Senin, 15 Agustus 2011

sejarah islam di Amerika

Bulan Ramadan sudah tiba, dan seperti biasanya media kaum kulit putih menyoroti kehidupan komunitas-komunitas Muslim imigran non-kulit hitam sebagai contoh bagaimana Muslim menjalankan ibadah puasa. Selama Ramadan, kaum Muslim berpantang makan dan minum dan tidak melakukan hubungan suami-istri sejak matahari terbit hingga tenggelam sampai akhir bulan. Kaum Muslimin membaca Al Qur'an sampai katam dan melaksanakan sembahyang khusus (tarawih) di malam hari. Jika seorang Muslimin sakit, atau seorang Muslimat sedang haid, ia harus memberi makanan kepada satu orang sekali sehari, atau 30 orang pada akhir bulan puasa. Dengan berakhirnya bulan puasa, kaum Muslim merayakan Idul Fitri dengan bersembahyang, berzakat, bersuka ria dan bertukar hadiah.

Menurut Dr. Ivan Van Sertima, Dr. T.B. Irving dan Adib Rashad, kaum Muslim berkulit hitam datang ke Amerika 180 tahun sebelum Columbus. Tentu saja mereka membawa kewajiban Islam, termasuk puasa. Dalam buku klasiknya, "Islam, Nationalism, and Slavery," Rashad mencatat: "Penjelajah dan saudagar Muslim Afrika di bawah arahan Khalifah Mansa Abubakari Muammad ... menjelajahi banyak bagian Amerika, termasuk apa yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat…"Rashad menyatakan bahwa kaum Muslim Afrika "berdagang, menyebarkan, menikahi dan mengIslamkan pribumi Amerika."

Asal-usul puasa di kalangan rakyat Amerika berkulit hitam dapat pula ditelusuri pada Holokos Perbudakan. Selama periode itu, banyak orang Afrika yang dipenjara di perkebunan-perkebunan beragama Islam. Secara keseluruhan, budak-budak Muslim dilarang menjalankan puasa Ramadan ataupun semua rukun Islam yang lain. Kematian atau lecutan cemeti sering menjadi hukuman bagi Muslim yang diketahui sedang berpuasa atau mengajarkan Islam.

Namun ada juga pemilik budak yang toleran terhadap budak Muslim dan memperbolehkan mereka menjalankan rukun Islam, yang berarti selama bulan Puasa pemilik budak harus menyesuaikan jadwal kerja budak mereka agar mereka dapat menjalankan salat tarawih dan menyediakan waktu khusus untuk berbuka puasa.

Sali-Bul Ali adalah seorang Muslimin di sebuah perkebunan. Albert Raboteau, dalam bukunya "Slave Religion" menulis bahwa James Coupor, pemilik Ali, berkata, "Ia pengikut Muhammad yang setia; berpantang minum minuman keras, dan menjalankan berbagai jenis puasa, terutama puasa Ramadan..."Sementara banyak kaum muslim dipaksa murtad di bawah teror para pemilik budak, ada yang menolak masuk Kristen dan tetap berpegang teguh pada kelima rukun Islam, termasuk puasa.

Yarrow Manout adalah budak Muslimin yang hanya menyembah Allah. Dalam jiwanya ia percaya dirinya adalah budak Allah. Ia tidak hanya menjalankan puasa Ramadan, membaca Qur'an dan rukun Islam lainnya, tapi juga berbusana Muslim.

Sebagian budak Muslim berasal dari kerajaan-kerajaan kuno Afrika. Pangeran Abdul Rahman menelusuri asal usulnya ke Kekhalifahan Moor yang terkenal karena berhasil menaklukan dan memajukan Spanyol. Salih Bilai adalah anggota komunitas Foulah di Sudan, yang terkenal sebagai keturunan Raja-raja Gembala Mesir. Leluhur Job Ben Solomon dapat ditelusuri sampai ke Raja Sulaiman dan Nabi Ibrahim.

Banyak imigram Muslim berusaha membawa Islam kepada kaum kulit hitam Amerika setelah Perang Saudara. Gerakan Ahmadiyah, yang didirikan di India, masuk ke Amerika Serikat pada 1921. Mereka menarik banyak kulit hitam pengikut sekte Garveyite dengan menawarkan suatu solusi bagi masalah orang Negro. Penyanyi Dakata Station adalah salah satu dari banyak pemusik berkulit hitam terkenal yang diIslamkan oleh Ahmadiyah.

Syekh Al-haj Dooud Ahmet Faisal yang berlatar belakang Karibia dan Maroko, mendirikan Pusat Dakwah Islam Amerika pada 1928 di State St. 143, Brooklyn. Seperti halnya Ahmadiyah, sang syekh mengajarkan Qur'an, kehidupan Nabi Muhammad, dan kelima rukun Islam, termasuk puasa Ramadan.

Pada awal abad ke-20, Nobel Drew Ali, seorang Amerika berkulit hitam dari Carolina Utara, mengajarkan Islam prototip kepada pengikutnya. Mereka mungkin berpuasa, tapi tidak ada petunjuk bahwa mereka berpuasa Ramadan sebagaimana diperintahkan oleh Al Qur'an dan Nabi Muhammad. Ali, yang memulai gerakannya di Chicago dan berakhir di Newark, N.J., memimpin kelompok Islam prototip pada awal abad ke-20: Kuil Ilmu Pengetahuan Moor.

Seperti Ali, Wallace D. Fard tiba di Detroit pada 4 Juli 1930 dengan ajaran yang jauh menyimpang dari ajaran Islam. Selanjutnya Fard hilang setelah polisi Detroit menahannya, dan ajudan kepercayaannya, Elijah Muhammad, menjadi pemimpin Nation of Islam. Elijah mengajarkan bahwa dirinya, bukan Nabi Muhammad, adalah utusan Allah yang terakhir. Ia melecehkan bagian-bagian Al Qur'an dan memerintahkan para pengikutnya untuk berpuasa Ramadan pada bulan Desember, berlawanan dengan cara kaum Muslimin sedunia memperhitungkan datangnya bulan Ramadan. Selanjutnya, Elijah mengangkat Malcolm X sebagai juru bicara nasionalnya. Malcolm menjalankan puasa bulan Desember, tapi sesudah lepas dari Elijah ia beralih ke Ramadan yang sebenarnya.

Pada 1975, Imam Warith D. Mohammad, anak Elijah, mengambil alih kepemimpinan Nation of Islam ketika ayahnya meninggal. Ia, seperti Malcolm, menolak ajaran ayahnya, dan membawa Nation of Islam kepada Qur'an dan cara Nabi Muhammad. Ia menghentikan puasa Ramadan di bulan Desember dan bergabung dengan satu miliar Muslim sedunia dalam Ramadan. Louis Farakhan, anak didik Malcolm, mengikuti Warith beralih dari puasa Desember ke puasa Ramadan. Farakhan kembali ke puasa Desember setelah ia berpisah dari Warith dan membangun kembali Nation of Islam. Pada tahun-tahun belakangan ini, Farakhan dan pengikutnya sudah ikut dalam puasa Ramadan namun tetap menjalankan puasa Desember.

Islam adalah salah satu agama yang paling cepat berkembang di Amerika Serikat. Ada sekitar enam juta pemeluk Islam di Amerika Serikat. Muslim Amerika keturunan Afrika merupakan kelompok Islam terbesar di Amerika. Keikutsertaan mereka dalam puasa Ramadan adalah kelanjutan dari tekad para leluhur agama dan suku mereka yang tiba di Amerika 180 tahun sebelum Columbus, dan tekad para budak yang tetap memancarkan cahaya Islam selama perbudakan.

Imam Talib Abdur Rashid dari Masjid Persaudaraan Islam di Harlem, di mana para anggotanya telah berpuasa Ramadan sejak 1964, mencatat dalam sebuah khotbah baru-baru ini, "Ramadan adalah untuk Allah, saatnya kaum Muslim memberdayakan kehidupan rohaninya. Jika seorang Muslim hanya sekedar berpuasa dan tidak berusaha melepaskan diri dari beban kelemahan kemanusiaannya, maka ia tidak menyelami makna semangat Ramadan yang sebenarnya! Ia hanya merasakan lapar."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar