Kamis, 18 Agustus 2011

Kepala Suku Besar, Mantan Kepala Pendeta, Masuk Islam

Quantcast
Missionaris tidak membangun peradaban baru, justru mempertahankan budaya terbelakang.
Hidayah datang tak mengenal umur. Itulah yang saya alami. Saat usia
menginjak angka 68 tahun, Allah membuka pintu hati saya untuk masuk
Islam. Padahal bertahun-tahun, saya adalah seorang pendeta, malah saya
adalah ketua pendeta di Manokwari. Saya sekaligus adalah Kepala Suku
Besar Serui.
Saya terlahir dengan nama Saul Yenu. Saya adalah manusia tiga zaman.
Saya merasakan hidup di zaman Belanda, Jepang, dan kemerdekaan. Saya
lahir 28 Oktober 1934. Karena itu saya pernah merasakan perih getirnya
perjuangan. Saat itu saya sebagai pejuang pembebesan Irian Jaya.
Ternyata setelah kemerdekaan, penduduk Irian Jaya bukannya tambah
berbudaya. Mereka tetap saja dalam ketertinggalan. Mereka tetap
telanjang. Padahal di sana banyak berkeliaran para misionaris. Kekayaan
alam yang dimiliki Irian Jaya ternyata tak memberi dampak kemajuan
kepada penduduknya.
Ini saya lihat berbeda dengan kalangan Muslim. Kebetulan saya
bergaul dengan baik dengan kaum Muslim di Irian Jaya, terutama ABRI
(sekarang TNI) yang sering mengadakan kegiatan ABRI masuk desa pada
dasawarsa 70-80-an. Mereka semua berpakaian. Mereka pun membangunkan
rumah-rumah gratis bagi warga Irian. Begitu senangnya saya dengan
mereka hingga saya pun dengan senang hati sering memberi bantuan kepada
mereka. Kebetulan saat itu saya bekerja di Departemen Pekerjaan Umum.
Pergaulan intensif saya dengan orang-orang Muslim itu sedikit demi
sedikit menimbulkan kekaguman pada diri saya. Mereka selalu
membersihkan diri setiap hari minimal lima kali sehari. Mereka pun
selalu shalat. ”Wah, jangan-jangan karena mereka sembahyang terus tiap
hari, bumi ini menjadi berkah,” pikir saya.
Ini sangat berbeda dengan kebiasaan kami. Kami hanya ke gereja
seminggu sekali. Itu pun tidak wajib. Berarti doa hanya sekali
seminggu. Itu pun banyak di antara jemaaht gereja masih dalam keadaan
habis minum bir dan minuman keras lainnya. ”Bagaimana doa bisa diterima
kalau mabuk,” pikir saya.
Tapi itulah, kenyataaannya. Suatu saat saya berpikir: ”Kalau Kristen
terus, berarti ini melanjutkan zaman Belanda. Masyarakat tidak akan
pernah maju.” Soalnya, memang Belanda-lah yang membawa misi Kristen di
Irian Jaya pertama kali. Dan hingga kini, misionaris tidak membangun
peradaban baru. Justru mereka ingin mempertahankan budaya Irian yang
sebenarnya terbelakang.
Pergaulan saya dengan orang-orang Muslim mengantarkan saya pada
sebuah kesimpulan bahwa Islam identik dengan kemajuan. Dan inilah yang
saya lihat sendiri. Orang-orang Muslim justru mengajak kami menggunakan
pakaian. Belakangan saya baru tahu bahwa ada kewajiban bagi setiap
Muslim menutup aurat.
Begitu eratnya hubungan saya dengan kaum Muslim ini hingga kalangan
Kristen di Manokwari menyebut saya pendeta Krimus, alias Kristen
Muslim. Saya bilang kepada mereka: ”Janganlah mengatakan seperti itu,
nanti malah bisa menjadi Muslim betulan.”
Kekaguman saya atas perilaku kaum Muslim itulah yang membuat tekad
saya kian kuat untuk memeluk Islam. Saya yakin: Islam adalah kemajuan.
Pelajaran kependetaan yang saya jalani di Gereja Tabernakel tak mampu
mencegah keinginan saya memenuhi panggilan Allah.
Jalan Berliku
Ternyata tak mudah masuk Islam. Mungkin karena saya adalah kepala
pendeta dan kepala suku besar. Hingga suatu saat ketika saya
menyampaikan niat saya kepada seorang kepala KUA di Manokwari, dia
menolak. Sepertinya dia tak berani mengislamkan saya.
Tapi niat hati ini tak bisa dibendung. Saya akhirnya memutuskan
pergi ke Jakarta demi niat tersebut. Saya dibantu oleh saudara
Khairudin, kenalan saya yang bekerja di Angkatan Laut. Saya kemudian
diantar ke Condet, menghadap seorang ulama di sana. Di situ saya
mengucapkan syahadat. Saya pun mengubah nama menjadi Ismail Saul Yenu.
Untuk lebih meyakinkan lagi, saya dibawa ke Masjid Al Azhar di
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu bulan Februari 2002.
Keislaman saya disahkan di masjid besar itu. ”Alhamdulillah.” Setelah
itu, saya pun disunat. Saya dibawa ke Bandung. Dalam kondisi sudah tua
seperti ini saya harus sunat bersama anak-anak. Memang agak malu, tapi
harus bagaimana lagi.
Masuk Islam saya ternyata sampai juga ke Irian Jaya, Belanda, dan
Jerman. Mereka gempar. Jelas mereka tak terima langkah saya, apalagi
saya punya posisi yang penting di Manokwari khususnya Suku Besar Serui.
Karena itu saya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Saya ingin
tinggal di Jakarta terlebih dahulu, sekalian belajar Islam. Kebetulan
saat itu adalah musim haji. Saya ingin sekali naik haji. Berkat bantuan
teman-teman di Jakarta, akhirnya saya dibantu Pak Amien Rais untuk
menunaikan haji. Dalam kondisi masih diperban, saya berangkat haji
bersama rombongan Aisyiyah.
Sepulang dari haji, saya diminta tak langsung pulang ke Irian. Tapi
saya tetap nekad. Saya yakin Allah akan selalu menyertai kita. Saya
yang sejak haji mengenakan gamis panjang dan topi haji, berangkat naik
kapal Pelni. Banyak liku-liku di perjalanan, termasuk ketika kapal
dilarang merapat di Ambon karena ada konflik. Saya nekad meminta kapal
dibolehkan sandar. Kapal pun sandar.
Ketika kapal Ciremai sampai di Manokwari, saya justru disambut.
Tidak hanya kalangan Islam tapi juga Kristen. Saya diterima secara adat
dengan cara melewati kain slopang sepanjang 40 meter berwarna biru tua.
Ini adalah simbol kematian. Tapi di atas kain itu ditaruh 100 piring
yang menandakan kebangkitan. Ini artinya, sebagai pendeta sudah mati
dan bangkit lagi sebagai haji.
Sejak itu saya berusaha menyampaikan Islam kepada siapapun. Baik
kepada keluarga maupun saya datang langsung ke gereja. Saya selalu
bilang kepada mereka: ”Saya datang untuk sampaikan firman Allah yang
sebenarnya.”
Memang baru hal-hal ringan yang saya sampaikan seperti tidak boleh
mabuk, harus selalu bersih dan suci. Saya juga menyampaikan bahwa Islam
tidaklah seperti yang digambarkan oleh para misionaris sebagai agama
yang harus dibenci. Islam adalah agama yang baik yang mengajarkan
manusia untuk berbudaya luhur, tidak telanjang seperti sekarang.
”Ajaran yang demikian baik, seharusnya bisa diterima,” kata saya dalam
setiap pertemuan.
Paling tidak hingga kini sudah ada 50 orang yang masuk Islam.
Alhamdulillah. Sebanyak 20 di antaranya sudah naik haji. Keluarga pun
beberapa mengikuti jejak saya. Anak saya yang berjumlah 37 orang, tujuh
di antaranya sudah masuk Islam. Istri saya empat orang, dua di
antaranya pun sudah jadi mualaf. Alhamdulillah. Saya akan terus
berusaha agar penduduk Irian terbebas dari keterbelakangannya dengan
cara mengajak mereka masuk Islam.
Berbagai bantuan kini sedang saya kumpulkan, terutama adalah
pakaian. Saya ingin mereka berpakaian, menutup aurat. Itulah salah satu
ajaran Islam.[]
diolah oleh mujiyanto dari hasil wawancara
http://www.mediaumat.com/content/view/1012/2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar