Minggu, 07 Agustus 2011
Hakikat Puasa dan Maknanya
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS AI-Baqarah: 183)
Hakikat Puasa dalam pengertiannya
Puasa menurut istilah adalah menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan selama satu hari, dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syariat. Artinya, ketika berpuasa makan, minum, berjimak, dan semua hawa nafsu ada batas waktu yang telah ditentukan untuk mencari rida Allah SWT. Oleh karena itu, orang-orang yang dapat memahami hakikat puasa, akan lebih berhati-hati dalam memaknai puasa karena mereka takut jika puasa yang dijalankan tidak menghasilkan derajat takwa, tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.” (Al-Hadis)
Dalam kitab lhya Ulumuddin, Imam Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkatan.
1. Puasanya orang umum atau awam
Puasa yang hanya mencegah makan, minum, dan kemaluan dalam batas waktu yang ditentukan. Akan tetapi, pancaindra dan lain-lainnya melakukan sesuatu yang tidak berguna. Misalnya, mata untuk melihat sesuatu yang seronok dan mengundang berahi atau tangan untuk menyakiti. Meskipun hal itu tidak membatalkan puasa, buah atau hasil dari puasa tidak akan didapatkan. Ibarat menanam pohon mangga, kita siram, diberi pupuk, dirawat, dan dijaga, tetapi pohon itu tidak berbuah. Sungguh rugi orang-orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat buah dari puasa. Jika hanya ingin lapar dan haus, mengapa harus menunggu datangnya Ramadan? Intinya, dengan berpuasa dapat menjaga lubang yang sembilan (dua mata, dua telinga, mulut, hidung, dan dua lubang bawah) dan pancaindra dari hal-hal yang tidak baik dan maksiat.
2. Puasanya orang khusus
Derajatnya lebih tinggi daripada puasanya orang awam. Hal ini karena tidak hanya menahan makan, minum, jimak, tetapi semua pancaindra dikendalikan betul dari perbuatan dosa. Misalnya, mata hanya untuk memandang sesuatu yang diridai Allah SWT serta lidah dan mulut hanya untuk berzikir dan memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Mukmin seperti inilah yang dapat merasakan nikmatnya puasa, lezatnya iman, ikhlasnya beramal, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan puasa hanya ingin “cinta sejati” dari Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an pun Allah SWT menyuruh agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-Nya, “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya ….” (QS Al-Hajj: 78)
Orang-orang yang menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh karena Allah, dan memahami hakikat puasa insya Allah kuat di dalam menghadapi segala cobaan, kuat menahan haus, lapar dan hal-hal yang mengurangi atau menghilangkan pahala puasa. Sebaliknya, orang yang tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah, akan terasa berat dan terbebani ketika melakukannya.
3. Puasanya orang yang lebih khusus
Puasanya tidak sekadar pancaindra, tetapi hatinya ikut berpuasa. Artinya, ketika berpuasa, hatinya tidak terganggu urusan dunia, tidak bicara bisnis, kekayaan, pangkat, derajat, tetapi murni “penyucian hati.”
Hati dijaga dari kesombongan, iri, dan dengki. la mencoba mengendalikan hati agar jauh dari duniawi dan berusaha agar lebih dekat dengan Sang Khalik.
Orang yang puasa dengan tingkatan lebih khusus itu memaknai bahwa dengan memahami hakikat puasa, “hati harus ikut puasa” dari segala hal yang dapat merusak hati dan amal saleh sehingga hidupnya lebih hati-hati dan terkontrol.
Makna Puasa
1. Puasa sebagai tazkiatun nafsi
Artinya, dengan puasa Ramadan, diharapkan dosa dan kesalahan kita yang terdahulu mendapat ampunan dari Allah SWT, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan dengan keimanan don kesabaran maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu.”(HR Bukhari dan Muslim)
Mengetahui makna puasa yang begitu besar sebagai penghapus dosa, seorang muslim seharusnya “jemput bola” ketika Ramadan datang. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang bahagia menyambut kehadiran bulan Ramadan, pasti Allah mengharamkan tubuhnya tersentuh api neraka.” (Al-Hadis)
2. Puasa membentuk hidup sosial (ijtima’i)
Sehebat dan sekaya apa pun seseorang, ternyata is masih membutuhkan orang lain. Intinya, siapa pun kita, ternyata masih butuh bantuan orang.
Allah SWT menurunkan agama Islam juga membawa misi sosial. Dalam Islam ada perintah zakat dan sedekah (QS Al-Baqarah: 3). Allah memerintahkan agar manusia memberi zakat, tidak meminta zakat, bahkan setiap Allah SWT berfiman “aqimishshalaat”dibarengi dengan “wa aatuzzakaat.’
Meskipun demikian, untuk tujuan sosial tidak semua orang Islam mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang sangat kaya, tetapi sangat pelit. Ada juga orang kaya, tetapi sangat dermawan saat bulan Ramadan.
Berpuasa sebagai syariat Islam merupakan satu sistem yang ampuh untuk memadamkan “api kebakhilan” sebab dengan diwajibkannya berpuasa, ia akan mengetahui rasa lapar dan haus yang sering diderita oleh si miskin, fakir, atau anak-anak jalanan yang terlantar. Oleh karena itu, akan bertambah kuat kayanya jika si kaya memerhatikan si miskin sehingga si miskin hormat dan mendoakan si kaya.
3. Puasa sebagai pintu surga
Ada sebuah hadis dari Rasulullah saw. yang berbunyi, “Apabila bulan Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dikunci, dan setan-setan diikat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan hadis tersebut terkadang ada yang bertanya, “Jika setan diikat, mengapa pada bulan Ramadan banyak kemaksiatan? Apa ikatannya terlepas?”
Jawabnya sederhana, “Bukan karena ikatannya lepas, tetapi ada setan yang belum diikat, yaitu orang-orang yang maksiat, mabuk, dan judi pada bulan Ramadan. Mereka adalah setan yang paling bahaya.
Puasa Ramadan tidak ditujukan kepada semua manusia, tetapi oleh Allah SWT hanya ditujukan dan diwajibkan pada orang-orang yang beriman sehingga dalam ayat-Nya, Allah SWT memakai kata “yaa ayyuhalladziina aamanuu” (wahai orang-orang yang beriman).
Di mana pun orang berpuasa dengan keimanan, insya Allah, setan tidak akan mendekat karena setan telah terikat dan terbelenggu bagi orang yang beriman.
4. Puasa sebagai perisai
Puasa itu perisai dari sengatan api neraka karena dengan puasa yang baik akan tercapai derajat takwa, tidak ada tempat yang pantas bagi orang takwa, kecuali surga dan kemudahan. Firman Allah SWT, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (OS Ath-Thalaq: 4). Begitu pula sabda Rasulullah, “Puasa adalah perisai selama ia belum dirobek dengan dusta dan mengumpat.” (HR lbnu Hazam)
Kiat-Kiat Agar Puasa Kita Diterima Allah SWT
1. Melandasi puasa dengan keimanan dan mencari rida Allah untuk mencapai derajat takwa.
2. Menjaga pancaindra dari segala kemaksiatan.
3. Memperbanyak zikir dan amalan-amalan sunah lainnya.
4. Menggunakan waktu puasa untuk melakukan segala amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Kabar Islam
BalasHapusHal Penting Penyempurna Ibadah Puasa
Persiapan Menyambut Ramadhan