarnya warga Swiss non Muslim pada umumnya tidak memiliki masalah dengan warga Swiss yang beragama Islam. Partai Rakyat Swiss (SVP) lah yang telah memberikan gambaran yang buruk tentang Islam sehingga memprovokasi warga untuk mengusik-ngusik ketentraman yang tengah dijalin.
Padahal di negara tersebut hanya ditemukan empat masjid dengan menara. Dan tidak satupun digunakan untuk mengumandangkan adzan sehingga sebenarnya tidak mengeluarkan suara yang bisa dianggap 'mengganggu'.
Masjid Berne, masjid terbesar di ibukota Swiss itu sebelumnya adalah lahan parkir bawah tanah. Tapi itulah justru yang mengkhawatirkan SVP, lahan parkir saja bisa menjadi masjid, itu sebagai bukti bertambahnya orang yang memeluk Islam. Maka SVP dengan gencar mengajak masyarakat untuk mengadakan referendum pelarangan menara masjid dengan alasan menara tersebut adalah simbol islamisasi.
Memang kenaikan penduduk Swiss yang beragama Islam cukup tajam, setara dengan pelonjakan jumlah mereka yang mengaku atheis. Bertambahnya umat Islam, tentu bukan karena masjidnya memiliki menara melainkan karena para mualaf itu menemukan kebenaran dalam Islam; kebenaran yang tidak mereka dapatkan dalam agama lainnya.
Sehingga meskipun saat ini warga Muslim di Swiss sudah mencapai 400 ribuan, dan menduduki ranking ke-3 terbesar, jumlah penganutnya tidak terlalu banyak jika dibandingkan pemeluk Katolik atau Protestan.
Katolik sebanyak 40 persen, mungkin masih mendominasi agama masyarakat Swiss, juga Protestan (30 persen). Tapi jangan salah, orang Katolik dan Protestan yang religius, yang rajin ke gereja, hanya 3 persen. Itu pun sebagian besar generasi tua. Anak muda? Jika bukan atheis ya Katolik KTP atau Protestan KTP. Sementara Islam dan atheis terus menunjukkan kenaikan pemeluknya.
Kenyataan tersebut membuat partai terbesar di parlemen ini merasa sangat kegerahan. Bukannya membina konstituennya untuk kembali giat ke gereja, partai sayap kanan ini malah menebar sentimen kebencian di tengah warga yang sebenarnya tidak memiliki masalah dengan Islam. Sehingga terjadilah referendum pelarangan menara tersebut.
Umat Islam setempat pun protes atas tirani ini. Seorang warga Swiss beragama Islam Elham Manea mengatakan, pelarangan itu diskriminatif karena warga Sikh dan agama lainnya diperbolehkan membangun rumah ibadah mereka dengan bebas.
"Kalau semua simbol-simbol agama dilarang dari semua rumah-rumah ibadah, saya akan menerimanya. Tetapi kalau hanya umat Islam yang menjadi sasaran, sementara warga Kristen, Yahudi, Sikh, maupun yang lainnya dibebaskan, maka saya katakan itu diskriminatif."
Tapi apa boleh buat fitnah telah memenangkan opini, sehingga dalam referendum itu hanya menara masjid sajalah yang dilarang.
Ungkap Jatidiri
Sembilan belas hari sebelum referendum, Streich akhirnya angkat bicara dengan harapan referendum dibatalkan atau setidaknya warga menolak opsi pelarangan menara masjid tersebut.
Jelas itu merupakan pukulan yang sangat telak kepada SVP. SVP merasa kecolongan, ternyata Streich, salah satu kadernya yang taat ke gereja itu justru menyatakan sudah dua tahun ini tidak ibadah ke gereja lagi.
Lebih heboh lagi, ketika Streich mengumumkan jatidirinya di depan publik dan meluruskan isu yang berkembang. Kepada 20 Minuten, situs berita Swiss berbahasa Jerman, Streich mengungkapkan sebelum referendum digelar, ia telah mengundurkan diri sebagai politisi SVP di kota Bulle.
Alasan pengunduran dirinya adalah karena ia memeluk Islam. Keyakinan barunya ini, menurut Streich, telah dianutnya sejak dua tahun lalu. Selama dua tahun itu, Streich merahasiakan identitas agamanya kepada SVP. Dan meskipun menjadi anggota SVP, ia tidak ikut mengusulkan larangan pendirian menara masjid di Swiss.
Namun, diakuinya, ketika sentimen anti Islam semakin gencar di Swiss, ia tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya, Streich pun memilih untuk mengundurkan diri dari partai pada tanggal 10 November 2009 dan mengumumkan secara terbuka tentang keislamannya.
Streich bergabung dengan SVP sejak 2003 sebagai pendiri sekaligus pimpinan SVP wilayah Gruyeres. Ia menempati posisi tersebut hingga tahun 2007 setelah pada bulan Juni mengajukan surat pengunduran dirinya.
Sebagaimana dikutip dari website SVP, alasan pengunduran diri Streich kala itu adalah karena ketidaknyamanan yang ia rasakan menyusul kampanye untuk melarang menara masjid yang mulai gencar dilakukan para koleganya di SVP. Pada tahun yang sama, untuk kali pertama, secara terang-terangan Streich menyatakan bahwa dirinya telah memiliki banyak teman dari kalangan Muslim. Belakangan diketahui, sebenarnya saat itu ia telah masuk Islam.
Namun ketika ia benar-benar merasa tidak tahan melihat ulah rekan-rekannya yang semakin menjadi, kebenciannya terhadap Islam, bersamaan dengan semakin dekatnya hari referendum itu maka ia menyatakan kepada publik Swiss perihal perpindahan keyakinannya ke agama Islam.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim Swiss, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Awalnya, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam.
Ia pun balik menuduh kampanye anti Islam parpolnya serupa dengan kampanye pemburuan para tukang sihir di zaman kegelapan Eropa. Streich menyebut kampanye yang dulu ia mulai sendiri sebagai “witch hunt“.
Sebagaimana dikutip dalam www.islam.suite101.com, ketika Streich pertama kali memulai perdebatannya dengan aktivis Islam tentang isu-isu yang menjadi keprihatinan partai maupun konstituen politiknya, ia memutuskan mempelajari Islam bagi kepentingan strategis.
Ia ingin memahaminya dengan baik untuk membangun argumentasi yang diharapkan dapat mengimbangi pandangan-pandangan para aktivis Islam yang menentang sikap politiknya terhadap agama tersebut. Ia lalu mempelajari Alquran. Tetapi seperti Umar bin Khaththab, alih-alih menemukan apa yang dicarinya, malah mulai sependapat dengan apa yang terdapat dalam kitab suci umat Islam itu.
Sejak saat itu, ia kian memahami Islam dan kemudian mengakui bahwa Alquran memberikan ajaran yang benar. “Islam menawarkan saya jawaban logis untuk pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidup yang pada akhirnya tidak pernah saya temukan dalam ajaran Kristen,” papar Streich kepada 20 Minuten (23/11/2009).
Menurutnya, dulu ia memang rajin membaca Bibel dan pergi ke gereja secara teratur. Sekarang, ia orang yang rajin membaca Alquran, shalat lima waktu, dan shalat berjamaah di masjid. Melihat kenyataan itu, membuat petinggi SVP semakin berang dan mencaci Streich sebagai setan.
Namun ia tidak ambil pusing dengan cacian yang disematkan kepadanya. Ia malah bercita-cita ingin membangun sebuah masjid yang terindah di Eropa di negaranya karena menurutnya Swiss justru sangat membutuhkan lebih banyak masjid. “Tidak pantas Swiss memaksa Muslim untuk menjalankan perintah agama mereka di gang belakang!” tegasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar