kisahmuallaf.com - Pria kelahiran Semarang, 6 Oktober 1965 ini adalah anak tunggal dari pasangan Letkol Pol Djati Koenjtono(Alm) dan Soeharsi. Selain sebagai seorang wartawan ia juga berfrofesi sebagai komentator olah raga disejumlah stasiun televisi swasta dan juga stasiun tv nasional.
Sigit mengaku sudah dua tahun memeluk Islam. Sebelum memilih Islam, ia sebelumnya telah melewati tiga fase agama dalam kehidupannya.
Pertama ia dulu seorang yang tidak beragama (atheis), kemudian ia masuk menjadi orang khatolik. Tak beberapa lama kemudian ia keluar dari agama tersebut dan kemudian menjadi seorang Muslim
Kini Sigit mengakui lebih giat untuk memperdalam ajaran agama islam dan tidak akan mempermainkan agama seperti sebelumnya. Ada pengalaman religi yang ia ungkapkan setelah dirinya memeluk agama Islam.
Ia mengaku dahulu sebelum dirinya menjadi seorang mualaf, ia merasakan ketidaktenangan dalam hidup. Tak hanya itu, ia merasa uang hasil kerjanya tak bisa dinikmati dengan baik karena membuat tubuh jadi panas.
Namun kini setelah ia masuk dan memeluk agama islam, ia merasakan ketenangan dalam hidup dan uang hasil kerjanya dapat dinikmati tanpa ada keganjilan.
Setelah benar-benar mencoba menjadi seorang Muslim yang taat ibadah dan mempunyai pengetahuan agama, Sigit merasakan kedamaian dan ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan. "Islam menjadikann saya pribadi yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan," ujarnya.
Dahulu. tutur Sigit, ia selalu menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapinya. Ia juga mengaku tidak mempunyai seorang teman pun untuk membantunya mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapinya.
Kini setelah menjadi seorang Muslim ia mempunyai banyak teman dan selalu terbantu dalam memecahkan permasalah yang ada dalam kehidupannya. Diisinilah ia mengetahui arti islam yang sebenarnya.
Ramadhan selalu dimaknai Sigit sebagai bulan yang sangat istimewa, karena pada saat bulan suci ini, ia bisa lebih bersabar dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang. Kondisi itu menjadikan dirinya mempunyai ketegaran iman yang kuat dalam memaknai kehidupan yang baru sebagai seorang muslim.
Ramadhan kali ini ia juga mempunyai tugas yang cukup berat namun sekaligus pengalaman cukup berarti. Pasalnya ia menjadi ketua umum dalam acara kegiatan Talk Show Ramadhan 2011 yang diadakan bersama para mualaf yang ada di Jakarta.
Dalam penggalangan dana, ternyata ia mengalami kesulitan. “Untuk urusan agama ko masih banyak ya yang sulit sekali beramal dan menyisihkan sedikit hartanya di bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah ini” tuturnya.
Kini sebagai seorang Muslim, ia pun juga mempunyai keinginan mengajak para mualaf yang lain untuk lebih giat mempelajari ilmu agama islam dan mengetahui pengetahuan yang luas tentang ajaran islam.
Sigit pun memberikan sedikit saran kepada para mualaf lain yang datang di acara diskusi ini. "Sebagai eorang mualaf kita harus benar-benar pegang teguh agama ini, janganlah kalian main-mainkan ajaran Islam ini, dan para mualaf yang lain harus tetap semangat menghadapi cobaan yang begitu sulit, apalagi setelah kita mengucap ikrar keimanan," ujarnya.
Rabu, 07 September 2011
Mu Kim Ni, Kagum Keharmonisan Ummat Islam
kisahmuallaf.com - Karena merindukan profil keluarga yang rukun dan damai, Mu Kim Ni, kabur dari rumahnya di Baturaja Sumatera Selatan, tahun 1991. Saat itu, ia baru tamat SMA. Ani, begitu perempuan kelahiran 17 Oktober 1972 ini akrab disapa, menemuka kedamaian dan keharmonisan justru di dalam keluarga sahabat–sahabatnya yang dijumpai di rumah mereka saat belajar bersama semasa SMA.
Ia melihat keluarga teman-temannya yang Muslim sangat harmonis menjalankan ajaran agama Islam dengan tekun. Alasan ini pula yang mendorongnya memeluk Islam. Namanya kemudian berganti menjadi Murniati Mukhlisin.
"Saya ingin memperbaiki keadaan keluarga dan memberikan contoh kepada keluarga terutama adik–adik, tentang makna sebuah keluarga," kata ibu dari Layyina Humaira Tamanni (11), Hayyan Hani Tamanni (9) dan Rayyan Ayman Tamanni (7) ini.
Namun bukannya didengar, ia malah diejek dan dicemooh. Namun, Ani tak terlalu mengambil hati dan tetap melakukan pendekatan pada keluarga.
Melalui seorang wartawan, Ani mendapatkan rekomendasi orangtua asuh dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ia diterima dengan hangat di keluarga Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Di Jakarta, Ani aktif mengikuti kegiatan kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze. Secara ekonomi, ia juga mulai mandiri setelah diterima bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman Jakarta. "Walau kadang sedih juga, karena harus melepas jilbab setiba di kantor, karena bank yang banyak memperkerjakan staf non-Muslim tidak memberikan izin berjilbab," katanya.
Walau jauh dari kampung halamannya, ia tetap memperhatikan keluarganya, yang saat itu belum sepenuhnya menerima keislamannya.
Ani mengungkapkan, sejak kabur dari rumah, ia berusaha mengambil hati keluarganya. Berkirim kabar dan hadiah, salah satu upayanya.
Kerja keras wanita yang kini menjabat sebagai wakil ketua Sekolah Tinggi Eknomi Islam Tazkia ini, membuahkan hasil. Mama dan beberapa adiknya luluh hatinya. Tak hanya merangkulnya kembali, belakangan mereka juga turut menganut Islam. Keinginannya terkabul: memiliki keluarga yang hangat dan saling mendukung.
Di sisi spiritual, Ani terus mengasah ilmu agamanya. Ia yang terpacu untuk terus mendalami Islam dengan melanjutkan kuliah di bidang akuntansi syariah setelah dua tahun bekerja di Jakarta. Ani berhasil melanjutkan kuliah di International Islamic Unviersity Malaysia dengan beasiswa dari sebuah perusahaan swasta di sana. Di sana pula Ani belajar Islam lebih insentif, termasuk belajar bahasa Arab.
Bekal keluwesannya dalam bergaul dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Arab serta keaktifannya dalam organisasi, membuat Ani semakin mandiri. Bahkan, istri Luqyan Tamanni ini sudah mendapatkan pekerjaan bergengsi ketika belum selesai kuliah, di sebuah lembaga akuntan publik ternama di negeri jiran itu.
Kini, perempuan yang sangat meminati kajian standar akuntansi keuangan syariah internasional ini, segera berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliah strata tiga. ''Insya Allah dalam waktu dekat saya berangkat," katanya. Di Gloucestershire University, ia bakal menimba ilmu ekonomi syariah.
Ia melihat keluarga teman-temannya yang Muslim sangat harmonis menjalankan ajaran agama Islam dengan tekun. Alasan ini pula yang mendorongnya memeluk Islam. Namanya kemudian berganti menjadi Murniati Mukhlisin.
"Saya ingin memperbaiki keadaan keluarga dan memberikan contoh kepada keluarga terutama adik–adik, tentang makna sebuah keluarga," kata ibu dari Layyina Humaira Tamanni (11), Hayyan Hani Tamanni (9) dan Rayyan Ayman Tamanni (7) ini.
Namun bukannya didengar, ia malah diejek dan dicemooh. Namun, Ani tak terlalu mengambil hati dan tetap melakukan pendekatan pada keluarga.
Melalui seorang wartawan, Ani mendapatkan rekomendasi orangtua asuh dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ia diterima dengan hangat di keluarga Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Di Jakarta, Ani aktif mengikuti kegiatan kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze. Secara ekonomi, ia juga mulai mandiri setelah diterima bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman Jakarta. "Walau kadang sedih juga, karena harus melepas jilbab setiba di kantor, karena bank yang banyak memperkerjakan staf non-Muslim tidak memberikan izin berjilbab," katanya.
Walau jauh dari kampung halamannya, ia tetap memperhatikan keluarganya, yang saat itu belum sepenuhnya menerima keislamannya.
Ani mengungkapkan, sejak kabur dari rumah, ia berusaha mengambil hati keluarganya. Berkirim kabar dan hadiah, salah satu upayanya.
Kerja keras wanita yang kini menjabat sebagai wakil ketua Sekolah Tinggi Eknomi Islam Tazkia ini, membuahkan hasil. Mama dan beberapa adiknya luluh hatinya. Tak hanya merangkulnya kembali, belakangan mereka juga turut menganut Islam. Keinginannya terkabul: memiliki keluarga yang hangat dan saling mendukung.
Di sisi spiritual, Ani terus mengasah ilmu agamanya. Ia yang terpacu untuk terus mendalami Islam dengan melanjutkan kuliah di bidang akuntansi syariah setelah dua tahun bekerja di Jakarta. Ani berhasil melanjutkan kuliah di International Islamic Unviersity Malaysia dengan beasiswa dari sebuah perusahaan swasta di sana. Di sana pula Ani belajar Islam lebih insentif, termasuk belajar bahasa Arab.
Bekal keluwesannya dalam bergaul dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Arab serta keaktifannya dalam organisasi, membuat Ani semakin mandiri. Bahkan, istri Luqyan Tamanni ini sudah mendapatkan pekerjaan bergengsi ketika belum selesai kuliah, di sebuah lembaga akuntan publik ternama di negeri jiran itu.
Kini, perempuan yang sangat meminati kajian standar akuntansi keuangan syariah internasional ini, segera berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliah strata tiga. ''Insya Allah dalam waktu dekat saya berangkat," katanya. Di Gloucestershire University, ia bakal menimba ilmu ekonomi syariah.
Julissa, Saya orang Amerika dan saya juga manusia
kisahmuallaf.com - Julissa Fikri tumbuh dan besar di East Harlem. Salah satu permukiman terbesar yang didominasi warga keturunan Amerika Latin di New York, Amerika Serikat. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya, keputusanya memeluk Islam akan memicu kebencian keluarga dan lingkungannya.
“Begitu saya mulai mengenakan jilbab, saya selalu menjadi perhatian orang-orang di sekeliling,”
Fikri lahir di tengah keluarga keturunan hispanik yang mayoritas beragama Katolik. Ia memutuskan masuk Islam semenjak tujuh tahun silam.
“Mereka melihat saya berjilbab. Mereka berpikir saya dipaksa suami dan itu keliru,'' katanya. ''Memang tidak buruk, saya tidak merasa tertindas. Saya sangat nyaman. Saya hanya ingin orang tahu bahwa saya orang yang sama.''
Fikri, keturunan Puerto Rico dan Dominika, tengah menjalani dakwah di kalangan terdekatnya, termasuk ibunya sendiri. Ia gunakan situs jejaring video Youtube guna menyebarkan kisah keislamannya. “Islam merupakan hal yang asing bagi masyarakat hispanik,” ungkap Fikri.
Islam Identik Arab
Mereka, ungkapnya, mengasosiasikan Islam dengan budaya Arab. Padahal, Islam lahir bukan untuk kalangan tertentu. Islam lahir untuk semesta alam. ''Karena itu, saya ingin memperkenalkan Islam kepada masyarakat hispanik,” katanya.
Fikri mengatakan telah mengeksplorasi Islam semenjak 2004 silam setelah mengalami krisis identitas. Ia cari mencari agama yang sesuai dengan dirinya.
Hidayah pun datang. Ia berkenalan dengan Alquran terjemahan bahasa Spanyol. Selanjutnya, ia bertemu pria yang menuntunnya masuk ke dalam Islam. Pria asal Mesir itu lalu menjadi pasangan hidupnya.
Awal tahun ini, tepatnya Februari, Fikri mulai mengenakan jilbab. Pengalaman pertama Fikri mengenakan jilbab mendapat cobaan. Saat ia menjemput putrinya, ia berpapasan dengan pria latin. Oleh pria itu, ia disebut perempuan Arab. “Oh jadi, ia telah berubah ras,” kenang Fikri menirukan perkataan pria tersebut.
Dalam insiden lain, seorang perempuan di sebuah kios menatapnya dan menyebutnya teroris. “Saya merasa sakit. Sebelum anda menghakimi saya, ingat saya memakai syal yang sama dengan mereka. Di bawah kerudung, saya hanya orang yang sama. Saya orang Amerika..dan saya juga manusia."
“Begitu saya mulai mengenakan jilbab, saya selalu menjadi perhatian orang-orang di sekeliling,”
Fikri lahir di tengah keluarga keturunan hispanik yang mayoritas beragama Katolik. Ia memutuskan masuk Islam semenjak tujuh tahun silam.
“Mereka melihat saya berjilbab. Mereka berpikir saya dipaksa suami dan itu keliru,'' katanya. ''Memang tidak buruk, saya tidak merasa tertindas. Saya sangat nyaman. Saya hanya ingin orang tahu bahwa saya orang yang sama.''
Fikri, keturunan Puerto Rico dan Dominika, tengah menjalani dakwah di kalangan terdekatnya, termasuk ibunya sendiri. Ia gunakan situs jejaring video Youtube guna menyebarkan kisah keislamannya. “Islam merupakan hal yang asing bagi masyarakat hispanik,” ungkap Fikri.
Islam Identik Arab
Mereka, ungkapnya, mengasosiasikan Islam dengan budaya Arab. Padahal, Islam lahir bukan untuk kalangan tertentu. Islam lahir untuk semesta alam. ''Karena itu, saya ingin memperkenalkan Islam kepada masyarakat hispanik,” katanya.
Fikri mengatakan telah mengeksplorasi Islam semenjak 2004 silam setelah mengalami krisis identitas. Ia cari mencari agama yang sesuai dengan dirinya.
Hidayah pun datang. Ia berkenalan dengan Alquran terjemahan bahasa Spanyol. Selanjutnya, ia bertemu pria yang menuntunnya masuk ke dalam Islam. Pria asal Mesir itu lalu menjadi pasangan hidupnya.
Awal tahun ini, tepatnya Februari, Fikri mulai mengenakan jilbab. Pengalaman pertama Fikri mengenakan jilbab mendapat cobaan. Saat ia menjemput putrinya, ia berpapasan dengan pria latin. Oleh pria itu, ia disebut perempuan Arab. “Oh jadi, ia telah berubah ras,” kenang Fikri menirukan perkataan pria tersebut.
Dalam insiden lain, seorang perempuan di sebuah kios menatapnya dan menyebutnya teroris. “Saya merasa sakit. Sebelum anda menghakimi saya, ingat saya memakai syal yang sama dengan mereka. Di bawah kerudung, saya hanya orang yang sama. Saya orang Amerika..dan saya juga manusia."
kisahmuallaf.com - Sejak usia remaja, Leslie Carter sudah menyimpan banyak pertanyaan tentang ajaran Kristen yang dianutnya, terutama "tradisi" pengakuan dosa. Ia merasa tidak nyaman ketika harus masuk ke sebuah ruangan sempit dan menceritakan tentang dosa-dosanya pada seorang pendeta, lalu pendeta itu mengatakan begini dan begitu, kemudian ia dengan mudahnya mengampuni dosa.
"Saya kira, dosa-dosa saya seharusnya adalah urusan saya sendiri dengan Tuhan" kata Carter.
Perempuan asal Irlandia itu baru masuk Islam kira-kira tiga tahun yang lalu, karena menikah dengan seorang pria muslim. Awalnya, Carter dan suaminya cuma saling kenal saja dan tidak pernah membicarakan agama masing-masing. Lelaki muslim--yang sekarang menjadi suaminya--itu pergi ke masjid, Carter tetap ke gereja.
"Ia merayakan Idul Fitri, saya merayakan Natal. Pokoknya, tidak ada pembicaraan soal agama," ujar Carter.
Carter mengaku mulai banyak bertanya tentang Islam, ketika ia perlahan-lahan mulai menjauh dari ajaran Kristen. Carter mulai membaca buku-buku tentang hak-hak perempuan dalam Islam, bagaimana pandangan Islam tentang Yesus dan dari buku-buku itu Carter merasa pertanyaan-pertanyaannya di masa remaja tentang ajaran Kristen, terjawab oleh agama Islam.
Meski demikian Carter menyatakan ia tidak pernah merencanakan untuk masuk Islam. Semuanya terjadi begitu saja, spontan. Hari itu, Carter tak pernah menyangka akan menjadi seorang muslim. Di hari Carter masuk Islam, lelaki yang menjadi suaminya sekarang hendak ke Islamic Center untuk menunaikan salat. Carter yang tadinya berencana ke pasar, akhirnya ikut dengannya dan menjumpai seorang teman perempuannya yang bekerja di Islamic Center tersebut.
"Saya benar-benar tidak punya rencana untuk menjadi seorang muslim pada hari itu. Saya selalu mengatakan, mungkin saya akan masukk Islam sepuluh tahun kemudian atau apapun. Tapi ketika saya berada di sana (Islamic Center) dan mendengar lantunan azan, saya mulai menangis. Seperti ada cahaya atau sesuatu dalam hati saya. Dan saya tahu, saya tidak bisa meninggalkan masjid tanpa mendeklarasikan keimanan saya," tutur Carter mengungkapkan kisahnya saat masuk Islam.
Hari itu juga, Carter mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah. Ditanya soal perbandingan ajaran Kristen dan Islam, Carter mengakui bahwa banyak ajaran kedua agama itu yang serupa. Perbedaan yang paling besar, menurut Carter, pada konsep Trinitas dan pengakuan dosa yang ada dalam ajaran Kristen.
Sebagai orang Irlandia, Carter berusaha membedakan antara latar belakang kebangsaannya dengan agama Islam yang dianutnya. "Saya selalu menganggap diri saya sebagai orang Irlandia tulen, tapi yang memeluk agama Islam. Antara latar belakang kebangsaan dan agama tidak bisa disatukan, karena saya melihat beragam bangsa yang memasukkan unsur budayanya ke dalam agama," jelas Carter.
Setelah menjadi muslim, Carter mengaku tidak selalu mengenakan jilbab, tapi ia selalu menghindari pakaian yang terbuka dan ketat. Sekarang ia bekerja di departemen perempuan di Islamic Cultural Center di Irlandia, yang dibangun dan didanai oleh Yayasan Al-Maktoum dari Dubai.
Carter tidak pernyah menyangka, akhirnya ia akan menjadi seorang muslimah. Sejak masa remaja, yang sering ia dengar adalah perkataan-perkataan bernuansa rasial terhadap komunitas Muslim. Sekarang ia paham, bahwa orang-orang yang mencela Islam karena kuran pendidikan, kurang moralitasnya dan kurang penghormatannya pada kelompok masyarakat lain.
Sekarang, kata Carter, banyak orang yang datang ke Islamic Center tempatnya bekerja, hanya untuk meminta Al-Quran. "Al-Quran itu untuk mengklarifikasi apa yang tidak mereka tahu selama ini," ujar Carter.
Pasca serangan 11 September 2001 di AS, di Irlandia sempat muncul gelombang kecurigaan dan kebencian terhadap muslim. "Tapi banyak juga orang yang akhirnya berpaling ke Islam, mereka masuk Islam. Mereka yang belum masuk Islam melihat begitu banyak orang yang masuk Islam dan berpikir, 'Pasti ada sesuatu yang indah sehingga banyak orang yang pindah agama (Islam)," papar Carter. Irlandia bukan negara yang sangat luas, tapi di negeri itu tercatat terdapat 23.000 orang yang masuk Islam.
Di rumah, Carter berusaha menanamkan gaya hidup islami pada putrinya sejak usia dini. Sekarang, putrinya yang masih berusia lima tahun, saat menonton tv dan melihat perempuan yang mengenakan busana agak terbuka, ia langsung berteriak "Haram, ganti saluran tivi-nya!".
Putri kecil Carter juga tidak suka mengenakan baju yang panjangnya di atas dengkul. Ia lebih suka mengenakan gaun panjang yang menutup kakinya. "Begitulah dia, dan cara telah ia pilih," kata Carter tentang putrinya.
Masuk Islam, Christie Chasslam Tak Ditegur Sang Ayah
"Si kan belum ngerti cara lebaran, jadi berkunjung ke saudara dulu dan temen-temen biar tau caranya," ucapnya ketika dihubungi lewat telepon, Senin (29/08).
Tak mudah bagi wanita yang awalnya beragama Protestan ini untuk masuk Islam. Ketika pertama kali mengucapkan keinginannya tersebut, ia ditentang dan tidak disapa selama enam bulan oleh sang ayah.
"Pertama ditentang sampai tidak ditegur Pappy 6 bulan. Tapi kan masih banyak keluarga Si di Indonesia, Malay dan Finlandia yang beragama Muslim, akhirnya mengerti semua," katanya.
Namun Sisi begitu ia akrab dipanggil, bukanlah satu-satunya orang di keluarganya yang menjadi mualaf. Kakak dan ibunya juga sudah menjadi mualaf. Bahkan kini sang ayah tidak sekeras dahulu menghadapinya.
"Dan abang yang di Finlandia nikah dengan bule Muslim juga dan almarhum mami sebelum meninggal dia sudah Muslim alhamdulilah. Pappy Ci sudah mulai belajar sholat juga, ajaib Tuhan beri hidayah," tutupnya. (kpl/gum/sjw)
Milyuner AS Yang Juga Pengacara Michael Jackson Masuk Islam
Seorang miliyuner Amerika, Mark Shaffer mendeklarasikan keislamannya di Saudi Arabia pada hari Sabtu 17 Oktober 2009 yang lalu. Saat itu Mark sedang berwisata ke Saudi Arabia untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha dan Jeddah selama 10 hari.
Mark adalah seorang miliyuner terkenal dan pengacara kawakan di Los Angeles Amerika Serikat khususnya terkait hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ditanganinya ialah terkait dengan penyanyi pop terkenal Amerika Michel Jackson sepekan sebelum ia meninggal.
Seorang guide wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir menceritakan : Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi Mark mulai bertanya tentang Islam dan shalat. Sesampai di Saudi, Mark menginap di kota Riyadh selama dua hari. Selama di Riyadh Mark sangat concern pada Islam. Setelah itu kami pindah ke kota Najran, terus ke Abha dan Al-Ula. Di sana terlihat sekali ketertarikannya pada Islam, Khususnya saat kami keluar berwisata ke padang pasir. Mark kaget saat meilahat tiga pemuda Saudi yang mendampingi kami di Al-Ula, karena mereka shalat di atas bentangan padang pasir yang amat luas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.
Setelah dua hari di Al-Ula, kami pergi ke Al-Juf. Sesampai di Al-Juf, Mark minta dicarikan buku-buku tentang Islam. Lalu saya berikan beberapa buku tentang Islam. Semua buku tersebut dibaca habis oleh Mark. Esok paginya, dia minta saya mengajarkannya shalat. Sayapun mengajarkannya shalat dan bagaimana cara berwudhuk. Lalu dia ikut shalat di samping saya.
Setelah shalat, Mark bercerita bahwa dia sekarang sangat tentram jiwanya. Sore Kamisnya, kami meninggalkan Al-Ula menuju kota Jeddah. Selama di perjalanan dia terlihat serius sekali membaca buku-buku tentag Islam. Pagi hari Jumatnya, kami mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu sahalat Jumat masuk, kami kembali ke hotel dan saya minta izin padanya untuk shalat Jumat. Saat itu Mark berkata pada saya : Saya ingin ikut Anda shalat Jumat agar saya menyaksikannya seperti apa shalat Jumat itu. Lalu saya jawab : welcome…
Kamipun pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Jeddah. Karena agak terlambat, saya dan sebagian jamaah shalat di luar masjid karena jamaahnya yang mebludak. Terlihat Mark mengamati jamaah apalagi setelah selesai shalat Jumat, mereka salaing bersalam-salaman dengan wajah yang cerah dan gembira. Mark semakin kagung dengan pemandangan tersebut.
Setelah kami pulang ke hotel, tiba-tiba Marka menyampaikan kepada saya keinginannya untuk masuk Islam. Lalu sya katakan padanya : Silahakan Anda mandi terlebih dulu. Seteah dia mandi saya bimbing Mark mengucapkan dua kalimat syahadat kemudain dia shalata sunnah dua rakaat. Setelah itu, Mark mengungkapakan keinginannya untuk mengunjungi Masjid Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum dia meninggalkan Saudi Arabia.
Untuk dapat mewujudkan keinginan beliau, kami pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’ Jeddah untuk mengambil bukti formal keislamannya agar dapat memasuki kota Mekkah dan Masjid Haram. Lalu Mark diberi sertifikat sementara masuk Islam. Karena beberapa anggota grup yang mengikuti kunjungan Mark ke Saudi Arabia sudah harus kembali ke Amerika sore Sabtunya, Al-Hamdullah, Ustadz Muhammad Turkistani bersedia mengantarkan Mark Ke tanah haram Mekkah pagi itu juga.
Terkait kunjungan Mark ke Masjid Haram, Ustazd Muhammad Turkistani menceritakan : setelah Mark medapatkan sertifikat Islam sementara kamipun langsung berangkat menuju Masjid Haram yang mulia. Ketiak dia menyaksikan Masjid Haram, tampak sekali wajahnya sangat cerah dan memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ketika kami masuk ke dalam Masjid Haram dan menyaksikan langsung Ka’bah, kegembiraannya semakin bertambah. Demi Allah saya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan akan pemandangan tersebut. Setelah beliu tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia, kami shalat sunnah dan kemudian keluar dari Masjid Haram. Saya lihat Mark sngat berat untuk berpisah dengan Masjid Haram.
Setelah Mark Mengumumkan keislamannya, dia sempat mengungkapkan kebahagiaanya pada Koran Al-Riyadh sambil berkata : Saya tidak sanggup mengungkapkan perasaan saya saat ini. Akan tetapi, sekarang saya baru dilahirkan kembali dan kehidupan saya baru dimulai…Lalu dia menambahkan : Saya sangat bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan tidak sanggup saya ungkapkan pada Anda saat saya berkunjung ke Masjid Haram dan Ka’bah yang mulia.
Terkait pertanyaan langkah ke depan setelah ia masuk Islam, Mark menjelaskan : saya akan belajar lebih banyak tentag Islam, akan mendalami agama Allah ini (Islam) dan akan kembali lagi ke Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah Haji.
Terkait faktor pendoring masuk Islam, Mark menjelaskan : Sebelumnya saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat sedikit. Ketika saya berkunjung ke Saudi dan menyaksikan langsung kaum Muslimin di Saudi dan saya saksikan mereka menunaikan shalat, saya merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Islam. Ketika saya membca informasi yang benar tentang Islam, sayapun yakin bahwa Islam adalah agama yang haq (benar).
Pagi Ahad 18 Okteber 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi fomulir imigrasi, Mark mencantumkan agamanya adalah ISLAM.
Selamat jalan Mark… Semoga Allah memberkahi Anda dan menjadikan Anda seorang Muslim yang taat dan Da’i yang akan mengajak masyarakat Amerika untuk menikmati kebahagiaan Islam sebagaimana yang Anda rasakan, agar mereka, khusunya pemerintah Amerika tidak takut kepada Islam. Karena hanya Islamlah yang mampu menyelamatakan umat manusia di dunia dan di akhirat kelak…Amin… (fj)
Sumber: eramuslim.com
Mark adalah seorang miliyuner terkenal dan pengacara kawakan di Los Angeles Amerika Serikat khususnya terkait hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ditanganinya ialah terkait dengan penyanyi pop terkenal Amerika Michel Jackson sepekan sebelum ia meninggal.
Seorang guide wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir menceritakan : Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi Mark mulai bertanya tentang Islam dan shalat. Sesampai di Saudi, Mark menginap di kota Riyadh selama dua hari. Selama di Riyadh Mark sangat concern pada Islam. Setelah itu kami pindah ke kota Najran, terus ke Abha dan Al-Ula. Di sana terlihat sekali ketertarikannya pada Islam, Khususnya saat kami keluar berwisata ke padang pasir. Mark kaget saat meilahat tiga pemuda Saudi yang mendampingi kami di Al-Ula, karena mereka shalat di atas bentangan padang pasir yang amat luas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.
Setelah dua hari di Al-Ula, kami pergi ke Al-Juf. Sesampai di Al-Juf, Mark minta dicarikan buku-buku tentang Islam. Lalu saya berikan beberapa buku tentang Islam. Semua buku tersebut dibaca habis oleh Mark. Esok paginya, dia minta saya mengajarkannya shalat. Sayapun mengajarkannya shalat dan bagaimana cara berwudhuk. Lalu dia ikut shalat di samping saya.
Setelah shalat, Mark bercerita bahwa dia sekarang sangat tentram jiwanya. Sore Kamisnya, kami meninggalkan Al-Ula menuju kota Jeddah. Selama di perjalanan dia terlihat serius sekali membaca buku-buku tentag Islam. Pagi hari Jumatnya, kami mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu sahalat Jumat masuk, kami kembali ke hotel dan saya minta izin padanya untuk shalat Jumat. Saat itu Mark berkata pada saya : Saya ingin ikut Anda shalat Jumat agar saya menyaksikannya seperti apa shalat Jumat itu. Lalu saya jawab : welcome…
Kamipun pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Jeddah. Karena agak terlambat, saya dan sebagian jamaah shalat di luar masjid karena jamaahnya yang mebludak. Terlihat Mark mengamati jamaah apalagi setelah selesai shalat Jumat, mereka salaing bersalam-salaman dengan wajah yang cerah dan gembira. Mark semakin kagung dengan pemandangan tersebut.
Setelah kami pulang ke hotel, tiba-tiba Marka menyampaikan kepada saya keinginannya untuk masuk Islam. Lalu sya katakan padanya : Silahakan Anda mandi terlebih dulu. Seteah dia mandi saya bimbing Mark mengucapkan dua kalimat syahadat kemudain dia shalata sunnah dua rakaat. Setelah itu, Mark mengungkapakan keinginannya untuk mengunjungi Masjid Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum dia meninggalkan Saudi Arabia.
Untuk dapat mewujudkan keinginan beliau, kami pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’ Jeddah untuk mengambil bukti formal keislamannya agar dapat memasuki kota Mekkah dan Masjid Haram. Lalu Mark diberi sertifikat sementara masuk Islam. Karena beberapa anggota grup yang mengikuti kunjungan Mark ke Saudi Arabia sudah harus kembali ke Amerika sore Sabtunya, Al-Hamdullah, Ustadz Muhammad Turkistani bersedia mengantarkan Mark Ke tanah haram Mekkah pagi itu juga.
Terkait kunjungan Mark ke Masjid Haram, Ustazd Muhammad Turkistani menceritakan : setelah Mark medapatkan sertifikat Islam sementara kamipun langsung berangkat menuju Masjid Haram yang mulia. Ketiak dia menyaksikan Masjid Haram, tampak sekali wajahnya sangat cerah dan memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ketika kami masuk ke dalam Masjid Haram dan menyaksikan langsung Ka’bah, kegembiraannya semakin bertambah. Demi Allah saya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan akan pemandangan tersebut. Setelah beliu tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia, kami shalat sunnah dan kemudian keluar dari Masjid Haram. Saya lihat Mark sngat berat untuk berpisah dengan Masjid Haram.
Setelah Mark Mengumumkan keislamannya, dia sempat mengungkapkan kebahagiaanya pada Koran Al-Riyadh sambil berkata : Saya tidak sanggup mengungkapkan perasaan saya saat ini. Akan tetapi, sekarang saya baru dilahirkan kembali dan kehidupan saya baru dimulai…Lalu dia menambahkan : Saya sangat bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan tidak sanggup saya ungkapkan pada Anda saat saya berkunjung ke Masjid Haram dan Ka’bah yang mulia.
Terkait pertanyaan langkah ke depan setelah ia masuk Islam, Mark menjelaskan : saya akan belajar lebih banyak tentag Islam, akan mendalami agama Allah ini (Islam) dan akan kembali lagi ke Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah Haji.
Terkait faktor pendoring masuk Islam, Mark menjelaskan : Sebelumnya saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat sedikit. Ketika saya berkunjung ke Saudi dan menyaksikan langsung kaum Muslimin di Saudi dan saya saksikan mereka menunaikan shalat, saya merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Islam. Ketika saya membca informasi yang benar tentang Islam, sayapun yakin bahwa Islam adalah agama yang haq (benar).
Pagi Ahad 18 Okteber 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi fomulir imigrasi, Mark mencantumkan agamanya adalah ISLAM.
Selamat jalan Mark… Semoga Allah memberkahi Anda dan menjadikan Anda seorang Muslim yang taat dan Da’i yang akan mengajak masyarakat Amerika untuk menikmati kebahagiaan Islam sebagaimana yang Anda rasakan, agar mereka, khusunya pemerintah Amerika tidak takut kepada Islam. Karena hanya Islamlah yang mampu menyelamatakan umat manusia di dunia dan di akhirat kelak…Amin… (fj)
Sumber: eramuslim.com
37 Tentara Korsel Masuk Islam sebelum ke Irak
Baghdad, CyberNews. Menjelang keberangkatnnya ke Iraq di akhir Juli tahun lalu, 37 serdadu Korea Selatan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk langsung memeluk agama Islam.
"Saya menjadi seorang Muslim karena saya merasa Islam lebih humanistik dan damai ketimbang beberapa agama lainnya. Dan jika anda ingin berkomunikasi dengan penduduk setempat lewat pendekatan agama, saya kira ini akan sangat membantu dalam upaya mewujudkan misi perdamaian kita," kata Son, seorang serdadu Korsel mengatakan.
So, Jumat lalu menyebutkan sejumlah tentara Korsel itu masuk Islam menjelang akhir Juli 2006 sebelum mereka diberangkatkan ke Kota Irbil, kota Kaum Kurdi di wilayah utara Iraq. Pada Jumat siang -- ke 37 personel tentara yang berada dalam group pasukan Zaitun itu, termasuk Letnan So-Hyeon-ju yang berasal dari Brigade 11 pasukan khusus, berangkat menuju sebuah masjid di Hannamdong, Seoul dan mengikuti upacara pengucapan dua kalimat syahadat (syarat masuk Islam).
Kapten Son Jin-gu dari unit Zaitun pada kesempatan itu mengucapkan sumpah (bai'at) sebagai tanda bahwa dia telah masuk Islam di sebuah masjid di Hannam-dong, Seoul, Jumat. Serdadu, yang membasahi seluruh tubuhnya secara Islam atau mandi besar tersebut, mengucapkan dua kalimah syahadat menjelang sholat Jumat di masjid itu yang dituntun oleh imam salat.
Kecuali Imam shalat, seluruh warga Muslim dan para serdadu Korea berdiri dalam suatu shaf (barisan) salat yang melambangkan bahwa semuanya sama di hadapan Allah dan kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat, dengan membaca Asyhadu an La ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah.
Para serdadu dari pasukan Zaitun itu usai upacara peng-Islaman, mereka menunaikan sholat Jumat di masjid tersebut. Selanjutnya ketika menghadap Kakbah (kiblat) di Makkah, semua orang Islam menegaskan mereka adalah bersaudara, demikian laporan yang dikutip dari englishnews@.chosun.com.
Bagi serdadu Korsel, yang telah menganut kepercayaan Islam, kesempatan yang disediakan oleh pasukan Zaitun untuk mengadakan kontak dengan kalangan Muslim menjadi kenyataan. Dengan pertimbangan mayoritas penduduk Irbil adalah Muslim, pasukan tersebut mengirim anggotanya yang tidak memiliki paham keagamaan ke Masjid Hannam-dong supaya mereka mengerti Islam. Namun, sebagian di antara mereka tertarik untuk masuk Islam dan memutuskan untuk menganut agama tersebut.
Seorang perwira mengatakan, para serdadu tersebut terilhami oleh betapa pentingnya kebersamaan (kehidupan berjamaah) dalam dunia Islam. "Jika Anda seagama (sesama Muslim) anda diperlakukan bukan sebagai orang asing, tapi sebagai penduduk setempat (lokal). Muslim laki-laki tidak boleh menyerang Muslimah (perempuan) sekalipun dalam pertempuran."
Anggota pasukan Zaitun, Kopral Paek Seong-uk (22) dari Divisi-11 Angkatan Darat Korsel mengatakan "Saya banyak mempelajari Bahasa Arab di kursus dan setelah membaca Al-Quran, saya sangat tertarik untuk masuk Islam dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim berdasarkan pengalaman agama tersebut."
Ketika mengungkapkan aspirasinya, dia mengatakan, "Kalau kami dikirim ke Iraq, saya akan berpartisipasi dalam berbagai acara keagamaan bersama penduduk setempat agar mereka bisa merasakan kasih sayang dari saudara mereka dan yakin bahwa serdadu Korea Selatan bukanlah tentara yang datang untuk menjajah, tapi satu pasukan yang dikirim untuk menyediakan bantuan kemanusiaan.
"Saya menjadi seorang Muslim karena saya merasa Islam lebih humanistik dan damai ketimbang beberapa agama lainnya. Dan jika anda ingin berkomunikasi dengan penduduk setempat lewat pendekatan agama, saya kira ini akan sangat membantu dalam upaya mewujudkan misi perdamaian kita," kata Son, seorang serdadu Korsel mengatakan.
So, Jumat lalu menyebutkan sejumlah tentara Korsel itu masuk Islam menjelang akhir Juli 2006 sebelum mereka diberangkatkan ke Kota Irbil, kota Kaum Kurdi di wilayah utara Iraq. Pada Jumat siang -- ke 37 personel tentara yang berada dalam group pasukan Zaitun itu, termasuk Letnan So-Hyeon-ju yang berasal dari Brigade 11 pasukan khusus, berangkat menuju sebuah masjid di Hannamdong, Seoul dan mengikuti upacara pengucapan dua kalimat syahadat (syarat masuk Islam).
Kapten Son Jin-gu dari unit Zaitun pada kesempatan itu mengucapkan sumpah (bai'at) sebagai tanda bahwa dia telah masuk Islam di sebuah masjid di Hannam-dong, Seoul, Jumat. Serdadu, yang membasahi seluruh tubuhnya secara Islam atau mandi besar tersebut, mengucapkan dua kalimah syahadat menjelang sholat Jumat di masjid itu yang dituntun oleh imam salat.
Kecuali Imam shalat, seluruh warga Muslim dan para serdadu Korea berdiri dalam suatu shaf (barisan) salat yang melambangkan bahwa semuanya sama di hadapan Allah dan kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat, dengan membaca Asyhadu an La ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah.
Para serdadu dari pasukan Zaitun itu usai upacara peng-Islaman, mereka menunaikan sholat Jumat di masjid tersebut. Selanjutnya ketika menghadap Kakbah (kiblat) di Makkah, semua orang Islam menegaskan mereka adalah bersaudara, demikian laporan yang dikutip dari englishnews@.chosun.com.
Bagi serdadu Korsel, yang telah menganut kepercayaan Islam, kesempatan yang disediakan oleh pasukan Zaitun untuk mengadakan kontak dengan kalangan Muslim menjadi kenyataan. Dengan pertimbangan mayoritas penduduk Irbil adalah Muslim, pasukan tersebut mengirim anggotanya yang tidak memiliki paham keagamaan ke Masjid Hannam-dong supaya mereka mengerti Islam. Namun, sebagian di antara mereka tertarik untuk masuk Islam dan memutuskan untuk menganut agama tersebut.
Seorang perwira mengatakan, para serdadu tersebut terilhami oleh betapa pentingnya kebersamaan (kehidupan berjamaah) dalam dunia Islam. "Jika Anda seagama (sesama Muslim) anda diperlakukan bukan sebagai orang asing, tapi sebagai penduduk setempat (lokal). Muslim laki-laki tidak boleh menyerang Muslimah (perempuan) sekalipun dalam pertempuran."
Anggota pasukan Zaitun, Kopral Paek Seong-uk (22) dari Divisi-11 Angkatan Darat Korsel mengatakan "Saya banyak mempelajari Bahasa Arab di kursus dan setelah membaca Al-Quran, saya sangat tertarik untuk masuk Islam dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim berdasarkan pengalaman agama tersebut."
Ketika mengungkapkan aspirasinya, dia mengatakan, "Kalau kami dikirim ke Iraq, saya akan berpartisipasi dalam berbagai acara keagamaan bersama penduduk setempat agar mereka bisa merasakan kasih sayang dari saudara mereka dan yakin bahwa serdadu Korea Selatan bukanlah tentara yang datang untuk menjajah, tapi satu pasukan yang dikirim untuk menyediakan bantuan kemanusiaan.
Langganan:
Postingan (Atom)


