IMGP1713
Banyak artikel tentang Muslim Cina sudah di tulis, ini hanyalah sekedar pengalaman selama dalam perjalanan ke perbatasan Cina dengan Thailand.
Di Mae Sai salah satu kota di provinsi Chiang Rai Thailand Utara misalnya, Muslim Cina disana dipanggil Cin Ho… enggak tahu apa ada hubungannya dengan laksamana Cheng Ho, kalau dari segi ekonomi mereka cukup berhasil, banyak toko, restoran milik mereka, disana pun ada beberapa Hotel yang dimiliki dan dikelola oleh Muslim Cina.
Baru-baru ini saya ke Chiang Rai.
Menurut buku Tuanko Rao oleh Mangaraja Onggan Parlindungan tidak sedikit peran Muslim Cina untuk Islam di Nusantara (Indonesia) terlepas dari kontroversi buku itu soal orang Mianang.
Kalau kita lihat di peta, Chiang Rai adalah bekas kerajaan Lana tempo dulu, letak kerajaan Lana itu tidak berapa jauh dari Yunan Cina Selatan. Sekarang pun dengan berkenderaan Bus dari Mae Sai ke Yunan bisa ditempuh selama 4 jam, tentunya melalui kota Ta Chi Lek di Provinsi Shan Burma (Myanmar sekarang).
Di bukit-bukit di sekitaran provinsi Chiang Rai, begitu pun di provinsi Pha Yao masih banyak dijumpai muslim Cina. Mereka eksodus ke Thailand karena alasan faham komunis yang dianut negara itu, disamping aqidah, juga dari segi keamanan dan ekonomi sebagai mana yang diceritakan oleh Ibrahim penduduk kampung Santisuk masuk Provinsi Pha Yao, saat kami bertemu dan berbincang bincang dengan nya.

anak - anak muslim suku hmong di thailan...........
San Ti Suk yang berarti kampung yang sentosa atau kampung yang aman damai. Banyak diantara mereka yang berkahwin dengan penduduk asli atau orang disana menyebutnya suku bukit yang berasal dari Hmong (mongolia?). Di bukit -bukit yang berhawa sejuk itu, mereka tetap teguh dalam Islam .
Sementara, kalau kita arah ke bukit-bukit sebelah Barat Chiang Rai, disana banyak dihuni suku Aka, disini pun terjadi perkawinan campur suku pendatang dengan suku asli. Seperti Bilal masjid An Noor di Mae Sai, Haji Musa namanya , adalah Cin Ho dari Yunan berkawin dengan suku setempat dan memeluk Islam.
Demikian juga dengan Dai-Dai dari Thailand Selatan yang ditempatkan di perkampungan-perkampungan di perbukitan-perbukitan itu beristrikan perempuan-perempuan suku setempat.
Ustad Hasan (35) pria beranak empat ini mempunyai isteri dari suku Hmong, adik beradiknya semua masuk Islam, malah telah ada yang kuliah di University Yala mengambil jurusan Bahasa Inggris, meskipun saat ini orangtua mereka masih pagan diperbukitan sana.
Tentang bahasa, bahasa Melayu logat Thailand terutama dari Selatan (Patani, Yala, Narathiwat) agak aneh terdengar di kuping orang Indonesia, menyebutkan sore atau petang menjadi pete, malah kata Islam menjadi Isle, jadi kalau menyebut orang Islam menjadi ore Isle. Mungkin itu menyebabkan kata Cin Ho menjadi Cheng Ho wallauhu’alam.
Muslim Nusantara
Dari perbukitan di Tahiland yang memanjang sampai ke Cina sana, menyimpan banyak peristiwa, seperti Hun Sa si raja ovium dunia itu misalnya (sudah meninggal). Di bukit Doi Pho Chang (dua gajah) tempat sarang komunis yang sangat sulit ditumpas pemerinta setempat, pun bermaskas disana.
Chiang Rai provinsi paling utara di Thailand ini adalah tempat laluan orang yang berkepentingan ke Nusantara. Kalau ada waktu dan rezeki kaum Cina Indonesia pergilah ke sana.
Kaum Cina disana, mereka pandai berbahasa Arab, pasih melantunkan azan dan bacaan sholat, menjadi pengurus masjid dan mereka memotong hewan qurban untuk yang duafa, bukan untuk roh jahat.
Yang lebih penting lagi mereka tidak marah dan malah bangga di sebut orang Cina atau Cin Hoi. Tidak seperti di tempat saya di Batam dan umum nya di Indonesia , mereka lebih suka di panggil Tiong Hoa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar