Minggu, 07 Agustus 2011
Muslim Tibet
Muslim Tibet dikenal masyarakatnya dengan sebutan "Khache". Diperkirakan sebutan ini muncul karena Muslim pertama yang datang dari Kashmir dikenal dengan nama "Khache Yull". Para Kache ini merupakan kelompok minoritas di Tibet yang didominasi pengikut Budha. Meskipun masuk golongan minoritas dan secara silsilah bukan orang asli Tibet, mereka lebih diakui sebagai orang Tibet daripada kelompok Muslim Hui asal China atau yang disebut Kyangsha.
Dengan populasi yang sangat sedikit, keberadaan Muslim Tibet juga tersebar di seluruh kawasan ini. Sebagian besar menetap di ibukota Tibet Lhasa dan di Shigatse, kota terbesar kedua di Tibet.
Muslim Tibet memiliki keunikan tersendiri. Faktanya mereka sebagian besar merupakan keturunan Kashmir, Persia, atau Arab melalui garis keturunan ayah. Darah Tibet mengalir melalui garis keturunan ibu. Maka tak heran, banyak dari mereka yang bernama depan Tibet namun nama keluarganya Persia.
Komunitas Muslim Tibet memiliki masjid sendiri yang terletak di Lhasa, Shigatse, dam Tsethang. Ciri khas lainnya dari komunitas Muslim Tibet adalah pusat kegiatan mereka yang terkonsentrasi di sekeliling masjid, yang juga menjadi pusat kehidupan sosial Muslim di Tibet.
Mereka juga mendirikan madrasah. Selain mengajarkan agama, madrasah juga mengajarkan bahasa Urdu. Ada dua madrasah di Tibet, satu di Lhasa dan satu lagi di Shigatse.
Namun, madrasah belum diakui pemerintah Cina yang menginvasi Tibet tahun 1959. Lulusan madrasah tidak bisa meneruskan ke sekolah umum yang lebih tinggi. Karenanya, mereka meneruskan studinya ke institut-institut Muslim di India. Salah satu institusi pendidikan favorit mereka adalah Darul-Ulum di Deoband, Nadwatul-Ulema di Lucknow, dan Jamia Millia Islamia di New Delhi.
Akibat keterbatasan transportasi, para siswa yang akan melakukan perjalanan ke India, harus berangkat bersama rombongan dagang. Perjalanan ini memakan waktu berbulan-bulan karena harus berjalan kaki dan naik kuda atau keledai ke India. Biasanya, mereka tidak pulang ke rumah kecuali sudah menyelesaikan pendidikan atau memutuskan drop out.
Tak banyak Muslim Tibet yang berhasil menyelesaikan kuliah mereka di India dan mendapat keahlian bahasa Arab, Urdu, dan Persia. Yang paling terkenal dari mereka adalah Faidhullah, penerjemah puisi sastrawan Persia Syekh Sadi ke dalam bahasa Tibet, Gulestan, dan Boastan.
Selain kesusastraan, Muslim Tibet juga telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kebudayaan masyarakat Tibet, khususnya dalam seni musik. Nangma atau dalam bahasa Urdu disebut naghma, sejenis musik klasik yang sangat populer di Tibet, disebutkan dibawa ke tempat ini oleh Muslim Tibet.
Mereka juga mengadopsi adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Tibet. Salah satunya dalam urusan pernikahan. Di satu sisi mereka menjalankan pernikahan ala Tibet, namun di sisi lain mereka tetap memegang kukuh tradisi pernikahan Islam.
Harmoni yang Hilang di Atap Dunia
Sebelum diinvasi China pada tahun 1959, kehidupan dan toleransi umat beragama yang berlangsung di Tibet sangatlah luar biasa. Komunitas Budha yang mayoritas memberikan tempat dan kebebasan bagi komunitas Muslim yang minoritas untuk berkembang dan menjalankan ritual ibadahnya.
Secara pasti, hingga kini belum diketahui sejarah awal kapan komunitas Muslim datang ke kawasan yang disebut sebagai atap dunia ini. Namun sejarawan Arab, seperti Yaqut Hamawi, Ibnu Khaldun, dan Tabari sudah menyebut-nyebut nama kawasan ini dalam tulisan-tulisan mereka. Bahkan Yaqut Hamawi, dalam bukunya, Muajumal Buldan, atau ensiklopedi negara-negara, menyebut kawasan ini dalam tiga istilah Tabbat, Tibet, dan Tubbet.
Islam datang ke Tibet melalui para pedagang Muslim yang berasal dari empat kawasan yang berbatasan langsung dengan Tibet. Mereka berasal dari Kashmir, Ladakh, Nepal, dan Cina, meski ada pula pengaruh Persia dan Turkistan.
Muslim migran dari Kashmir dan Ladakh, dua wilayah di India, pertama kali memasuki Tibet pada abad ke-12. Melalui pernikahan dan interaksi sosial, komunitas Muslim Tibet mulai terbentuk dan semakin banyak hingga membentuk komunitas Muslim tersendiri di Lhasa, ibukota Tibet.
Adalah Dalai Lama yang memainkan peranan penting dalam membuka jalan bagi kehidupan komunitas Muslim di lingkungan penganut Budha Tibet. Sebagai bagian kebijakan toleransi beragama, Dalai Lama menghadiahi komunitas Muslim Tibet dengan hak-hak istimewa.
Mereka boleh memilih lima anggota komite untuk mengawasi urusan internal mereka. Mereka juga diperbolehkan menangani permasalahan mereka secara independen dengan menggunakan hukum syariah. Muslim Tibet juga boleh membuka toko di seluruh kota di Tibet dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.
Keistimewaan lainnya adalah mereka juga boleh memakan daging selama perayaan Sadakawa yang merupakan perayaan suci umat Budha. Termasuk diperkenankan untuk tidak membuka topi mereka pada perayaan ibadah Monlam untuk membedakan mereka dari pendeta-pendeta Budha. Dalai Lama juga memberikan lahan kosong di Lhasa bagi komunitas Muslim untuk membangun masjid dan juga pemakaman.
Sebelum invasi Cina, diperkirakan ada sekitar 3 ribu Muslim Tibet yang tinggal di seluruh kawasan ini. Jumlah mereka menyusut drastis setelah invasi. Seperti saudaranya yang beragama Budha, Muslim Tibet juga diperas, disiksa, dan dianiaya sehingga terpaksa mengungsi. Pemerintah Cina bahkan memperlakukan mereka lebih kejam daripada kepada orang Budha. Muslim Tibet yang menguasai perdagangan di kota-kota di Tibet dipaksa menyerahkan asetnya agar bisa keluar dari Tibet.
Namun setelah semua aset diberikan, pemerintah China berkhianat. Izin migrasi mereka tidak diberikan dan mereka melarang siapapun menjual makanan kepada Muslim Tibet. Akibatnya banyak orang tua dan anak-anak Tibet yang meninggal karena kelaparan.
Berkat bantuan Dalai Lama yang meminta bantuan pemimpin Jammu dan Kashmir, akhirnya pada tahun 1975, Muslim Tibet yang melarikan diri diberikan lahan untuk tempat tinggal. Meski begitu, Muslim Tibet tetap merindukan kampung halamannya yang damai seperti dulu. "Lebih baik hidup di bawah jembatan namun di kampung halaman sendiri, daripada hidup sebagai pengungsi di tempat lain," begitu semboyan mereka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar