Febrina Ayu Scottiati - detikRamadan
Lucy saat mewawancarai Habibie (dok.pribadi)
"Ada teman, padahal enggak dekat-dekat amat juga. Malahan gue ingat banget gue enggak pernah cerita ke dia soal ketertarikan gue dengan Islam. Pas di kampus dia bilang gini, 'Luc, lo suka baca kan? Gue pinjemin buku ya, keren deh! Lo pasti suka'. Waktu gue tanya buku apa, dia enggak mau jawab," tutur Lucy saat berbincang dengan detikcom, Kamis (4/8/2011).
Sampai akhirnya, lanjut Lucy, temannya memberikan Al Qur'an miliknya. Sebuah Al Qur'an lama yang masih terawat dan terdapat terjemahan di samping kanan-kiri ayat suci itu.
"Aku baca terjemahannya mulai dari surat Al Fatihah dan surat-surat pendek lainnya. Rasanya biasa saja dan belum ngerti karena itu tafsiran ya," kata perempuan bernama lengkap Lucy Wiryono ini.
Rupanya jauh sebelum Lucy mendapat Al Qur'an itu, batin ibu satu anak ini tak tenang. Sejak kecil ia dibesarkan secara Katolik sesuai agama yang dianut ibunya. Ia pun disekolahkan sejak kecil hingga kuliah di sekolah Katolik.
Namun ia mulai merasa tak yakin dengan agama yang dianutnya sejak duduk di bangku SMA. Ia mulai menanyakan sesuatu soal agama namun tak menemukan jawabannya.
"Saya mulai sering mendengarkan ceramah-ceramah di televisi saat bulan Ramadan. Saya tertarik mendengar ceramah ustadz-ustadz. Ibu saya juga tidak pernah bertanya mengapa saya suka melihat acara itu. Meski orangtua beda agama tapi kami hidup rukun," ujar Lucy yang kini menjadi host Pagi Jakarta di O Channel dan Moto GP Trans 7 ini.
Puncak kegelisahannya mulai timbul saat ia memasuki kuliah. Lucy yang saat itu berumur 23 tahun merasa ada sesuatu yang hilang di hatinya. Ia pun membulatkan tekad, umur 25 tahun ia harus memiliki keputusan terkait agama yang akan ia anut.
Sejak itu pun ia mulai intensif mendengarkan ceramah-ceramah di televisi. Hingga pada suatu malam ia bermimpi mengenakan mukena dan melakukan salat. Tak hanya sekali mimpi itu datang, namun hingga berkali-kali.
Ia pun menceritakan mimpi itu ke ayahnya. "Apa jangan-jangan itu yang namanya hidayah ya Pah? Namun ayahnya hanya berkomentar pendek 'Kamu mau munggah derajat saja kali'," cerita perempuan kelahiran 6 Januari 1978 ini.
Usai kejadian itu, ia pun diberi Al Qur'an dari seorang teman yang tak ia kenal begitu dekat. Sampai suatu hari yang ada di pikirannya adalah bagaimana kalau saat ia meninggal, ia tak memiliki keyakinan agama dan hanya tahu ritualnya saja.
Lucy pun memberanikan diri bercerita ke ayahnya tentang keputusannya menjadi mualaf. Ayahnya dipilih sebagai orang pertama yang ia kasih tahu mengingat betapa akrabnya putri sulung dari dua bersaudara ini ke ayahnya.
"'Pah, aku kayaknya pengen masuk Islam deh', bokap gue bilang jangan buru-buru. Islam itu enggak gampang. Bokap gue bilang untuk jalanin perintah Islam yang paling dasar saja enggak cukup seumur hidup untuk menyempurnakannya. Kata bokap gue, 'Mama kamu juga akan susah diyakini loh. Cobaan seorang mualaf itu luar biasa Luc, yakinin diri kamu deh'," kata Lucy menirukan pesan ayahnya.
Tapi Lucy yakin akan keputusannya, ia pun meminta kawan akrabnya untuk mencarikan seorang ustadz yang bisa membimbingnya membaca dua kalimat syahadat. Ia pun dibawa ke daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan untuk bertemu ustadz itu.
Sang ustadz pun menanyakan kemantapan keputusan Lucy. Setelah tahu Lucy yakin ia pun membimbing Lucy membaca syahadat.
"Ustadz itu tanya, 'Yakin mau mualaf? Harus yakin karena ujiannya luar biasa, cobaan seorang mualaf itu luar biasa. Allah SWT pasti ingin menguji seorang mualaf istiqomah atau tidak'. Tapi saya bilang yakin. Akhirnya dua kalimat itu pun terucap sudah. Waktu itu ustadz bilang ini semacam test drive dulu jadi tidak perlu mengurus surat-surat atau mengganti identitas. Takutnya gue enggak sanggup lewatin ujiannya," ujarnya.
Bagitu sampai di rumah, Lucy pun mencoba melakukan salat ashar dengan mukena dan buku tuntunan salat pemberian teman baiknya. Ia merasa aneh saat mengambil air wudu untuk pertama kalinya. Kemudian mukena dipakai dan sajadah digelar, tak lupa membuka buku tuntunan salat dibuka untuk contekan.
"Sampe akhirnya gue sujud untuk pertama kalinya. Perasaan pas sujud pertama itu luar biasa. Gue nangis sejadi-jadinya. Saat itu gue merasa menemukan 'rumah' gue. Qolbu ini bergetar hebat. Di sujud itu, pertama kalinya dalam hidup gue, gue merasakan yang namanya kebesaran Tuhan dan gue ini enggak ada artinya, enggak punya daya apapun. Susah gambarin perasaan gue pas sujud pertama itu. Katanya, menemukan pacar itu serasa menemukan kepingan hati yang hilang, ini 1 juta kali lebih dahsyat! Di situlah gue yakin, Islam memang pilihan yang tepat untuk gue," kenang Lucy.
Ayahnya pun mengucapkan syukur begitu tahu kepindahan Lucy. Namun ia berpesan jangan memberitahukan terlebih dahulu ke ibunya sebelum ayahnya menceritakan hal ini ke Ibu Lucy. Ayahnya takut sang ibu kaget dan marah.
Namun dua minggu setelah keputusannya menjadi mualaf, nasihat ustadz bahwa seorang mualaf akan diuji benar adanya. Ayahnya meninggal secara mendadak sebelum memberitahu kepindahan agama Lucy kepada sang ibu. Ia pun kaget dan panik. Meski sudah mengikhlaskan kepergian ayahnya, ia bingung apa yang musti dikatakan kepada ibunya tentang agamanya. Lucy pun memutuskannya akan mengatakan saat yang tepat, namun Tuhan punya skenario lain.
"Beberapa hari setelah bapak meninggal, gue mau salat maghrib dan mendoakan beliau. Biasanya, gue ambil wudu dulu baru gelar sajadah. Gue selalu kunci pintu kamar kalau mau salat. Sore itu, justru gue gelar sajadah duluan, terus keluar ambil wudu. Tahu-tahu nyokap gue masuk kamar, dia kaget. Gue keringat dingin. Bingung mau jawab apa. Akhirnya gue jawab, "Aku pindah Ma, aku memeluk Islam sekarang'. Nyokap gue marah besar waktu itu. Ya wajarlah, kaget dan enggak nyangka," tutur perempuan ber-Id @lucywiryono di situs mikro blogging Twitter ini.
Butuh hitungan tahun untuk meyakinkan ibunya bahwa ia sudah menjadi pemeluk agama Islam. Sekitar tahun 2009, hubungan mereka pun membaik.
"Mama enggak pernah terang-terangan bilang mendukung maupun menolak. Ia hanya menerima keputusan gue dengan caranya sendiri. Alhamdulillah hubungan kami membaik. Memang jadi mualaf itu 'seru'. Yang memberi dukungan banyak, yang bilang gue muslim KW bahkan menganggap kafir juga ada. Mau dibilang apa kek, yang penting di hati gue ini ada Allah SWT. Manusia itu bisa meninggalkan kita kapan saja kok, tapi Allah SWT enggak pernah," tutup Lucy yang kemudian berpamit harus mengantar buah hatinya ke suatu tempat.
( feb / feb )
Salut ๐๐๐
BalasHapusSemoga istiqomah sll mbk Lucy
BalasHapusGa bisa nahan air mata walau setengah mati ditahan biar ga keluar karena baca kisah ini dikantor,tp pas baca sujud pertama Lucy,air mata ga bisa ditahan lg .... subhanallah,maha suci engkau ya Allah, ketika Hidayah telah merasuk ke dalam qolbu hambamu yg kau pilih indah tiada tara
BalasHapus