Minggu, 14 Agustus 2011

Donald W. Flood – Percakapan Menuju Islam

Mempelajari Kristiani
Meskipun aku dibesarkan sebagai penganut Kristiani, aku selalu merasa bimbang dan tidak tertarik dengan ajaran agamaku sendiri. Aku merasa seolah-olah telah mewarisi suatu agama misterius yang tidak mungkin dapat dipahami. Aku yakin bahwa itulah alasan mengapa hanya namaku saja yang berbau Kristen, namun pada prakteknya tidak demikian. Lebih jauh lagi, keraguanku terhadap keyakinan Kristiani kusadari telah membawaku ke dalam keadaan non-relijius. Sekalipun demikian, dalam masa pencarian kebenaran itulah, aku memiliki kesempatan untuk mempelajari keyakinan yang kuwarisi dari orang-tuaku, yang memang belum pernah kupelajari secara mendalam.

Melalui brosur-brosur, kaset-kaset serta film-film video tentang ajaran Kristen yang dibuat oleh Muslim maupun non-Muslim, aku menemukan kenyataan yang sangat mengejutkan bahwa terdapat ratusan ayat di dalam Injil yang tidak sesuai dan berlawanan dengan ajaran Kristen itu sendiri. Menurut bahan-bahan tersebut, Tuhan ada sebelum Yesus (Isa a.s.). Begitu pula, Yesus (Isa a.s.) ternyata mengajarkan keyakinan terhadap Satu Tuhan. Akan tetapi, setelah masa Yesus, ajaran Kristiani mulai menekankan konsep Trinitas menggantikan Ke-Esaan Tuhan. Juga, menurut Yesus sendiri, Tuhan tidaklah beranak dan tidak mempunyai sekutu. Mengenai dirinya sendiri, Yesus juga menyebutkan bahwa dia adalah utusan Tuhan. Sebaliknya, setelah masa Yesus, ajaran Kristiani mulai menekankan bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahkan dia adalah Tuhan itu sendiri.

Mengenai monotheisme (keyakinan terhadap Satu Tuhan), bahkan firman pertama dari Sepuluh Firman Tuhan telah membenarkan adanya penegasan Yesus tentang keyakinan terhadap Satu Tuhan.

“Dengarlah, wahai Bani Israel, Tuhan kita adalah Tuhan Yang Satu.”
(Markus 12:29).

Juga, terdapat banyak sekali ayat-ayat Injil yang menolak ketuhanan Yesus. Sebagai contoh, Yesus mengakui dia sendiri tidak mampu melakukan mukjizat apapun, selain atas kehendak dan ijin Tuhan. Yang menarik, dikatakan di dalam Injil bahwa Yesus pernah berdoa. Hal ini membuatku bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana mungkin Yesus adalah Tuhan jika pada saat yang bersamaan dia berdoa kepada Tuhan?” Tuhan yang berdoa jelas tidak masuk akal dan merupakan suatu pertentangan. Di samping itu, Yesus menegaskan bahwa ajarannya tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan dariNya yang telah mengutusnya. Secara logika, apabila ajarannya bukan miliknya sendiri, maka dia hanyalah seorang nabi penerima wahyu Tuhan sebagaimana nabi-nabi sebelum (dan sesudah) dia. Lagipula, Yesus mengakui bahwa dia hanya menjalankan apa yang sudah diajarkan oleh Tuhan. Sekali lagi, aku bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Bagaimana mungkin Yesus menerima ajaran dan sekaligus menjadi Tuhan?” Dalam diskusi kami, orang-orang Muslim tersebut membenarkan ajaran Yesus tentang keyakinan terhadap Satu Tuhan, sebagaimana ayat Al-Qur’an berikut ini.

Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.” (Al-Ikhlash:1)

Untuk kesekian kalinya, aku terkejut saat menemukan ayat-ayat Injil yang mengatakan bahwa Yesus adalah utusan Tuhan. Serupa dengan apa yang kutemukan itu, Islam menganggap Yesus sebagai seorang nabi dan utusan Tuhan. Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Al-masih, putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami); kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).” (Al-Maaidah:75)

Keyakinan Kristiani Bahwa Yesus Adalah Anak Tuhan
Menurut Injil, adalah merupakan kebiasaan untuk menyebut utusan Tuhan, atau orang yang bertakwa, sebagai anak Tuhan. Sedangkan, Yesus menyebut dirinya sendiri sebagai anak manusia, bukan Tuhan maupun anak Tuhan dalam arti harfiah. Jelas sekali bahwa Paulus adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kenaikan status Yesus menjadi anak Tuhan, karena telah menyimpang dari ajaran Yesus yang sesungguhnya.

Lebih jauh lagi, Yesus bukanlah anak keturunan Tuhan (seperti yang pernah disebutkan dalam Yohanes 3:16) karena kata-kata itu telah dihapus dari RSV (Revised Standard Version - Injil versi standard yang sudah di revisi), serta banyak lagi Injil versi baru lainnya. Di samping itu, Tuhan secara tegas telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidaklah memiliki anak. Tuhan juga menyatakan bahwa Dia-lah yang telah menciptakan Adam (a.s.) dan Yesus (Isa a.s.).

“Sesungguhnya contoh (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah", maka jadilah Dia.” (Al-Imran:59)

Setelah perubahan Injil tadi, para penguasa dan pendeta memalsukan dan merubah isi Injil lebih jauh lagi, hingga jauh bertentangan dengan apa yang telah dikatakan maupun dilakukan oleh Yesus. Salah satunya adalah konsep Trinitas di mana Yesus adalah salah satu dari tiga perwujudan Tuhan Trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus). Di dalam Injil, ayat itu menjadi dasar yang kuat bagi doktrin Trinitas, meskipun doktrin tersebut tidak pernah dikemukakan oleh Yesus, murid-muridnya, maupun orang-orang yang mempelajari agama Kristen. Pada kenyataannya, doktrin Trinitas diberlakukan setelah melalui perdebatan dan pertentangan panjang antara umat Kristiani pada tahun 325 M di Konsili Nicea. Yang menarik, ayat mengenai hal itu telah dihapus dari Injil-Injil jaman modern.

Sebagai tambahan, Al-Qur’an telah mengingatkan kaum Yahudi Nasrani agar tidak mengingkari wahyu Tuhan serta tidak meyakini Trinitas.
Pertentangan lainnya yang kutemukan adalah tentang ‘Dosa Waris’ dan keselamatan melalui penyaliban Yesus. Ternyata, Yesus tidak pernah mengajarkan doktrin Dosa Waris. Doktrin Dosa Waris baru muncul setelah masa Yesus. Lebih jauh lagi, Yesus menyebutkan bahwa keselamatan akan diperoleh melalui ketaqwaan terhadap Tuhan, sedangkan setelah masa Yesus, keselamatan umat manusia dianggap dapat ditebus melalui penyaliban Yesus.

Dalam ajaran Kristiani, doktrin Dosa Waris merupakan suatu pembenaran atas doktrin penebusan dosa manusia melalui penyaliban Yesus. Sekalipun demikian, aku menemukan bahwa doktrin ini sangat bertentangan dengan kitab Perjanjian Lama. Tampaknya, konsep ini telah dirancang sebagai cara penganut Kristiani untuk mengelak dari pertanggung-jawaban atas dosa-dosa mereka di hadapan Tuhan pada hari pembalasan. Aku akhirnya sadar bahwa, menurut Yesus, manusia akan diselamatkan oleh ketaatan dan ketakwaannya sendiri kepada Tuhan. Hal ini sesuai pula dengan Al-Qur’an, bahwa setiap jiwa akan mendapat balasan menurut amal perbuatannya. Akan tetapi, ketentuan ini telah ditukar dengan sebuah doktrin, bahwa dosa umat manusia dapat ditebus dengan penyaliban Yesus.

Teori penebusan dosa melalui penyaliban Yesus harus didukung bukti bahwa Yesus menawarkan dirinya sendiri dengan suka rela untuk disalib demi menyelamatkan dan menebus dosa umat manusia. Jika benar demikian, mengapa Yesus harus meminta tolong kepada Tuhan sebelum para tentara datang untuk menangkapnya?

“...Bapa, selamatkanlah aku daripada saat ini.” (12:27)

Demikian pula, mengapa Injil menyebutkan bahwa Yesus berteriak dengan lantang memohon pertolongan Tuhan saat berada di atas salib?

“...Tuhanku, Tuhanku, mengapa Kau tinggalkan aku?” (Matius, 27:46)

Selain itu, bagaimana mungkin Yesus disalib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, jika dia diutus hanya untuk Bani Israel saja? Ini sungguh merupakan penyimpangan. Ayat-ayat Injil di atas sangat meyakinkan kita bahwa Yesus telah disalib untuk menebus dosa anak manusia. Sedangkan, menurut Al-Qur’an, orang yang berada di atas salib bukanlah Yesus, melainkan orang lain yang diserupakan dengannya. Bila hal ini benar, maka akan didapatkan penjelasan logis tentang pertemuan Yesus dengan murid-muridnya setelah masa penyaliban. Seandainya dia benar-benar meninggal di atas salib, maka dia pasti akan datang kepada murid-muridnya dalam wujud spiritual. Sebagaimana yang disebutkan dalam Injil Lukas 24:36-43, Yesus menemui mereka secara fisik setelah peristiwa penyaliban. Sekali lagi, aku menemukan bahwa ternyata Paulus-lah yang mengajarkan dogma kebangkitan Yesus dari kematian. Paulus juga mengakui bahwa kebangkitan Yesus hanyalah ajarannya sendiri.

Aku menemukan banyak sumber yang menyebutkan bahwa pada masa itu, Paulus dan yang lain-lainnya merasa putus asa dengan penolakan orang Yahudi terhadap ajaran Yesus, sehingga mereka terpaksa menyebarkan ajaran itu kepada orang-orang non-Yahudi. Mereka merambah Eropa selatan, di mana polytheisme dan pemujaan berhala sedang meraja-lela. Secara bertahap, ajaran Yesus mulai diubah agar sesuai dengan selera dan tradisi bangsa Romawi dan Yunani pada masa itu. Injil sendiri telah mengingatkan agar tidak seorangpun menambahkan maupun mengurangi apa-apa dalam ajarannya, namun ternyata hal itu telah benar-benar terjadi. Tuhan juga telah memberikan peringatan serupa di dalam Al-Qur’an.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah:79)

Nabi Muhammad S.A.W. Dalam Alkitab
Hal yang menarik perhatianku adalah bahwa Injil telah meramalkan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Aku menemukan adanya ramalan yang jelas di dalam Injil, (namun teks aslinya telah diubah) yang mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad SAW. setelah Yesus. Para cendekiawan Islam juga telah membenarkan bahwa ciri-ciri yang digambarkan oleh Yesus mengenai nabi sesudahnya (dalam ayat di bawah ini) hanya cocok untuk Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh lagi, ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang suci yang menegaskan perkataan Yesus mengenai hal ini.

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad......" (Ash-Shaff:6)

Nama Ahmad adalah nama lain dari Nabi Muhammad dan berasal dari akar kata yang sama.

Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an
Aku menemukan bahwa Al-Qur’an menyuruh kita beriman kepada Tuhan dan Nabi Muhammad SAW sebagaimana diungkapkan ayat berikut ini:

“Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (Al-A’raaf:158)

Aku juga menemukan bahwa Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah nabi terakhir.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi .....” (Al-Ahzab:40)

Sekalipun Tuhan telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir, umat Islam tetap mengimani dan mengakui semua nabi-nabi sebelumnya, termasuk wahyu yang disampaikan oleh mereka dalam bentuk aslinya.

Al-Qur’an: Wahyu Terakhir
Aku memahami bahwa disebabkan oleh adanya perubahan yang dibawa oleh tangan-tangan manusia terhadap Injil sebagai kitab wahyu Tuhan, maka dibutuhkanlah kedatangan seorang nabi setelah Isa a.s. yang membawa wahyu lain setelah Kitab Injil. Inilah alasan mengapa Tuhan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan terakhir, Al-Qur’an, agar membawa seluruh umat manusia kembali menuju iman dan penyembahan terhadap Satu Tuhan, tanpa sekutu maupun perantara. Umat Islam meyakini bahwa Al-Qur’an, yang merupakan sumber tertinggi dan kekal sebagai pembimbing seluruh umat manusia, telah memberikan uraian sejarah yang rasional dan masuk akal tentang peran mulia Yesus. Nama Yesus (Isa a.s.) diabadikan sebanyak duapuluh lima kali di dalam Al-Qur’an, di mana terdapat surat tersendiri bernama Maryam (Maria), yang merupakan nama ibu Yesus (Isa a.s.).

Mengenai keontetikan Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan, aku menemukan ayat Al-Qur’an yang secara tegas menyatakan sebagai berikut:

“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (Yunus:37)

“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.”(Al-Haaqqah:51)

Selain itu, aku juga tertarik untuk mengetahui pandangan Al-Qur’an terhadap pemalsuan kitab karena hal itu telah menjadi masalah yang amat besar bagi kitab sebelumnya. Aku menemukan bahwa Al-Qur’an tidak akan pernah bisa diubah maupun dibatalkan:

“Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr:9)

Kemudian, aku juga menemukan sejumlah fenomena ilmiah yang tercantum di dalam Al-Qur’an, yang semakin menguatkan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kata-kata harfiah dari Tuhan. Ayat-ayat Al-Qur’an telah menjelaskan perkembangan janin manusia, pegunungan, kejadian alam semesta, otak besar manusia, lautan, lautan dalam, serta arus bawah laut dan awan. Sangatlah mustahil bagi manusia, lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, untuk mengetahui hal-hal yang akhir-akhir ini baru terungkap dan ditegaskan kebenarannya melalui berbagai mekanisme yang sangat maju dan proses ilmiah mutakhir.

Islam: Intisari dan Kulminasi Semua Agama-Agama Samawi
Umat Islam memiliki keyakinan bahwa tujuan pokok dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Tuhan. Sebagaimana firmanNya dalam Al-Qur’an:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyaat:56)

Berkenaan dengan hal ini, seorang cendekiawan Islam yang terkenal dari Barat mengatakan, “Sistim peribadatan terlengkap yang bisa ditemukan umat manusia di masa kini adalah sistem yang terdapat dalam agama Islam. Nama Islam itu sendiri berarti ‘kepatuhan diri terhadap kehendak Tuhan’. Meskipun pada umumnya dianggap sebagai ‘agama monotheistik yang ketiga’, Islam sama sekali bukanlah agama baru. Islam adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi yang telah diutus Tuhan kepada seluruh umat manusia. Islam adalah agama yang diajarkan oleh Adam, Ibrahim, Musa, dan bahkan Yesus sekalipun.”

Selain itu, dia juga mengungkapkan, “Karena hanya ada Satu Tuhan, dan umat manusia adalah satu spesies, maka agama yang dikehendaki oleh Tuhan agar dianut seluruh umat manusia pada dasarnya adalah satu juga. Kebutuhan sosial dan spiritual manusia adalah seragam, dan sifat-sifat dasar manusia juga tidak pernah mengalami perubahan semenjak manusia pertama diciptakan”.

Dengan mengetahui kenyataan bahwa ajaran Tuhan selalu sama, aku sampai pada kesadaran bahwa seluruh umat manusia memiliki kewajiban untuk mencari kebenaran, dan tidak secara membabi-buta menerima begitu saja agama yang dianut oleh masyarakat mereka dan bahkan orang-tua mereka. Menurut Al-Qur’an:

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Yusuf:40)

Mengenai fitrah manusia (yaitu sifat bawaan manusia sejak dilahirkan untuk beribadah kepada Tuhan sebelum ada perubahan sifat yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh luar), Nabi Muhammad SAW telah menegaskan:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), lalu orang-tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana binatang melahirkan anak-anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati bayi-bayi itu terpotong-potong?”

Allah telah berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Ruum:30)

Di samping itu, aku juga menemukan bahwa tidak ada agama lain yang mendapat keridhaan Allah selain Islam, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Al-Imraan:85)

Aku menarik kesimpulan bahwa sebagian manusia mungkin mengabaikan petunjuk Tuhan ini dan membuat pedoman hidup mereka sendiri. Akan tetapi, pada akhirnya nanti dia akan menemukan bahwa semua itu hanyalah semu, tidak lebih dari bayang-bayang yang telah membuatnya tertipu.

Musafir
Setelah terus-menerus mempelajari Al-Qur’an dan ucapan serta perbuatan Nabi Muhammad SAW (Sunnah beliau), aku menemukan bahwa agama Islam memandang umat manusia sebagai para musafir kehidupan, dan ‘rumah’ mereka yang sebenarnya adalah akhirat yang kekal. Kita semua berada di sini hanya untuk masa yang amat singkat, dan tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat kita bawa sebagai bekal selain iman kita kepada Tuhan dan amal perbuatan kita sendiri. Karena itulah, umat manusia tak ubahnya seperti para musafir yang sedang melewati sebuah negeri, namun tidak akan dapat menetap di sana. Sebagai orang-orang yang sedang melakukan perjalanan, kita selayaknya harus menyadari bahwa makna sesungguhnya dari kehidupan adalah ujian. Karena itulah, ada penderitaan, kegembiraan, suka dan duka. Ujian terhadap kebaikan dan keburukan ini semata-mata ditujukan untuk membangkitkan kualitas spiritual yang lebih tinggi. Bagaimanapun, kita tidak akan mampu mengambil manfaat dari ujian tersebut kecuali bila kita berupaya dengan segala kemampuan terbaik kita, serta sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, dan dengan sabar menerima apa yang telah Dia tentukan bagi kita.

Titian Menuju Surga
Sangatlah bermakna bagi kita untuk mempelajari tentang surga karena surga tentu merupakan tujuan tertinggi bagi setiap umat manusia. Mengenai rumah yang kekal ini, Allah telah berfirman:

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah:17)

Aku juga menemukan bahwa merupakan suatu kenikmatan yang tak terbayangkan dan tiada tara untuk dapat bertemu secara langsung dengan Sang Maha Pencipta. Siapakah gerangan yang berhak memperoleh imbalan sedemikian agungnya? Imbalan berupa surga ini terlalu berharga untuk dibayar dengan harga apapun. Surga akan dapat diraih melalui iman yang sejati, yang dibuktikan melalui ketaatan terhadap Tuhan serta mengikuti Sunnah (tata-cara) Nabi Muhammad SAW.

Umat manusia wajib beribadah kepada Tuhan agar dapat mencapai kemuliaan serta tingkatan iman yang dibutuhkan untuk dapat memasuki surga-Nya. Hal ini berarti bahwa umat manusia harus memahami bahwa ibadah merupakan kebutuhan yang tak dapat diabaikan sebagaimana makan dan bernapas, bukan sebagai suatu bentuk jasa yang mereka lakukan bagi Tuhan. Di samping itu, kita harus membaca Al-Qur’an agar mengetahui seperti apakah manusia yang dikehendaki oleh Tuhan, dan kemudian harus berusaha untuk mewujudkannya. Itulah jalan menuju surga.

Menghadapi Rintangan
Pada titik ini, aku merasa 80% yakin bahwa aku ingin memeluk Islam, namun masih ada suatu hal yang mengurungkan niatku. Aku merasa khawatir dengan reaksi keluarga dan teman-temanku jika mereka mengetahui bahwa aku telah memeluk Islam. Aku segera mengungkapkan kekhawatiran tersebut kepada seorang Muslim, yang kemudian menjelaskan kepadaku bahwa pada hari pembalasan, tidak akan ada seorangpun yang dapat menolong kita, bahkan ayah dan ibu, serta teman-teman kita sekalipun. Karena itu, jika kita telah meyakini kebenaran Islam, bahwa Islam adalah agama yang benar, kita harus segera memeluknya dan hidup di jalan yang diridhai Allah yang telah menciptakan kita. Kini, sudah sangat jelas bagiku bahwa kita semua sama; setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan kemudian kita akan mempertanggung-jawabkan iman kita kepada Tuhan serta segala amal-perbuatan kita masing-masing.

Sebuah Film Yang Penuh Hikmah
Ketika pencarianku terhadap kebenaran telah mencapai tahap ini, aku telah berada di ambang pintu untuk memeluk Islam. Suatu saat, aku melihat sebuah film pendidikan Islam yang berbicara tentang tujuan hidup. Tema pokok film tersebut adalah bahwa tujuan hidup manusia dapat di rangkum dalam satu kata, yakni ISLAM (yang bermakna ‘kepatuhan yang tulus ikhlas terhadap kehendak Tuhan’).

Yang juga penting untuk diketahui adalah, bahwa istilah ‘Islam’ tidak memiliki sangkut-paut apapun dengan nama orang atau nama suatu tempat tertentu, tidak seperti agama-agama atau keyakinan lainnya. Dalam ayat Al-Qur’an berikut ini, Tuhan sendiri yang telah memberikan nama Islam:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.....” (Al-Imraan:19)

Semua pemeluk agama Islam akan disebut Muslim tanpa membedakan ras, jenis kelamin, maupun kebangsaan masing-masing. Inilah salah satu alasan mengapa Islam merupakan agama yang universal, agama semesta alam.

Sebelum mencari kebenaran, aku tidak sekalipun pernah secara serius memikirkan Islam sebagai suatu alternatif pilihan, disebabkan adanya pemberitaan negatif tentang umat Islam secara terus menerus di media-massa. Mengenai hal itu, film yang kutonton tersebut mengungkapkan bahwa sekalipun ajaran Islam memberi penekanan pada standar moral yang tinggi, tidak semua umat Islam dapat memenuhi standar moral yang diajarkan oleh Islam. Aku menyadari bahwa hal yang sama juga dapat terjadi pada agama-agama lain. Pada akhirnya, aku mencapai pemahaman bahwa kita tidak bisa menilai suatu agama hanya berdasarkan tindakan maupun perbuatan para pemeluknya saja, seperti yang pernah kulakukan sebelumnya, karena setiap manusia dapat berbuat salah. Dalam hal ini, kita tidak selayaknya menghakimi Islam semata-mata menurut perbuatan umat Islam, melainkan harus berdasarkan kitab wahyunya (Al-Qur’an suci) dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Hikmah lain yang kupetik dari film tersebut berkisar tentang pentingnya rasa syukur. Tuhan berfirman dalam Al-Qur’an bahwa kita harus bersyukur atas penciptaan kita sebagai manusia:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl:78)

Allah juga berfirman bahwa rasa syukur tidak dapat dipisahkan dari iman, dan telah menjelaskan pula bahwa Dia tidak mungkin akan menghukum hamba-hambaNya apabila mereka bersyukur dan beriman kepadaNya. Dalam Al-Qur’an, Dia berfirman:

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?....” (An-Nisaa:147)

Kebenaran Yang Terungkap Dengan Sendirinya
Ketika film tersebut berakhir, aku merasakan bahwa kebenaran yang aku cari selama ini telah kutemukan, terungkap dari tabirnya di dalam jiwaku. Aku merasakan beban dosa yang amat besar terbang lepas dari punggungku. Tidak hanya itu, jiwaku seolah melayang dan membubung tinggi, melepaskan diri dari dunia, tidak lagi terbelenggu oleh kesenangan dunia yang semu dan fana ini, demi sebuah kebahagiaan abadi di hari kemudian. Pengalaman ini, disertai dengan proses pemikiran yang amat panjang, telah menjawab dan memecahkan “teka-teki tujuan hidup”. Kebenaran Islam telah terungkap, dan mengisi hamparan jiwaku dengan iman, tujuan, arah, dan amal perbuatan. Maka dari itu, akupun melangkah memasuki gerbang Islam dengan mengucapkan pernyataan iman sebagai syarat untuk menjadi Muslim:

"Ashhadu an La ilaha Illa Allah wa ashhadu anna Muhammadan Rasulullah."
(Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah)


Aku mendapat penjelasan bahwa pernyataan resmi tersebut juga menegaskan keyakinan seseorang terhadap semua nabi dan utusan Tuhan, termasuk semua kitab-kitab Allah selama masih berada dalam bentuknya yang asli. Karena itulah, syahadat akan memperbarui dan menyempurnakan keyakinan seseorang hingga nabi terakhir (Nabi Muhammad SAW) dan wahyu Tuhan terakhir (Al-Qur’an). Ungkapan penting berikut ini telah menjadi sangat jelas bagiku: Seandainya Yesus (Isa a.s.) adalah utusan Tuhan yang terakhir, dan Injil merupakan kitab wahyu yang terakhir, aku juga akan mendukungnya. Maka dari itu, masuk akal bila aku memilih untuk mengikuti wahyu terakhir dari Sang Pencipta sebagaimana yang diteladankan oleh penutup para nabi, Nabi Muhammad SAW.

Kesan seorang Muallaf
Selama masa pencarianku untuk menemukan kebenaran, pelajaran terpenting yang aku dapatkan adalah bahwa segala macam benda yang dipuja-puja oleh manusia, selain Tuhan, hanyalah ilusi dan angan-angan belaka. Bagi orang-orang yang memiliki kemampuan untuk betul-betul memahami hal ini secara jernih, satu-satunya jalan yang dapat diambil adalah mengarahkan semua kehendak serta perbuatan agar benar-benar menyatu dengan Tuhan. Rasa tawakal atas kehendak Tuhan telah membuatku mampu merasakan kedamaian dihadapan Sang Pencipta, terhadap sesama makhluk Tuhan yang lain, maupun terhadap diriku sendiri. Karena itulah, aku merasa sangat bersyukur, karena atas hidayah dan rahmat Tuhan, aku telah diselamatkan dari jurang kegelapan dan kebodohan, dan mampu melangkah menuju cahaya kebenaran. Islam, yang merupakan agama segala jaman, tempat, dan bangsa, adalah jalan hidup yang lengkap yang membimbing umat manusia dalam mencapai tujuan hakiki dari keberadaannya di dunia ini, dan menyiapkan diri untuk mengarungi hari kemudian saat dia harus kembali kepada Dzat yang telah menciptakannya. Ketaatan dalam mengikuti ajaran Islam akan membawa ridha Allah, dan semakin mendekatkan kita ke haribaanNya di tengah kenikmatan surgawi yang tak pernah berakhir, sekaligus menjauhkan kita dari siksaan api neraka. Keuntungan lain yang akan kita dapatkan jika mengambil pilihan sedemikian rupa adalah bahwa kehidupan dunia ini akan terasa jauh lebih membahagiakan.

Kesenangan Yang Menipu
Memeluk Islam telah membawaku menuju wawasan yang jauh lebih mendalam tentang kehidupan yang sesungguhnya bersifat semu dan menipu ini. Sebagai contoh, salah satu tujuan mendasar dalam agama Islam adalah kemerdekaan umat manusia. Itulah sebabnya mengapa seorang Muslim menyebut dirinya sebagai “Abdullah”, yang bermakna hamba atau pelayan Allah, karena penghambaan kepada Allah menandakan tidak adanya keterikatan terhadap segala bentuk penghambaan yang lainnya. Sekalipun manusia modern menduga bahwa dirinya telah merdeka dan hidup di alam kebebasan, pada kenyataannya dia telah menjadi budak dari hawa nafsu dirinya sendiri. Kebanyakan dari mereka telah tertipu oleh kehidupan duniawi. Banyak manusia mengalami ‘kecanduan’ dalam menimbun harta kekayaan, ‘kecanduan’ seks, kekerasan, minuman keras, dan lain sebagainya. Namun yang sangat memprihatinkan, manusia acapkali tergoda dan terbuai oleh sistim kapitalis yang tumbuh dengan cara menghadirkan kebutuhan semu di tengah-tengah umat manusia, sehingga manusia menduga bahwa kebutuhan palsu tersebut harus dipenuhi dengan segera. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqaan:43-44)

Karena itulah, manusia tidak selayaknya membiarkan kesenangan dan kenikmatan duniawi yang sangat singkat ini melenakan jiwanya, dan menghancurkan peluangnya untuk merasakan kenikmatan surgawi yang luar biasa. Seperti yang telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: "Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Al-Imran:14-15)

Maka dari itu, sebenarnya persaingan yang hakiki dalam kehidupan duniawi ini bukanlah sekedar perlombaan menimbun harta atau persaingan demi hasrat popularitas, melainkan saling berlomba-lomba melakukan amal kebaikan demi menggapai ridha Illahi, sambil mencicipi nikmat duniawi yang telah menjadi hak manusia dengan cara yang diridhai Allah.

Jalan Yang Benar Menuju Tuhan
Ada banyak alternatif agama yang bisa dipilih umat manusia dan dia bebas untuk memilih agama yang ingin dianutnya. Dalam hal ini, manusia dapat diibaratkan seperti seorang saudagar yang memiliki berbagai jenis barang dagangan, dan dia bebas untuk memilih barang yang akan diperdagangkan. Dia pasti akan memilih barang yang menurutnya paling menguntungkan. Tetapi, bagaimanapun pedagang tersebut tidak akan bisa memastikan dan tidak pula memiliki jaminan bahwa perdagangannya akan menguntungkan. Produknya bisa jadi memiliki pangsa pasar dan menghasilkan laba yang bagus, tetapi mungkin saja dia akan kehilangan seluruh uangnya dalam sekejap. Sebaliknya, orang-orang (Muslim) yang beriman terhadap keesaan Tuhan dan bertawakal atas kehendakNya benar-benar merasa yakin bahwa apabila mereka mengikuti petunjuk (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW), maka tidak diragukan lagi akan memperoleh keberhasilan, dan imbalan akan menunggunya di akhir perjalanan. Yang menguntungkan adalah bahwa keberhasilan tersebut akan diperoleh seketika itu juga. Diceritakan oleh Abu Sa’id Al-Khudri r.a., Rasulullah pernah bersabda:

“Apabila seseorang memeluk agama Islam secara ikhlas dan bersungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuni semua dosa yang pernah dilakukannya, dan semenjak itu dimulailah perhitungan amal; setiap amal baik akan mendapat imbalan sebesar sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan perbuatan buruk akan dicatat seperti apa adanya, kecuali jika Allah mengampuninya.”

Epilog
Berdasarkan hasil pencarianku untuk menemukan kebenaran, aku akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa jalan keimanan kita kepada Tuhan beserta amal perbuatan yang kita lakukan akan menentukan masa depan kita di akhirat yang kekal. Allah Sang Maha Pencipta telah memberikan peluang yang sama pada kita semua, tanpa memandang keadaan kita, untuk menggapai ridhaNya sebagai bekal dan persiapan Hari Pembalasan. FirmanNya dalam Al-Qur’an:

“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali-Imraan:132-133)

Jika kita benar-benar ikhlas dalam mencari kebenaran hidup, yaitu Islam (ketaatan yang tulus terhadap kehendak Tuhan), maka Tuhan akan membimbing kita ke arah sana, Insya Allah. Dia akan menuntun kita agar mempelajari kehidupan serta Sunnah Nabi Muhammad SAW, karena beliau telah menunjukkan contoh nyata yang terbaik dan termulia sebagai panduan dan bimbingan bagi seluruh umat manusia. Lebih jauh lagi, Tuhan akan membimbing kita agar mempelajari dan merenungkan firman-firmanNya dalam Al-Qur’an. Manusia akan menyadari bahwa Al-Qur’an sesungguhnya bagaikan ketukan pintu secara terus menerus dan keras, atau teriakan yang kuat untuk membangunkan mereka yang tengah terlelap dan terlena oleh buaian kehidupan duniawi. Ketukan dan teriakan itu muncul bersahut-sahutan: Bangunlah! Lihat keadaan dirimu! Gunakan akalmu! Pikirkan dan bercerminlah! Tuhan ada dan menunggumu! Bagimu ada takdir, ujian, pertanggung-jawaban, perhitungan, pahala, azab yang pedih, dan kebahagiaan abadi!

Telah jelas dan tegas, bahwa jalan terbaik untuk hidup dan mati di dunia ini adalah sebagai seorang Muslim yang bertakwa. Siapapun yang telah mencapai kesimpulan bahwa Islam adalah kebenaran, dia tidak boleh menunggu lebih lama lagi untuk memeluk Islam karena dia bisa saja akan menemui ajalnya terlebih dahulu, dan saat itu, semuanya sudah terlambat.

Beberapa bulan setelah memeluk Islam, aku menemukan dua ayat dalam Al-Qur’an yang mencerminkan apa yang dikatakan teman Muslimku dari Amerika mengenai bagaimana kita harus hidup dan mati:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Al-Baqarah:132)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Al-Imraan:102)

(Yahya) Donald W. Flood
Madinah, Saudi Arabia
Juni 1999



Tidak ada komentar:

Posting Komentar